Tag Archives: zakat

Zakat Manifestasi Islam

Pembatasan sosial bersekala besar membuat kita tidak bisa bergerak bebas dalam beraktifitas. Pandemi Covid-19 menjadi pemicu, menggerus tatanan ekonomi di segala sektor. Para pengusaha banyak yang gulung tikar, sebab pemasukan tidak memadahi dengan modal yang telah dikeluarkan. Kebanyakan dari mereka terpaksa memberhentikan kontrak kerja kepada buruh, agar pemasukan dan pengeluaran dapat berjalan seimbang.

Data yang dikumpulkan oleh KOMPAS.com mewartakan sebanyak 1,7 juta pekerja terkena pemutusan kerja (PHK) atau dirumahkan. Pengangguran menyeruak. Untuk mencari pekerjaan lain—dalam masa pandemi ini—mereka sangat kesulitan. Grafik kemiskinan naik signifikan. Permasalahan ini sangat perlu untuk direspon sesegera mungkin. Sebab, jika berlarut-larut, aksi kekerasan akan terjadi di mana-mana. Ulah pencurian, penjarahan, dan bentuk anarkis lainnya akan marak.

Perputaran ekonomi menjadi permasalahan yang paling substansial untuk direnungkan. Sebab ekonomi menjadi kebutuhan primer yang tidak akan lepas dalam kehidupan manusia. Keprihatinan dan kepekaan, rasa solidaritas, tolong-menolong kepada orang yang membutuhkan bantuan, harus menjadi tindakan nyata.

Dalam Islam, segala aspek tatanan sosial telah didesain dengan apik. Hal ini membuktikan bahwa perhatian Islam terhadap kemakmuran umatnya adalah prioritas terdepan. Penanggulangan kemiskinan bisa kita atasi dengan penyaluran zakat yang merata.

Syaikh Muhammad asy-Syathiri dalam Syrah Yaqut an-Nafis mengungkapkan bahwa zakat adalah roda perputaran ekonomi yang luar biasa besarnya dan bisa mengentaskan kemiskinan secara nyata jika diaplikasikan sesuai dengan prosedur yang benar. (Asy-Syathiri, tt)

Menjabarkan perihal hikmah zakat, Imam ar-Razi berasumsi;

أن الأغنياء لو لم يقوموا بصلاح مهمات الفقراء فربما حملهم شدة الحاجة ومضرة المسكنة على الالتحاق بأعداء المسلمين ،او على الاقدام على الأفعال المنكرة كالسرقة وغيرها فكان ايجاب الزكاة يفيد هذه الفائدة

Jika orang kaya tidak menunjang kebutuhan primer orang faqir, boleh jadi kebutuhan yang sangat mendesak, dan kemlaratan yang teramat sangat, dapat mendorong mereka bergabung bersama musuh-musuh Islam atau mereka nekat melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri dan lain sebagainya. Dengan alasan ini maka diwajibkan zakat bagi orang-orang kaya.” (Ar-Razi, tt)

Mengambil i’tibar dari ibarat di atas, tidak hanya aksi kriminal saja yang akan terjadi ketika krisis moneter berkepanjangan, respon murtad, bahkan aksi terorisme akan sangat mudah kita temui. Maka pembayaran zakat dari orang kaya menjadi tumpuan yang sangat berarti atas kelangsungan hidup bagi orang-orang fakir, di samping kewajiban yang telah dibebankan kepada setiap personal yang memenuhi syarat pembayaran zakat.

Mendermakan Zakat Kepada Non Muslim

Menjadi permasalahan baru, ketika pandemi mewabah. Melambatnya perekonomian global disertai ketidakpastiannya, akan sangat berpengaruh pada ekonomi di dalam negeri. Dampak kerugian menyeluruh di segala sendi. Banyak orang yang mengalami kemudaratan akibat kasus ini.  Mereka yang mengalami cobaan, kesialan, kesusahan, sangat mengharapkan uluran tangan.

Krisis ini menjadi kasus hangat untuk menanggapi permasalahan yang terjadi dalam tubuh Baznas (Badan Zakat Nasional). Menukil Surat Keputusan (SK) Ketua Baznas Nomor 64 Tahun 2019 tentang Pedoman Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat, tertulis, di antara asnaf fakir adalah korban bencana alam dan bencana sosial, maka meliputi orang beragama Islam dan non Muslim. (Amanda & Permana, 2020) Yang menjadi problem adalah, dapatkah penyaluran zakat diberikan kepada non Muslim?

Sebagai instrument yang masuk dalam salah satu rukun Islam, tentu saja, zakat memiliki aturan mengikat dalam fan ilmu fikihnya. Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60, yang berhak menerima manfaat zakat adalah delapan asnaf yang sudah kita ketahui. Tetapi respon cepat mengambil jalan tengah dalam mencari solusi, adalah tanggapan paling bijak supaya tidak terjadi kesenjangan yang berkelanjutan.

Pendapat yang digunakan mayoritas ulama, dalam pemberian zakat kepada non Muslim tidak bisa dilegalkan dalam syariat Islam. Namun, Imam Abu Hanifah, Muhammad, dan ulama yang lain, memberikan celah bahwa zakat dapat ditasarufkan kepada ahli dzimmi (non Muslim yang berakad damai). Ulama yang melegalkan pemberian zakat kepada non Muslim, berlandaskan keumuman ayat 271 dari surat Al-Baqarah. (Al-Qordhowi, tt)

إن تبدوا الصدقات فنعما هي، وإن تخفوها وتؤتوها الفقراء فهو خير لكم، ويكفر عنكم من سيئاتكم (البقرة: 271).

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang faqir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian dari kesalahan-kesalahanmu.” (Al-Baqarah: 271)

Pendapat ini bisa jadi sangat mencengangkan, dan tidak bisa diterima oleh mayoritas orang Islam. Apalagi dalam nuansa akhir-akhir ini dengan sensitifitas agama yang semakin hari tambah memanas. Anggapan ini bukan hal yang baru, bahwa sejak dulu, memang pendapat ini dianggap bertentangan dengan ijma’ (konsensus seluruh ulama). Tetapi, dakwaan ijma’ yang dilontarkan banyak ulama tentang ketidakbolehan memberikan zakat kepada non Muslim juga tidak sah. Ketidaksahan dakwaan ijma’ dilatarbelakangi sokongan pendapat yang sama dengan Abu Hanifah dari beberapa Mujtahid lain, seperti; Ibnu Sirrin dan az-Zuhri. (An-Nawawi, tt)

Sementara dalam perspektif Yusuf al-Qordhowi, memperbolehkan memberikan zakat kepada ahli Dzimmi, jika harta zakat mencukupi dan tidak membahayakan untuk orang fakir yang Muslim. (Al-Qordhowi, Fiqih Zakat, tt)

Pemberian zakat kepada non Muslim, hanya merupakan opsi ketika tidak menemukan—belum memastikan tidak ada—orang muslim yang berhak menerima zakat. Pendapat ini seperti yang dipaparkan oleh Syekh al-Jassos.  (Al-Jassos, tt)

Sedang daripada itu, yang perlu diingat adalah, pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak boleh memberikan zakat kepada kafir, bukan berarti membiarkan mereka dalam keadaan miskin dan terlunta-lunta. Mereka berhak untuk disantuni, diberikan tunjangan dari kas negara; seperti pendapatan dari pajak, dan hal ini sesuai yang diimplementasikan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bahkan, beliau melakukan hal tersebut, tanpa harus menunggu permintaan dari orang non Muslim. (Al-Qordhawi , tt)

Perluasan Sektoral Zakat

Di masa pandemi dengan grafik kemiskinan yang makin meningkat, secara otomatis, untuk mengentaskan kemiskinan juga dibutuhkan dana yang besar. Problem ini, dapat kita carikan solusi melalui perluasan sektoral zakat.

Menurut Wahbah az-Zuhaily, jika tidak mencukupi kebutuhan orang-orang yang berhak mendapatkan zakat dari harta-harta yang wajib dizakati menurut pandangan konvensional (tanaman, buah-buahan, hewan ternak, dagangan, emas dan perak), maka untuk menambah kas zakat  demi menutupi kebutuhan mereka, kita dapat mengaplikasikan pendapat ulama kontemporer yang mewajibkan zakat mesin industri (temasuk bus, mobil jasa ekspedisi, pesawat, kapal tanker, kargo, pesiar dan alat-alat transportasi yang lain), uang (seperti brusa saham, surat obligasi atau surat berharga), pekerja tetap atau karyawan, dan pekerja lepas atau serabutan (wirausaha), perumahan atau apartemen, dan tempat-tempat yang disewakan (hotel dan wisma). (Az-Zuhaily, tt)

Dan maklum kita ketahui, bahwa pendapatan dari sektoral tersebut lebih banyak dan jauh dari hasil pendapatan tani, dan segala bidang yang wajib dizakati menurut konvensional. Maka sangat realistis dan mau tidak mau harus diterapkan kewajiban zakat sektor di atas.

Gerakan Aksi

Hari ini kita menyaksikan kemiskinan masih menjadi polemik utama kaum Muslimin. Padahal masyarakat Muslim adalah mayoritas di dunia ini. Hal ini disebabkan tidak adanya gerakan sosial ekonomi yang diterapkan dalam lingkup bermasyarakat. Padahal, Rasulullah Saw. bersabda:

لا يقبل إيمان بلا عمل ولا عمل بلا إيمان

“Iman tidak bisa diterima dengan tanpa amal (aksi nyata). Begitupun amal tidak diterima tanpa iman.” (HR. At-Thabroni)

Maka untuk menjadi Muslim yang baik, bukan sekedar pengunaan aksesoris saja (seperti gamis, dan cadar), atau diskusi-diskusi keislaman yang melelahkan, tetapi harus disertai aksi nyata berupa kepedulian sosial kepada sesama. Tanpa itu, Islam hanya terlihat nyata di panggung mimbar khotbah, dan tidak pernah terasa dalam kehidupan kita.

Jika menginginkan tatanan dunia yang baik, selayaknya ada prinsip saling tolong menolong, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan peka dengan keadaan orang disekitar. Dengannya, kesalehan sosial dalam Islam akan tampak mewarnai hidup seluruh orang. Melaluinya, nafas Islam menjadi apa yang diharapkan Nabi Muhammad Saw. bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Zakat menjadi bukti validitas dalam menjalin keintiman dan belas kasih di antara sesama. Ia juga dapat memotong aksi kejahatan yang dipicu akibat kemiskinan. Jika zakat dapat direalisasikan dengan tepat, diharapkan kesenjangan sosial akan hilang. Keamanan dan kemakmuran akan dapat kita raih. Sikap moral kepada sesama juga akan terbentuk dengan manis.[]

Penulis: : Nur Muhammad Alfatih

Baca juga: Ringkasan Fikih Zakat Fitrah.

Simak juga: Renungan mengisi bulan Ramadhan oleh KH. M. Anwar Manshur

Ringkasan Fikih Zakat Fitrah

Dulu, sejak tahun kedua Hijriyah umat Islam memiliki kewajiban yang berupa zakat fitrah setiap kali memasuki hari raya Idul Fitri. Apabila diartikan secara bahasa, fitrah berarti naluri manusia yang masih bersih. Adapun zakat fitrah menurut tinjauan syariat adalah suatu harta dengan kadar tertentu yang harus dikeluarkan oleh setiap orang. Dinamakan zakat fitrah karena pada dasarnya zakat fitrah dapat mensucikan badan dan meningkatkan amaliahnya.[1]

Syarat Wajib Zakat Fitrah

Pertama, ialah beragama Islam dan merdeka (bukan budak atau hamba sahaya).

Kedua, mempunyai kelebihan makanan atau harta dari kebutuhannya di malam hari dan siang hari raya pertama. Yang dimaksud memiliki kelebihan dari yang menjadi kebutuhan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya.

Ketiga, menemukan waktu yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Artinya menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awal bulan Syawal (malam hari raya). Dengan demikian, tidak diwajibkan membauar zakat bagi seorang bayi yang baru dilahirkan setelah tenggelamnya matahari pada tanggal 1 syawal atau orang yang meninggal sebelum waktu tersebut.[2]

Jenis dan Kadar Zakat Fitrah

Yang wajib dikeluarkan dalam zakat fitrah ialah makanan pokok penduduk, misalkan adalah beras untuk masyarakat Indonesia.  Adapun kadar yang harus dikeluarkan adalah 1 sho’. Apabila dikonversikan pada kadar timbangan saat ini, terdapat beberapa versi, namun yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan 2,75 kilogram.[3]

Dalam madzhab Hanafiyah, diperbolehkan mengeluarkan zakat dalam bentuk Qimah (uang). Namun dalam hal ini, kadar yang digunakan juga diharuskan mengikuti madzhab Hanafiyah, yaitu 3,8 kilogram. Sehingga apabila ada seseorang yang menghendaki zakat dengan uang harus sesuai dengan harga makanan pokok seberat 3,8 kilogram tersebut.[4]

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah dibagi menjadi lima, yaitu:

Waktu jawaz, yaitu, sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib. Waktu wajib, yaitu ketika menemui akhir bulan Ramadhan dan menemui sebagian awal bulan Syawwal. Waktu sunah, yaitu setelah terbitnya fajar dan sebelum salat hari raya. Waktu makruh, yaitu setelah salat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawal kecuali jika ada udzur (halangan). Waktu haram, yaitu setelah tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur (halangan).

Mekanisme Niat dan Penyaluran Zakat Fitrah

Niat merupakan salah satu syarat agar suatu zakat fitrah dapat dikatakan sah. Niat pun harus niat dilakukan dalam hati ketika mengeluarkan zakat, memisahkan zakat dari yang lain, atau saat memberikan zakat kepada wakil, antara memisahkan dan memberikan.

Apabila zakat fitrah atas nama dirinya sendiri, maka yang melakukan niat itu adalah pelaku zakat itu sendiri (Muzakki). Salah satu contoh cara melafalkan niat zakat untuk diri sendiri ialah:

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ نَفْسِيْ لِلَّهِ تَعَالَى

Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku  sendiri karena Allah ta’ala”.

Apabila zakat fitrah atas nama orang lain, hukumnya diperinci sebagai berikut:

Pertama, jika orang lain yang dizakati termasuk orang yang wajib ditanggung nafkah dan zakat fitrahnya, seperti istri, anak-anaknya yang masih kecil, orang tuanya yang tidak mampu dan seterusnya, maka yang melakukan niat adalah orang yang mengeluarkan zakat tanpa harus minta izin dari orang yang dizakati. Namun boleh juga zakat fitrahnya diserahkan oleh pemilik kepada orang-orang tersebut supaya diniati sendiri-sendiri.

Kedua, jika mengeluarkan zakat untuk orang yang tidak wajib ditanggung nafkahnya, seperti orang tua yang mampu, anak-anaknya yang sudah besar, saudara, keponakan, paman atau orang lain yang tidak ada hubungan darah dan seterusnya, maka disyaratkan harus mendapat izin dari orang-orang tersebut.[5] Tanpa izin dari mereka, maka zakatnya tidak sah. Salah satu contoh cara melafalkan niat zakat untuk orang lain:

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ  / عَنْ زَوْجَتِيْ لِلَّهِ تَعَالَى

Saya niat mengeluarkan zakat fitrah atas nama anakku yang masih kecil / istriku karena Allah ta’ala”.

Kemudian seteleh diniati, zakat siap didistribusikan pada golongan yang berhak menerimanya (Mustahiq Zakat). Sebenarnya, mayoritas ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa satu zakat fitrah harus dibagi rata pada semua golongan yang menerimanya. Agar lebih mudah, diperbolehkan menyerahkan menyerahkan zakat fitrah pada salah satu golongan saja dengan mengikuti pendapat yang menganjurkan praktek demikian.[6]

Penerima Zakat Firah

Ada delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana yang telah tertera dalam al-Qur’an:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 60)

Namun di samping itu, ada beberapa golongan yang tidak diperbolehkan menerima zakat, yaitu orang kafir atau murtad, budak/hamba sahaya selain budak mukatab, keturunan dari bani Hasyim dan Bani Muthalib (para habaib/sayyid), orang kaya dan orang yang ditanggung nafkahnya.[7] []waAllahu a’lam

 

__________________

[1] Hasyiyah I’anah at-Thalibin, II/189, cet. Darul Fikr

[2] Hamisy Fathil Qorib ‘ala Hasiyah al-Bajuri, I/278, cet. al-Haromain

[3] Taqrirat as-Sadidah, hal. 419, cet. Darul Ulum al-Islamiyah

[4] Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, IV/272

[5] Hasiyah al-Qulyubi ‘ala al-Mahalli, II/54

[6] Tarsyih al-Mustafidin, hal. 154, al-Haromain

[7] Hamisy Fathil Mu’in, hal. 155

Zakat Kepada Habaib

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, apakah sah kalau saya menyerahkan zakat saya kepada seorang Habaib yang sekaligus guru saya?. Karena sering dikatakan dalam kajian Fiqih Zakat, bahwa Ahlul Bait Rasulullah Saw adalah golongan yang tidak bisa menerima zakat. Apa yang mendasari rumusan tersebut?. Terimakasih.

Zuhroh U, -Surabaya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

_____

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan zakat kepada Ahlul Bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Saw) yang berasal dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa Ahlul Bait tidak sah menerima zakat dengan berdasarkan hadis:

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتَ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ

Sesungguhnya zakat ini adalah kotoran dari manusia. Dan sesungguhnya itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad,” (HR. Muslim).

إِنَّ لَكُمْ فِيْ خُمُسِ الْخُمُسِ مَا يُغْنِيْكُمْ

Sesungguhnya bagi kalian (Ahlul Bait) mendapatkan dari Khumusul Khumus (seperlima dari lima bagian harta rampasan perang). Bagian yang telah mencukupi kalian,” (HR. Ibnu Abi Hatim).

Pendapat kedua, menyatakan bahwa Ahlul Bait dapat menerima zakat. Pendapat ini berargumen bahwa salah satu alasan Ahlul Bait tidak bisa menerima zakat adalah karena telah tercukupi dengan seperlima dari lima bagian harta rampasan perang (Ghanimah). Sementara untuk saat ini, tidak ada sediktpun hasil rampasan perang yang diserahkan kepada Ahlul Bait. Dengan demikian, memberikan zakat kepada mereka hukumnya sah. Pendapat ini pun dinyatakan oleh beberapa ulama besar madzhab Syafi’i seperti Imam Al-Ustukhry, Imam Al-Harowi dan diamalkan oleh Al-Fakhrur Rozi.

Namun sebagai catatan, syekh Ba’asyan pernah mengatakan demikian, “Sebaiknya bagi yang menyerahkan zakat kepada Ahlul Bait menjelaskan bahwa harta yang diberikan adalah bagian zakat. Sebab mungkin saja mereka menolak karena bersikap wirai atau hati-hati”.[]waAllahu a’lam

 

Referensi:

Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 106-107, cet. Al-Haromain.

Syarah Al-Yaqut An-Nafis, hal 292.

Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VI/227.

Taqrirat As-Sadidah, hal 427.

Hasyiyah al-Bajuri, I/285, cet. al-Haromain.

Hukum Zakat Dengan Uang

Berkembangnya zakat dengan uang tunai, dinilai lebih praktis, dan lebih tepat sasaran. Orang faqir miskin dan para mustahiq zakat lain jadi dapat lebih leluasa membelanjakan uang yang mereka terima untuk kebutuhan mana yang paling penting dan bermanfaat bagi mereka. Namun ternyata, dalam hampir semua madzhab empat, tidak memperbolehkan zakat model uang tunai. Zakat fitrah haruslah menggunakan makanan pokok daerah masing-masing. Dan zakat hewan ternak juga harus memakai hewan ternak. Di Indonesia katakanlah, makanan pokok jamak menggunakan beras, maka zakat fitrahpun otomatis memakai beras. Pendapat yang melarang zakat dengan uang tunai ini diutarakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bertendensikan hadis,

فرض رسول الله صلى الله عليه و سلم صدقة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير. رواه البخاي

Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari)

Ulama tidak berani menerjang teks hadis tersebut. Bahwa yang sebenarnya diwajibkan dalam zakat fitrah adalah sha’ (Ukuran untuk bobot 2, 75 kg.) dan bukan yang lainnya. Meskipun tidak memungkiri hikmah dibalik zakat adalah upaya pengentasan kemiskinan.

Namun ada pendapat dari Imam Hanafi yang memperbolehkan zakat dengan uang. Alasan bahwa hikmah untuk mencukupi kebutuhan fakir miskin lebih bisa terpenuhi dengan uang adalah salah satu motivasinya. Diriwayatkan dari Imam Al-Darquthni,

فرض رسول الله صلى الله عليه و سلم زكاة الفطر, وقال أغنوهم في هذااليوم. رواه الدرقطني

Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dan beliau bersabda;’Cukupilah mereka (dari meminta-minta) di hari ini.” (HR. Al-Darquthni.)

Namun menjadi catatan penting, kadar sha’ Madzhab Hanafi tidak sama dengan Madzhab Syafi’i, kadarnya sekitar 3,8 kg, atau ada yang mengatakan 3,25 kg. Jadi uang yang dikeluarkan harus sama dengan kadar tersebut.[1] Bagi yang hendak taqlid harus mengikuti aturan yang ada agar tidak terjadi talfiq (distorsi).

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya mengatakan, “Kenyataannya, pendapat Imam Abu Hanifah lebih layak untuk zaman kita, lebih memudahkan umat manusia, dan lebih memudahkan dalam penghitungan. Apalagi jika disana terdapat badan atau organisasi yang mengurusi penerimaan dan pembagian zakat. Jika yang dikelola adalah benda (bukan zakat dengan nominal) maka akan menambah biaya dan kerepotan disebabkan pemindahan barang dari satu daerah menuju daerah sasaran, menambah biaya untuk menjaga kelayakan benda agar tidak rusak, dan biaya tambahan makanan dan minuman ketika barang zakat adalah binatang ternak.[2]

Namun lain lagi komentar dari Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Umar Al-Syathiri setelah beliau sedikit menjelaskan beberapa perbedaan ulama tadi, “Tujuan saya menyebutkan pendapat-pendapat diatas (Tentang khilafiyah bolehkah zakat dengan uang) bukalah untuk berfatwa akan tetapi hanya mengabarkan saja. Dan bagi orang mukmin yang ingin berhati-hati, ketika berzakat dengan nominal juga sekaligus mengeluarkan zakat dengan makanan pokok (beras, dll) selagi mampu.[3]. Dari nada komentar beliau, seakan beliau tidak menganjurkan kita untuk menerjang naskah hadis diatas, dan mengikuti pendapat madzahib al-tsalatsah. Atau lebih amannya lagi jika terpaksa adalah mengeluarkan uang tunai dan benda sekaligus. Atau solusi lain jika dari pihak panitia sudah menyiapkan makanan pokok untuk zakat yang nantinya akan ditukar dengan uang tersebut di tempat.

Kita sebagai pelaku zakat harus tetap bijak menggunakan khilafiyah pendapat ulama. Berhati-hati dalam masalah agama lebih baik agar tidak salah dan terjebak. []

Lihat referensi lain:

  • Majmu’ Syarah Muhadzab hal. 588/6
  • Ibid hal. 91/6
  • Fiqhul Islam wa Adillatuh hal 62/3
  • Ibid hal 383/3
  • Fathul Mu’in dan I’anah Tholibin hal 224/2

 

 

[1] Fiqhul Islam wa Adillatuh hal 272/4

[2] Fiqh Zakat hal hal 805/2.

[3] Syarah Al-Yaqut Al-Nafis hal 284.

Kiai Anwar: Ilmu Harus Dizakati

الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله سيدنا ومولانا محمد ابن عبدالله وعلى اله وصحبه ومن واله. رب اشرح لى صدري ويسر لى أمري واحلل عقدة من لساني يفقه قولي. أما بعد

Anak-anakku, alhamdulillah, kita sudah sampai pada fase pertama dalam belajar, yaitu mulai Syawal sampai Maulud. Kita libur sementara untuk menyegarkan pikiran kita. Dan juga, kalau sudah di pondok lagi biar lancar mondoknya, ya?

Anugerah Allah patut disyukuri. Ini waktu kalian untuk melihat apa yang dibutuhkan masyarakat. Apa yang dibutuhkan masyarakat, itu kalian siapkan.

العالم سراج الأمة

Orang alim itu sebagai lampu daripada umat. Apa yang gelap di masyarakat, kitalah yang menyinari. Maka dari itu, kalian mondok yang serius dan sungguh-sungguh. Jangan main-main. Kalian lihat kemampuan kalian.

Kita di pondok itu masya Allah, paling enak. Tidak ada kenikmatan selain di pondok. Jadi, masya Allah, pondok itu tempat yang paling bahagia. Banyak orang jamaah, banyak orang mengaji, banyak orang belajar. Semua adalah ibadah. Kalian belajar di kamar setara dengan salat malam. Kalian diajari ilmu, terus dipelajari, itu setara dengan shalatullail. Kalau tidak belajar, ya tidak bisa. Maka, tidak ada kemuliaan yang diberikan oleh Allah, melebihi apa yang diberikan kepada orang yang belajar. Kalian berangkat mondok dari rumah, dengan membaca “bismillahirrohmanirrohim, saya niat mencari ilmu dan ridla Allah,” maka dalam setiap langkah perjalanan kita sudah dinilai ibadah.

Juga, langkah kaki kita bukan beralaskan karpet. Kita melangkah dengan beralaskan sayap para malaikat, karena mereka ridla dengan apa yang kalian lakukan, yakni melangkah untuk mencari ilmu.

Kenapa kita harus mengaji? Karena kita hidup di dunia ini:

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Manusia diciptakan dan diperintah untuk mengaji, mencari ilmu. Orang tidak akan bisa ibadah tanpa mengaji. Karena itu, orang baik di dunia hanya ada dua, mereka yang mengajarkan ilmu dan mereka yang belajar.

Pondok adalah seenak-enak tempat. Kalian shalat jama’ah tidak perlu jauh-jauh. Kalian ingin belajar juga tidak kesulitan. Dan di pondok tidak ada orang yang berbuat macam-macam.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Nanti kalau kalian sudah datang di rumah, sungkem kepada orangtua ya? Yang asalnya tidak berbahasa halus, diperhalus lagi bahasanya. Ada tidak yang masih belum berbahasa halus kepada orangtuanya? Jangan sampai tidak. Itu tidak etis. Hormatilah orangtua kalian. Masa memanggil orangtua sama dengan memanggil teman? Tidak etis. Apapun kesibukan orangtua, seyogyanya kalian bantu. Orangtua sudah merawat kita sejak kita berupa gumpalan daging.

Mari sekarang kita birrul walidain. Birrul walidain yang sejati, kita belum bisa melaksanakannya. Tidak akan bisa. Terus bagaimana? Yang penting tidak mengecewakan orangtua. Itu sudah usaha yang terbaik. Jangan sampai kalian meresahkan orangtua. Ketika seseorang sudah birrul walidain, masya Allah, gerak langkahnya akan mendapat barokah dari Allah. Menuruti apa yang dihendaki oleh orang tua adalah salah satu wujud dari birrul walidain.

Ini benar. Ketika kalian akan kembali ke pondok, mintalah doa kepada orangtua, “Bu, doakan saya agar mendapat ilmu yang barokah.” Tindakan kalian ini membuat orangtua senang. Lalu, ketika uang saku yang diberikan ternyata kurang, jangan cemberut. Tidak ada orangtua yang merawat anaknya secara main-main. Benar itu. Orangtua bekerja pasti untuk kebutuhan anaknya. Jangan sampai cemberut ketika uang saku kalian kurang. Dosa besar. Itu namanya menyusahkan orangtua. Orangtua berkenan merawat kalian itu sudah sangat patut disyukuri. Agar barokah. Agar ilmu kalian barokah.

Ilmu ketika tidak dipraktekkan, tidak akan ada faedahnya. Ilmu segunungpun tidak akan berguna. Ilmu yang kalian dapati, harus kalian zakati. Bagaimana zakat ilmu? Kalau kalian mengaji, 10 persen darinya kalian lakukan. Jika kalian mengaji Safinah, lakukan 10 persen dari kitab itu.

Guru kalian sangat gigih dalam mengurus kalian. Menemani musyawarah. Itu karena mereka sangat ingin kalian menjadi orang pintar dan mendapat ilmu yang bermanfaat. Maka, kalian harus serius. Kalian harus sungguh-sungguh. Kalau seperti itu, kalian akan mati syahid.

Karena kita sudah mengaji, harusnya berbeda dengan mereka yang tidak mengaji.

هل يستوى الذين يعلمون والذين لايعلمون

Tidaklah sama antara orang yang mempunyai ilmu dengan yang tidak. Terus, nanti kalau sudah pulang, jangan seperti orang yang tidak mengenal syariat, ya? Kalian di pondok sudah diajari berakhlakul karimah, diajari cara bertata krama. Termasuk dari memuliakan para masyayikh adalah menjaga akhlak kalian. Jangan sampai mencemarkan nama pondok pesantren. Ketika kalian ada di pondok, diawasi oleh pondok. Ketika kalian di luar, prilaku kalian akan dilihat orang. Kita harus mengkoreksi diri. Kalian harus berpikir, ini harus dilakukan apa tidak. Karena menjaga prilaku adalah kewajiban kita.
Kalian harus tawadlu. Meskipun kita menjadi orang yang pintar, jangan merasa pintar. Jangan sok pintar. Semua itu adalah pemberian dari Allah. Harus disyukuri dengan tawadlu.

Nanti kalau sudah datang kembali ke pondok, kalian kan ujian lagi. Siapkan itu. Dipelajari lagi. Kita kan ingin menjadi orang yang hidup dengan sempurna. Menjadi orang alim yang dapat bermanfaat dengan ilmunya.

Di manapun juga, akhlakul karimah yang harus dipakai, ya? Terutama masalah salat. Jangan main-main. Nabi mendapat perintah salat tanpa perantara malaikat. Nabi dipanggil langsung oleh Allah untuk menerima perintah salat. Semua ibadah itu diperintahkan lewat perantara malaikat. Kecuali salat. Makanya, jangan bangun kesiangan. Jangan meninggalkan salat. Benar itu.

Dan di manapun tempatnya,

اتق الله حيثما كنت

Karena di kanan-kiri kita ada yang tidak tidur. Yang satu mencatat, satu lagi juga mencatat. Jadi, jangan merasa sendirian dan tidak ada yang mengawasi. Malaikat itu tidak tidur. Kita jangan merasa bisa melakukan apapun seenaknya sendiri. Jangan.

واتبع السيئة الحسنة تمحوها

Kalau kita melakukan hal yang kurang baik, mari kita ikuti dengan amal yang baik. Kalau toh terpeleset, segera membasuh diri.

وخالق الناس بخلق حسن

Dan kita bergaul dengan masyarakat dengan akhlak yang baik. Ini dasar agama. Sudah, ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Jadi, saya minta benar-benar. Silakan kalian pulang. Tapi jaga akhlakul karimahnya. Kalian diperhatikan orang. Prilaku kalian diingat oleh orang, “oh, santri lirboyo ternyata akhlaknya buruk.” Ketika seperti itu, yang tercemar bukan hanya kalian. Nama pondok juga ikut buruk. Maka dari itu, saya minta benar-benar, jangan seenaknya sendiri. Kita jaga nama baik Mbah Abdul Karim. Kita jaga nama baik Mbah Marzuqi. Kita jaga nama baik Mbah Mahrus. Kewajiban dari santri adalah menghormati guru. Hormat terhadap guru dapat menjadikan hidup kita barokah. Benar itu. Semoga kita dimuliakan oleh Allah dengan hidup yang barokah.

Nabi Muhammad menitipkan kepada kita,

وخالق الناس بخلق حسن

Ketika bergaul dengan masyarakat, kita gunakan akhlak yang baik. Jangan merasa kita melebihi mereka. Jangan sampai seperti itu.

Ini saja yang saya sampaikan. Kita belajar disiplin. Kita belajar tertib. Kita belajar patuh terhadap peraturan. Sudah.

والعفو منكم. الفاتحة

*Disarikan dari ceramah beliau dalam acara pembekalan sebelum liburan maulud kemarin (17/12/2015).