Tag Archives: fiqih

Problematika Hadiah Dalam Tradisi Walimah

Bukan menjadi rahasia lagi di masyarakat, berkembangnya sebuah tradisi untuk saling memberi hadiah ketika diselenggarakan semacam perayaan pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Pemberian hadiah itu pun memiliki kebiasaan yang berbeda, ada yang berupa barang yang dikemas dalam sebuah kado, atau sejumlah uang yang dimasukkan dalam selembar amplop. Model pemberiannya pun sangat beragam, ada yang mencantumkan nama dan ada juga yang tidak mencantumkan nama sehingga tidak diketahui dari siapa pemberian tersebut.

Di suatu daerah tertentu, kebiasaan memberi hadiah itu menuntut bagi penerimanya untuk membalas apa yang telah diberikan apabila pihak yang memberi merayakan semacam perayaan serupa di waktu mendatang. Dengan artian, pemberian itu terkesan menjadi sebuah hutang yang dibebankan kepada penerima hadiah. Namun praktek itu sangat berbeda dengan di daerah lain, pemberian hadiah dalam sebuah acara perayaan tertentu murni merupakan hadiah tanpa adanya tuntutan untuk membalas di kemudian hari.

Secara otomatis, berbagai model tradisi pemberian tersebut akan menarik sebuah pertanyaan mengenai status hadiah tersebut. Apakah memang pemberian itu murni hadiah sehingga tidak ada tuntutan bagi penerimanya untuk mengembalikan di waktu mendatang, ataukah praktek tersebut justru merupakan praktek hutang piutang yang menuntut adanya balasan serupa sebagaimana yang telah terlaku dan mentradisis di berbagai daerah.

Dalam kitabnya, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, syekh Abi Bakar Utsman bin Muhammad Syato ad-Dimyati memberikan pencerahan yang sangat bijak terkait persoalan tersebut:

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِيْ زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوْطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرْحِ فِيْ يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُوْنِهِ هَلْ يَكُوْنُ هِبَّةً أَوْ قَرْضًا؟ أَطْلَقَ الثَّانِيَ جمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ الى ان قال- وَجَمَّعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يُعْتَدِ الرُّجُوُعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِيْ عَلَى مَا إِذَا اِعْتِيْدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَا ذُكِرَ

Perihal adat kebiasaan yang berlaku di zaman kita, yaitu memberikan semacam kado hadiah perkawinan dalam sebuah perayaan, baik memberikan secara langsung kepada orang yang merayakan atau kepada wakilnya, apakah hal semacam itu termasuk ketegori pemberian cuma-cuma atau dikategorikan sebagai hutang?. Maka mayoritas ulama memilih mengkategorikannya sebagai hutang. Namun sebagian ulama lain lebih memilih untuk mengkategorikan pemberian itu sebagai pemberian cuma-cuma…. Sehingga dari perbedaan pendapat ini para ulama mencari titik temu dan menggabungkan dua pendapat tersebut dengan sebuah kesimpulan bahwa status pemberian itu dihukumi Hibah atau pemberian cuma-cuma apabila kebiasaan di daerah itu tidak menuntut untuk dikembalikan. Konteks ini akan bermacam-macam sesuai dengan keadaan pemberi, jumlah pemberian, dan daerah yang sangat beragam. Adapun pemberian yang distatuskan sebagai hutang apabila memang di daerah tersebut ada kebiasaan untuk mengembalikan. Apabila terjadi praktek pemberian yang berbeda dengan kebiasaan, maka dikembalikan pada motif pihak yang memberikan” (lihat: Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah).

Dari pemaparan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian yang biasa dilakukan dalam momentum semacam pernikah, khitanan, dan lain-lain dibagi menjadi dua; Pertama, berstatus Hibah (pemberian cuma-cuma) apabila kebiasaan yang berlaku tidak ada tuntutan untuk mengembalikan. Kedua, berstatus Qordlu (hutang) apabila kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut menuntut adanya pengembalian.

Dalam memandang problematika ini, syariat begitu memperhatikan praktek bagaimana sebenarnya hadiah itu diberikan dengan melihat indikasi-indikasi yang ada. Dengan begitu akan sangat jelas maksud dari pihak pemberi, apakah pemberiannya tersebut ditujukan untuk sedekah atau pemberian hutang yang menuntut balasan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah. []waAllahu a’lam

_____________________

Referensi:

Hasyiyah al-Bajuri, II/187, cet. al-Haromain.

Al-Fatawi al-Fiqhiyah Al-Kubro, III/373, cet. Maktabah al-Islamiyah.

Hasyiyah al-Jamal, III/601.

Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah.

 

Mengenal Dasar-Dasar Sujud Sahwi

Secara bahasa, Sahwi berarti lupa. Sujud Sahwi secara istilah diartikan dengan dua sujud yang dilakukan sebelum salam di akhir shalat karena melakukan sebab-sebab tertentu.

Hukum Sujud Sahwi

Hukum asal dari sujud Sahwi bagi seorang imam atau munfarid (sholat sendirian) adalah sunah. Adapun bagi makmum wajib melakukan sujud Sahwi dalam rangka Mutaba’ah (mengikuti imam) apabila imamnya melakukan sujud Sahwi.

Sebab-Sebab Sujud Sahwi

Sujud Sahwi sunah untuk dikerjakan apabila melakukan hal-hal berikut;

Pertama, meninggalkan salah satu sunnah Ab’adh dalam shalat. Contoh, meninggalkan duduk atau bacaan Tasyahud Awal dan Qunut. Sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah Ra, dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ، فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ سَجْدَتَي السَّهْوِ

Jika salah seorang di antara kalian bangkit dari dua raka’at, dan belum berdiri dengan sempurna, maka hendaklah ia duduk. Namun, jika ia telah berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk. Dan hendaklah ia melakukan sujud sahwi dua kali” (HR. Ibnu Majah).

Kedua, melakukan pekerjaan yang apabila dilakukan secara sengaja dapat membatalkan shalat. Seperti berbicara dengan perkataan yang sedikit atau menambah jumlah rakaat dalam keadaan lupa. Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيَتِمْ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

Sesungguhnya, jika terjadi sesuatu pada shalat, niscaya kalian aku beritakan. Akan tetapi aku hanyalah seorang manusia. Aku lupa sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah dia berusaha mencari mana yang benar. Lalu menyempurnakannya, setelah itu hendaklah dia sujud dua kali” (HR. Abu Dawud).

Ketiga, memindah rukun Qauli (ucapan) di selain tempatnya. Misalkan, membaca surah Al-Fatihah dalam ruku’ atau Tasyahud, atau membaca bacaan Tasyahud dalam keadaan berdiri.

Keempat, melakukan sebuah rukun Fi’li (gerakan) yang ada indikasi menambah rukun. Contohnya apabila seseorang ragu dalam bilangan rakaat, kemudian keraguan tersebut berlanjut sampai rakaat berikutnya, maka dia disunnahkan sujud Sahwi meskipun keraguannya tersebut hilang sebelum salam. Rasulullah Saw pernah bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟ ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًـا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَـا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ. فَإِنْ كَـانَ صَلَّى خَمْسًا شَفِعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya. Sehingga dia tidak tahu berapa raka’at yang telah dia kerjakan, tiga raka’at ataukah empat raka’at. Maka hendaklah ia tepis keraguan itu, dan ikutilah yang dia yakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia mengerjakan lima raka’at, maka dia telah menggenapkan shalatnya. Namun, jika dia mengerjakan empat raka’at, maka dua sujud tadi adalah penghinaan bagi syaitan” (HR. Ahmad).

Catatan: Sujud Sahwi tetap sunah dilakukan satu kali (dua kali sujud) meskipun disebabkan oleh melakukan lebih dari satu penyebab sujud Sahwi.

Tata Cara melakukan Sujud Sahwi

Dalam prakteknya, sujud Sahwi sama persis dengan dua sujud yang menjadi rukun shalat, baik dari segi syarat, kewajiban, dan sunah-sunahnya. Namun yang menjadi perbedaan paling mendasar adalah dari dua hal, yakni;

Pertama, dari sisi niat. Bagi Imam atau seorang munfarid (sholat sendirian) untuk berniat di dalam hati (tanpa diucapkan) untuk melakukan sujud Sahwi. Adapun bagi makmum tidak diharuskan niat, karena sudah dicukupkan dengan keikutsertaannya kepada imam.

Kedua, dari sisi bacaannya. Di dalam sujud Sahwi disunnahkan untuk membaca tasbih berikut ini:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُوْ

Maha suci Dzat yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa”.

Menurut sebagian ulama, bacaan tasbih di atas hanya diperuntukkan bagi mereka yang lupa dalam melakukan sebab-sebab sujud Sahwi. Adapun bagi yang sengaja melakukan sebab-sebab sujud Sahwi, bacaan yang paling tepat dalam sujud Sahwinya adalah bacaan istighfar.[]waAllahu a’lam

Referensi:

Al-Yaqut An-Nafis, hlm 46, cet. Al-Haromain.

Hasyiyah Al-Bajuri, I/189, cet. Al-Hidayah.

Shahih Muslim, I/404.

Syarh Al-Mahalli ‘ala Al-Minhaj, I/225.

 

Bolehkah Wanita Haid Membaca al-Qur’an?

Datang bulan atau menstruasi (haid) merupakan sebuah keistimewaan khusus yang hanya dimiliki oleh kaum wanita. Tentu dalam konteks ini, Islam tidak lepas tangan untuk mengatur segala hukum syariat yang berhubungan dengannya. Salah satu bentuk tatanan syariat tersebut adalah keharaman wanita haid untuk membaca al-Qur’an. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw pernah bersabda:

لَا يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ…. حَدِيثُ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ

Tidak diperbolehkan bagi orang yang junub dan orang yang haid untuk membaca sesuatu dari al-Qur’an”, (HR. Tirmidzi dan lainnya).

Namun, keumuman hadis tersebut tidak serta merta memukul rata semua keadaan bahwa wanita haid haram untuk membaca al-Qur’an. Berbagai perselisihan pendapat ulama madzhab fiqih juga menjelaskan beberapa keadaan yang melegalkan mereka tetap diperbolehkan membaca al-Qur’an.

Dalam madzhab Syafi’iyah, pembahasan hukum wanita haid membaca al-Qur’an terdapat beberapa permasalah yang perlu dipahami, yaitu:

  1. 1. Apabila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya, maka hukumnya haram.
  2. 2. Apabila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya dan disertai dengan niat yang lain, maka juga dihukumi haram.
  3. 3. Apabila membaca al-Qur’an diniati selain untuk membaca al-Qur’an seperti untuk menjaga hafalan, membaca zikir, kisah-kisah, hukum-hukum dalam al-Qur’an, mauidzah (petuah), maka hukumnya diperbolehkan.
  4. 4. Apabila membaca al-Qur’an karena tidak ada kesengajaan untuk mengucapkannya, maka hukumnya diperbolehkan.
  5. 5. Apabila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak, yakni sekedar ingin membaca tanpa niat tertentu, maka hukumnya diperbolehkan.
  6. 6. Apabila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak atau juga diniati selain al-Qur’an, namun yang dibaca adalah susunan kalimat khas al-Qur’an atau satu surat panjang atau keseluruhan al-Qur’an, maka hukumnya diperselisihkan oleh para ulama (khilaf). Menurut imam an-Nawawi dan para ulama pendukungnya, dalam kasus ini masih diperbolehkan. Sedangkan imam az-Zarkasyi dan ulama lainnya masih tetap memegang hukum keharamannya.
  7. 7. Apabila membaca al-Qur’an diniatkan pada salah satunya (membaca al-Qur’an diniati secara mutlak atau niat selain al-Qur’an) tanpa dijelaskan yang mana yang ia maksud, maka hukumnya khilaf. Menurut qaul mu’tamad (pendapat yang dapat dijadikan pegangan) diharamkan, karena masih adanya kemungkinan niat pada bacaan al-Qur’annya.[1]

Adapun di dalam madzhab Malikiyah, wanita haid diperbolehkan membaca al-Qur’an secara mutlak, yaitu ketika membacanya dalam kondisi darah haid sedang keluar, baik disertai hukum junub ataupun tidak. Hukum ini juga berlaku meskipun wanita haid tersebut khawatir akan lupa atas al-Qur’an atau tidak.

Adapun ketika darah haidnya berhenti, maka ia tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an sebelum mandi hadas. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada pendapat lemah (qaul dha’if) yang memperbolehkan selama haidnya tidak disertai junub.[2]

Walhasil, berbagai pendapat yang mengemuka di antara para ulama sangatlah beragam. Keberagaman ini murni dihasilkan dari kapasitas dan kemampuan ijtihad yang mereka lakukan. Pada gilirannya, semuanya akan tetap bermanfaat, terutama dalam menjawab berbagai permasalahan haid yang semakin kompleks sesuai perkembangan zaman.

[]waAllahu a’lam.

_____________

Referensi:

[1] Hasyiyah Bujairomi ‘ala al-Khotib, I/358.

[2] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XVIII/322, Maktabah Syamilah.

Legalitas Umroh Sebelum Haji

Dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir, Imam As-Suyuti mengutip sebuah hadis Ralulullah Saw:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga,” (HR. An-Nasai, Ahmad, dan At-Turmudzi).

Hadis tersebut menjelaskan begitu besar pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt bagi mereka yang menunaikan ibadah haji dan umroh. Sebagai muslim yang hakiki, sangat mustahil apabila tidak terbesit keinginan dalam hati untuk menunaikan kedua ibadah tersebut.

Namun, apa daya ketika realita berbicara lain. Kebutuhan finansial yang lumayan mahal menjadikan kedua ibadah ini tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Andaipun kebutuhan biaya dan finansial telah mampu, tak jarang mereka harus menanti beberapa tahun untuk menunggu giliran keberangkatannya (Waiting List).

Akhirnya, demi mengobati kerinduan beribadah di tanah Suci Makah dan Madinah, sebagian orang memilih menunaikan ibadah umroh meskipun mereka belum sempat menunaikan ibadah haji. Alternatif umroh sebelum haji ini masih ada yang mempertanyakan keabsahannya, apakah praktek demikian dapat dibenarkan dalam pandangan kaca mata syariat?.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, memaparkan legalitas ibadah umroh sebelum haji dengan ungkapan seperti ini:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ سَوَاءٌ حَجَّ فِي سَنَتِهِ أَمْ لَا وَكَذَا الْحَجُّ قَبْلَ الْعُمْرَةِ وَاحْتَجُّوا لَهُ بِحَدِيثِ ابْنُ عُمَرَ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَبِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْمَشْهُورَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ ثَلَاثَ عُمَرٍ قَبْلَ حَجَّتِهِ

Para ulama sepakat atas kebolehan melakukan umroh sebelum menunaikan ibadah haji, baik haji di tahun itu ataupun tidak, begitu juga kebolehan haji sebelum umroh. Pendapat ini berargumen dengan hadis sahabat Ibnu Umar; Sesungguhnya Nabi Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Selain itu, para ulama juga berargumen dengan hadis-hadis shahih yang lain, yaitu Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebanyak tiga kali sebelum beliau menunaikan ibadah haji,” (Lihat: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VII/170, Maktabah Syamilah).

Dalam kitab Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’ juga dijelaskan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ، فَقَالَ: أَعْتَمِرُ – بِتَقْدِيرِ هَمْزَةِ الِاسْتِفْهَامِ – قَبْلَ أَنْ أَحُجَّ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: نَعَمْ، قَدِ «اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ»  ثَلَاثَ عُمَرٍ. قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: يَتَّصِلُ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ وُجُوهٍ صِحَاحٍ، وَهُوَ أَمْرٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ لِمَنْ شَاءَ

Seorang laki-laki bertanya kepada Said bin Musayyab; Bolehkah aku umroh sebelum haji?. Said menjawab; Boleh, karena Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, yaitu sebanyak 3 kali. Ibnu Abdi Al-Bar berkata; Hadis ini bersambung dari periwayatan yang shahih. Telah menjadi kesepakatan dan tidak ada pertentangan di antara para ulama bahwa boleh melaksanakan umroh sebelum haji bagi yang menghendakinya,” (Lihat: Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’, II/393, Maktabah Syamilah).

Dari penjelasan referensi tersebut sudah dapat ditarik pemahaman bahwa menjalankan ibadah umroh sebelum menunaikan ibadah haji dapat dibenarkan menurut kacamata syariat. Bahkan yang demikian itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sendiri sebanyak tiga kali, sebagaimana keterangan dari hadis sahabat Ibnu Umar yang diriwayatkan dengan periwayatan yang shahih.

[]waAllahu a’lam

 

 

Promo Akhir Tahun

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang terhormat, sudah kita ketahui bersama bahwa menjelang libur natal dan akhir tahun seperti saat ini merupakan kesempatan emas bagi para pelaku usaha untuk memikat para konsumen. Salah satu strategi pemasaran yang dirasa pas untuk momentum tersebut adalah dengan menggelar diskon (potongan harga) besar-besaran. Berbagai pusat perbelanjaan, supermarket, swalayan, bahkan Online shopping tak melewatkan kesempatan emas ini.

Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana hukum menggelar diskon pada momen natal dan akhir tahun?. Apakah tergolong merayakan hari raya non muslim?. Terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Imamatul H, -Surabaya.

_____

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Momentum natal dan tahun baru merupakan kesempatan berharga bagi para pelaku usaha untuk mendongkrak penjualan dengan menggelar berbagai macam strategi, salah satunya yang sering kita temui adalah memotong harga penjualan atau yang sering disebut diskon.

Menanggapi hal tersebut, syariat membaginya ke dalam tiga perincian:

Pertama, jika komoditas barang yang dijual berhubungan dengan syiar non muslim, maka hurumnya haram. Bahkan dapat berakibat kufur apabila memiliki tujuan berpartisipasi dalam merayakan hari raya mereka.

Kedua, jika komoditas barang yang dijual tidak berhubungan dengan syiar non muslim namun memiliki motif menyemarakkan hari raya mereka, maka hukumnya haram.

Ketiga, jika komoditas barang yang dijual tidak berhubungan dengan syiar non muslim dan tidak ada tujuan sebagaimana di atas, maka diperbolehkan.

Dari tiga perincin tersebut, sudah dapat diketahui bagaimana sikap syariat yang disesuaikan dengan tujuan, praktek, dan dampak yang dihasilkan oleh kegiatan pelaku usaha tersebut. Keterangan tersebut sesuai dengan penjelasan Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitabnya, Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, yang mengutip pendapat Ibnu Al-Haj.

Yang perlu digarisbawahi, diskon pada dasarnya bukan hanya ada saat natal dan akhir tahun. Momentum-momentum hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri atau hari kemerdekaan juga sering dijumpai diskon. Dari sini sudah jelas bahwa hal tersebut bukanlah syiar hari raya non muslim.

Adapun hukum membeli bagi para masyarakat yang menjadi konsumen dalam momentum tersebut dapat diperbolehkan selama tidak ada tujuan mengagungkan hari raya non muslim atau rela dengan kekufuran mereka.[] waAllahu a’lam

 

Referensi:

Tafsir Al-Munir, I/94, Maktabah Syamilah.

Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, IV/239, cet. Darul Fikr.

Is’adur Rofiq, II/50, cet. Al-Hidayah.