Ulang tahun selalu hadir dengan makna yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, ia hanyalah angka yang bertambah di kalender. Bagi yang lain, ia menjadi alasan untuk berkumpul, tertawa, dan merayakan hidup. Namun di tengah gegap gempita perayaan, muncul pertanyaan yang kerap menggelayut di benak sebagian kaum muslimin: bagaimana pandangan fikih memandang tradisi ini? Apakah ia sekadar budaya yang netral, atau menyentuh wilayah yang telah syariat atur?
Dalam literatur fikih, ulang tahun memang jarang terbahas secara langsung. Sebab secara prinsip, ia bukan bagian dari ajaran pokok Islam. Namun, Islam mengajarkan satu hal yang pasti: bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, khususnya nikmat kehidupan. Bentuk syukur itu, dalam tradisi Nabi Muhammad ﷺ, kerap beliau wujudkan melalui amalan-amalan kebaikan.
Keterangan Ulangan Tahun dalam Hadis
Salah satu contohnya terdapat dalam hadis riwayat Abu Qatadah berikut:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ، فَقَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Dari Abu Qatadah al-Anshari ra., bahwa Rasulullah saw. pernah (seseorang) tanyakan perihal puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus (menjadi rasul), atau pada hari itu diturunkan wahyu kepadaku.”
Kisah lain datang dari Ka‘b bin Malik.
ﻭﺁﺫﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺘﻮﺑﺔ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺣﻴﻦ ﺻﻠﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﻔﺠﺮ، ﻓﺬﻫﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻳﺒﺸﺮﻭﻧﻨﺎ … ﻭاﻧﻄﻠﻘﺖ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻴﺘﻠﻘﺎﻧﻲ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻮﺟﺎ ﻓﻮﺟﺎ، ﻳﻬﻨﻮﻧﻲ ﺑﺎﻟﺘﻮﺑﺔ، ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﻟﺘﻬﻨﻚ ﺗﻮﺑﺔ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ (رواه البخاري).
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada kami tentang diterimanya taubat kami pada waktu salat Subuh. Lalu orang-orang pergi memberikan kabar gembira kepada kami… Aku (Ka‘b bin Malik) berangkat menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang-orang menyambutku secara berkelompok sambil mengucapkan selamat atas taubatku. Mereka berkata: ‘Selamat atas diterimanya taubatmu oleh Allah.’” (HR al-Bukhari).
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
ﻭﻓﻴﻬﺎ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺳﺠﻮﺩ اﻟﺸﻜﺮ ﻭاﻻﺳﺘﺒﺎﻕ ﺇﻟﻰ اﻟﺒﺸﺎﺭﺓ ﺑﺎﻟﺨﻴﺮ ﻭﺇﻋﻄﺎء اﻟﺒﺸﻴﺮ ﺃﻧﻔﺲ ﻣﺎ ﻳﺤﻀﺮ اﻟﺬﻱ ﻳﺄﺗﻴﻪ ﺑﺎﻟﺒﺸﺎﺭﺓ ﻭﺗﻬﻨﺌﺔ ﻣﻦ ﺗﺠﺪﺩﺕ ﻟﻪ ﻧﻌﻤﺔ ﻭاﻟﻘﻴﺎﻡ ﺇﻟﻴﻪ ﺇﺫا ﺃﻗﺒﻞ.
“Di dalam hadis tersebut terdapat pensyariatan sujud syukur, bersegera menyampaikan kabar gembira, memberikan kabar tersebut dengan cara yang terbaik, memberikan ucapan selamat kepada orang yang baru mendapatkan nikmat, serta berdiri menyambutnya apabila ia datang.” [Ibnu Hajar, Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari, 8/124].
Baca juga: Larangan Begadang Demi Merayakan Tahun Baru
Yang Terpenting Adalah Teknisnya
Dari sudut pandang fikih, hukum perayaan ulang tahun sangat bergantung pada teknis pelaksanaannya. Bila perayaan itu meniru budaya non-Muslim yang kita iringi kemaksiatan, pemborosan, atau sekadar ikut-ikutan, maka hukumnya tidak syariat perbolehkan. Namun, jika hari kelahiran kita isi dengan muhasabah, doa, sedekah, atau kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah, maka ia menjadi bagian dari rasa syukur yang sangat ulama anjurkan.
Ulama seperti Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri menekankan bahwa momentum hari lahir dapat kita sekalian jadikan sarana evaluasi diri: membandingkan kualitas diri antara tahun lalu dan tahun ini. Apakah terjadi peningkatan atau justru kemunduran? Menurutnya, perayaan semacam ini baik selama tidak kita sertai sikap berlebihan atau niat sekadar meniru.
Dalam kitab Syarh al-Yaqut an-Nafis, beliau menjelaskan:
وهناك أعياد ميلاد قد يفرح الإنسان ويتذكر ميلاده إنما علي المسلم أن يجعل ميلاده مناسبة لمحاسبة نفسه ويعمل مقارنة بين عام وعام هل ازداد وتقدم ام نقص وتأخر؟ هذا شيء جميل ولا يكون ذلك لمجرد التقليد ولا للسرف والأعياد المجازية والتقليدية كثيرة وكل فرد يتمني عليه العيد في خير وعافية ولطف وسعادة وإلي زيادة نسأل الله أن يعيد علينا عوائده الجميلة
Artinya: Ada orang yang senang merayakan ulang tahun dan mengingat hari kelahirannya. Namun, kia selaku orang Muslim, ulang tahun sebaiknya kita jadikan momen untuk introspeksi diri, membandingkan antara tahun ini dan tahun lalu — apakah ada kemajuan atau justru kemunduran? Itu hal yang baik, asalkan bukan sekadar ikut-ikutan atau berlebihan. Perayaan dan hari-hari khusus memang banyak, dan setiap orang berharap datangnya membawa kebaikan, kesehatan, kelembutan, kebahagiaan, serta peningkatan. Kita berdoa semoga Allah selalu mengembalikan nikmat-nikmat itu pada kita.
Baca juga: Menggugat Ucapan Selamat
Hukum Mendoakan Panjang Umur
Adapun mengenai ucapan “panjang umur”, para ulama memberikan rincian. Dalam Hawasyi Asy-Syarwani disebutkan, jika doa itu ditujukan kepada ahli ibadah, ulama, atau pemimpin yang adil, maka hukumnya sunnah. Jika tidak, hukumnya makruh, bahkan bisa haram. Sebab, yang lebih utama adalah mendoakan keberkahan umur, bukan sekadar panjangnya.
Baca juga: Rahmat Allah pada Ahli Maksiat: Harapan di Balik Dosa
Kesimpulan
Dengan demikian, perayaan ulang tahun dalam Islam bukan sekadar menandai bertambahnya angka usia. Ia bisa menjadi momen muhasabah, pengingat akan nikmat hidup, dan sarana memperbanyak amal kebaikan. Pada akhirnya, yang benar-benar penting bukanlah lamanya hidup yang kita jalani, tetapi bagaimana setiap tahun yang datang membawa iman yang lebih kuat dan hati yang semakin dekat kepada Allah.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

assalamualaikum bapak bapak😁🙏 Nanyak beneran saya nih, kalo ngerayain aniv pripun bapak bapak???
nganpunten😁🙏🙏