Dalam mengarungi kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari interaksi sosial dengan sesamanya. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa setiap orang yang kita temui memiliki kadar pemahaman dan kesadaran yang berbeda-beda? Mengetahui peta tipe manusia ini menjadi sangat penting agar kita tidak salah dalam mengambil sikap, baik dalam menimba ilmu maupun dalam menaruh waspada.
Hal menarik mengenai pemetaan karakter manusia ini telah terurai secara apik oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang beliau dedikasikan sebagai nasihat bagi para pemimpin dan masyarakat, at-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk. Dalam kitab tersebut, Al-Ghazali mengutip pendapat sebagian ahli hikmah yang membagi manusia menjadi empat golongan berdasarkan jalinan antara pengetahuan dan kesadaran diri mereka.
Berikut adalah 4 tipe manusia menurut kutipan Imam al-Ghazali beserta bagaimana kita harus bersikap kepada mereka:
1. Orang yang Tahu dan Sadar bahwa Ia Tahu (Seorang Alim)
Tipe pertama adalah kondisi ideal seorang manusia. Ia memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni, sekaligus memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab atas ilmu yang ia pikul tersebut.
Beliau menguraikan manusia tipe pertama dengan ungkapan:
رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ عَالِمٌ فَاتَّبِعُوهُ
Artinya: “Seseorang yang tahu (berilmu) dan dia tahu (sadar) bahwa dirinya tahu, maka ia adalah seorang alim (ulama), maka ikutilah dia.”
Kelompok ini adalah para guru, ulama, dan pemandu umat yang ikhlas. Mereka tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Karakteristik utama mereka adalah kerendahan hati, sebab ilmu yang benar justru membuahkan rasa takut kepada Allah. Terhadap tipe manusia seperti ini, kewajiban kita adalah mendekat, mengambil berkah ilmunya, dan mengikuti petunjuk-petunjuk kebaikannya.
2. Orang yang Tahu tapi Tidak Sadar bahwa Ia Tahu (Orang yang Lalai)
Tipe kedua adalah potret manusia yang sebenarnya memiliki potensi atau modal ilmu, namun ia tengah berada dalam kondisi lalai, lupa, atau kehilangan kepekaan untuk mengamalkannya.
Untuk tipe kedua ini, Imam al-Ghazali menyebutkan:
وَرَجُلٌ يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ نَاسٍ فَذَكِّرُوهُ
Artinya: “Dan seseorang yang tahu (berilmu) tetapi dia tidak tahu (tidak sadar) bahwa dirinya tahu, maka ia adalah orang yang lupa (lalai), maka ingatkanlah dia.”
Ibarat seseorang yang memiliki lentera di tangannya namun berjalan di kegelapan dalam kondisi mengantuk, ia tidak menyadari bahwa ia punya alat untuk menerangi jalannya. Manusia tipe ini tidak boleh kita hakimi atau kita tinggalkan begitu saja. Tugas kita sebagai sesama Muslim adalah memberikan peringatan dengan cara yang santun, agar kesadaran dan potensi kebaikan orang ini kembali bangkit.
3. Orang yang Tidak Tahu dan Sadar bahwa Ia Tidak Tahu (Seorang Pembelajar)
Tipe ketiga menunjukkan sikap kesatria secara intelektual dan spiritual. Ia berada dalam ketidaktahuan, namun ia memiliki self-awareness (kesadaran diri) yang tinggi untuk mengakui kekurangannya tersebut.
Kata Imam al-Ghazali:
وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوهُ
Artinya: “Dan seseorang yang tidak tahu dan dia tahu (sadar) bahwa dirinya tidak tahu, maka ia adalah seorang pencari petunjuk (pembelajar), maka berilah ia petunjuk.”
Inilah tipe murid atau pembelajar yang ideal. Karena ia sadar akan kebodohannya, egonya melunak, dan hatinya menjadi lapang untuk menerima kebenaran. Ia tidak gengsi untuk bertanya dan belajar. Menghadapi orang seperti ini, kita usahakan jauhi sifat keras untuk mencemoohnya. Sebaliknya, tunjukkan kasih sayang dengan membimbing, mengajari, dan mengarahkannya ke jalan ilmu yang benar.
4. Orang yang Tidak Tahu dan Tidak Sadar bahwa Ia Tidak Tahu
Tipe terakhir adalah kelompok yang paling berbahaya dan paling sulit kita sembuhkan. Ia tidak memiliki ilmu, namun keangkuhannya menutup mata hatinya, sehingga ia merasa seolah-olah menjadi orang yang paling paham atas segala urusan.
وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ جَاهِلٌ فَاحْذَرُوهُ
Artinya: “Dan seseorang yang tidak tahu dan dia tidak tahu (tidak sadar) bahwa dirinya tidak tahu, maka ia adalah orang bodoh yang bebal, maka waspadalah kalian terhadapnya.”
Dalam istilah teologis, kelompok ini sering ulama sebut mengidap jahlul murakkab (kebodohan yang berlapis). Bahayanya, orang tipe ini cenderung gemar berbicara tanpa dasar, berfatwa tanpa ilmu, namun merasa paling benar sendiri. Berdebat dengan mereka hanya akan membuang energi secara sia-sia. Oleh karena itu, melalui kitab ini Al-Ghazali mengingatkan kita untuk mengambil jarak dan berhati-hati, agar kita tidak ikut tergelincir ke dalam fitnah pemikiran yang mereka timbulkan.
Melalui catatan Imam al-Ghazali dalam at-Tibr al-Masbuk ini, kita tidak hanya ia ajak untuk memetakan orang lain, melainkan juga terpaksa untuk introspeksi, masuk ke dalam golongan manakah kita saat ini? Semoga kita, Allah jauhkan dari kebabalaran yang sombong dan Allah dekatkan pada pemahaman yang baik. Wallahu a‘lam.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
