Nabi Muhammad saw. pernah bersabda tentang hal penting di kehidupan sehari-hari perihal takdir:
اِعْمَلُوْا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Beramallah! Karena setiap manusia akan (Allah) mudahkan sesuai dengan apa yang telah ia (Allah) ciptakan untuknya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadis di atas mengandung pelajaran besar yang sering luput dari perhatian kita. Bahwa kehidupan ini pada hakikatnya adalah perjalanan menuju tempat kembali yang telah Allah tentukan: surga atau neraka. Dan selama menapaki perjalanan itu, setiap hamba akan dimudahkan Allah dalam urusan yang menjadi takdirnya.
Ada yang Allah mudahkan dalam kebaikan, ringan langkahnya ke masjid, lembut lisannya membaca Al-Qur’an, mudah hatinya menangis karena dosa. Tapi ada pula yang terasa berat sekali dalam melaksanakan kebaikan. Bahkan ketika ia berniat untuk taubat, selalu saja ada saja halangan yang menunda-nunda langkahnya. Di sisi lain, maksiat terasa ringan dan menyenangkan, bahkan menjadi kebiasaan yang tak terasa sebagai kesalahan.
Baca juga: Rahmat Allah pada Ahli Maksiat: Harapan di Balik Dosa
Kisah Menyedihkan Seorang Anak Durhaka
Suatu hari di zaman Nabi, datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw. menyampaikan berita memilukan, “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang sedang sakaratul maut. Kami perintahkan ia mengucapkan laa ilaaha illallah, tapi ia tak mampu mengucapkannya.”
Rasulullah bertanya, “Apakah dia ketika hidup bisa mengucapkannya?”
“Iya, bisa.”
“Lalu apa yang menghalanginya sekarang?” tanya Nabi.
Setelah ditelusuri, ternyata lelaki itu sedang menanggung murka ibunya. Ia adalah anak durhaka. Nabi kemudian meminta agar sang ibu didatangkan. Kepada ibu itu Nabi bersabda, “Jika engkau tidak meridai anakmu ini, maka ia akan menjadi bahan bakar api neraka.”
Sang ibu pun menangis, dan akhirnya berkata, “Aku rida padanya.”
Setelah itu, pemuda tersebut pun dengan lirih mengucapkan laa ilaaha illallah, lalu menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.
Melihat peristiwa itu, Rasulullah bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.”
Baca juga: Memahami Makna Sejati Hijrah
Petunjuk yang Sering Tidak Kita Sadari
Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu tanda kebahagiaan akhirat (husnul khotimah) adalah ketika seseorang sedang Allah mudahkan untuk melakukan kebaikan dan sedang Allah persulit untuk berbuat maksiat. Misalnya, ketika ada ajakan ke tempat-tempat maksiat, kita selalu saja terhalang, entah karena kita selalu diminta membantu orang tua, entah karena dilarang keluar malam, atau karena hati terasa tidak nyaman.
Bagi yang demikian, berbahagialah! Itu bukan kebetulan. Itu pertolongan dari Allah. Tandanya engkau sedang dituntun oleh Allah menuju surga-Nya. Bukankah Allah berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَىٰ. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Adapun orang yang memberi (di jalan Allah), bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kebahagiaan.” (QS. Al-Lail: 5–7)
Namun sebaliknya, betapa banyak orang yang ingin taubat, tapi niat itu selalu pupus. Mereka ingin berubah, tapi terus tenggelam dalam kebiasaan lama. Itulah tanda bahwa ia sedang dimudahkan untuk bermaksiat dan dipersulit untuk berbuat baik. Jika dibiarkan, maka bisa jadi ia termasuk dalam kelompok yang celaka di akhirat nanti.
Baca juga: Tidak Semua Orang Layak Jadi Teman: Nasihat Jitu Imam al-Ghazali
Empat Tanda Su’ul Khatimah
Para ulama menuturkan bahwa di antara tanda-tanda seseorang akan menemui akhir hidup yang buruk (su’ul khotimah) adalah:
- Meremehkan shalat.
- Meminum khamr (minuman keras).
- Menyakiti sesama Muslim.
- Durhaka terhadap kedua orang tua.
Sungguh, ini bukan sekadar dosa, tapi jalan yang menghalangi cahaya hidayah masuk ke dalam hati.
Ciri-Ciri Orang yang Akan Celaka
Lebih dalam lagi, sebagian ulama menyebutkan empat sifat yang menjadi ciri-ciri orang yang kemungkinan besar akan berakhir dalam keadaan celaka:
- Tidak pernah menangisi kesalahan.
Hatinya kering dari penyesalan, padahal setiap manusia pasti berdosa. - Hatinya keras.
Tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tersentak oleh peringatan kematian. - Cinta dunia secara berlebihan.
Hidupnya hanya berputar pada urusan harta, jabatan, dan popularitas. - Berharap lebih kepada selain Allah.
Ketika butuh pertolongan, hatinya bergantung pada manusia, bukan kepada Allah.
Penutup
Maka marilah kita bercermin. Mudahkah diri kita untuk berbuat baik, atau justru ringan untuk bermaksiat? Adakah kita merasa nikmat saat mendengar adzan, atau malah merasa terganggu? Adakah kita bangga saat bisa membantu orang tua, atau justru merasa itu beban?
Setiap manusia akan mati. Tapi tidak semua akan mati dalam keadaan baik. Maka jangan tunggu esok untuk memperbaiki diri. Karena sebagaimana sabda Nabi di atas:
“Beramallah! Karena setiap orang akan (Allah) mudahkan untuk menuju tempat yang telah (Allah) tentukan baginya.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang beliau mudahkan dalam kebaikan, dan beliau jauhkan dari jalan kehinaan. Amin ya Mujibas Sa’ilin.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo






Terima kasih atas artikelnya sangat menyentuh hati semoga kita semua bisa menjadi orang yang selalu taqwa kepada allah dan dimudahkan untuk berbuat kebaikan dan dipersulit untuk melakukan ma’siyat dan semoga kita menjadi orang yang husnul khotimah semua amiin