Etika Memilih Teman dalam Islam

Sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia tidak terlepas dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Rasa saling membutuhkan secara otomatis akan membentuk relasi dan interaksi antara satu dengan yang lainnya. Pertemanan dan persahabatan pun menjadi sesuatu yang mesti dijalani oleh setiap manusia.

Sebagai agama yang universal, Islam memberikan aturan dan etika yang indah dalam hal memilih teman. Tidak semua orang patut untuk dijadikan teman. Dari sini, Islam bukan mengajarkan untuk membatasi pertemanan. Namun tujuannya karena pergaulan bersama teman memilih andil yang sangat besar dalam mengubah pola pikir dan sikap seseorang. Maka dari itu, Rasulullah saw. pernah bersabda:

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ اَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Setiap orang tergantung dengan kualitas keagamaan temannya. Maka lihatlah dengan siapa ia berteman.”[1]

Dalam kitab Mauidhah Al-Mu’minin—ringkasan kitab Ihya’ ‘Ulum Ad-Din karya imam Al-Ghazali—disebutkan empat kriteria dalam memilih teman yang baik.[2]

Pertama, yang memiliki akal cerdas.

Sebagaimana diketahui bahwa akal yang cerdas merupakan pondasi terbaik. Sehingga sangat dianjurkan untuk tidak berteman dengan orang-orang bodoh (yang tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik dalam hal pertemanan dan persahabatan). Bahkan dengan menghindarinya, termasuk upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.

Kedua, yang memiliki akhlak yang baik.

Apabila seorang teman selalu kalah dengan rasa amarah, kesenangan (syahwat), kikir, dan selalu mengikuti kemauan nafsunya, maka itu pertanda seseorang yang tak patut untuk dijadikan teman.

Ketiga, bukan seseorang yang fasik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.