HomeKonsultasiAplikasi Penunjuk Arah Kiblat

Aplikasi Penunjuk Arah Kiblat

0 3 likes 302 views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di zaman yang serba mudah seperti saat ini, banyak hal yang membuat urusan hidup semakin mudah, tidak terkecuali dalam ibadah sekalipun. Dan sekarang, banyak dijumpai berbagai aplikasi yang membantu umat muslim dalam berbagai hal, salah satunya adalah aplikasi penunjuk arah kiblat yang mudah didownload melalui smartphone.

Bagaimana hukum menjadikan aplikasi penunjuk arah kiblat tersebut sebagai acuan dalam menentukan kiblat saat salat? Dan apakah dicukupkan hanya dengan menghadap ke arah barat bagi orang Indonesia?, Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sudah menjadi keharusan bagi seseorang yang akan melaksanakan salat (terutama salat fardu) untuk menyempurnakan syarat-syarat sebelum melaksanakannya. Salah satu dari beberapa syarat tersebut adalah menghadap kiblat (Ka’bah di kota Mekah). Legalitas syarat tersebut bertendensi pada firman Allah Swt dalam Alqur’an:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dan hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram,” (QS. Al-Baqoroh: 144).

Yang dimaksud wajah dalam ayat tersebut hanyalah sebatas kata Majaz, dengan artian bahwa yang menjadi pertimbangan penting dalam menghadap kiblat adalah posisi dada seseorang yang salat.

Pada hakikatnya, metode dalam hal menghadap kiblat bagi orang yang akan melaksanakan salat sudah dianggap cukup dengan berpedoman dari salah satu dari 4 cara, yaitu mengetahui secara yakin, kabar dari seseorang yang dipercaya, ijtihad (menghasilkan prasangka), dan mengikuti seorang mujtahid.[1]

Adapun aplikasi pencari arah kiblat dalam operasionalnya berusaha untuk menunjukkan arah kiblat seakurat mungkin dengan mengupdate data lokasi seluler yang mengaksesnya, baik ketinggian tempat, posisi garis lintang, garis bujur, dan lain sebagainya. Karena praktek dengan metode tersebut juga memandang validitas dan kemungkinan kecil untuk terjadi kesalahan, maka aplikasi penunjuk arah kiblat yang beredar sekarang sudah dianggap mencukupi sebagai acuan dalam menentukan arah kiblat.[2]

Apabila muncul lagi sebuah persoalan, apakah seorang dalam menghadap kiblat harus tepat persis terhadap bangunan Ka’bah atau dicukupkan dengan arah dimana kiblat tersebut berada?. Maka dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama (khilaf).

Menurut madzhab Syafi’i, pendapat yang unggul mengatakan bahwa seseorang harus secara tepat menghadap terhadap bangunan Ka’bah. Apabila posisi orang yang salat dekat dengan Ka’bah maka harus berdasarkan keyakinan, dan apabila posisinya jauh maka dicukupkan sebatas prasangka (dzon) saja.

Namun dalam lingkup internal madzhab Syafi’iyyah sendiri masih ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang salat dicukupkan menghadap arah dimana ka’bah tersebut berada, misalkan orang Indonesia menghadap ke arah barat.[3] Pendapat ini didukung oleh Al-Ghozali, al-Mahalli, Ibnu Kajin, dan Abi Usrun. Menururt Imam Al-Adzro’i, pendapat ini buka berarti tanpa alasan. Karena menimbang ukuran bangunan ka’bah yang sangat kecil, dan sudah dipastikan mustahil bagi seluruh penduduk dunia untuk menghadapnya secara tepat.[4] Dengan alasan inilah beberapa ulama tersebut mengatakan cukup dengan sekedar menghadap arah kiblat.[] waAllahu a’lam.

Referensi:

[1] Al-Bajuri, juz 1 hal 142, cet. Al-Haromain.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 1 hal 155, cet. Dar Al-Fikr.

[3] Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 2 hal 119, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[4] Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 78.