Coba kita baca satu ayat al-Fatihah ini:
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Setelah Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita melalui ayat-ayat pertama surah Al-Fatihah yakni mulai dari sifat-Nya yang penuh rahmat hingga kekuasaan-Nya pada hari pembalasan. Tiba-tiba kita Allah ajak masuk ke ruang yang sangat intim dalam hubungan hamba dengan Tuhannya: menyembah dan meminta pertolongan.
Ya, sesungguhnya esensi seorang hamba hanyalah dua: menyembah dan memohon. Kita ini tak punya apa-apa. Yang bisa kita lakukan hanyalah tunduk, merendah, mengabdi. Adapun yang memberi, mengabulkan, dan menganugerahkan adalah Dia, Allah Yang Maha Pemurah.
Baca juga: Tafsir Nikah Dulu Baru Mapan.
Mengapa Ibadah Allah Dahulukan dalam Ayat ini?
Para ulama memiliki pandangan yang sangat dalam mengenai susunan ayat ini. Salah satunya mengatakan: ibadah Allah sebut lebih dulu daripada memohon pertolongan. Alasannya kurang lebih karena ibadah adalah langkah awal sebelum permintaan kita Allah kabulkan.
Seorang hamba yang baik tidak langsung meminta sebelum berusaha menyenangkan Tuannya. Sama seperti kita, sebelum meminta tolong pada seseorang, biasanya kita berbuat sesuatu yang membuatnya ridha. Setelah ridha, barulah pintu kemurahan itu Allah buka selebar-lebarnya.
Mengapa “Iyyaka” Allah ulang Dua Kali?
Ada ulama yang menyoroti pengulangan kata “Iyyaka” (Hanya kepada-Mu) hingga dua kali. Tujuannya? Agar kita paham bahwa dua hal ini — ibadah dan doa — adalah tujuan utama keberadaan kita di hadapan Allah. Kita butuh keduanya. Tidak cukup hanya ibadah tanpa doa, atau doa tanpa ibadah.
Baca juga: Rahmat Allah pada Ahli Maksiat: Harapan di Balik Dosa
Mengapa Maf’ul Didahulukan Ketimbang Fiilnya
Kalau kita perhatikan kata ”Iyyaka” selalu berada di sebelum kata kerja. Hal juga merupakan salah satu sorotan ulama dalam menafsiri ayat-ayat al-Fatihah. Hal ini membuat hubungan hamba dengan Allah terasa sangat personal. Bukankah hati kita lebih tersentuh jika orang yang kita cintai berkata, “Padamu aku cinta,” bukan sekadar, “Aku cinta padamu”? Ada rasa eksklusif, khusus, dan hanya untukmu.
Mengapa Hanya Dua Hal Ini yang Disebut?
Di dalam ibadah ada usaha. Di dalam memohon ada doa. Dua hal ini adalah kunci sukses dunia dan akhirat. Apapun hasil dari usaha kita, jika di dalamnya ada pengorbanan dan doa, nilainya akan tetap baik di sisi Allah.
Ibadah mengajarkan kita untuk berusaha: berwudhu, berdiri, rukuk, sujud, merendahkan diri hingga kening menyentuh tanah. Semua itu mengikis kesombongan, mengingatkan bahwa kita hanyalah makhluk lemah. Dan kelemahan itu membuat kita butuh doa, memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap langkah hidup.
Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:
خُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفٗا
“Manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28)
Baca juga: Memahami Makna Sejati Hijrah
Kesimpulan: Usaha dan Doa Adalah Jalan Menuju Allah
Kita ini fakir. Tidak punya daya tanpa pertolongan-Nya. Bahkan kemampuan kita untuk berdoa pun adalah karunia dari Allah. Jika bukan karena rahmat-Nya, kita tak akan tergerak untuk memohon dan berdoa.
Maka, saat membaca “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, ingatlah! ini adalah deklarasi penghambaan dan pengakuan ketergantungan kita pada Allah. Ibadah adalah usaha kita, doa adalah senjata kita. Dan keduanya akan terus mengantarkan kita menatap wujud-Nya kelak di surga. Aamiin. Wallahu a’lam.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
