Berbagai Cara dalam Merayakan Maulid

Pendahuluan

Maulid Nabi ﷺ merupakan momentum penting dalam sejarah Islam, yakni kelahiran manusia agung pembawa rahmat bagi seluruh alam. Perayaan Maulid bukanlah sebatas acara seremonial, melainkan ekspresi cinta, penghormatan, dan syukur kepada Allah Ta‘ala atas terutusnya Rasulullah ﷺ. Para ulama menyebutkan bahwa memperingati Maulid adalah amal yang termasuk ta‘zhim an-Nabi (pengagungan Nabi) serta bentuk mahabbah (kecintaan) yang Sunnah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ، وَلَكِنَّهَا مَعَ ذَلِكَ فَقَدِ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا. فَمَنْ تَحَرَّى فِي عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ، وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا، كَانَ بِدْعَةً حَسَنَةً، وَإِلَّا فَلَا.

Artinya: “Asal mula perayaan maulid adalah bid‘ah yang tidak dinukil dari seorang pun dari kalangan salaf salih pada tiga kurun pertama. Namun demikian, ia mengandung kebaikan-kebaikan sekaligus kebalikannya. Maka barang siapa dalam pelaksanaannya memperhatikan sisi-sisi kebaikan dan menjauhi kebalikannya, maka ia menjadi bid‘ah hasanah. Jika tidak, maka tidak (demikian).”[Sulaimān bin Sālim al-Suhaimī, Kitāb al-A‘yād wa Ātsaruhā ‘alā al-Muslimīn.]

Baca juga: Hal-Hal yang Harus Dihindari dalam Perayaan Maulid

Landasan Syukur atas Kelahiran Nabi ﷺ

Kelahiran Nabi ﷺ merupakan nikmat terbesar bagi umat manusia. Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧

Artinya: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS.Al-Anbiya’:107)

Imam Jalaluddin as-Suyuthi menegaskan:

عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيِّ ﷺ وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ – هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ

Artinya: Menurut pendapat saya, asal dari amalan Maulid, yaitu berkumpulnya orang-orang, membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an, meriwayatkan kisah-kisah yang datang tentang permulaan urusan Nabi ﷺ dan tanda-tanda (keajaiban) yang terjadi pada saat kelahirannya, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka, lalu mereka memakannya dan bubar tanpa menambah sesuatu selain itu, maka hal tersebut termasuk bid‘ah hasanah yang pelakunya akan mendapat pahala, karena di dalamnya terdapat bentuk pengagungan terhadap kedudukan Nabi ﷺ.[Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Bakr al-Suyūṭī, al-Ḥāwī li al-Fatāwī (Beirut: Dār al-Fikr li al-Ṭibā‘ah wa al-Nashr).]

Baca juga: Musnid Dunia Nusantara Abad 20

Bentuk-bentuk perayaan Maulid Nabi

1. Membaca al-Qur’an dan Shalawat

Membaca al-Qur’an, terutama surat Yāsīn, al-Dhuhā, atau ayat-ayat yang menyinggung tentang kemuliaan Rasulullah ﷺ, merupakan bentuk ibadah yang sangat Sunnah. dan juga memperbanyak shalawat, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”(QS. Al-Azhab: 56)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya :“Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”[Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, ed. Aḥmad bin Rif‘at dkk. (Turki: Dār aṭ-Ṭibā‘ah al-‘Āmirah) hadist no. 408 hal.17 jilid 2]

2. Membacakan Sirah Nabi ﷺ

Dengan membaca sirah Nabi ﷺ, umat dapat meneladani akhlak, perjuangan, dan keutamaan beliau. Imam al-Hafizh Ibn Katsir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah menuturkan peristiwa kelahiran Rasulullah ﷺ secara panjang lebar sebagai bentuk pengagungan terhadap beliau.

Baca juga: Tafsir al-Fatihah Ayat 5: Bukan Hanya Ibadah, Allah Minta Kita Lakukan Satu Hal Lagi

3. Mengadakan Majelis Dzikir dan Pengajian

Majelis ilmu dan dzikir menjadi sarana memperkokoh iman dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عز وجل إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: “Tidak ada sekelompok orang yang duduk untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan-Nya.”[Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī al-Naysābūrī, al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ [Ṣaḥīḥ Muslim], ed. muḥaqqiq Aḥmad ibn Rif‘at al-Qirāḥiṣārī dkk. (Turki: Dār al-Ṭibā‘ah al-‘Āmirah). juz 8 hal. 72 hadist no. 2700]

4. Sedekah dan Jamuan Makanan

Salah satu cara merayakan Maulid adalah dengan memberi makan fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا

Artinya: “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai Allah adalah: membuat seorang Muslim bersukacita, menghilangkan kesulitannya, melunasi hutangnya, atau menghilangkan kelaparannya.”[Abū al-Qāsim Sulaymān ibn Aḥmad al-Ṭabarānī, al-Mu‘jam al-Awsaṭ, ed. muḥaqqiq Abū Mu‘ādh Ṭāriq ibn ‘Awḍ Allāh ibn Muḥammad & Abū al-Faḍl ‘Abd al-Muḥsin ibn Ibrāhīm al-Ḥusaynī (Qāhirah: Dār al-Ḥaramayn) juz 6 hal.139 hadist no.6026]

Baca juga: Betapa Santri Harus Jadi Dai Setiap Hari

5. Bersyair dan Qasidah dalam Memuji Nabi ﷺ

Para ulama salaf seperti Imam al-Bushiri dengan Qashidah al-Burdah menjadikan syair pujian sebagai sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini sejalan dengan tradisi para sahabat yang bersyair memuji Nabi ﷺ, sebagaimana Hassan bin Tsabit radhiyallāhu ‘anhu.

Penutup

Perayaan Maulid Nabi ﷺ bukan sekadar tradisi, melainkan ekspresi syukur, mahabbah, dan ta‘zhim terhadap Rasulullah ﷺ. Selama dilakukan dengan amalan yang baik—seperti membaca al-Qur’an, bershalawat, berdzikir, bersedekah, serta menyebarkan ilmu—maka perayaan ini termasuk amalan mulia yang diridhai Allah.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses