HomeArtikelProyek Syariat yang Maslahat

Proyek Syariat yang Maslahat

0 0 likes 126 views share

Menurut syekh Abdul Wahab Khalaf dalam kitabnya, ‘Ilmu Ushul Al-Fiqhi, kehadiran syariat sebagai norma kehidupan tidak terlepas dari tujuan yang telah digariskan oleh Allah Swt. Dalam konteks ini, Allah Swt memproyeksikan syariat sedemikian rupa demi terciptanya kemaslahatan dalam kehidupan. Frasa semacam ini sejak dulu telah didengungkan oleh para ulama, salah satunya dalam kitab Qowaid Al-Ahkam fii Mashalilh Al-Anam, karya Syekh Izzuddin bin Abdis Salam:

التَّكَالِيفُ كُلُّهَا رَاجِعَةٌ إلَى مَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ

Semua tuntutan itu dikembalikan kepada kemaslahatan para hamba dalam urusan dunia dan akhirat,” (lihat: Qowaid Al-Ahkam fii Mashalilh Al-Anam, II/73, cetakan Dar Al-Kutub Al’Ilmiyah).

Proyek tujuan syariat atau yang sering disebut dengan istilah Maqashid As-Syari’ah tersebut mencakup lima aspek besar kehidupan, yakni agama, jiwa, intelektual, harga diri, dan harta.

Pertama, adalah perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din).

Agama merupakan sekumpulan akidah, ibadah, hukum, dan undang-undang yang telah disyariatkan oleh Allah Swt untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan manusia yang lain.

Dalam ranah aplikasi keagamaan, Islam telah menggariskan tauhid dalam hal akidah, fiqih dalam hal syariat, dan akhlaq dalam hal tasawwuf. Selain itu, Islam juga mewajibkan dakwah dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam hal menjaga dan mengembangkan agama.

Adapun dalam aspek penerapannya, perlindungan terhadap agama diwujudkan dari dua sisi, yakni penjagaan dari segi kelestarian dan penjagaan dari sisi ancaman yang dapat merusaknya. Sebagai upaya untuk mengimbangi, Islam juga mensyariatkan perkara yang dapat menjaga eksistensi agama dari rongrongan musuh-musuhnya. Maka dari itu, muncullah hukum Jihad, hukuman bagi orang murtad dan orang-orang yang berbuat bid’ah dalam beragama, melarang Qadhi atau hakim yang semena-mena dalam memutuskan hukum, dan lain sebagainya.

Kedua, adalah perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs).

Dalam menjaga jiwa dan keberlangsungan hidup manusia, Islam mensyariatkan hukum yang menjaga kemaslahatan yang berhubungan dengan eksistensi dan kelestarian umat manusia, seperti adanya hukum pernikahan. Selain itu, Islam juga mensyariatkan hal-hal yang menjamin kehidupan manusia dari penindasan, seperti hukuman Qishash, hukum pidana dan denda, kaharaman menjatuhkan diri dalam lembah kerusakan, serta kewajiban menolak segala macam bahaya yang berpotensi mengancam keselamatan (Daf’us Shoil).

Ketiga, adalah penjagaan intelektual (Hifdhu Al-’Aqli).

Sebagai manusia, akal pikiran merupakan anugerah terbesar yang tidak diberikan oleh Allah Swt kepada selain manusia. Maka dari itu, kehadiran syariat turut andil dalam menjaga aset terbesar yang dimiliki manusia secara khusus tersebut. Yakni dengan adanya hukum keharaman mengkomsumsi minuman keras dan setiap perkara memabukkan yang berakibat negatif untuk merusak dan menghilangkan akal, serta mensyariatkan hukuman yang tegas bagi para pelakunya.

Keempat, adalah penjagaan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Tuduhan zina (Haddul Qodf) dan hukuman bagi para pezina merupakan salah satu bukti riil yang ditunjukkan syariat untuk menjaga umat Islam dari tuduhan-tuduhan lemah yang tak berdasar yang mana hal tersebut dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan harga diri seseorang.

Kelima, adalah perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal).

Harta merupakan perantara yang dapat membantu seseorang untuk menjalankan segala kewajiban dan memenuhi kebutuhannya. Dalam ranah ini, syariat begitu mengapresiasi dengan adanya pelegalan atas hukum muamalah sebagai sarana interaksi sosial dan ekonomi umat Islam.

Dalam kajian fiqih muamalah ini, Islam menjaga dan menanamkan prinsip kejujuran, saling tolong menolong, dan kemaslahatan dalam semua bentuk transaksi yang dilakukan. Maka dari itu, tak heran jika kemudian muncul hukum keharaman untuk berspekulasi dan memanipulasi dalam transaksi perdagangan, hukum perjudian, dan segala hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Dari penjelasan bukti-bukti di atas, sudah sangat jelas bahwa Islam telah mensyariatkan formulasi hukum dalam semua aspek, baik dalam bidang akidah, ibadah, muamalah, munakahat, jinayat. Formulasi hukum tersebutlah yang menjadi proyek besar syariat dalam menciptakan, memenuhi, dan menjaga kebutuhan umat Islam secara khusus dan umat manusia pada umumnya. Sebagaimana salah satu ungkapan:

إِذَا وُجِدَتِ الشَّرِيْعَةُ وُجِدَتِ الْمَصْلَحَةُ

Dimana ada syariat, disanalah terdapat kemaslahatan”.[]waAllahu a’lam

____

Disarikan dari kitab ‘Ilmu Ushul Al-Fiqhi hlm 200-202, karya Syekh Abdul Wahab Khalaf, cetakan Darul Qolam.