Oleh: M. G. Al-Farhan
Dakwah bukan hanya sebatas menyampaikan ajaran Islam melalui mimbar, ceramah, atau media dakwah formal lainnya, tetapi juga melalui proses pendidikan yang berkesinambungan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional hadir menjadi pusat dakwah yang hidup. Di mana santri-santrinya dibina, ditempa, dan diarahkan agar kelak mampu menjadi agen penyebar nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
Proses dakwah di pesantren terwujud melalui pembelajaran ilmu-ilmu agama, penanaman akhlak mulia, pembiasaan disiplin, serta pembentukan karakter moderat yang relevan dengan kehidupan sosial. Dengan demikian, pesantren dapat dipandang sebagai institusi dakwah yang tidak hanya membentuk individu berilmu, tetapi juga menyiapkan generasi yang siap berkiprah di masyarakat secara nyata.
Ibarat proses produksi dan pemasaran dalam dunia ekonomi, peranan dan kehidupan pesantren dapat kita samakan demikian. Santri-santri yang mendapat pendidikan di pesantren melalui proses panjang untuk menjadi manusia yang berkualitas. Proses tersebut dilakukan dengan membiasakan diri hidup disiplin, bermoral, serta terus diperkaya dengan ilmu pengetahuan yang luas. Pada tahap berikutnya, mereka akan memasuki dunia “pemasaran”, yakni berbaur dengan masyarakat untuk mengabdi dan memberikan manfaat.
Dunia pesantren memang dikenal sebagai lingkungan yang bebas namun tetap meneguhkan nilai-nilai demokratis. Di dalamnya, para santri terdidik untuk menjadi pribadi yang moderat dalam bersikap di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya itu, pesantren juga membina mental, spiritual, ketahanan, serta kemauan yang tinggi bagi santri. Hal inilah yang membuat masyarakat dengan mudah menaruh simpati kepada mereka. Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa pesantren merupakan sebuah subkultur yang hidup di tengah masyarakat.
Baca juga: Ketika Fikih Membimbing Perayaan Ulang Tahun
Di zaman modern seperti saat ini, tampak sangat jelas pengaruh radikalisme, hedonisme, materialisme dan liberalisme yang melekat dalam tubuh masyarakat. Sehingga menjadi tugas santri dalam memahami persoalan masyarakat sebagai bekal dakwah nanti.
Kajian Turats Dakwah Santri
Mengutip apa yang telah Imam Al-Ghazali ucapkan. “Kehancuran agama sebab dari para pembela yang tidak mengetahui apa arti membela. Dan lebih besar daripada kehancuran agama yang telah biasa para pencela lakukan .” Di zaman sekarang yang kita rasakan, banyak manusia mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam dengan sendirinya mereka malah menghancurkan dan merusak citra Islam. Padahal hal itu, tidak dibenarkan dalam agama Islam.
Dari sinilah, perlu adanya sebuah refleksi, pemikiran, dan aksi dalam berdakwah yang dilakukan oleh santri. Sehingga santri dapat membawa agama Islam yang rahmatan lil alamin dalam tubuh masyarakat. Oleh sebab itu, seorang santri tidak boleh bersikap masa bodoh ketika masyarakat minta untuk berdakwah di tengah manusia. Apalagi tatkala mereka telah meninggalkan pesantren. Dengan masa bodoh yang santri lakukan, sudah membiarkan mereka yang tak mengenal agama Islam secara matang lantas membiarkan mereka memimpin masyarakat. Dengan demikian, secara tidak langsung menjadikan umat Islam dalam ambang kehancuran.
Baca juga: Menyikapi Kepercayaan Rebo Wekasan
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Orang yang berilmu akan meraksakan siksaan kelak tatkala di hari kiamat, karena ia berdiam diri tanpa menebarkan suatu ilmu (yang ia peroleh) dan orang bodoh akan merasakan kecacatan pada pribadi sendiri, karena tidak ada kemauan dari orang bodoh atas kebodohannya. (tidak mencari ilmu).” Oleh sebab itu, tidaklah etis bagi para santri yang telah memperoleh ilmu hanya berdiam diri tidak ada keinginan untuk menebarkan ilmu yang telah ia dapat di pesantren. Sedangkan masyarakat masih dalam lingkungan kebodohan.
Kontekstualisasi Kehidupan Pesantren
Para guru di pesantren telah memberikan bekal kepada para santri untuk membawa suatu tugas dalam kehidupan di masyarakat. Demikianlah mereka para santri menemukan suatu kesadaran secara disiplin, mempelajari agama secara tekun dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar dengan mengamalkan ilmunya guna ia sumbangkan ke dalam lapisan masyarakat. Bukankah hal ini sering kita dengarkan sabda Nabi Saw, “Lebih baik-baiknya kamu sekalian adalah orang yang belajar ilmu serta mengamalkan ilmunya pada manusia.”
Baca juga: Nasionalisme Rasulullah saw.
Ngadep dampar tidak melulu persoalan mengajar, seorang santri yang menebarkan kebaikan di masyarakat. Yang sangat butuh dari diri seorang santri adalah membaur dengan masyarakat. Sehingga ia dapat mengetahui apa yang tengah orang lain rasakan oleh masyarakat.
Ala kulli hal, tidak dapat terpungkiri akan keilmuan seorang santri. Namun pada kenyataannya dalam berdakwah di masyarakat modern saat ini, seorang santri mulai tergeruskan oleh orang-orang yang secara keilmuan tidak mempunyai pertanggungjawabkan. Lantas dengan keadaan seperti ini, akankah santri akan terus berdiam diri membiarkan sesuatu yang seharusnya menjadi tugas seorang santri justru diserahkan kepada mereka yang baru saja mengenal dunia Islam.
Peran santri sekarang
Sudah seharusnya, pada saat ini peran santri yang secara disiplin ilmu telah matang dan kuat, untuk menguatkan mental dan aksi akan terus berjuang menegakkan kedamaian dan persatuan di tengah-tengah masyarakat. Dan sudah pastinya para santri tidak akan rela bila mereka yang hanya memperoleh ilmu secara instan membiarkannya merongrong tubuh Islam. Sudah seharusnya seorang santri mampu berpijak dengan tegap dan kukuh tampil di tengah-tengah masyarakat dan menjadi kunci dalam mengentaskan segala persoalan masyarakat. Wallahu ‘Alam. []
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
