Bersikap Tuli

“دع ما يريبك إلى ما لا يريبك”

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.”

(H.R. Tirmidzi)

Bersikap tuli tidak lain adalah keadaan dimana kita memilih untuk bersikap acuh tak acuh pada apapun, atau bisa juga diartikan dengan sikap tidak peduli, menganggap apa-apa yang terlontar dari ucapan orang lain hanyalah angin lalu belaka.

Dalam kitab Siraj at-Thalibin, Syaikh Muhammad Ihsan al-Jampesy menukil kisah sufistik Lukman al-Hakim bersama anaknya:

Suatu hari Lukman al-Hakim hendak pergi ke pasar bersama anak laki-lakinya. Ia membawa seekor keledai sebagai kendaraan. Ia menunggangi keledai tersebut sementara anaknya berjalan kaki, menuntun keledai.

“Dasar orang tua yang tidak sayang pada anaknya!” Ucap orang-orang yang berpapasan di tengah jalan. “Ia enak-enakan di atas keledai, sementara anaknya disuruh untuk berjalan.”

Mendengar perkataan mereka, Lukman al-Hakim menaikan anaknya, dan ikut menunggang keledai, berboncengan di belakang.

“Dua orang menunggang satu keledai secara bersamaan? Kenapa tidak sekalian ditambah tiga orang. Biar keledainya mampus!” Komentar yang lain saat berpapasan di jalan menuju pasar.

Lukman al-Hakim pun turun dari keledai. Sekarang tinggal si anak sendirian di atas punggung keledai tersebut.

“Dasar anak tidak tahu diuntung! Ayahnya yang sudah tua malah dibiarkan berjalan, sementara ia enak-enakan duduk di atas keledai!” Kata yang lain lagi di tengah jalan menuju pasar.

Kemudian Lukman al-Hakim menurunkan anaknya dari keledai. Ia biarkan keledai itu kosong tanpa tumpangan. Keduanya berjalan menuju pasar dengan menuntun seekor keledai.

“Seekor keledai dibiarkan kosong. Sedangkan dua orang berjalan kaki di belakangnya. Bodoh sekali!” Ucap orang lain lagi dalam perjalanan berikutnya menuju pasar.

Dari potongan cerita di atas, dapat kita ambil hikmah tentang pentingnya untuk bersikap tuli. Karena menuruti perkataan orang lain tidak akan pernah ada habisnya, kecuali waktu itu sendiri yang akan habis sia-sia.

Bahkan dalam meraih cita-cita, sikap tersebut sangat berpengaruh sebagai penunjang, karena dapat membulatkan tekad dan keyakinan kita. Sehingga tidak mudah digoyahkan oleh cobaan, terlebih hanya sebuah komentar orang.

“Kalau mau melakukan perubahan, jangan tunduk pada kenyataan. Lawan kenyataan itu jika benar, dan buat kenyataan baru.”[]

Baca juga: https://lirboyo.net/dawuh-kh-m-anwar-manshur-senantiasa-berdoa-saat-pandemi/

Simak juga: https://www.youtube.com/watch?v=A3i5abqCqRM

Penulis: Ahmad Qomarudin siswa kelas III Tsanawiyah bagian B.02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.