Ilmu yang Bermanfaat

KH. Marzuqi Dahlan (1906-1975) pernah dhawuh, “Yang dinamakan santri yang manfaat ilmunya, adalah santri yang ilmunya bisa menuntun mereka meraih ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak terserah gusti Allah.” *Disampaikan oleh KH. Abdul Aziz Manshur dalam penutupan bahtsul masail LBM PP. Lirboyo.

Lanjutkan

Mengenal Fikih Tematis dalam Kitab Mutun Asy-syarif Syaikhona Kholil

Selama ini, literasi kitab fiqh sepertinya terus beralienasi dengan waktu. Pertama, kitab fiqh bercorak deskruktif. Maksudnya, pembahasan masalah berikut penjabarannya (syarah). Kemudian hadir fiqh adaptif, literasi kitab fiqih yang menawarkan lebih sistematis dan sesuai dengan kebutuhan. Seperti  hadirnya  Fiqhul Mâbadi’, kajian fiqh untuk kalangan pemula atau Fiqh al Wadih, yang merespon setiap permasalahan dengan demikian…

Lanjutkan

PWNU Jawa Timur Silaturrahim ke Pondok Pesantren Lirboyo

(liboyo.net) Ahad (14/13) Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Rombongan yang dipimpin oleh KH. Mutawakkil Alallah selaku Ketua Tanfidzyah tiba sekitar pukul 10.00 WIB disambut oleh KH. M. Anwar Manshur dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dengan menggunakan bus mini dan langsung berziarah ke makam KH. Abdul Karim. Sekitar…

Lanjutkan

Menuju Pesantren Berbahasa Arab

Di mata masyarakat umum, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang out putnya adalah santri yang –setidaknya- tahu bahasa Arab. Kitab-kitab berbahasa Arab menjadi makanan sehari-hari, pelajarannya juga tentang bahasa Arab (nahwu shorof), bahkan tak sedikit pesantren yang menerapkan bahasa Arab sebagai bahasa keseharian. Namun demikian ternyata tidak dengan Lirboyo. Boleh saja asumsi khalayak mulai…

Lanjutkan

Tertawa dalam Shalat

Ada kejadian menarik saat Kiai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di Pesantren Langitan Tuban. Seperti biasanya Kholil muda selalu berjamaah, yang merupakan keharusan para santri. Suatu ketika di tengah shalat Isya tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai shalat…

Lanjutkan

Silaturrahim PP. Ar-Raudlotul Hasanah Medan

(lirboyo.net)  Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu dari Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudlatul Hasanah dari Medan Sumatera Utara berjumlah tujuh orang yang merupakan Pimpinan Pondok dan lembaga-lembaga yang ada di Pondok tersebut. Sekitar pukul 17.00 WIB rombongan tiba di Pondok Lirboyo dengan menggunakan mobil mini bus. Kemudian langsung bersilaturrohim dengan para masyayikh. Agenda selanjutnya  mengadakan studi…

Lanjutkan

Workshop HIPSI dan Liputan TVRI

LirboyoNet, Kediri – Sabtu pagi (30/13/2013) Pondok Pesantren Lirboyo kembali menjadi tempat untuk even yang cukup besar dan rujukan untuk pengembangan pendidikan. Sabtu pagi Aula Muktamar cukup ramai, pasalnya gedung tersebut dijadikan tempat pelaksanan Pelatihan/Workshop yang diadakan oleh RMI (Robithoh Ma’ahid Islamiyah) Kota dan Kabupaten kediri. Peserta dari Pondok Pesantren, Badan Otonom NU, dan lembaga pemerintahan yang…

Lanjutkan

Takut Jadi Kiai dan Orang Kaya

Saat mengaji kitab Nashaihuddiniyyah di hadapan para santri KH. Mahrus Ali dhawuh, “Santri-santri, aku biyen neng pondok gak pernah mbayangke iso dadi kiai. Gak pernah mbayangke iso dadi wong sugih lan mulyo. Akhire dadi koyo ngene iki aku wedi, ojok-ojok bagianku iki thok, akherat ga entuk.” (Santri-santri, saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan…

Lanjutkan

Pentingnya Rasa Cinta

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Kemudian setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang, dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah. “Habib, saya mau pulang saja.” “Lho, kenapa?” tanya beliau. “Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas…

Lanjutkan

Indahnya Perbedaan

Kiai Hasyim Asy’ari menulis sebuah artikel dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M, beberapa bulan setelah NU telah berdiri. Dalam artikel ini, beliau mengajukan argumentasi bahwa karena hadis Nabi tidak menyebutkan kentongan, maka umat Islam harus mengharamkannya dan tidak boleh menggunakannya untuk menandakan waktu salat. Sebulan setelah Kiai Hasyim memublikasikan artikelnya, seorang kiai…

Lanjutkan