Refleksi Dakwah Santri Rahmatan Lil ‘Alamin

Ibarat proses produksi dan marketing dalam dunia ekonomi, peranan dan kehidupan pesantren, dalam hal ini bisa disamakan. Santri-santri dididik, diproses untuk menjadi manusia-manusia yang berkualitas, yakni dengan membiasakan diri disiplin dan bermoral, dipompa dengan ilmu-ilmu yang luas. Di kemudian hari berpindah ke dunia marketing, mencoba berbaur dengan masyarakat guna mengabdi kepada mereka.

Dunia pesantren memang terkenal bebas dan sangat meneguhkan demokratis. Di pesantren para santri juga dididik untuk menjadi manusia moderat dalam bertindak di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya itu, usaha pembinaan mental dan spirit serta ketahanan dan kemauan yang tinggi yang diberikan oleh guru di pesantren,  membuat masyarakat dengan mudah menaruh hati terhadap santri. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pesantren adalah sebuah subkultur dalam kehidupan masyarakat.

Di zaman modern seperti saat ini, tampak sangat jelas pengaruh radikalisme, hedonisme, materialisme dan liberalisme yang melekat dalam tubuh masyarakat, sehingga menjadi tugas santri dalam memahami persoalan masyarakat.

Mengutip apa yang telah diucapkan oleh Imam Al-Ghazali, “Kehancuran agama dapat disebabkan dari para pembela yang tidak mengetahui apa arti membela, dan lebih besar daripada kehancuran agama yang telah dilakukan oleh para pencela.” Di zaman sekarang yang kita rasakan, banyak manusia mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam dengan sendirinya mereka malah menghancurkan dan merusak citra Islam. Padahal hal itu, tidak dibenarkan dalam agama Islam.

Dari sinilah, perlu adanya sebuah refleksi, pemikiran, dan aksi dalam berdakwah yang dilakukan oleh santri. Sehingga santri dapat membawa agama Islam yang rahmatan lil alamin dalam tubuh masyarakat. Oleh sebab itu, seorang santri tidak boleh bersikap masa bodoh ketika dimintai untuk berdakwah di tengah masyarakat, tatkala mereka telah meninggalkan pesantren. Dengan masa bodoh yang dilakukan oleh santri, sudah membiarkan mereka yang tak mengenal agama Islam secara matang lantas membiarkan mereka memimpin masyarakat. Dengan demikian, secara tidak langsung menjadikan umat Islam dalam ambang kehancuran.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Orang yang berilmu akan meraksakan siksaan kelak tatkala di hari kiamat, dikarenakan ia berdiam diri tanpa menebarkan suatu ilmu (yang ia peroleh) dan orang bodoh akan merasakan kecacatan pada dirinya sendiri, dikarenakan tidak ada kemauan dari orang bodoh atas kebodohannya. (tidak mencari ilmu).” Oleh sebab itu, tidaklah etis bagi para santri yang telah memperoleh ilmu hanya berdiam diri tidak ada keinginan untuk menebarkan ilmu yang telah didapat di pesantren. Sedangkan masyarakat masih dalam lingkungan kebodohan.

Para guru di pesantren telah memberikan bekal kepada para santri untuk membawa suatu tugas dalam kehidupan di masyarakat. Demikianlah mereka para santri menemukan suatu kesadaran secara disiplin, mempelajari agama secara tekun dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar dengan mengamalkan ilmunya guna disumbangkan ke dalam masyarakat. Bukankah hal ini sering kita dengarkan sabda Nabi Saw, “Lebih baik-baiknya kamu sekalian adalah orang yang belajar ilmu serta mengamalkan ilmunya pada manusia.”

Madep dampar tidak melulu persoalan mengajar, seorang santri yang menebarkan kebaikan di masyarakat, bisa juga disebut sebagai madep dampar. Yang dibutuhkan dari diri seorang santri adalah membaur dengan masyarakat. Sehingga ia dapat mengetahui apa yang tengah dirasakan oleh masyarakat.