Tag Archives: Artikel

Proyek Syariat yang Maslahat

Menurut syekh Abdul Wahab Khalaf dalam kitabnya, ‘Ilmu Ushul Al-Fiqhi, kehadiran syariat sebagai norma kehidupan tidak terlepas dari tujuan yang telah digariskan oleh Allah Swt. Dalam konteks ini, Allah Swt memproyeksikan syariat sedemikian rupa demi terciptanya kemaslahatan dalam kehidupan. Frasa semacam ini sejak dulu telah didengungkan oleh para ulama, salah satunya dalam kitab Qowaid Al-Ahkam fii Mashalilh Al-Anam, karya Syekh Izzuddin bin Abdis Salam:

التَّكَالِيفُ كُلُّهَا رَاجِعَةٌ إلَى مَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ

Semua tuntutan itu dikembalikan kepada kemaslahatan para hamba dalam urusan dunia dan akhirat,” (lihat: Qowaid Al-Ahkam fii Mashalilh Al-Anam, II/73, cetakan Dar Al-Kutub Al’Ilmiyah).

Proyek tujuan syariat atau yang sering disebut dengan istilah Maqashid As-Syari’ah tersebut mencakup lima aspek besar kehidupan, yakni agama, jiwa, intelektual, harga diri, dan harta.

Pertama, adalah perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din).

Agama merupakan sekumpulan akidah, ibadah, hukum, dan undang-undang yang telah disyariatkan oleh Allah Swt untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan manusia yang lain.

Dalam ranah aplikasi keagamaan, Islam telah menggariskan tauhid dalam hal akidah, fiqih dalam hal syariat, dan akhlaq dalam hal tasawwuf. Selain itu, Islam juga mewajibkan dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam hal menjaga dan mengembangkan agama.

Adapun dalam aspek penerapannya, perlindungan terhadap agama diwujudkan dari dua sisi, yakni penjagaan dari segi kelestarian dan penjagaan dari sisi ancaman yang dapat merusaknya. Sebagai upaya untuk mengimbangi, Islam juga mensyariatkan perkara yang dapat menjaga eksistensi agama dari rongrongan musuh-musuhnya. Maka dari itu, muncullah hukum Jihad, hukuman bagi orang murtad dan orang-orang yang berbuat bid’ah dalam beragama, melarang Qadhi atau hakim yang semena-mena dalam memutuskan hukum, dan lain sebagainya.

Kedua, adalah perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs).

Dalam menjaga jiwa dan keberlangsungan hidup manusia, Islam mensyariatkan hukum yang menjaga kemaslahatan yang berhubungan dengan eksistensi dan kelestarian umat manusia, seperti adanya hukum pernikahan. Selain itu, Islam juga mensyariatkan hal-hal yang menjamin kehidupan manusia dari penindasan, seperti hukuman Qishash, hukum pidana dan denda, kaharaman menjatuhkan diri dalam lembah kerusakan, serta kewajiban menolak segala macam bahaya yang berpotensi mengancam keselamatan (Daf’us Shoil).

Ketiga, adalah penjagaan intelektual (Hifdhu Al-’Aqli).

Sebagai manusia, akal pikiran merupakan anugerah terbesar yang tidak diberikan oleh Allah Swt kepada selain manusia. Maka dari itu, kehadiran syariat turut andil dalam menjaga aset terbesar yang dimiliki manusia secara khusus tersebut. Yakni dengan adanya hukum keharaman mengkomsumsi minuman keras dan setiap perkara memabukkan yang berakibat negatif untuk merusak dan menghilangkan akal, serta mensyariatkan hukuman yang tegas bagi para pelakunya.

Keempat, adalah penjagaan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Tuduhan zina (Haddul Qodf) dan hukuman bagi para pezina merupakan salah satu bukti riil yang ditunjukkan syariat untuk menjaga umat Islam dari tuduhan-tuduhan lemah yang tak berdasar yang mana hal tersebut dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan harga diri seseorang.

Kelima, adalah perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal).

Harta merupakan perantara yang dapat membantu seseorang untuk menjalankan segala kewajiban dan memenuhi kebutuhannya. Dalam ranah ini, syariat begitu mengapresiasi dengan adanya pelegalan atas hukum muamalah sebagai sarana interaksi sosial dan ekonomi umat Islam.

Dalam kajian fiqih muamalah ini, Islam menjaga dan menanamkan prinsip kejujuran, saling tolong menolong, dan kemaslahatan dalam semua bentuk transaksi yang dilakukan. Maka dari itu, tak heran jika kemudian muncul hukum keharaman untuk berspekulasi dan memanipulasi dalam transaksi perdagangan, hukum perjudian, dan segala hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Dari penjelasan bukti-bukti di atas, sudah sangat jelas bahwa Islam telah mensyariatkan formulasi hukum dalam semua aspek, baik dalam bidang akidah, ibadah, muamalah, munakahat, jinayat. Formulasi hukum tersebutlah yang menjadi proyek besar syariat dalam menciptakan, memenuhi, dan menjaga kebutuhan umat Islam secara khusus dan umat manusia pada umumnya. Sebagaimana salah satu ungkapan:

إِذَا وُجِدَتِ الشَّرِيْعَةُ وُجِدَتِ الْمَصْلَحَةُ

Dimana ada syariat, disanalah terdapat kemaslahatan”.[]waAllahu a’lam

____

Disarikan dari kitab ‘Ilmu Ushul Al-Fiqhi hlm 200-202, karya Syekh Abdul Wahab Khalaf, cetakan Darul Qolam.

 

 

 

Problematika Hadiah Dalam Tradisi Walimah

Bukan menjadi rahasia lagi di masyarakat, berkembangnya sebuah tradisi untuk saling memberi hadiah ketika diselenggarakan semacam perayaan pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Pemberian hadiah itu pun memiliki kebiasaan yang berbeda, ada yang berupa barang yang dikemas dalam sebuah kado, atau sejumlah uang yang dimasukkan dalam selembar amplop. Model pemberiannya pun sangat beragam, ada yang mencantumkan nama dan ada juga yang tidak mencantumkan nama sehingga tidak diketahui dari siapa pemberian tersebut.

Di suatu daerah tertentu, kebiasaan memberi hadiah itu menuntut bagi penerimanya untuk membalas apa yang telah diberikan apabila pihak yang memberi merayakan semacam perayaan serupa di waktu mendatang. Dengan artian, pemberian itu terkesan menjadi sebuah hutang yang dibebankan kepada penerima hadiah. Namun praktek itu sangat berbeda dengan di daerah lain, pemberian hadiah dalam sebuah acara perayaan tertentu murni merupakan hadiah tanpa adanya tuntutan untuk membalas di kemudian hari.

Secara otomatis, berbagai model tradisi pemberian tersebut akan menarik sebuah pertanyaan mengenai status hadiah tersebut. Apakah memang pemberian itu murni hadiah sehingga tidak ada tuntutan bagi penerimanya untuk mengembalikan di waktu mendatang, ataukah praktek tersebut justru merupakan praktek hutang piutang yang menuntut adanya balasan serupa sebagaimana yang telah terlaku dan mentradisis di berbagai daerah.

Dalam kitabnya, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, syekh Abi Bakar Utsman bin Muhammad Syato ad-Dimyati memberikan pencerahan yang sangat bijak terkait persoalan tersebut:

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِيْ زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوْطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرْحِ فِيْ يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُوْنِهِ هَلْ يَكُوْنُ هِبَّةً أَوْ قَرْضًا؟ أَطْلَقَ الثَّانِيَ جمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ الى ان قال- وَجَمَّعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يُعْتَدِ الرُّجُوُعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِيْ عَلَى مَا إِذَا اِعْتِيْدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَا ذُكِرَ

Perihal adat kebiasaan yang berlaku di zaman kita, yaitu memberikan semacam kado hadiah perkawinan dalam sebuah perayaan, baik memberikan secara langsung kepada orang yang merayakan atau kepada wakilnya, apakah hal semacam itu termasuk ketegori pemberian cuma-cuma atau dikategorikan sebagai hutang?. Maka mayoritas ulama memilih mengkategorikannya sebagai hutang. Namun sebagian ulama lain lebih memilih untuk mengkategorikan pemberian itu sebagai pemberian cuma-cuma…. Sehingga dari perbedaan pendapat ini para ulama mencari titik temu dan menggabungkan dua pendapat tersebut dengan sebuah kesimpulan bahwa status pemberian itu dihukumi Hibah atau pemberian cuma-cuma apabila kebiasaan di daerah itu tidak menuntut untuk dikembalikan. Konteks ini akan bermacam-macam sesuai dengan keadaan pemberi, jumlah pemberian, dan daerah yang sangat beragam. Adapun pemberian yang distatuskan sebagai hutang apabila memang di daerah tersebut ada kebiasaan untuk mengembalikan. Apabila terjadi praktek pemberian yang berbeda dengan kebiasaan, maka dikembalikan pada motif pihak yang memberikan” (lihat: Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah).

Dari pemaparan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian yang biasa dilakukan dalam momentum semacam pernikah, khitanan, dan lain-lain dibagi menjadi dua; Pertama, berstatus Hibah (pemberian cuma-cuma) apabila kebiasaan yang berlaku tidak ada tuntutan untuk mengembalikan. Kedua, berstatus Qordlu (hutang) apabila kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut menuntut adanya pengembalian.

Dalam memandang problematika ini, syariat begitu memperhatikan praktek bagaimana sebenarnya hadiah itu diberikan dengan melihat indikasi-indikasi yang ada. Dengan begitu akan sangat jelas maksud dari pihak pemberi, apakah pemberiannya tersebut ditujukan untuk sedekah atau pemberian hutang yang menuntut balasan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah. []waAllahu a’lam

_____________________

Referensi:

Hasyiyah al-Bajuri, II/187, cet. al-Haromain.

Al-Fatawi al-Fiqhiyah Al-Kubro, III/373, cet. Maktabah al-Islamiyah.

Hasyiyah al-Jamal, III/601.

Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah.

 

Ngaji Tafsir: Tanggung Jawab Keluarga

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan ayahnya hendaknya pulang, Rasulullah Saw mencegahnya seraya berkata, “Kembalilah, malaikat Jibril As membawakan ayat ini”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan Surah An-Nisa’ ayat 34. (Lihat: Tafsir Ar-Razi, X/70)

Menghayati Ayat

Dalam awal penggalan ayat ke 34 surah An-Nisa’, Allah Swt berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, (QS. An-Nisa’: 34).

Mayoritas ulama Ahli Tafsir memberi penjelasan yang senada atas kandungan ayat tersebut. Yakni menitikberatkan terhadap aspek kepemimpinan dan tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan. Dengan bermodal kelebihan yang dimiliki, baik secara fisik maupun daya intelektual, kaum laki-laki sudah sepatutnya memegang tanggung jawab atas kaum perempuan.

Menurut sebagian kelompok, ayat ini menjadi alasan sebagai argumen untuk memarginalkan golongan perempuan. Dengan bertendensi terhadap realita dan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap kaum laki-laki, mereka seakan memposisikan perempuan sebagai strata kedua yang berada di bawah level kaum laki-laki. Dengan dalih kelebihan yang dimiliki kaum laki-laki dalam ayat itu, kelompok ini sangat menentang adanya upaya yang sering disebut emansipasi wanita.

Sebenarnya asumsi serampangan seperti ini telah terjawab dalam kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith. Syech Muhammad Yusuf Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya benar apabila dikatakan laki-laki lebih utama daripada perempuan. Karena dalam konteks ayat ini, yang berlaku adalah hukum keumuman jenis laki-laki yang lebih utama daripada jenis perempuan, bukan memandang setiap individunya. Dengan kata lain, tidak menutup kemungkinan ada individu perempuan yang justru lebih baik daripada laki-laki, contoh adalah Sayyidah ‘Aisyah Ra, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, III/622, Maktabah Syamilah)

Implementasi Penafsiran

Penggalan ayat di atas, mengemukakan ragam penafsiran yang begitu banyak dari golongan ulama Ahli Tafsir. Namun, mayoritas dari mereka (Jumhur Al-Mufassirin) mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menjadi landasan tanggung jawab seorang laki-laki atas keluarganya.

Ada dua alasan yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab atas keluarganya, yaitu karena Wahbiyun (Pemberian) dan Kasbiyun (Pekerjaan). Yang dimaksud Wahbiyun (Pemberian) adalah segala kelebihan yang diberikan atas kaum laki-laki demi melancarkan tanggung jawabnya atas perempuan, seperti kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik. Sedangkan yang dimaksud Kasbiyun (Pekerjaan) adalah kelebihan yang diusahakan oleh kaum laki-laki dalam menunjang tanggunh jawabnya atas kaum perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan nafkah keluarga. (Lihat: Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, I/498, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, dalam ayat itu Allah menggunakan kata “Qowwamun” yang memiiliki arti “Pemimpin” merupakan bentuk metafora dari kata “Qoimun”. Sehingga sangat tepat sekali bahwa kamu laki-laki lah yang mengemban amanah untuk memimpin, mendidik, dan menjaga keluarganya. Begitu juga bagi perempuan, dia mengemban amanah sebuah kehormatan dan wajib untuk selalu mentaati perintah yang diberikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. (Lihat: Tafsir Al-baghowi, II/206, dan Tafsir Ar-Razi, X/70)

Dengan pemahaman yang komprehensif dengan bukti referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan perempuan dengan bertendensi pada ayat ini. Karena pada dasarnya, ayat ini justru menjelaskan masalah keseimbangan hak dan kewajiban antara seorang suami dan istri demi terciptanya nuansa keluarga yang sakinah dan harmonis.

[]waAllahu a’lam

Referensi:

Tafsir Ar-Razi

Al-Bahr Al-Muhith fii  Al-Tafsir

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Qurtubhi

Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid

Legalitas Umroh Sebelum Haji

Dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir, Imam As-Suyuti mengutip sebuah hadis Ralulullah Saw:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga,” (HR. An-Nasai, Ahmad, dan At-Turmudzi).

Hadis tersebut menjelaskan begitu besar pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt bagi mereka yang menunaikan ibadah haji dan umroh. Sebagai muslim yang hakiki, sangat mustahil apabila tidak terbesit keinginan dalam hati untuk menunaikan kedua ibadah tersebut.

Namun, apa daya ketika realita berbicara lain. Kebutuhan finansial yang lumayan mahal menjadikan kedua ibadah ini tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Andaipun kebutuhan biaya dan finansial telah mampu, tak jarang mereka harus menanti beberapa tahun untuk menunggu giliran keberangkatannya (Waiting List).

Akhirnya, demi mengobati kerinduan beribadah di tanah Suci Makah dan Madinah, sebagian orang memilih menunaikan ibadah umroh meskipun mereka belum sempat menunaikan ibadah haji. Alternatif umroh sebelum haji ini masih ada yang mempertanyakan keabsahannya, apakah praktek demikian dapat dibenarkan dalam pandangan kaca mata syariat?.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, memaparkan legalitas ibadah umroh sebelum haji dengan ungkapan seperti ini:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ سَوَاءٌ حَجَّ فِي سَنَتِهِ أَمْ لَا وَكَذَا الْحَجُّ قَبْلَ الْعُمْرَةِ وَاحْتَجُّوا لَهُ بِحَدِيثِ ابْنُ عُمَرَ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَبِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْمَشْهُورَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ ثَلَاثَ عُمَرٍ قَبْلَ حَجَّتِهِ

Para ulama sepakat atas kebolehan melakukan umroh sebelum menunaikan ibadah haji, baik haji di tahun itu ataupun tidak, begitu juga kebolehan haji sebelum umroh. Pendapat ini berargumen dengan hadis sahabat Ibnu Umar; Sesungguhnya Nabi Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Selain itu, para ulama juga berargumen dengan hadis-hadis shahih yang lain, yaitu Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebanyak tiga kali sebelum beliau menunaikan ibadah haji,” (Lihat: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VII/170, Maktabah Syamilah).

Dalam kitab Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’ juga dijelaskan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ، فَقَالَ: أَعْتَمِرُ – بِتَقْدِيرِ هَمْزَةِ الِاسْتِفْهَامِ – قَبْلَ أَنْ أَحُجَّ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: نَعَمْ، قَدِ «اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ»  ثَلَاثَ عُمَرٍ. قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: يَتَّصِلُ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ وُجُوهٍ صِحَاحٍ، وَهُوَ أَمْرٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ لِمَنْ شَاءَ

Seorang laki-laki bertanya kepada Said bin Musayyab; Bolehkah aku umroh sebelum haji?. Said menjawab; Boleh, karena Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, yaitu sebanyak 3 kali. Ibnu Abdi Al-Bar berkata; Hadis ini bersambung dari periwayatan yang shahih. Telah menjadi kesepakatan dan tidak ada pertentangan di antara para ulama bahwa boleh melaksanakan umroh sebelum haji bagi yang menghendakinya,” (Lihat: Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’, II/393, Maktabah Syamilah).

Dari penjelasan referensi tersebut sudah dapat ditarik pemahaman bahwa menjalankan ibadah umroh sebelum menunaikan ibadah haji dapat dibenarkan menurut kacamata syariat. Bahkan yang demikian itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sendiri sebanyak tiga kali, sebagaimana keterangan dari hadis sahabat Ibnu Umar yang diriwayatkan dengan periwayatan yang shahih.

[]waAllahu a’lam

 

 

Dosa

Tersebutlah seorang lelaki saleh yang hidup pada zaman Bani Israil. Lelaki tersebut ahli beribadah. Ahli berpuasa. Tekadnya mencurahkan seluruh hidup hanya untuk mengabdikan diri menyembah-Nya. Ia berpuasa penuh selama tujuh puluh tahun lamanya, dan hanya berbuka setiap seminggu satu kali. Suatu kali ia berdoa, ia memohon agar Allah SWT memperlihatkan bagaimana setan menggoda manusia. Ia sekedar ingin tahu. Ia menantikan doanya dijawab. Ia menunggu. Namun hingga sekian lama, Allah SWT tak kunjung mewujudkan doanya. Mungkinkah doa yang ia minta terlalu berlebihan? Mungkinkah apa yang ia panjatkan terlalu muluk-muluk? Ia lalu berkata pada dirinya sendiri, “Andaikan saja aku bisa melihat bagaimana wujud kesalahanku, dan bagaimana wujud dosa yang pernah aku lakukan antara aku dan tuhanku, pasti itu lebih baik dari pada doa yang aku panjatkan itu.” Tak disangka-sangka, Allah SWT yang mendengar kalimat lelaki tersebut mengutus malaikat kepadanya. Malaikat tersebut menyampaikan apa yang difirmankan Allah SWT. “Allah telah mengutusku padamu, dan Ia berfirman, ‘kalimatmu itu tadi yang kau ucapkan lebih Aku sukai dari pada ibadahmu yang telah kau lakukan selama ini.’ Dan Allah telah membuka matamu, maka lihatlah.” Kata sang malaikat. Ajaib, doa yang ia lantunkan dahulu akhirnya terkabul pada hari itu. Tiba-tiba ia dapat melihat bagaimana setan menjerumuskan manusia. Ia melihat setan dimana-mana. Di seluruh dunia ada bala tentara Iblis. Seluruh tempat seperti telah dibanjiri musuh manusia itu. Ia menyaksikan, bahwa tak seorangpun kecuali dikelilingi oleh banyak sekali setan. Tak seorangpun manusia hidup kecuali disekitarnya setan-setan mengerumuni seperti lalat. Kaget bukan main, ia berkata. “Tuhanku, siapakah yang mungkin selamat dari ini?” Allah SWT lantas berfirman, “Orang yang punya sifat wira’i dan lemah lembut.”

***

Kita mungkin tak bisa meniru kisah tokoh yang dikisahkan oleh Wahab bin Munabbih (34 H-110 H) tersebut. Ditimbang dari nilai ibadahnya saja, kita tak akan mungkin sanggup berpuasa tanpa henti selama satu minggu penuh. Namun setidaknya kita bisa menangkap sisi hikmah kisah tersebut. Bagaimana Allah SWT begitu ridho dengan kalimat sederhana yang diucapkan lelaki Bani Israil tadi. Hanya sebaris kalimat namun bobotnya mengalahkan ibadah selama tujuh puluh tahun dimata Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW memang tak pernah menjelaskan bagaimana “wujud dosa”. Kepada Wâbishoh RA, dosa hanya beliau gambarkan sebagai “sesuatu yang mengganjal di hati”. Ketika salah satu sahabat bertanya tentang apa itu dosa dan apa itu kebaikan, jawab Nabi amat sederhana.

“يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ”   – مسند أحمد

“Wahai Wâbishoh, mintalah fatwa pada dirimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang. Dan membuat jiwamu tenang. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hati. Dan membingungkan hati. Meskipun orang-orang berfatwa padamu, meski mereka berfatwa padamu.” (HR. Ahmad)

Namun, kata Imam al-Ghazali, kita tak bisa memakan hadis tersebut mentah-mentah. Hadis tersebut disabdakan pada Wâbishoh RA. Dan beliau bukan sahabat sembarangan. Beliau orang salih dan ahli ibadah. Nabi berpesan tentang hadis istafti qalbak, yang berarti tanyalah pada hatimu sendiri jika kau ragu akan suatu hal, hanya kepada orang-orang semacam beliau. ”Nabi tidak menghendaki nasihat tentang mintalah fatwa kepada hati sendiri kepada semua orang. Nabi hanya berpesan demikian kepada Wâbishoh yang telah tahu akan keadaan dirinya.” Tutur Imam al-Ghazali.[1]

Artinya, orang awam akan tetap diberi batasan dan pengertian tentang dosa. Dosa berarti apa yang dilarang, dan dosa juga berarti batasan-batasan yang “tidak diinginkan” oleh sang pembawa risalah. Jika orang awam juga diberi nasihat yang sama dengan Wâbishoh RA, bukan tidak mungkin hati akan berfatwa pada tipuan hawa nafsu belaka.

Pada fitrahnya, jiwa yang bersih akan mampu membaca tanda-tanda. Ia mampu membedakan mana “hitam” dan mana “putih”. Bahkan meski banyak orang berkata sebaliknya, bagi orang yang sudah mencapai kapasitas “bersih”, pantang melanggar kata hati. Entah bagaimanapun kata orang, ia lebih baik percaya pada dirinya sendiri.

 

 

[1] Ihya Ulumuddin, Juz 2, halaman 17. CD Maktabah Syamilah.