Category Archives: Konsultasi

Hukum dan Keutamaan Mengumandangkan Adzan di Liang Kubur

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salah satu amaliah umat Islam yang menjadi perbincangan adalah mengumandangkan adzan ketika memasukkan jenazah ke dalam liang kubur. Sebenarnya bagaimanakah hukumnya? Dan apakah ada keutamaan atau fadhilah khusus dari hal tersebut? Terimakasih, mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ahmad ZA, Lombok – NTB)

_____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di antara para ulama, permasalahan adzan ketika memasukkan jenazah ke dalam liang kubur masih diperselisihkan (khilafiyyah). Di antara mereka ada yang menganjurkan namun ada pula yang tidak menganjurkan. Sayyid ‘Alawi al-Maliki mencoba menjadi penengah dari dua poros pendapat tersebut. Beliau mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Majmu’ Fatawa wa Rasail:

اَلنَّوْعُ الثَّالِثُ فِعْلُهُ فِي الْقَبْرِى بَعْدَ وَضْعِ الْمَيِّتِ فِيْهِ. وَهَذا لَمْ يَثْبُتْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخُصُوْصِهِ لَكِنْ قَالَ الاَصْبَحِيْ لَا اَعْلَمُ فِيْ ذَلِكَ خَبَرًا وَلَا اَثَرًا اِلَّا شَيْئَا يُحْكَى عَنْ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِيْنَ قَالَ لَعَلَّهُ قِيْسَ عَلَى اسْتِحْبَابِ الْاَذَانِ وَالْاِقَامَةِ فِي اُذُنِ الْمَوْلُوْدِ وَكَاَنَّهُ يَقُوْلُ الْوِلَادَةُ اَوَّلُ الْخُرُوْجِ اِلَى الدُّنْيَا وَهَذَا اَخِرُ الْخُرُوْجِ مِنْهَا. وَفِيْهِ ضُعْفٌ فَاِنَّ هَذَا لَايَثْبُتُ اِلَّا بِتَوْقِيْفٍ اَعْنِى تَخْصِيْصَ الْاَذَانِ وَالْاِقَامَةِ وَاِلَّا فَذِكْرُ اللهِ تَعَالىَ مَحْبُوْبٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ اِلَّا فِي وَقْتِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ

Macam yang ketiga adalah adzan yang dilakukan setelah meletakkan mayit di dalam kuburan. Perbuatan ini tidak ada dalil khusus dari Rasulullah Saw. Tapi al-Ashbahi berkata: Dalam hal itu saya tidak menjumpai khabar atau atsar kecuali dalil yang diceritakan oleh sebagian ulama mutaakhirin, (mereka mengatakan) mungkin perbuatan itu disamakan dengan kesunahan adzan dan iqamah di telinga anak yang baru lahir. Seakan-akan ia ingin mengatakan, bahwa kelahiran merupakan awal masuk ke dalam dunia sedangkan kematian merupakan akhir keluar dari dunia. Pendapat seperti ini termasuk lemah karena mengkhususkan adzan dan iqamah tersebut merupakan perbuatan yang langsung diatur oleh Allah Swt. Namun—yang perlu diperhatikan—bahwa zikir kepada Allah Swt. merupakan perbuatan yang sangat disenangi, kapanpun dan dimanapun, kecuali saat buang hajat.”[1]

Mengenai keutamaannya, dalam kitab I’anah at-Thalibin, Sayyid Abi Bakar Muhammad Syato ad-Dimyathi mengutip pendapat ibn Hajar:

إِذَا وَافَقَ إِنْزَالُهُ القَبْرَ أَذَانٌ خَفَّفَ عَنْهُ فِى السُّؤَالِ

Ketika jenazah diturunkan ke dalam kubur bersamaan dengan adzan maka jenazah tersebut diringankan dari pertanyaan kubur.”[2] []WaAllahu a’lam


[1] Majmu’ Fatawi wa Rasa’il, hlm. 113.

[2] I’anah at-Thalibin, II/230.

Hukum Salat “Rebo Wekasan”

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sering kita mendengar istilah Rebo Wekasan. Masyarakat meyakini bahwa pada hari itu diturunkan bermacam-macam marabahaya. Banyak pemuka agama yang melakukan shalat berjamaah dengan kaifiyah yang agak beda dengan salat yang lain dengan tujuan supaya Allah menjaga dari macam-macam marabahaya. Bagaimanahkah hukum melakukan salat Rebo Wekasan? terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Idris H.,-Wonosobo Jawa Tengah)

_______________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Persoalan salat Rebo Wekasan (Rabu terakhir di bulan Shafar) merupakan khilafiyyah (perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian besar mengatakan bahwa salat Rebo Wekasan tidak disyariatkan dalam Islam, karena tidak terdapat dalil yang secara khusus menjelaskannya. Sehingga apabila ada seseorang niat secara khusus misalkan “Saya niat salat Shafar” atau “Saya niat salat Rebo Wekasan” hukumnya tidak sah bahkan haram. Sebagaimana ungkapan para ulama yang dikutip Syekh Sulaiman al-Jamal:

إِنَّ الصَّلَاةَ إِذَا لَمْ تُطْلَبْ لَمْ تَنْعَقِدْ

Hukum asal dalam salat ketika tidak dianjurkan maka tidak sah.”[1]

Namun apabila salat Rebo Wekasan diniati salat sunnah mutlak, maka ulama berbeda pendapat. KH. Hasyim As’ari tetap tegas mengatakan tidak boleh dengan alasan berikut:

وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ اَنَّهُ قَالَ الصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلَاةٍ مَشْرُوْعَةٍ

Tidak boleh bagi setiap individu untuk berdalih dengan hadis shahih Rasulullah: bahwa sesungguhnya salat itu sebaik-baiknya tempat, maka siapa yang berkehendak perbanyaklah atau sedikitkanlah. Alasannya, hadis tersebut hanya ditujukan pada salat yang disyariatkan.”[2]

Namun dalam beberapa referensi kitab lain para ulama justru memperbolehkan dengan cara melakukan salat sunah mutlak, seperti dikutip dalam kitab al-Ghunyah, Jawahir al-Khams, dan Kanz an-Najah wa as-Surur. Syekh Abd al-Hamid Quds Al-Makki menegaskan:  

ﻗُﻠْﺖُ ﻭَﻣِﺜْﻠُﻪُ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﺼَّﻔَﺮِ ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻓِﻰ ﻭَﻗْﺖِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷْﻭْﻗَﺎﺕِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻮِ ﺍﻟﻨَّﻔْﻞَ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖَ ﻓُﺮَﺍﺩَﻯ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﻋَﺪَﺩٍ ﻣُﻌَﻴَّﻦٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳُﺘَﻘَﻴَّﺪُ ﺑِﻮَﻗْﺖٍ ﻭَﻻَ ﺳَﺒَﺐٍ ﻭَﻻَ ﺣَﺼْﺮَ ﻟَﻪُ

Saya berkata, termasuk dari bid’ah adalah salat bulan Shafar. Maka siapa yang ingin mengerjakan salat di waktu ini, niat salatnya dengan niat salat sunah mutlak dengan sendirian dan tanpa hitungan tertentu. Sebab salat sunah mutlak itu tidak terikat dengan sebab dan tidak terikat dengan batas.”[3] []WaAllahu a’lam


[1] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, I/511

[2] Hasyim Asyari, sebagaimana dikutip dalam kumpulan hasil bahtsul masail PWNU Jawa Timur.

[3] Abd al-Hamid Quds Al-Makki, Kanz an-Najah wa as-Surur, hlm. 22

Hukum Mengubur Ari-ari Bayi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara admin yang saya hormati, kami ingin bertanya bagaimanakah hukumnya mengubur ari-ari bayi? Apakah hal itu menjadi keharusan ataukah sebatas anjuran? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

(Adam I., Cirebon Jawa Barat)

_______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Saat bayi dilahirkan, bersamaan dengan itu keluar ari-ari (plasenta) yang menyertai bayi. Syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj:

هَلْ الْمَشِيمَةُ جُزْءٌ مِنْ الْأُمِّ أَمْ مِنْ الْمَوْلُودِ حَتَّى إذَا مَاتَ أَحَدُهُمَا عَقِبَ انْفِصَالِهَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ الْمَيِّتِ فَيَجِبُ دَفْنُهَا ، … ـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَأَقُولُ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ فِيهَا شَيْءٌ ا هـ .ع ش عَلَى م ر .وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ أَمَّا الْمَشِيمَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْخَلَاصِ فَكَالْجُزْءِ ؛ لِأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنْ الْوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّا الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ ، فَلَيْسَتْ جُزْءًا مِنْ الْأُمِّ وَلَا مِنْ الْوَلَدِ انْتَهَتْ .

Apakah ari-ari tergolong bagian dari anggota ibu atau anak, sehingga apabila salah satunya meninggal dunia setelah terpisah dari ari-ari tersebut maka hukumnya seperti bagian tubuh yang terpisah dari mayat yang wajib dikuburkan? …. Imam Ibnu Qasim berpendapat tidak ada kewajiban apapun atas ari-ari tersebut. Adapun imam al-Barmawi mengungkapkan bahwa ari-ari—yang disebut juga dengan istilah Khlash—itu seperti bagian tubuh seseorang karena ia terpotong dari tubuh bayi sehingga ari-ari termasuk anggota tubuh bayi. Sedangkan ari-ari yang membungkus bayi (plasenta) maka tidak termasuk bagian tubuh ibu maupun anaknya.”[1]

Dengan perincian demikian, maka ari-ari menjadi pembungkus bagyi (plasenta) tidak ada anjuran apapun dan untuk ari-ari yang dipotong dari pusar bayi disunahkan untuk dikuburkan. Sebagaimana penjelasan imam Zakaria al-Anshori dalam kitab Asna al-Mathalib demikian:

وَيُسْتَحَبُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ فىِ الْحَالِ أَوْ مِمَّنْ شَكَكْنَا فِيْ مَوْتِهِ .

Dan disunahkan menguburkan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup yang tidak mati seketika atau bagian tubuh yang kita ragukan kematiannya.”[2]

[]WaAllahu A’lam


[1] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, II/190

[2] Zakaria al-Anashori, Asna al-Mathalib, I/313

Hukum Salat Jumat bagi Wanita

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Terkadang saya melihat di sebagian tempat, para wanita yang mengikuti salat Jumat. Apa hukumnya salat Jumat bagi wanita? Dan bagaimana kewajiban salat Dzuhurnya? Mohon jawabannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Yuniar T., Bekasi)

__________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pada dasarnya, salat Jumat diwajibkan dan sah dilakukan bagi setiap orang Islam laki-laki dewasa, merdeka dan sedang bermukim (tidak dalam perjalanan). Hal ini berdasarkan salah satu hadis Rasululllah Saw.:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Salat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dengan berjamaah kecuali empat orang yakni budak yang dimiliki, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR. Abu Dawud).[1]

Meskipun tidak wajib, bagi mereka diperbolehkan untuk mengikuti salat Jumat. Dan konsekuensinya sudah menggugurkan salat Dzuhur yang seharusnya dilakukan pada hari itu. Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menjelaskan:

يَجُوْزُ لِمَنْ لاَ تَلْزَمُهُ الْجُمْعَةُ كَعَبْدٍ وَمُسَافِرٍ اَوْ اِمْرَاَةٍ يُصَلِّى الْجُمْعَةَ بَدَلاً عَنِ الظُّهْرِ وَيُجْزِئُهُ بَلْ هِيَ اَفْضَلٌ لاَنَّهَا فَرْضٌ لاَهْلِ الْكَمَالِ وَلاَ تَجُوْزُ اِعَادَتُهَا بَعْدُ حَيْثُ كَمُلَتْ شُرُوْطُهَا

Diperbolehkan bagi setiap orang yang yang tidak berkewajiban salat jumat, semisal budak, musafir, dan wanita, untuk mengikuti shalat Jumat sebagai pengganti dari salat Dzuhur. Bahkan salat Jumat dinilai lebih baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sempurna memenuhi syarat.  Tidak boleh mengulangi salat Dzuhur sesudah salat Jumat (bagi wanita, budak dan musafir) ketika syarat-syaratnya sudah terpenuhi.”[2]

Meskipun diperbolehkan, namun bagi wanita memiliki perincian hukum lain. Imam asy-Syarwani menjelaskan:

 يُسَنُّ الْحُضُورُ لِعَجُوزٍ إلَخْ حَيْثُ أَذِنَ زَوْجُهَا أَوْ كَانَتْ خَلِيَّةً وَمَفْهُومُهُ أَنَّهُ يُكْرَهُ الْحُضُورُ لِلشَّابَّةِ ، وَلَوْ فِي ثِيَابِ بِذْلَتِهَا ع ش أَيْ وَأَذِنَ زَوْجُهَا

Keterangan sunah menghadiri salat Jumat bagi orang yang lanjut usia: kebolehan menghadiri salat Jumat bagi wanita yang bersuami apabila mendapatkan izin dari suaminya atau boleh bagi wanita yang masih jomblo. Namun dapat dipahami bahwa hukumnya makruh salat Jumat bagi perempuan muda meskipun dengan pakaian sederhana dan mendapat izin dari suaminya.”[3]

[]WaAllahu a’lam


[1] Ibn Hajar al-Haitami, Minhaj al-Qawum, vol. I hlm. 173.

[2] Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 78.

[3] Asy-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, vol. II hlm. 443.

Hukum Menolak Pemerintahan Zalim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukumnya menolak pemimpin negara yang zalim dan fasik? Apakah boleh bagi umat Islam untuk tidak mentaatinya? Terimakasih, mohon jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Aryadi, Depok)

_________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Seorang pemimpin dan penyelenggara negara (pemerintah) merupakan hal mutlak yang harus ada dalam menunjang keberlangsungan dan kemaslahatan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, sebaik apapun seorang pemimpin, tidak pernah terlepas dari pro-kontra atas eksistensi kepemimpinannya. Terlebih hal itu muncul dari pergulatan politik praktis dan suksesi kepemimpinan.

Dalam titik ini, setiap kelompok yang berbeda pandangan dan tujuan politik dengan pemimpin terpilih akan memposisikan diri sebagai pihak oposisi. Segala kekurangan yang terkait kebijakan pemerintahan akan selalu disorot untuk selanjutnya dikoreksi. Namun tak jarang, pihak yang berbeda dengan pemimpin pemerintahan sering kali mewacanakan aksi-aksi untuk menolak kepemimpinan dengan berbagai aksinya. Bahkan tak sedikit dijumpai rencana pemberontakan dan makar yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Dalam sudut pandang syariat, tindakan makar dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah secara konstitusi adalah haram, meskipun pemerintah yang dimaksud tergolong fasik dan zalim. Sebagaimana penjelasan imam An-Nawawi berikut:

وَأَمَّا الْخُرُوْجُ عَلَيْهِمْ وَقِتَالُهُمْ فَحَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانُوْا فَسَقَةً ظَالِمِيْنَ

Adapun keluar dari ketaatan terhadap penyelenggara negara dan memeranginya maka hukumnya haram, berdasarkan konsensus ulama, meskipun mereka fasik dan zalim.”[1]

Dengan bahasa lain yang menyejukkan, Dr. Wahbah az-Zuhaily menegaskan dalam kitabnya yang berjudul al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu:

وَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ عَنِ الطَّاعَةِ بِسَبَبِ أَخْطَاءٍ غَيْرِ أَسَاسِيَّةٍ لَاتُصَادِمُ نَصًّا قَطْعِيًّا سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِاجْتِهَادٍ أَمْ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ حِفَاظًا عَلَى وِحْدَةِ الْأُمَّةِ وَعَدَمِ تَمْزِيْقِ كِيَانِهَا أَوْ تَفْرِيْقِ كَلِمَاتِهَا

Tidak diperbolehkan memberontak pemerintah sebab kesalahan yang tidak mendasar yang tidak menabrak nash qath’i, baik dihasilkan dengan ijtihad atau tidak, demi menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan dan pertikaian di antara mereka.”[2]

Alasannya sederhana, masuk akal, dan dapat dilihat dalam bukti sejarah. Sesuai penjelasan dalam kitab Ghayah al-Bayan bahwa pemberontakan akan mengobarkan fitnah yang lebih besar, pertumpahan darah, perselisihan antar golongan, dan seterusnya.[3] Adapun ketidaksetujuan dan kritik terhadap kebijakan sudah memiliki hak tersendiri melalui jalur konstitusional.

 []waAllahu a’lam


[1] Al-Minhaj Syarh Shahih al-Muslim, XII/229.

[2] al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu, VI/705.

[3] Ghayah al-Bayan, I/27.