Cerpen: KEPADA BURUNG JENIS LAIN

Bayang senja surut mengiring langkah mentari sebagai tanda kepulangan para nelayan. Di tepi pantai, beberapa bangku tersusun rapi hiasi lautan. Pada salah satunya, seseorang terduduk takzim tanpa sedikitpun memandang laut dihadapannya. Ia tampak berjibaku dengan bias wasangka, seolah menerka selaksa masalah untuk diubahnya menjadi solusi.

            Memang, masalah tak kenal waktu datang, tak pasti kapan ia pergi. Manusia dituntut untuk terus menghadapi. Namun jika tubuh sudah tak tahan, apakah pasrah adalah kunci untuk menjawab segalanya?

            “Pasrah bukanlah menyerah. Pasrah adalah fase terakhir yang harus dilakukan. Usaha, doa dan pasrah akan takdir harus saling terikat.” Ungkap salah satu ustadz yang kudengar dari surau tempatku dulu.

            Di hari yang lalu, tak jauh dari tempat yang sama. Kulihat orang itu asyik bercerita. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia acuhkan apapun, begitu syahdi dalam obrolan-obrolannya sendiri. Kukatakan “sendiri” karena memang benar-benar sendiri, tanpa satupun kulihat orang menemani-mendengarnya bercerita.

            Kuingat, hari itu gerimis rintik menghujam begitu pelan. Disaat yang lain berhambur pergi berteduh di bawah atap-atap warung yang ada, ia malah berdiri gagah menantang lautan. Anehnya, semakin lantang ia bercerita, semakin deras hujan turun.

            “Oh, angin. Oh, hujan. Oh, ombak.” Begitu seterusnya ia berucap.

            Dari jarak tak begitu jauh, aku mengamati laku orang itu. Aku takjub, ternyata bukan hanya hujan, angin juga sangat berteman baik dengannya. Bayangkan, saat ia menyapa “Oh, angin.” Seketika itu pula tetiba angin berhembus kencang, balik menyapa. Aku heran kenapa demikian bisa terjadi, angin-hujan kusaksikan mufakat untuk menghiburnya.

            Aku tak dapat menebak “oh” apalagi yang akan ia katakan. Orang kita, ia sudah gila. Berbeda, kurasa itulah yang disebut manusia sebagai seni. Seni penceritaan tanpa pencitraan.

            Hujan tetap berlangsung, ombak semakin meninggi. Sementara angin bertiup dengan suara mendebarkan hati, tetapi siapa kiranya yang akan mendengarnya? Alam berbicara sendiri tak peduli apakah ada atau tiada manusia menghuni. Lihat, bahkan sekarang alam seolah menyimak khusyuk keluh-kesah seseorang. Berbanding dengan manusia yang hanya mau mendengarkan jika itu sesuai dengan persepsi yang dimiliki.

            Hari-hari berikutnya aku tak menemukan orang itu disana. Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga, yang aku pun tak mengerti rasa kehilangan itu. Karena sampai detik ini, aku tak pernah memiliki keberhargaan yang sering disebut-sebut manusia. Lalu hari ini, setelah sekian waktu ia menghilang, kudapati orang itu lagi. Betapa bahagianya aku. Bahagia yang aneh. Bagaimana tidak, di saat kulihat orang itu nampak bersedih kenapa aku merasakan kesebalikannya? “Oh, sial. Aku terkena hipnotis, tapi aku sadar.”

***

            Aku semakin dibuat penasaran dengannya. Lalu kuputuskan untuk terbang mendekat, agar dapat kudengar kalimat apa saja yang ia ungkapkan. Sadar tak ada apapun di dekatnya, aku bertengger saja pada bangku sebelah, menjaga jarak agar tak dicurigai. Dari dulu memang aku dikenal sebagai “si pencuri dengar” di surau, rumah penduduk, atau pun masjid, bagiku sama saja. Menangkap hal yang menarik lalu menarasikannya pada segerombolan burung jenis lain adalah kehebatanku sebagai burung gereja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.