Jam’iyyah Nahdliyyah l Bersama Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban M. Hum. di Lirboyo

Jam'iyyah Nahdliyyah l bersama Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya'ban M. Hum Jam'iyyah Nahdliyyah l bersama Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya'ban M. Hum

Pada malam Jumat, 02 Juli 2026, tepatnya di Aula Al-Muktamar Ponpes. Lirboyo, Kota Kediri, acara Jam’iyyah Nahdliyyah l berlangsung. Hadir dalam acara tersebut Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban M. Hum., Pakar filologi dan Wasekjen PBNU’ selaku keynote speaker yang membawakan tema Kitab Kuning dan Jejak Intelektual Ulama Nusantara.

Berikut ini merupakan rangkuman dari apa yang telah beliau sampaikan dalam acara seminar tersebut.

Kurikulum Islam Klasik

Martin van Bruinessen, seorang Antropolog Belanda, pernah mengungkapkan bahwa pesantren dan kitab kuning adalah great tradition  atau ruh tradisi besar sejarah peradaban Islam di Indonesia

Setidaknya, sekarang ada 3 kitab yang menjelaskan mengenai sistem pendidikan Islam pada masa klasik dulu;

Pertama kitab judulnya adalah Durus min Ta’lim al-Madhi wa Hadlirihi mengenai sejarah pendidikan agama Islam di Masjidil haram, Makkah al-Mukarramah dan juga di kawasan Hijaz secara umum. Kitab ini adalah karangan Syaikh Umar Abdul Jabbar yang juga mengarang kitab Khulasoh Nurul Yaqin.

Kedua ada juga kitab tulisan Ahmad Zaki Pasha Mubarok namanya Al-Khutot at-Taufiqiyah. Di dalamnya ada pembahasan mengenai sejarah dan kurikulum di universitas Al-Azhar Kairo

Ketiga, karangan Doktor Ahmad Abdullah Najm judulnyaTtarikh at-Ta’lim al-Islami fiddaulah al-Islamiyah, menjelaskan sejarah pendidikan Islam termasuk kurikulum di masa Turki Utsmani dulu

Dari tiga referensi itu, ditemukan bahwa dulu kegiatan ngaji di pusat peradaban Islam itu hampir sama dengan apa yang sekarang kita kaji di beberapa pesantren di nusantara. Seperti dalam ilmu Nahwu kita ngaji Awamil al-Jurjani sampai Alfiyah ibn Malik, dari Matan Taqrib sampai kitab Minhaj, dan sebagainya.

Baca juga: Di Balik Aturan Haji Sekali Seumur Hidup

Namun ternyata, di Hijaz, sejak tahun 1924/1925, kurikulum itu banyak yang tidak dipakai karena madzhabnya di sana sudah tidak lagi Ahlusunah waljamaah.

Sedangkan di Al-Azhar, kurikulum tadi juga sempat tidak berlaku karena mazhab Aswaja mereka sudah berganti jadi mazhab kaum reformis yang tidak bermazhab. Dengan beberapa tokoh seperti Syekh Jamaluddin al-Afghani dan Syekh Muhamad Rosyid Ridho

Selain itu, di Turki Utsmani kurikulum yang sudah kita sebutkan sebelumnya juga tidak dipakai kecuali hanya oleh kalangan terbatas. Hal ini karena turki telah berubah jadi negara yang ultra sekulerisme dengan tokohnya Mustafa Kemal Atatürk.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika kurikulum zaman peradaban Islam, masa klasik, itu sudah tidak dipakai oleh pusat peradaban Islam. Namun ternyata, di ponpes Lirboyo kurikulum-kurikulum itu justru masih bertahan.

Penjaga Tradisi Keislaman

“Jadi kalau Profesor Martin van Bruinessen bilang bahwa kitab kuning dan pesantren merupakan tradisi agung sejarah peradaban Islam di indonesia, menurut saya keduanya malah jadi penjaga tradisi agung peradaban keislaman di seluruh dunia saat ini.” Demikian pendapat Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban M. Hum.

Lebih lanjut, Wasekjen PBNU itu mengungkapkan bahwa karakter dan ciri khas keilmuan pesantren itu ada dua

  • Al-Ma’arif al-Mutawasilah, yakni keilmuan di pesantren itu pengetahuannya berkesinambungan
  • Al-Asanid al-Muttasilah, artinya sanad keilmuan jelas dan terus bersambung.

Keilmuan yang sekarang kita pelajari terus berkesinambungan tanpa terputus dari Nabi, sahabat, tabi’in, para imam, dan begitu seterusnya sampai pada generasi kita saat ini

Secara genealogi, ulama nusantara harusnya ikut memberi sumbangsih dalam peradaban Islam. Masalahnya, apakah kitab mereka benar-benar ada?

Baca juga: Panduan Singkat Doa Akhir & Awal Tahun

Turats Nusantara yang Mendunia

Dalam kitab Tarikh at-Turats al-‘Arabi, karangan Prof. Dr. Fuat Sezgin, yang merupakan ensiklopedia dan katalog naskah klasik Arab-Islam terlengkap yang menjadi rujukan utama ilmuwan di seluruh dunia dalam belasan jilid. Di dalamnya hampir semua kitab dalam bahasa arab ada semua. Tapi sayangnya di Nusantara sendiri belum ada ulama nusantara yang menulis Tarikh Turots al-Jawi (Katalog naskah klasik Jawa-Islam).

Padahal ulama Nusantara yang menulis turats, kitab kuning, yang jadi rujukan internasional ada banyak sekali. Misal, di fakultas Al-Qu’ran wa Ulumihi di Al azhar, ada salah satu kitab pegangan wajib dalam bidang qiroah asyr, yakni kitab Ghunyah at-Tholabah, Syarh Mandzumah Thoyyibah fi Qiroat ‘Asyr. Karangan Syekh Muhammad Mahfud at-Turmusi yang masih dipakai hingga sekarang

Jauh daripada itu, di Jami’ al-Azhar, sejak zaman Gus Dur dan Gus Mus sampai sekarang ada kitab tasawuf Siroj at-Tholibin, Syarh Minhajul Abidin. Karangan Syekh Ihsan Jampes, kakak KH. Marzuqi Dahlan Lirboyo.

Ada juga kitab yang jadi rujukan otoritatif dalam ilmu morfologi di belahan dunia, yaitu Hasyiyah Tadrij al-Adani ala Syarh Taftazani ala Matan Zanjani fi ilm Shorf. Kitab tersebut banyak menjadi rujukan orang Arab maupun non-Arab, karangan Syekh Abdul Haq Al-Bantani Al-Jawi.

Karangan Kitab di Nusantara

Pada abad ke 17, tepatnya tahun 1637-an, ulama Nusantara banyak yang sudah membuat karangan. Lalu, apabila kita mundur ke tahun 1582, putra Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy Al-Makki, yaitu Syekh Abul Khoir bin Ahmad bin Hajar Al-Haitamy pernah berkunjung ke Aceh dan mengarang kitab di sana berjudul Saiful Qoti’il Maslul. Kitab yang membahas Qodhiyah al-Ittihad wal Hulul, perdebatan kepercayaan wahdatul wujud di sana

Selain itu, ada juga Syekh Mohamad  Ali bin ‘Alan As-Siddiqi Al-Makky, wafat tahun 1647. Yang berjuluk suyuthi fi zamanihi, saking banyaknya kitab karangannya. Di antaranya Syarh Dalilul Falihin dan Futuhat ar-Robbaniyah. Ia di zamannya menulis 4 buah karya khusus untuk nusantara:

  1. Al-Manhaj al-Wadhihi as-Suluk syarh Nasihat al-Muluk. Merupakan permintaan Sultan Banten pada saat itu.
  2. Syarh Ghouts al-Bihari az-Zakhiroh syarh Durrot al-Fakhiroh karya Imam Al-Ghozali
  3. Kitab Rof’u al-Hijab, membahas 5 bab dalam kitab Insan al-Kamil karya Syekh Abdul Kalim Al-Jili.
  4. Al-Mawahib Robbaniyah ala al-Masail al-Jawiyah.

Baca juga: Doa Masuk Pasar: Keutamaan dan Hikmah Berzikir di Tengah Sibuknya Dunia

Fatwa Untuk Nusantara

Fakta mengejutkan lainnya, ternyata dari tahun 1600 sampai akhir 1800 Masehi, hampir setiap abad tidak putus ulama hijaz menulis kitab untuk menjawab persoalan fikih dari Nusantara. Jadi ada kitab Al-Fatawa al-Hijaziyah ala al-Masail al-Fiqhiyyah al-Jawiyah.

Seperti halnya pada tahun 1670 ada ulama dari Madinah, Syeh Ibrahim bin Hasan al-Qurani al-Madani yang mengarang al-Jawabat al-Ghorowiyah ala Masail al-Jawiyah al-Johoriyah, untuk menjawab persoalan fikih dari masyarakat Johor.

Maklum, kala itu di Johor masih dalam masa peralihan hindu-budha ke Islam.

Pada abad berikutnya, ada seorang mufti dari Madinah bernama Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi pengarang Al-Hawasyi al-Madaniyah. Judulnya Ad-Duror al-Bahiyyah fi Jawabil As’ilah al-Jawiyah

Lalu di abad berikutnya Syekh Zaini Dahlan juga memiliki kitab Muhimmatinnafais fi Jawabi As’ilatil Hadis.

Sekelumit Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani

Di antara murid Syekh Zaini Dahlan ada Syekh Nawawi Al-Bantani. Beliau punya gelar kehormatan Sayyid ‘Ulama Al-Hijaz. Artinya, penghulu ulama Makah-Madinah. Padahal di masa itu ada banyak sekali ulama terkenal, tapi yang mendapat gelar kehormatan tersebut justru seorang ulama dari Nusantara.

Hal ini tidak mengherankan apabila mendengar persaksian dari murid Syekh Nawawi Al-Bantani, yaitu seorang Muhadits Makah. Ialah Syeh Abu Sattar Ad-Diblawi mengatakan bahwa karangan Syekh Nawawi Al-Bantani lebih dari 100 buah. Hal ini karena hampir tidak ada kitab yang jadi pegangan wajib di institusi keilmuan Islam yang tidak dikomentari beliau

Di Antara Karangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Dalam ilmu tauhid, Syekh Nawawi Al-Bantani mensyarahi banyak kitab. Karangan beliau seperti kitab Qaṭr al-Ghayts, Fatḥ al-Majīd, Tījān al-Durārī, Dzarī‘at al-Yaqīn. Sedangkan dalam bidang fikih, beliau mengarang kitab Sullam al-Munājāh’ Kāsyifah al-Sajā, Mīrqāt Su‘ūd al-Taṣdīq, Tsimār al-Yāni‘ah, Syarḥ Fatḥ al-Mubīn, Qūt al-Ḥabīb al-Gharīb, Nihāyah al-Zayn, Marāḥ Labīd li Kasyf Ma‘nā al-Qur’ān al-Majīd, dan masih banyak lagi.

Kesederhanaan Syekh Nawawi Al-Bantani

Kesaksian orang di zamannya, meskipun Syekh Nawawi Al-Bantani punya gelar ulama kehormatan, beliau penampilannya tampak sederhana bahkan cenderung Khumul, tidak ingin mencolok. Tidak suka pakai baju kebesaran ulama. Justru malah pakai baju koko dan sarung peci.

“Seperti santri lirboyo ini, sederhana tapi ilmunya dalam”. Kata Dr. KH. Ahmad Ginanjar yang mendapat aplaus para santri

Lanjutnya, Syekh Nawawi Al-Bantani pun ditanya,

“Ilmu panjenengan itu jauh lebih unggul dari para pengajar di Masjidil Haram. Tapi kenapa Anda penampilannya justru sesederhana ini. Jawaban Syekh Nawawi Al-Bantani adalah seperti yang beliau tulis di mukadimah kitab tausyehnya

كَفَى بِي أَنْ أَكُونَ وَسَخَ أَقْدَامِ الطَّلَبَةِ

Kafa bi an akuna wasakha aqdamittolabah

“Saya cukup merasa berarti dianggap sebagai debu yang menempel di telapak kaki para santri yang wira-wiri ngaji di masjidil haram”

Akhirnya jangan heran banyak kiai pesantren nusantara itu penampilannya sederhana tapi jadi auliya, alim besar.

Semoga kita senantiasa bisa meneruskan perjuangan para ulama pendahulu kita di bumi Nusantara ini.

Pada malam Jumat, 02 Juli 2026, tepatnya Disampaikan di Aula Al-Muktamar Ponpes. Lirboyo, Kota Kediri, acara Jam’iyyah Nahdliyyah l berlangsung. Hadir dalam acara tersebut Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban M. Hum., Pakar filologi dan Wasekjen PBNU’ selaku keynote speaker yang membawakan tema Kitab Kuning dan Jejak Intelektual Ulama Nusantara.

Berikut ini merupakan rangkuman dari apa yang telah beliau sampaikan dalam acara seminar tersebut.

Kurikulum Islam Klasik

Martin van Bruinessen, seorang Antropolog Belanda, pernah mengungkapkan bahwa pesantren dan kitab kuning adalah great tradition  atau ruh tradisi besar sejarah peradaban Islam di Indonesia

Setidaknya, sekarang ada 3 kitab yang menjelaskan mengenai sistem pendidikan Islam pada masa klasik dulu;

Pertama kitab judulnya adalah Durus min Ta’lim al-Madhi wa Hadlirihi mengenai sejarah pendidikan agama Islam di Masjidil haram, Makkah al-Mukarramah dan juga di kawasan Hijaz secara umum. Kitab ini adalah karangan Syaikh Umar Abdul Jabbar yang juga mengarang kitab Khulasoh Nurul Yaqin.

Kedua ada juga kitab tulisan Ahmad Zaki Pasha Mubarok namanya Al-Khutot at-Taufiqiyah. Di dalamnya ada pembahasan mengenai sejarah dan kurikulum di universitas Al-Azhar Kairo

Ketiga, karangan Doktor Ahmad Abdullah Najm judulnyaTtarikh at-Ta’lim al-Islami fiddaulah al-Islamiyah, menjelaskan sejarah pendidikan Islam termasuk kurikulum di masa Turki Utsmani dulu

Dari tiga referensi itu, ditemukan bahwa dulu kegiatan ngaji di pusat peradaban Islam itu hampir sama dengan apa yang sekarang kita kaji di beberapa pesantren di nusantara. Seperti dalam ilmu Nahwu kita ngaji Awamil al-Jurjani sampai Alfiyah ibn Malik, dari Matan Taqrib sampai kitab Minhaj, dan sebagainya.

Namun ternyata, di Hijaz, sejak tahun 1924/1925, kurikulum itu banyak yang tidak dipakai karena madzhabnya di sana sudah tidak lagi Ahlusunah waljamaah.

Sedangkan di Al-Azhar, kurikulum tadi juga sempat tidak berlaku karena mazhab Aswaja mereka sudah berganti jadi mazhab kaum reformis yang tidak bermazhab. Dengan beberapa tokoh seperti Syekh Jamaluddin al-Afghani dan Syekh Muhamad Rosyid Ridho

Selain itu, di Turki Utsmani kurikulum yang sudah kita sebutkan sebelumnya juga tidak dipakai kecuali hanya oleh kalangan terbatas. Hal ini karena turki telah berubah jadi negara yang ultra sekulerisme dengan tokohnya Mustafa Kemal Atatürk.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika kurikulum zaman peradaban Islam, masa klasik, itu sudah tidak dipakai oleh pusat peradaban Islam. Namun ternyata, di ponpes Lirboyo kurikulum-kurikulum itu justru masih bertahan.

Penjaga Tradisi Keislaman

“Jadi kalau Profesor Martin van Bruinessen bilang bahwa kitab kuning dan pesantren merupakan tradisi agung sejarah peradaban Islam di indonesia, menurut saya keduanya malah jadi penjaga tradisi agung peradaban keislaman di seluruh dunia saat ini.” Demikian pendapat Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban M. Hum.

Lebih lanjut, Wasekjen PBNU itu mengungkapkan bahwa karakter dan ciri khas keilmuan pesantren itu ada dua

  • Al-Ma’arif al-Mutawasilah, yakni keilmuan di pesantren itu pengetahuannya berkesinambungan
  • Al-Asanid al-Muttasilah, artinya sanad keilmuan jelas dan terus bersambung.

Keilmuan yang sekarang kita pelajari terus berkesinambungan tanpa terputus dari Nabi, sahabat, tabi’in, para imam, dan begitu seterusnya sampai pada generasi kita saat ini

Secara genealogi, ulama nusantara harusnya ikut memberi sumbangsih dalam peradaban Islam. Masalahnya, apakah kitab mereka benar-benar ada?

Turats Nusantara yang Mendunia

Dalam kitab Tarikh at-Turats al-‘Arabi, karangan Prof. Dr. Fuat Sezgin, yang merupakan ensiklopedia dan katalog naskah klasik Arab-Islam terlengkap yang menjadi rujukan utama ilmuwan di seluruh dunia dalam belasan jilid. Di dalamnya hampir semua kitab dalam bahasa arab ada semua. Tapi sayangnya di Nusantara sendiri belum ada ulama nusantara yang menulis Tarikh Turots al-Jawi (Katalog naskah klasik Jawa-Islam).

Padahal ulama Nusantara yang menulis turats, kitab kuning, yang jadi rujukan internasional ada banyak sekali. Misal, di fakultas Al-Qu’ran wa Ulumihi di Al azhar, ada salah satu kitab pegangan wajib dalam bidang qiroah asyr, yakni kitab Ghunyah at-Tholabah, Syarh Mandzumah Thoyyibah fi Qiroat ‘Asyr. Karangan Syekh Muhammad Mahfud at-Turmusi yang masih dipakai hingga sekarang

Jauh daripada itu, di Jami’ al-Azhar, sejak zaman Gus Dur dan Gus Mus sampai sekarang ada kitab tasawuf Siroj at-Tholibin, Syarh Minhajul Abidin. Karangan Syekh Ihsan Jampes, kakak KH. Marzuqi Dahlan Lirboyo.

Ada juga kitab yang jadi rujukan otoritatif dalam ilmu morfologi di belahan dunia, yaitu Hasyiyah Tadrij al-Adani ala Syarh Taftazani ala Matan Zanjani fi ilm Shorf. Kitab tersebut banyak menjadi rujukan orang Arab maupun non-Arab, karangan Syekh Abdul Haq Al-Bantani Al-Jawi.

Baca Juga: Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Mandi Wajib

Karangan Kitab di Nusantara

Pada abad ke 17, tepatnya tahun 1637-an, ulama Nusantara banyak yang sudah membuat karangan. Lalu, apabila kita mundur ke tahun 1582, putra Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy Al-Makki, yaitu Syekh Abul Khoir bin Ahmad bin Hajar Al-Haitamy pernah berkunjung ke Aceh dan mengarang kitab di sana berjudul Saiful Qoti’il Maslul. Kitab yang membahas Qodhiyah al-Ittihad wal Hulul, perdebatan kepercayaan wahdatul wujud di sana

Selain itu, ada juga Syekh Mohamad  Ali bin ‘Alan As-Siddiqi Al-Makky, wafat tahun 1647. Yang berjuluk suyuthi fi zamanihi, saking banyaknya kitab karangannya. Di antaranya Syarh Dalilul Falihin dan Futuhat ar-Robbaniyah. Ia di zamannya menulis 4 buah karya khusus untuk nusantara:

  1. Al-Manhaj al-Wadhihi as-Suluk syarh Nasihat al-Muluk. Merupakan permintaan Sultan Banten pada saat itu.
  2. Syarh Ghouts al-Bihari az-Zakhiroh syarh Durrot al-Fakhiroh karya Imam Al-Ghozali
  3. Kitab Rof’u al-Hijab, membahas 5 bab dalam kitab Insan al-Kamil karya Syekh Abdul Kalim Al-Jili.
  4. Al-Mawahib Robbaniyah ala al-Masail al-Jawiyah.

Fatwa Untuk Nusantara

Fakta mengejutkan lainnya, ternyata dari tahun 1600 sampai akhir 1800 Masehi, hampir setiap abad tidak putus ulama hijaz menulis kitab untuk menjawab persoalan fikih dari Nusantara. Jadi ada kitab Al-Fatawa al-Hijaziyah ala al-Masail al-Fiqhiyyah al-Jawiyah.

Seperti halnya pada tahun 1670 ada ulama dari Madinah, Syeh Ibrahim bin Hasan al-Qurani al-Madani yang mengarang al-Jawabat al-Ghorowiyah ala Masail al-Jawiyah al-Johoriyah, untuk menjawab persoalan fikih dari masyarakat Johor.

Maklum, kala itu di Johor masih dalam masa peralihan hindu-budha ke Islam.

Pada abad berikutnya, ada seorang mufti dari Madinah bernama Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi pengarang Al-Hawasyi al-Madaniyah. Judulnya Ad-Duror al-Bahiyyah fi Jawabil As’ilah al-Jawiyah

Lalu di abad berikutnya Syekh Zaini Dahlan juga memiliki kitab Muhimmatinnafais fi Jawabi As’ilatil Hadis.

Sekelumit Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani

Di antara murid Syekh Zaini Dahlan ada Syekh Nawawi Al-Bantani. Beliau punya gelar kehormatan Sayyid ‘Ulama Al-Hijaz. Artinya, penghulu ulama Makah-Madinah. Padahal di masa itu ada banyak sekali ulama terkenal, tapi yang mendapat gelar kehormatan tersebut justru seorang ulama dari Nusantara.

Hal ini tidak mengherankan apabila mendengar persaksian dari murid Syekh Nawawi Al-Bantani, yaitu seorang Muhadits Makah. Ialah Syeh Abu Sattar Ad-Diblawi mengatakan bahwa karangan Syekh Nawawi Al-Bantani lebih dari 100 buah. Hal ini karena hampir tidak ada kitab yang jadi pegangan wajib di institusi keilmuan Islam yang tidak dikomentari beliau

Di Antara Karangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Dalam ilmu tauhid, Syekh Nawawi Al-Bantani mensyarahi banyak kitab. Karangan beliau seperti kitab Qaṭr al-Ghayts, Fatḥ al-Majīd, Tījān al-Durārī, Dzarī‘at al-Yaqīn. Sedangkan dalam bidang fikih, beliau mengarang kitab Sullam al-Munājāh’ Kāsyifah al-Sajā, Mīrqāt Su‘ūd al-Taṣdīq, Tsimār al-Yāni‘ah, Syarḥ Fatḥ al-Mubīn, Qūt al-Ḥabīb al-Gharīb, Nihāyah al-Zayn, Marāḥ Labīd li Kasyf Ma‘nā al-Qur’ān al-Majīd, dan masih banyak lagi.

Kesederhanaan Syekh Nawawi Al-Bantani

Kesaksian orang di zamannya, meskipun Syekh Nawawi Al-Bantani punya gelar ulama kehormatan, beliau penampilannya tampak sederhana bahkan cenderung Khumul, tidak ingin mencolok. Tidak suka pakai baju kebesaran ulama. Justru malah pakai baju koko dan sarung peci.

“Seperti santri lirboyo ini, sederhana tapi ilmunya dalam”. Kata Dr. KH. Ahmad Ginanjar yang mendapat aplaus para santri

Lanjutnya, Syekh Nawawi Al-Bantani pun ditanya,

“Ilmu panjenengan itu jauh lebih unggul dari para pengajar di Masjidil Haram. Tapi kenapa Anda penampilannya justru sesederhana ini. Jawaban Syekh Nawawi Al-Bantani adalah seperti yang beliau tulis di mukadimah kitab tausyehnya

كَفَى بِي أَنْ أَكُونَ وَسَخَ أَقْدَامِ الطَّلَبَةِ

Kafa bi an akuna wasakha aqdamittolabah

“Saya cukup merasa berarti dianggap sebagai debu yang menempel di telapak kaki para santri yang wira-wiri ngaji di masjidil haram”

Akhirnya jangan heran banyak kiai pesantren nusantara itu penampilannya sederhana tapi jadi auliya, alim besar.

Semoga kita senantiasa bisa meneruskan perjuangan para ulama pendahulu kita di bumi Nusantara ini.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses