HomeKonsultasiZakat Tanaman Karet

Zakat Tanaman Karet

0 0 likes 841 views share

Apakah tanaman karet wajib di zakati? Berapa nisabnya?

Ghofur

Admin – Menurut ulama Hanafiyah dan pendapat Imam Syafi’i dalam qaul qadim, tanaman karet wajib di zakati dengan 10%. Karena, disamakan dengan tanaman zaitun yang dibuat minyak. Menurut Abu Hanifah, segala tanaman yang meningkatkan hasil bumi wajib dikeluarkan zakatnya dengan 10% jika disirami dengan air hujan dan 5% jika di sirami dengan pengairan yang diusahakan sendiri, semisal dengan cara pengeboran dan Iain-Iain. Dan menurut Imam Syafi’i, wajib dikelurkan zakatnya 2,5%, apabila penghasilan berupa uang sudah satu nisab emas (77,5 gr) dan mencapai satu tahun, atau kurang satu nisab tapi punya uang yang dapat memenuhi satu nisab, sebagai mana keterangan di bawah ini:

وَأُخِذَ مِنْهُمَا مَعًا الْعُشْرُ إِذَا سُقِيَا بِسَمَاءٍ أَوْ عَيْنٍ، وَنِصْفُ الْعُشْرِ إِذَا سُقِيَا بِغُرْبٍ. وَقَدْ أَخَذَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الزَّيْتُوْنِ قِيَاسًا عَلَى النَّخْلِ وَالْعِنَبِ.

 

Artinya: “Dan diambil zakat dari keduanya (kurma dan anggur) sepersepuluh (10%) jika disirami dengan air hujan atau sumber mata air, dan setengahnya sepersepuluh (seperduapuluh atau 5%) jika disirami dengan cara menuangkan (mengusahakan) air sendiri. Para ulama mengambil persamaan hukum dari zaitun dengan kurma dan anggur.” (ar Risalah juz 1 hal. 223, 224.)

(قَالَ الشَّافِعِيُّ): أَخْبَرَنَا مَالِكٌ أَنَّهُ سَأَلَ ابْنَ شِهَابٍ عَنِ الزَّيْتُونِ فَقَالَ: فِيهِ الْعُشْرُ وَخَالَفَهُ مَالِكٌ فَقَالَ: لَا يُؤْخَذُ الْعُشْرُ إلَّا مِنْ زَيْتِهِ وَجَوَابُ ابْنِ شِهَابٍ عَلَى حَبِّهِ.

 

Imam Syafi’i berkata: “Imam Malik pernah bercerita bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Syihab mengenai (zakat) dari tanaman zaitun, maka Ibnu Syihab menjawab, ‘Zakatnya sepersepuluh (10%).’ Namun, Imam Malik berbeda pendapat. Beliau berpendapat, ‘Tidak diambil  (zakatnya) sepersepuluh (10%) kecuali dari minyaknya, sedangkan jawaban Ibnu Syihab dari bijinya’.” (al ‘Um juz 7 hal. 260)

(قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ فِي قَلِيلِ مَا أَخْرَجَتْهُ الْأَرْضُ وَكَثِيرِهِ الْعُشْرُ) حَدُّ الْقَلِيلِ الصَّاعُ وَمَا دُونَهُ لَا شَيْءَ فِيهِ وَقِيلَ حَدُّهُ نِصْفُ صَاعٍ. وَفِي السِّمْسِمِ الْعُشْرُ فَإِنْ عُصِرَ قَبْلَ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْهُ الْعُشْرُ أُخِذَ مِنْ دُهْنِهِ وَلَمْ يُؤْخَذْ مِنَ الشُّجَيْرَةِ شَيْءٌ وَكَذَا الزَّيْتُونُ عَلَى هَذَا وَيَجِبُ الْعُشْرُ فِي الْجَوْزِ وَاللَّوْزِ وَالْبَصَلِ وَالثُّومِ فِي الصَّحِيحِ.

 

Artinya: “Abu Hanifah berpendapat tentang tanaman yang dihasilkan bumi, sedikit ataupun banyak zakatnya adalah sepersepuluh (10%). Takaran sedikit di sini adalah satu sha’’ sedangkan sebawahnya tidak termasuk. Namun menurut pendapat lain, takaran terkecil adalah separuh sha’. Dan dalam permasalahan minyak wijen, terdapat kewajiban membayar zakat sepersepuluh (10%). Jika dipanen sebelum diambil sepersepuluhnya, maka diambilkan dari minyaknya. Dan tidak ada zakat dari tanaman belukar sebagaimana tanaman zaitun. Dan dalam qaul shahih, wajib zakat pula sepersepuluh (10%) dari tanaman kenari, buah badam atau almond, bawang merah, dan bawang putih.” (al Jauharat an Nayirah juz 1 hal 481, 482.)

Nah, dalam tanaman apapun yang dihasilkan oleh bumi, semua ada zakatnya. Sedangkan ukuran satu sha’ dalam hitungan gram negara Irak adalah 2197,444 gr, dalam hitungan gram negara Mesir adalah 2162,784 gr, dalam hitungan ‘urf Usmany 2390,1536 gr, dalam hitungan Syar’i Abu Hanifah 2613,364 gr, dalam hitungan 3 Imam (selain Abu Hanifah) 1882,038 gr. Namun sebagian ulama ada beberapa pendapat yang menghitung sekitar 2,5 kg.