Kopi dan Khasiatnya

Di dalam kitab Hasyiah al-Asbah “kitabnya Imam al-Romli” Imam Najmuddin al- Ghozzi menceritakan tentang biografi Imam Abu Bakar bin Abdulloh al-Syazdili yang di kenal dengan sebutan Al- Idrus “pendiri toriqoh syzdiliyah”. Imam Syazdili adalah orang yang pertama kali memenukan kopi. Di antara khasiatnya adalah menyegarkan otak, menghilangkan kantuk, dan bisa mendorong untuk semangat dalam beribadah. Oleh sebab itulah, Imam Syazdili mengkonsumsinya.

Menurut versi lain, pada awalnya Abu al- Hasan yang masyhur dengan kewaliannya, menghadap salah satu gurunya, yakni Syekh Abdulloh al- Masyisi dengan tujuan untuk meminta ijazah doa khusus. Sedangkan gurunya, Syekh Abdulloh al- Masyisi berdomisili di atas perbukitan. Ketika Abu al- Hasan berada persis di depan pintu rumah gurunya itu, beliau Abu al Hasan menduga bahwa gurunya tidak mengetahui perihal kedatangannya. Sementara gurunya yakni Syekh Abdulloh al-Masyisi telah terlebih dahulu mengetahui perihal kedatangan muridnya itu. Setelah Syekh Abdulloh al-Masisyi mengetahui maksud dan tujuan kedatangan Imam Abu al- Hasan lewat perantara cucunya, maka mulailah Syekh Abdulloh al- Masyisi menanyakan. “Hai Abu al- Hasan, apakah benar apa yang dikatakan cucuku adalah tujuanmu datang kemari?”

Imam Abu al- Hasan menjawab ” Iya benar wahai guru.”

Lalu berkata gurunya “Sesungguhnya mencari ilmu itu, tak ubahnya mencari calon istri. Meskipun banyak pilihanya, tapi kamu tidak bisa memiliki kesemuanya. Pergilah menemui temanku di desa Syazdil, dia adalah wali Allah yang agung. Karena Allah menginginkan engkau mengambil ijazah doa itu dari temanku itu,” kata gurunya Syekh Abdulloh al Masyisi.

Seketika itu pula, Imam Abu al- Hasan langsung mohon pamit kepada gurunya untuk segera bergegas menemui gurunya yang baru di kampung Syazdil, akan tetapi dengan beberapa pertimbangan akhirnya Abu al- Hasan memutuskan untuk pergi ke-esokan harinya. Jarak antara kediaman Imam Abu al- Hasan dan kampung Syazdil sekitar perjalanan satu bulan, akan tetapi dengan karomah Imam Abu al- Hasan perjalanan itu hanya di tempuh dengan waktu satu hari satu malam. Ketika Imam Abu al- Hasan telah samapai di kediaman gurunya, tanpa basa-basi gurunya langsung berkata “Sesungguhnya, ketika aku hendah mengijazahkan suatu amalan atau doa terhadap seseorang, maka terlebih dahulu aku melihat kemampuannya. Dan aku melihat, engkau adalah orang yang kuat. Amalkanlah amalan atau doa ini dalam waktu empat puluh malam tanpa hadats atau dalam keadaan suci.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.