Cahaya Musim Semi Kota Makkah; Arti Maulid Nabi, Rahasia Hari Dan Bulan Kelahiran Nabi

Pada bulan ini tepat pada bulan Robiul Awwal, 1444 tahun silam junjungan kita nabi Muhammad Saw. lahir, nabi yang telah dijanjikan oleh Allah Swt. dalam al-Kitab, rasul pembawa kabar gembira dari langit pun juga ancaman.

Kelahirannya merupakan nikmat teragung bagi seluruh alam semesta. Langit bertaburkan cahaya menunjukkan kegembiraan. Para malaikat bersorak mengumandangkan takbir, tamjid dan istighfar.

Disaat sebagian orang masih ada yang menganggap tabu perayaan maulid bahkan menolak dan membidahkan perayaan maulid, yakinlah bahwa syukur atas rahmat Allah Swt. dengan lahirnya nabi Muhammad Swt. Sangatlah dianjurkan.

Banyak sekali anjuran-anjuran yang disampaikan ulama-ulama terdahulu tentang perayaan maulid. Salah satunya adalah ungkapan dari Imam Ma’ruf al Karkhi;

مَنْ هَيَّأَ لِأَجْلِ قِرَاءَةِ مَوْلِدِ الرَّسُوْلِ طَعَامًا، وَجَمَعَ إِخْوَانًا، وَأَوْقَدَ سِرَاجًا، وَلَبِسَ جَدِيْدًا، وَتَعَطَّرَ وَتَجَمَّلَ تَعْظِيْمًا لِمَوْلِدِهِ حَشَرَهُ اللهُ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْفُرْقَةِ الْأُوْلَى مِنَ النَّبِيِّيْنَ، وَكَانَ فِيْ أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ. وَمَنْ قَرَأَ مَوْلِدَ الرَّسُوْلِ – ﷺ – عَلَى دَرَاهِمَ مَسْكُوْكَةٍ فِضَّةً كَانَتْ أَوْ ذَهَبًا وَخَلَطَ تِلْكَ الدَّرَاهِمَ مَعَ دَرَاهِمَ أَخَرَ وَقَعَتْ فِيْهَا الْبَرَكَةُ وَلَا يَفْتَقِرُ صَاحِبُهَا وَلَا تَفْرَغُ يَدُّهُ بِبَرَكَةٍ

“Barang siapa menyiapkan hidangan, mengumpulkan saudara, menghidupkan lampu, memakai pakaian baru, memakai wewangian dan berhias untuk acara pembacaan maulid rasul dalam rangka memulyakan kelahiran nabi, maka Allah Swt. kelak dihari kiamat akan mengumpulkannya bersama golongan pertama yang terdiri dari para nabi dan ditempatkan di surga paling tinggi. Dan barang siapa membacakan maulid Rasul Saw. atas dirham (uang) yang dicetak, perak ataupun emas kemudian dirham tersebut dicampur dengan dirham yang lain maka dirham-dirham tersebut akan memiliki berkah, pemiliknya tidak akan fakir dan tangannya tidak akan sepi dari berkah.”

Arti Maulid Nabi

Perayaan Maulid sejatinya bukanlah sekedar peringatan kelahiran nabi belaka, lebih dari pada itu, maulid adalah ungkapan rasa hormat ta’dzim dari umat nabi Muhammad Saw. atas kelahiran sang pemberi syafa’at.

Imam Junaid al-Baghdadiy menjelaskan;

مَنْ حَضَرَ مَوْلِدَ الرَّسُوْلِ وَعَظَّمَ قَدْرَهُ فَقَدْ فَازَ بِالْإِيْمَانِ.

“Barang siapa menghadiri acara maulid rasul dan memulyakan derajat rasul maka sungguh ia beruntung dengan keimanannya.”

Selain itu perayaan maulid juga merupakan ungkapan rasa cinta dari seseorang kepada sang kekasih. Nabi saw bersabda;

مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِيْ الْجَنَّةِ

“Barang siapa mencintaiku maka akan bersamaku di surga.”

Ungkapan rasa cinta terhadap sang kekasih tentu tidak hanya dengan wujud perayaan maulid belaka. Akan tetapi dengan perayaan maulid ungkapan cinta yang terasa biasa akan menjadi istimewa.

Dikisahkan pada masa Amir al Mu’minin, Harun ar-Rashid, ada seorang pemuda di Bashrah yang gemar berbuat dosa, hingga penduduk selalu memandangnya dengan pandangan hina karena ulah perbuatannya.

Tapi selain itu, ia memiliki kebiasaan, saat datang bulan Rabiul Awal, pemuda itu mencuci bajunya dan menggunakan wewangian kemudian berhias dan mengadakan walimah, dan meminta dibacakan Maulid Nabi SAW. Kebiasaan ini ia lakukan terus menerus dalam waktu yang lama.

Saat ia meninggal dunia, penduduk Bashrah mendengar hatif (suara tanpa rupa) yang menyerukan: “Wahai penduduk Bashrah datang dan saksikanlah jenazah salah satu wali (kekasih) Allah Swt, ia adalah orang mulia di sisiku.”

Penduduk Bashrah pun menghadiri dan merawat jenazah serta menguburnya. Lalu mereka bermimpi melihat pemuda tersebut mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra Sundus dan Istabraq. Kemudian ditanyakan kepadanya:

“Sebab apa engkau mendapatkan kemuliaan ini?” Ia menjawab: “Sebab memuliakan Maulid Nabi Saw.”

Diceritakan juga pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ada seorang pemuda yang berperawakan menawan di kota Syam. Dia mempunyai kebiasaan menunggang kuda.

Suatu ketika dia berada di punggung kudanya dan tiba-tiba kuda yang di tungganginya lari dengan kencang. Kuda tersebut membawanya lari melewati jalan-jalan sempit di kota Syam, dia tidak mampu menghentikan kudanya, dan terus berlari menuju kearah pintu gerbang Khalifah, dan pada akhirnya ia berpapasan dengan putra Khalifah.

Karena tidak mampu menahan laju kuda yang ia tunggangi akhirnya tertabraklah putra Khalifah. Sang putra mahkota pun terbunuh olehnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.