Dalam literatur Arab klasik, nama bulan Jumadil Awal sering mengalami kesalahan pelafalan. Sebagian orang menyebutnya Jumādī al-Ūlā dengan memecahkan huruf dāl (terbaca kasrah), padahal yang benar adalah dengan fathah: Jumādā. Hal ini karena dalam bahasa Arab tidak dikenal bentuk fu‘ālī kecuali jika diakhiri huruf hā’, seperti pada kata Qurāsiyah, ‘Ufāriyah, dan Surāhiyah. [Ṣalāḥuddīn Khalīl ibn Aibak aṣ-Ṣafadī, Taṣḥīḥ at-Taṣḥīf wa Taḥrīr at-Taḥrīf, (Kairo: Maktabah al-Khānajī, cet. I, 1407 H/1987 M), hlm. 215.]
Baca juga: Hari Santri Nasional: Mari Renungkan Perjuangan Pesantren Lirboyo di Masa Penjajahan
Arti kata Jumadil Awal
Adapun makna kata Jumādā sendiri berasal dari akar kata جمد (jamada) yang berarti membeku. Dalam Tahdzīb al-Lughah (10/358) tertuang bahwa Abu Sa‘id berkata:
“Musim dingin (asy-syitā’) menurut orang Arab adalah Jumādā, karena pada bulan itu air membeku.”
Dari sini dapat dipahami bahwa penamaan bulan Jumādā al-Ūlā berkaitan erat dengan musim dingin di Jazirah Arab, ketika suhu menurun hingga menyebabkan air membeku. [Muḥammad ibn Aḥmad ibn al-Azharī al-Harawī Abū Manṣūr, Tahdhīb al-Lughah, (Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī, cet. I, 2001 M), jil. 10, hlm. 358.]
Baca juga: Adab Sebelum Ilmu: Ruh Penghormatan Santri kepada Kiai
Nama lain bulan Jumadil
Dalam al-Mukhaṣṣaṣ, dijelaskan bahwa Jumādā al-Ūlā juga dikenal dengan nama Shaibān, Kānūn al-Awwal atau disebut juga Rubbā. Sedangkan Jumādā al-Ākhirah dikenal sebagai Milḥān, dan ada yang menamakannya dengan Kānūn ats-Tsānī.
Kedua bulan tersebut dinamakan Shaibān dan Milḥān karena putihnya salju pada masa itu, yang diibaratkan dengan uban (shaib) dan garam (milḥ). Dalam beberapa riwayat, keduanya juga disebut al-Aṣamm (yang sunyi) karena menggambarkan keheningan musim dingin. [Abū al-Ḥasan ‘Alī ibn Ismā‘īl ibn Sīdah al-Mursī, al-Mukhaṣṣaṣ, (Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī, cet. I, 1417 H/1996 M), jil. 2, hlm. 387.]
Baca juga: Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Wafatnya Sang Quthb al-Ghauts
Kenapa bulan Jumadil ada dua?
Biasanya musim tersebut berlangsung selama dua bulan, sehingga nama Jumādā disematkan pada dua bulan berturut-turut: Jumādā al-Ūlā (Jumadil Ula) dan Jumādā al-Ākhirah (Jumadil Akhir). Masyarakat Arab kuno mengenal enam musim, yaitu:
- ar-Rabī‘ al-Awwal (musim semi pertama),
- ash-Shaif (musim panas),
- al-Qayzh (puncak musim panas),
- ar-Rabī‘ ats-Tsānī (musim semi kedua),
- al-Kharīf (musim gugur), dan
- asy-Syitā’ (musim dingin), sebagaimana oleh Ibnu Manzhūr sebutkan dalam Lisān al-‘Arab. [Muḥammad ibn Mukarram ibn ‘Alī Abū al-Faḍl Jamāluddīn Ibn Manẓūr al-Anṣārī ar-Ruwaifī‘ī al-Ifriqī, Lisān al-‘Arab (Beirut: Dār Ṣādir, cet. III, 1414 H), jil. 8, hlm. 102.]
Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah
Peristiwa penting bulan Jumadil Awal
Di bulan Jumādā al-Ūlā, banyak peristiwa penting terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Di antaranya:
- Perang melawan Bani Sulaim di daerah Buhran, yang berlangsung pada bulan Jumādā al-Ūlā setelah 27 bulan hijrah.
- Ekspedisi Zaid bin Hārithah ke daerah al-‘Iṣ pada tahun keenam Hijriah.
- Perang melawan kaum Yahudi Khaibar pada tahun ketujuh Hijriah.
- Pengiriman utusan ke Mu’tah pada tahun kedelapan Hijriah.
- Pengutusan Khalid bin Walid untuk mengajak Bani al-Hārith di Najran memeluk Islam.
Menurut Ibn Ishaq, Perang Dzat ar-Riqā‘ juga terjadi pada bulan ini. [Muḥammad ibn ‘Umar ibn Wāqid as-Sahmī al-Aslamī al-Madanī Abū ‘Abdillāh al-Wāqidī, al-Maghāzī, (Beirut: Dār al-A‘lamī, cet. III, 1409 H/1989 M), hlm. 3, 5, 553.]
Baca juga: Rabi‘ul Akhir: Bulan yang Mengusir Bani Nadhir
Dengan demikian, Jumādā al-Ūlā bukan hanya bulan yang menandai puncak musim dingin di Jazirah Arab, tetapi juga bulan yang sarat dengan sejarah perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Wallāhu a‘lam.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
