HomeArtikelMengapa Terjadi Peristiwa Isra Mikraj?

Mengapa Terjadi Peristiwa Isra Mikraj?

0 15 likes 4.9K views share

Isra Mikraj terjadi di tengah-tengah kehidupan carut-marut bangsa Arab. Saat itu, aktivitas dakwah islam sangat sulit dan tidak kondusif. Jumlah umat Islam tak kunjung bertambah, meskipun segala daya dan upaya terus dikerahkan semaksimal mungkin. Alih-alih merespons dakwah dan mengikrarkan keislaman, orang-orang kafir justru memberi tekanan berupa intimidasi, persaingan, bahkan ancaman pembunuhan kepada umat muslim.

Di sisi lain, mereka juga menuntut Rasulullah saw. menunjukkan bukti-bukti secara kasatmata akan kebenaran risalah yang dibawanya. Jika Rasulullah saw. tidak mampu menunjukkan bukti-bukti tersebut secara kasat mata, maka mereka akan menuduh dan mengklaim beliau sebagai pembohong, tukang tenung, tukang sihir, bahkan sebagai manusia tidak waras.

Dari sinilah awal mula peristiwa agung Isra Mikraj terjadi. Sebagaimana setiap kejadian besar dalam sejarah, para pakar berbeda pendapat dalam menentukan latar belakang penyebab terjadinya, tak terkecuali dalam Isra Mikraj sendiri. Setidaknya, ada tiga pendapat populer dalam menguak penyebab tersebut, yaitu:

Perdebatan Langit dan Bumi

Kisah yang sudah sangat pupuleer ini bermula ketika terjadi perdebatan antara langit dan bumi, siapakah yang paling mulia di antara keduanya. Setelah beradu argumen yang cukup panjang, akhirnya langit tidak kuasa melanjutkan perdebatan setelah bumi berkata bahwa pemimpin para Rasul, penutup para Nabi, kekasih Tuhan alam semesta, makhluk paling mulia di jagad raya bertempat di bumi dan menjalankan syariat di sana.

Langit pun mengadu kepada Allah perihal tersebut. Akhirnya demi mengabulkan permintaan langit, dan Allah mengangkat Rasulullah saw ke langit dalam peristiwa Isra Mikraj.[1]

Tahun Kesedihan

Kala itu, Rasulullah saw. ditinggal oleh pamannya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah. Sepeninggal kedua orang istimewa ini, kehidupan Rasullah saw. kerap dilanda kesedihan dan dihujani berbagai duka yang amat perih. Akan tetapi, yang paling membuat Nabi bersedih adalah tertutupnya pintu-puntu dakwah untuk menyebarkan Islam.

Pasca meninggalnya kedua orang ini pula, dimana pun beliau menyerukan Islam, di situ pasti terdapat penolakan. Semua orang kini berani memusuhi Rasulullah saw. secara terang-terangan.[2]

Dengan menganalisis Tahun Kesedihan inilah banyak yang mewacanakan kesimpulan bahwa Allah swt. meng-Isra-kan Rasulullah saw.untuk menghibur, menyenangkan, serta menggembirakan hati bleiau agar duka yang bersemayam dalam hati segera sirna. Kesimpulan semacam ini banyak diwacanakan ulama-ulama kontemporer, seperti Syekh Tantawi Ahmad Umar, Dr. Mustafa Ahmad Rifa’i, dan yang lainnya.

Namun rumusan dari sebgian ulama kontemporer tersebut perlu ditelaah kembali. Isra Mikraj ternyata tak memiliki relevansi dengan Tahun Kesedihan. Memang, dengan perspektif psikologis, cukup dimaklumi atas alasan tersebut. Namun yang perlu digarisbawahi di sini—sebagaimana dalam menyikapi kisah perdebatan langit dan bumi—Tahun Kesedihan sewajarnya tak lebih dari sekedar unsur yang menyertai peristiwa Isra Mikraj, bukan sebagai esensi paling utama.[3]

Memperlihatkan Kekuasaan Allah

Esensi paling utama dalam perjalanan Isra Mikraj ialah apa yang telah ditegaskan sendiri oleh Allah swt. satu ayat pembuka dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1)

Ayat ini menjadi bidikan paling fundamental dan yang paling berperan. Melalui perjalanan Isra Mikraj, Allah memberi kesempatan kepada Rasulullah saw. untuk menyaksikan dan merasakan sendiri pengalaman-pengalaman yang maha luar biasa, yaitu melampaui teori-teori umum yang berlaku di bumi dan langit; melihat ayat-ayat kebesaran Allah, menjelajahi tujuh lapis langit dan luasnya jagad raya, menyaksikan sendiri Baitul Makmur, Sidratul Muntaha, surga, neraka, al-Kursy, Mustawa, permadani agung (Rafraf), al-‘Arsy, dan yang lainnya.[4]

Lebih lanjut, Fakhruddin Ar-Razi—seorang pakar tafsir terkemuka—memberikan kesimpulan, “Firman Allah swt. ‘Agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat kekuasaan Kami,’ menunjukkan bahwa fungsional dari perjalanan Isra Mikraj secara khusus adalah kembali kepada Nabi Muhammad saw.”[5]

Pernyataan Ar-Razi di atas menyiratkan adanya nilai edikatif. Yaitu memberikan pelajaran bahwa bumi tempat manusia dan para musuh beliau hidup ini sangatlah kecil, apalah arti sebuah bumi beserta isinya dibandingkan dengan mahaluasnya jagat raya? Apalah arti kekuasaan musuh dan kekuatan musuh beliau dibandingkan kekuatan dan kekuasaan Sang Maha Pencipta yang telah memperjalankan dirinya menjelajahi angkasa tinggi jagad raya?

Lebih dari itu, Isra’ Mikraj bukan hanya sekedar untuk meninggikan iman atau lebih memacu dakwah Nabi. Lebih jauh lagi, Isra Mikraj  adalah manifestasi konkret kebesaran cinta Allah kepada Nabi Muhammad saw.[6] []waAllahu a’lam


[1] Dzurroh An-Nashihin, hal. 117, cet. Toha Putra Semarang

[2] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hal. 97.

[3] Rihlah Semesta Bersama Jibril, hal. 177, cet. Lirboyo Press.

[4] As-Sirah An-Nabawiyah ‘Ard Waqai’ wa Tahil Ahdats, vol. I hal. 334.

[5] Tafsir Mafatih Al-Ghaib, vol. X hal. 122.

[6] Tafsir Ruh, vol. V hal. 102, CD. Maktabah Syamilah