Drama, Data, dan Dialog: Cara Santri Lirboyo Menjawab Tuduhan kepada Islam

Suara gemuruh menggema di seluruh sudut aula pada saat dua orang mengisi acara drama dengan menggunakan Bahasa Inggris dengan fasih dan berintonasi membuat penonton terperdaya dibuatnya. Ada yang terpengarah bangga, ada yang termenung tak paham. Betapa pun demikian, Pondok Lirboyo sudah menunjukkan bahwa santri Lirboyo tidak hanya pandai bahasa turats, tidak tulen kesalafan. Tetapi juga berani ber-upgrade dengan pembaharuan yang lebih maslahat (al-akhdu bi al-jadid al-ashlah).

Beberapa hal memang sering disalahpami, dan terkadang, semua sudah direkayasa. Itulah barangkali pelajaran yang dipetik dari penampilan drama yang diperagakan oleh teman-teman Kursus BP Ekstra MHM dalam acara Jam’iyyah Nahdliyyah, Kamis (02/07/2026 M) di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Baca juga: Seminar Kepenulisan SIBER Lirboyo Bersama Redaktur NU Online

Suasana Penampilan

Sebelum kepada penampilan inti, dua orang itu menjelaskan bahwa akar permasalahan adanya stigma Islam adalah agama teroris bermula dengan hancurnya dua gedung kembar di Washingthon, AS (11/09/2001). Kemudian Islam menjadi agama yang diklaim radikal, teroris dan berbahaya. Hingga pada akhirnya, istilah Islamphobia muncul. Semua hanya rekayasa media Barat agar Islam dibenci umat beragama sedunia.

Kemudian tujuh orang datang membentuk dua kubu pro-kontra dan salah satunya menjadi moderator. Menariknya, semua dialog yang terjadi pada penampilan ini menggunakan Bahasa Inggris dan menggunakan adegan cut to cut dengan diselingi dengan penjelasan dari dua orang menggunakan Bahasa Indonesia.

Baca juga: Seminar Kepenulisan Mading Hidayah Lirboyo Bersama Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Data demi data dipaparkan, argumen demi argumen dipertukarkan. Ketika perdebatan mencapai puncaknya, suara masing-masing pihak sesekali melambung ke oktaf yang lebih tinggi, memecah keheningan sekaligus menghidupkan suasana. Di hadapan mereka, para penonton menyimak dengan mata yang nyaris tak berkedip.

Ketika perdebatan usai, kedua pihak saling menjabat tangan. Isyarat yang lebih lantang daripada kata-kata, bahwa perbedaan boleh mengeras dalam gagasan, tetapi tidak boleh meretakkan persaudaraan. Persatuan dan perdamaian tetap menjadi puncak yang harus dijaga bersama. Sorak-sorai penonton masih menggema, tetapi hati telah lebih dulu terpikat oleh penampilan yang baru saja tersaji.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses