Perayaan Maulid Nabi ﷺ sering kali terisi dengan berbagai bentuk ekspresi cinta umat kepada junjungannya. Namun, tidak jarang semangat yang meluap justru berbarengan dengan hal-hal yang kurang tepat, bahkan bertentangan dengan ajaran yang beliau bawa. Padahal, hakikat cinta sejati kepada Nabi bukan sekadar merayakan hari kelahirannya, melainkan menjaga kemurnian syariat dan menjauhi segala bentuk larangan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang sebaiknya dihindari dalam perayaan Maulid, agar rasa cinta tersebut tetap berada dalam bingkai ketaatan.
Baca juga: Menjadikan Cinta Rasul sebagai Motivasi Ibadah
Amalan bulan Maulid
Di dalam kitab Husn al-Maqsid fi amal al-Maulid, Imam Suyuthi menjelaskan bahwa: “Mengagungkan bulan Maulid yang mulia ini hanya memaksimalkan amalan-amalan yang baik seperti sedekah dan amalan lain yang bersifat mendekatkan diri kepada-Nya”.
Dengan demikian, menurut beliau, apabila seseorang tidak mampu memperbanyak amalan kebaikan, maka setidaknya ia hendaknya menjauhi keharaman maupun kemakruhan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Maulid ini.
Baca juga: Shaf Wanita Sejajar Shaf Pria
Tidak boleh ada keharaman dan kemakruhan dalam perayaan Maulid
Oleh karena itu, dalam perayaan Maulid sendiri harus betul-betul tidak ada hal yang makruh apalagi haram.
وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح بحيث النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة، وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال: ما كان من ذلك مباحا يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به، وما كان حراما أو مكروها فيمنع، وكذا ما كان خلاف الأولى. انتهى
“Adapun kegiatan yang berada di dalamnya (peringatan maulid), maka sebaiknya terbatasi dengan hal-hal yang bisa menjadi sarana syukur kepada Allah Ta‘ala, seperti yang telah beliau sebutkan sebelumnya berupa tilawah (Al-Qur’an), memberi makan, bersedekah, dan melantunkan sebagian puji-pujian bernuansa nabawiyyah (pujian kepada Nabi) serta zuhudiyyah (puisi yang membangkitkan semangat zuhud) yang dapat menggerakkan hati untuk berbuat kebaikan dan beramal untuk akhirat.
Adapun hal-hal yang mengikuti itu, seperti mendengarkan nyanyian, hiburan, dan semisalnya, maka hendaknya: apa yang termasuk perkara mubah dan sekadar menimbulkan kegembiraan pada hari itu, tidak mengapa untuk disertakan. Namun, apa yang berupa perkara haram atau makruh, maka dilarang. Demikian pula perkara yang hukumnya khilāf al-awlā (menyelisihi yang lebih utama). Selesai.”
Baca juga: Hutang Puasa Sampai Ramadhan lagi
Fatwa KH. Hasyim tentang perayaan Maulid
KH. Hasyim Asy’ari sendiri dalam kitabnya mengingatkan bahwa dalam perayaan maulid ketika terdapat kemungkaran maka wajib untuk meninggalkan.
اعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ اِذَا أَدَّى اِلىَ مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلَ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ
Artinya, “Ketahuilah! Sungguh setiap perayaan maulid jika menjadi penyebab terjadinya maksiat yang nyata, seperti terjadinya kemungkaran, maka wajib untuk meninggalkannya dan haram mengadakannya.” (KH Hasyim Asyi’ari, at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ul Maulid bil Munkarat, [Tebuireng, Maktabah Turats al-Islami: tt], halaman 19).
Baca juga: Panduan Menjamak Shalat Saat Perjalanan
Amalan dalam perayaan maulid
Adapun amalan-amalan yang dilakukan dalam perayaan Maulid ini, beliau menyimpulkan:
وحاصل ما ذكره أنه لم يذم المولد بل ذم ما يحتوي عليه من المحرمات والمنكرات، وأول كلامه صريح في أنه ينبغي أن يخص هذا الشهر بزيادة فعل البر وكثرة الخيرات والصدقات وغير ذلك من وجوه القربات، وهذا هو عمل المولد الذي استحسناه، فإنه ليس فيه شيء سوى قراءة القرآن وإطعام الطعام، وذلك خير وبر وقربة.
“Kesimpulan dari apa yang beliau sebutkan adalah bahwa beliau tidak mencela acara maulid itu sendiri, melainkan mencela apa yang terkandung di dalamnya berupa hal-hal yang berupa keharaman dan kemungkaran. Pada bagian awal perkataannya secara jelas beliau sebutkan bahwa ‘seyogianya bulan ini (Rabi‘ul Awwal) terkhusus dengan memperbanyak amal kebajikan, memperbanyak kebaikan dan sedekah, serta berbagai bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.’ Inilah hakikat perayaan maulid yang kami pandang baik, sebab di dalamnya tidak terdapat sesuatu selain membaca Al-Qur’an, memberi makan, yang semuanya merupakan kebaikan, keberkahan, dan bentuk pendekatan diri (kepada Allah).”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





