Pernikahan termasuk peristiwa sakral di sepanjang perjalanan umat manusia. Namun, tahukah kamu kisah pernikahan makhluk paling sempurna seantero dunia? tulisan ini akan membawa anda menyelami bagaimana awal mula kisah pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Aisyah.
Baca juga: Jangan Memberikan Doa Celaka, Doakanlah Hidayah
Awal mula
Diriwayatkan tatkala Sayyidah Khadijah wafat, baginda Nabi teramat dirundung kesedihan. Mengetahui hal itu, Malaikat Jibril menemui Baginda Nabi dengan membawa selembar daun dari surga, dan di sana terukir wajah rupawan Sayyidah ‘Aisyah.
Jibril berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengucapkan salam untukmu, dan Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menikahimu di langit dengan wanita perawan yang serupa dengan gambar ini, maka engkau harus menikahinya di bumi’”.
Baca juga: Filosofi Sya’ban Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Bertemu dengan Abu Bakar
Kemudian Nabi Muhammad memanggil al-Khattabah, beliau bertanya kepadanya:
“Apakah engkau mengetahui wanita perawan di kota Mekah yang mirip dengan gambar ini?”
“Iya, putri Abu Bakar mirip dengan gambar ini” jawab al-Khattabah tersebut.
Setelah itu, Baginda Nabi memanggil Abu Bakar untuk menemuinya. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar:
“Sesungguhnya engkau mempunyai putri yang mirip dengan gambar ini, dan ia bernama Aisyah. Allah telah menikahkanku dengan putrimu di langit, dan Allah memerintahkan kepadaku untuk menikahi putrimu di bumi”
Abu Bakar menjawab: “Wahai Rasulullah, dia masih kecil dan tidak layak jika bersanding denganmu”
“Seandainya putrimu tidak layak untukku, maka sungguh Allah tidak akan menikahkan aku dengannya” Setelah itu, akad nikah segera berlangsung, kemudian Abu Bakar kembali ke rumahnya. Dan perlu diketahui bahwa pernikahan itu sama sekali tidak diketahui oleh Aisyah.
Baca juga: Al-Adzkar: Beruntungnya Badui yang Ziarah ke Makam Nabi Saw
Pertemuan Baginda Nabi dengan Aisyah
Abu Bakar iseng untuk mempertemukan Baginda Nabi dengan putrinya, ia menyuruh Aisyah untuk mengantarkan sebuah wadah yang berisi kurma kepada baginda Nabi.
“Pergilah, antarkan wadah ini kepada baginda Nabi, dan katakanlah kepada Beliau: ‘Wahai Rasulullah, inilah yang engkau katakan kepada ayahku, jika itu layak untukmu semoga Allah memberi keberkahan’”. Kemudian Aisyah menjalankan apa yang ayahnya perintahkan. Setelah mengatakan kalimat itu, ia berlangsung pergi dari hadapan Baginda Nabi, karena ia mengira bahwa yang ayahnya kehendaki adalah tentang hadiah kurma itu.
Namun, tanpa Aisyah sangka, baginda Nabi berkata: “Aku menerimanya wahai Aisyah” seraya memegang ujung baju Aisyah. Ia kemudian melihat Nabi dengan pandangan marah lalu berangsur pergi.
Fakta yang Aisyah terima
Setelah sampai di rumahnya, Aisyah menceritakan semua yang telah terjadi. Kemudian Abu Bakar berkata: “Wahai putriku, janganlah mempunyai prasangka yang buruk kepada Baginda Nabi, sesungguhnya Allah telah menikahkanmu dengan beliau (di langit) dan sungguh aku telah menikahkanmu untuknya (di bumi).”
Di sebuah kesempatan Aisyah berkata: “Tidak ada suatu kebahagian yang melebihi kebahagianku ketika mendengar ayahku berkata ‘sungguh aku telah menikahkanmu untuknya”
Dan dikatakan bahwa sesungguhnya kisah cinta pertama kali dalam sejarah islam adalah cintanya Baginda Nabi kepada Aisyah.
Referensi: Muhammad bin Abdullah ad-Dimyathi, Jawahir al-Lu’lu’iyyah Syarh Arba’in An-Nawawiyyah (Kairo: Maktabah al-Iman), hal. 67
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
