HomeArtikelEtika Memilih Teman dalam Islam

Etika Memilih Teman dalam Islam

0 5 likes 1K views share

Sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia tidak terlepas dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Rasa saling membutuhkan secara otomatis akan membentuk relasi dan interaksi antara satu dengan yang lainnya. Pertemanan dan persahabatan pun menjadi sesuatu yang mesti dijalani oleh setiap manusia.

Sebagai agama yang universal, Islam memberikan aturan dan etika yang indah dalam hal memilih teman. Tidak semua orang patut untuk dijadikan teman. Dari sini, Islam bukan mengajarkan untuk membatasi pertemanan. Namun tujuannya karena pergaulan bersama teman memilih andil yang sangat besar dalam mengubah pola pikir dan sikap seseorang. Maka dari itu, Rasulullah saw. pernah bersabda:

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ اَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Setiap orang tergantung dengan kualitas keagamaan temannya. Maka lihatlah dengan siapa ia berteman.”[1]

Dalam kitab Mauidhah Al-Mu’minin—ringkasan kitab Ihya’ ‘Ulum Ad-Din karya imam Al-Ghazali—disebutkan empat kriteria dalam memilih teman yang baik.[2]

Pertama, yang memiliki akal cerdas.

Sebagaimana diketahui bahwa akal yang cerdas merupakan pondasi terbaik. Sehingga sangat dianjurkan untuk tidak berteman dengan orang-orang bodoh (yang tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik dalam hal pertemanan dan persahabatan). Bahkan dengan menghindarinya, termasuk upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.

Kedua, yang memiliki akhlak yang baik.

Apabila seorang teman selalu kalah dengan rasa amarah, kesenangan (syahwat), kikir, dan selalu mengikuti kemauan nafsunya, maka itu pertanda seseorang yang tak patut untuk dijadikan teman.

Ketiga, bukan seseorang yang fasik.

Seseorang yang fasik—secara terang-terangan suka melakakukan dosa kecil—secara terus menerus tidak patut untuk dijadikan teman. Bahkan melihatnya saja telah mendorong seseorang untuk menganggap sepele terhadap perilaku maksiat dan menghilangkan perasaan hati untuk membenci perilaku maksiat. Allah swt. telah berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)

Alqomah—pemuda ahli ibadah di masa Rasulullah saw.—dalam suatu kesempatan berpesan pada anaknya, “Wahai anakku, ketika suatu saat kau butuh untuk berteman, maka bertemanlah dengan seseorang yang menjagamu ketika kau melayaninya, yang menghiasimu ketika kau bersamanya, dan menaggung keperluanmu ketika kau menanggung keperluarnnya, yang membantumu ketika kau membantunya, yang menghargai kebaikanmu, yang menutupi kesalahan apabila kau menemukan kesalahannya, yang memberimu ketika kau meminta, yang membuka obrolan ketika engkau diam, yang menghiburmu ketika kau tertimpa musibah, yang membenarkan perkataanmu, yang membantu kebutuhanmu, yang mendahulukanmu ketika kalian sama-sama membutuhkan.”

Begitu pula Abu Sulaiman Ad-Daroni berpesan, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan tipe dua orang ini, yaitu seorang teman yang bermanfaat dalam urusan duniamu, dan seorang teman yang menambahkan semangatmu dalam urusan akhiratmu.”

Keempat, bukan seseorang yang cinta dunia.

Berteman dengan seseorang yang cinta mati terhadap gemerlap duniawi merupakan racun yang sangat berbahaya. Karena karakter dasar dari watak seseorang adalah meniru dan mengikuti perilaku oramg di sekitarnya. Berteman dengan seseorang yang cinta dunia akan menjadikannya cinta dunia. Berteman dengan seseorang yang zuhud akan menjadikannya zuhud. Demikianlah mengapa hendaknya menjauhi berteman dengan seseorang yang cinta dunia dan anjuran untuk berteman dengan para ulama yang berilmu dan ahli kebijaksanaan. Luqman Al-Hakim berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, mendekatlah kepada para ulama, dan rapatkan lututmu pada mereka. Karena sesungguhnya hati akan hidup dengan hikmah, sebagaimana bumi yang mati akan hidup dengan tetesan hujan.”.


[1] Musnad Ahmad, Vol. XIV, 142

[2] Mauidhah Al-Mu’minin, vol. I hal. 133, cet. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah