Tag Archives: Jalan Dakwah Pesantren

Mengkultuskan Kiai? Tunggu Dulu

Dalam praktek beragama, baik tata ritual maupun laku sosial, santri tidak hanya menyandarkannya kepada dalil yang ia kaji dari kutubussalaf, tetapi juga kepada uswah yang bisa ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan nurnya secara langsung, yakni tingkah polah para kiai.

Kiai yang dimaksud di sini tidak bisa dibatasi dengan pengertian muballigh, atau penceramah. Kiai yang kumaksud adalah mereka yang muallim (mapan keilmuannya) dan murobbi’ (setia membimbing secara tulus), sehingga betul-betul berperan sebagai muaddib (pendidik sejati).

Kami ngaji qira-atul Qur’an, kami menyimak beliau-beliau membaca Alquran. Kami ngaji ikromud dhuyuf, kami melihat beliau-beliau ngajeni dayoh (memuliakan tamu). Kami ngaji shalat, zakat, puasa, haji, kami saksikan uswah pada diri beliau-beliau.

Kami ngaji sabar dan syukur, kami rasakan itu dalam problematika yang beliau-beliau hadapi sehari-hari. Bahkan tak sedikit para kiai yang tak perlu banyak berceramah, karena perilakunya setiap hari sudah jadi kitab yang bisa diapsahi (dimaknai) para santri.

Kultus? Bukan. Cobalah baca kitab-kitab siroh nabawiyyah itu, tentang bagaimana para sahabat memperlakukan guru mereka: Baginda Muhammad ‘alaihi shalatu wa salam. Namun bukan berarti santri memposisikan guru-guru mereka setara nabi. Tidak begitu.

Betapa banyak kisah para santri salaf maupun khalaf yang berbeda pendapat dengan kiainya, namun tetap tak kehilangan takzim dan khidmat mereka. Tak perlulah kiranya kusebut satu-satu di sini.

Tentu saja para kiai kami juga mengambil qudwah (teladan) dalam hal ilmu dan amal dari guru-gurunya, terus ke atas hingga para sahabat, sampai Rasulullah. Dan ada hal lain selain ketersambungan sanad yang membuat kami mantap.

Hali lain itu adalah bukti riil tentang apa yang mereka capai melalui jalan ini: banyak diantara kami-para santri-yang melihat (dalam makna harfiah) para kiai kami begitu istikamah dalam ibadah mahdhah, begitu mengayomi masyarakat dengan segala macam masalah yang kadang aneh-aneh, begitu berbinar-binar cahaya wajah yang tak bisa kuungkapkan dengan tulisan, begitu adem kalimat-kalimat sederhana yang mungkin kelihatannya biasa saja bila dibandingkan orasi para motivator.

Banyak dari kami yang juga menyaksikan hal-hal yang sulit dinalar pada kiai-kiai kami, seiring dengan haliyyah manusiawi pada umumnya, hingga akhir kehidupan beliau-beliau yang begitu indah dengan kalimah thayyibah.

Mereka mengamalkan syariat dengan ketat, mengajak masyarakat secara bertahap, tidak terburu-buru. Mereka pengamal tasawuf dengan berbagai jenis tarekat masing-masing, dengan disiplin ritual yang beraneka rupa. Mereka menghormati ahlul bayt, serta bertawasul dengan jah (para sahabat yang mulia. Mereka mengajak kami mengaji karya-karya para pendahulu, sekaligus tak kurang-kurangnya mengirim al-fatihah kepada para auliya’.

Maka wajar bila kami tidak goyah dengan tuduhan-tuduhan dangkal bid’ah dan semacamnya. Sebab, selain kami punya dalil nash yang bisa dipertanggungjawabkan, baik yang ‘am maupun khash, kami juga punya qudwah, pembuktian nyata berupa perikehidupan kiai-kiai kami yang begitu indah.

Seperti kata Imam al-Ghazali, bahwa ilmu tasawwuf juga termasuk sains, karena di situ ada unsur eksperimen atau pembuktian, dan banyak orang yang ternyata berhasil mencapai hasilnya dengan jalan ini. Dan kiai-kiai kami, kami saksikan, termasuk di dalamnya.

Hal ini perlu kuungkapkan, sebagai santri, karena mulai banyak tuduhan subyektif bahwa kiai-kiai tidaklah sesuci yang dianggap. Belum lagi ada kecenderungan pembanding-bandingan antara kiai dengan habib, Jawa dengan Arab, dan semacamnya. Wal ‘iyadzu billah.

Mungkin ada orang-orang semacam yang dituduhkan itu. Tapi entah kenapa, kami memiliki intuisi tersendiri untuk memilahnya. Jangan suruh kami menjelaskannya secara deskriptif analitis. Ini lebih kepada rasa yang intuitif, spontanitas. Nyantri-lah dulu kalau mau memahami itu. Tentang siapa yang bisa kami ngaji ilmunya saja, siapa yang musti kami hormati, serta siapa saja yang bisa jadi qudwah dan harus kami patuhi komandonya. Mana yang untuk ta’allum, mana yang untuk tabarruk, dan mana yang harus tahkim.

Urusan qudwah inilah yang mungkin hanya ada dalam budaya nyantri. Sangat berbeda dengan model ngaji selainnya. Orang-orang hanya hadir majlis pengajian, ta’lim, tabligh, tapi tak punya ikatan batin dan intensitas interaksi yang cukup dengan guru-gurunya. Padahal hal terpenting dalam sinau hidup ini, seperti kata Gus Miek, adalah keteladanan. Di situlah bedanya nyantri dengan ngaji. WaAllahu a’lam.[]

Penulis, Abdul Basith, santri asal Jember, kelas III Tsanawiyah.

Diskusi Film Jalan Dakwah Pesantren

LirboyoNet, Cirebon – Semalam (20/10/2016), Panitia Bahtsul Masa’il XXX, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Se-Jawa dan Madura, dalam rangka turut serta memperingati Hari Santri Nasional, menggelar pemutaran dan diskusi film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Pemutaran film menggunakan 2 layar tancep, dengan lokasi yang agak berjauhan untuk santri putra dan santri putri. Pemutaran dan diskusi ini dihadiri lebih dari 4.000 santri putra dan putri dan tentunya juga oleh warga sekitar pesantren. Jumlah ini adalah setengah dari total keseluruhan santri putra dan putri pesantren Babakan yang berjumlah lebih dari 11.000 santri.

Secara singkat, film tersebut mencoba meyakinkan para penonton bahwa betapa Indonesia memiliki sebuah lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.

Film ini sangat menarik bukan hanya karena banyaknya pihak yang dilibatkan, mulai pesantren-pesantren, kiai-kiai, santri, peneliti, sejarahwan dan tentunya orang-orang dibalik layarnya, tetapi juga karena harapan dan semangat yang terkandung di dalamnya. Mulai semangat menjalin “ukhuwah islamiyah” (persaudaraan sesama umat muslim), “ukhuwah wathaniyah” (persaudaraan sesama warga bangsa), hingga “ukhuwah insaniyah” (persaudaraan sesama umat manusia).

“Karena citra pesantren sebagai suatu tempat mencari ilmu, menempa diri, dialog membangun masyarakat beradab, berkebudayaan, itu sudah semakin luntur dimata masyarakat luas. Saya berharap, film ini menjadi jendela kecil bagi orang yang ingin melihat pesantren dalam artian yang lebih luas,” ungkap salah seorang produsernya, Hamzah Sahal, dalam diskusi selepas nonton bareng.

Sampai hari ini memang film tersebut belum bisa kita nikmati secara luas, karena memang belum tersebar didunia maya. Jika anda bertanya kenapa, direktur film, Yuda Kurniawan berkomentar, “Secara pribadi saya bingung harus jawab apa. Karena, disisi lain, saya juga merasa sedih. Sebegitu parahkah minat mengapresiasi sebuah film di sebagian penonton kita? Ataukah Youtube sudah merubah semua budaya menonton kita menjadi sangat individualistik, menonton sendiri-sendiri di gadget, di laptop, nonton di kamar, di mobil, di commuterline bahkan di toilet. Tak ada lagi ruang interaktif, tak ada lagi ruang berdiskusi, bertukar pikiran dan gagasan, semuanya serba sendiri-sendiri. Dan ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan, saya selalu menjawab, ’Tunggu saja, sampai dititik dimana kami lelah memutarkan keliling film ini’.”][