Sekilas Majalah Dinding Lirboyo

 

Memasuki era 80an, makin banyak saja santri yang menimba ilmu di Lirboyo. Demi menjaga karakteristiknya sebagai pesantren salaf, Lirboyo terbilang menutup diri dari dunia luar. Itu dibuktikan pada tahun 1985, pihak pesantren gencar melarang santrinya membaca koran dan majalah. Dengan program itu, diharapkan para santri fokus melakukan kegiatan belajar.

Namun begitu, Lirboyo tetap memandang perlu menjaga hubungan baik dengan pihak luar. Supaya setelah para santri merampungkan studinya, mereka sudah mengenal dunia luar. Setidaknya mereka mengerti dengan medannya ketika telah kembali ke kampung halaman.

Berlandaskan hal itu, pada 17 Agustus 1985 pesantren Lirboyo ikut serta dalam Pameran Pembangunan Kodya Kediri. Dalam pameran yang bertempat di alun-alun Kediri, Lirboyo menampilkan berbagai macam karya. Termasuk membuat majalah dinding, meskipun waktu itu di dalam pondok sendiri belum ada. Baru seusai pameran, gagasan membuat majalah dinding muncul di benak para santri.

Adalah sosok Fadloli el Munir, santri asal Jakarta (Pengasuh Pondok Pesantren Ziyadatul Mubtadi-en, Cakung, Jakarta Timur, Sekaligus ketua Forum Betawi Rempug, wafat pada selasa, 29 Maret 2009), waktu itu menjabat Ketua Umum Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM), yang menggebu untuk merealisasikan gagasan pembentukan majalah dinding di Lirboyo.

Gagasan itu menimbulkan kontraversi dikalangan pimpinan Lirboyo, sulit sekali mencetuskan kata sepakat. Pendapat yang kontra menganggap naïf atas usulan itu. Namun Kang Fadloli tidak pernah menyerah. Ia tetap gigih memperjuangkan gagasannya. Dengan kecerdasan dan sifat kerasnya (begitulah informasi yang kami dapat), ia menjelaskan bahwa dengan majalah dinding santri Lirboyo justru diajak meningkatkan gairah belajar, disamping mengembangkan bakat tulis menulisnya.
Akhirnya perjuangan Kang Fadloli membuahkan hasil. Dengan dukungan Bapak Marwan Masyhudi, Mudier (kepala) Madrasah Lirboyo saat itu, gagasannya mendapat lampu hijau, walau secara resmi belum mendapat surat izin penerbitan.

Dan tepat pada 9 September 1985, Sidang Redaksi pertama majalah dinding digelar. Fadloli ditampuk sebagai Pimpinan Redaksi, dibantu Nur Badri, Ma’ruf Asrori (pemilik penerbitan Khalista, Surabaya), Bastari Alwi, Sahlan Aidi, Badrudin Ilham dan beberapa santri lainnya.

Di awal berdirinya HIDAYAH sederhana dan apa adanya. Naskah-naskah HIDAYAH hanya direkatkan dengan lem pada papan tanpa kaca. Sehingga, waktu itu pembaca dengan mudahnya mencorat coret naskah. Bahkan tidak jarang redaksi kehilangan foto yang dipampang.

Walaupun masih tampil apa adanya, periode 1987-1988 HIDAYAH masuk finalis ke 30 dalam Lomba Koran Dinding Nasional di Jakarta. Dan pada akhir periode ini, dengan pimpinan redaksi Imam Ghozali Aro (pernah menjadi wartawan harian Surya) untuk pertama kalinya HIDAYAH menerbitkan bundel.
HIDAYAH mengalami kemajuan dari segi tampilan pada periode 1988-1989. Naskah aman dari corat coret, karena periode ini papan HIDAYAH ditutupi kaca. HIDAYAH juga mencatat prestasi menjadi juara IV dan juara favorit dalam Lomba Koran Dinding se Jawa Timur di Surabaya yang diselenggarakan harian Jawa Pos, Majalah Nona dan Majalah Kartini.

HIDAYAH kembali berprestasi dalam Lomba Koran Dinding antar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) se Jawa Timur yang digelar di Surabaya. Dalam lomba yang diselenggarakan harian Jawa Pos dan Universitas Airlangga (Unair) ini, HIDAYAH menjadi juara III.

Memasuki era 90an, tidak ada lagi lomba-lomba Koran dinding Nasional maupun Propinsi. Paling tidak sampai tahun 1997 M. HIDAYAH terakhir kali menunjukkan kebolehannya pada Lomba Koran Dinding Nasional yang diselenggarakan majalah Kartini, Tempo dan PGRI (tanpa kepanjangan, hanya tertulis PGRI; sebagaimana tertera pada medali) tahun 1991 M. Waktu itu, HIDAYAH menjadi satu-satunya Koran dinding Jawa Timur yang meraih prestasi, HIDAYAH berhasil memboyong juara II.

Diusianya yang ke dua puluh lima, HIDAYAH memang minim dalam hal prestasi. Namun bukan berarti sepi dari perkembangan. Prestasi kurang karena memang beberapa tahun belakangan, jarang diadakan lomba koran dinding yang searah dengan HIDAYAH. Yang lebih mementingkan isi dengan tampilan seadanya. Tahun 2000-an, media-media yang dulu sering menjadi penyelenggara lomba koran dinding dengan penekanan kreatifitas tulisan, beralih menekankan pada tampilan. Misalnya Jawa Pos. Jika dulu, HIDAYAH bisa unjuk kebolehan didepan jurnalis-jurnalis senior, sekarang tidak lagi. Karena lombanya pada keunikan tampilan, bukan pada tulisan. Yang tentunya memakan biaya lebih. Namun demikian, di Lirboyo sendiri HIDAYAH tidak sepi dari perkembangan.

Kini, saat Lirboyo telah melewati seabad kelahirannya, HIDAYAH tampil dengan aneka ragam kreatifitas para santri. Di papan yang terbungkus karpet dengan penutup kaca, tiap dua minggu sekali, dua puluh dua naskah kreasi santri terpampang dengan corak yang beragam.[]

Santri Pertama dan Pondok Lama

Demikian jalan yang ditempuh Umar selama di Lirboyo. Selang beberapa waktu ada tiga santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal KH. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah, Kediri. Seperti santri sebelumnya, kedatangan kedua santri ini bermaksud untuk mendalami ilmu agama dari KH. Abdul Karim. Akan tetapi baru dua hari saja mereka berdua menetap di Lirboyo, semua barang-barangnya ludes di sambar pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, di Lirboyo masih ada sisa-sisa perbuatan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.

Tahun demi tahun, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling disekitar pondok.

Sekilas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien

Sebelum berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), pengajian yang terdapat di Pondok Pesantren Lirboyo memakai sistem bandongan, sorogan dan weton. Akan tetapi, metode semacam ini dinilai kurang efektif dan sulit dipahami bagi kalangan pemula, terlebih ketika jumlah santri semakin meningkat. Dan sekitar tahun 1925, pihak pesantren berinisiatif merubah metode pembelajaran ke sistem klasikal dengan mendirikan MHM.

Berdirinya MHM ini sangat direstui oleh KH. Abdul Karim. Suatu ketika beliau pernah menitipkan pesan kepada semua santri dengan bahasa yang sederhana, “Santri-santri kang durung bisa maca lan nulis kudu sekolah (Para santri yang belum bisa membaca dan menulis harus mengikuti sekolah)”. Inilah dawuh beliau yang menjadi nafas pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo dan masih tetap diabadikan ke dalam Tata Tertib Pondok Pesantren Lirboyo hingga saat ini. Di samping itu, nama madrasah ini yang berarti Madrasah ‘Petunjuk bagi Pemula’ juga diharapkan para santri yang masuk madrasah ini selalu memiliki sikap rendah hati dan senantiasa terus mengaji dan belajar sepanjang hayatnya.

Pada tahun-tahun pertama berdiri, MHM mengalami banyak kendala. Selain kurang berminatnya para santri memasuki pendidikan madrasah, juga dilatar belakangi bahwa metode madrasah kala itu merupakan sistem pendidikan yang masih asing dalam dunia pesantren. Sehingga wajar, meskipun setelah bergonti-ganti pengurus kinerja MHM belum bisa maksimal sesuai yang diharapkan. Bahkan pada tahun 1931, MHM mengalami kevakuman.

Meskipun demikian, jangka waktu selama 6 tahun terhitung sejak tahun 1925-1931 itu, menghasilkan beberapa pengalaman yang cukup berharga. Diantaranya adalah madrasah sudah terklasifikasi menjadi beberapa lokal.

Masa selanjutnya MHM yang semula jatuh bangun bangkit dan dibuka kembali secara resmi pada malam Rabu bulan Muharram tahun 1353 H., bertepatan dengan tahun 1933 Masehi. Dan demi memperlancar lajunya metode pendidikan madrasah, maka setiap siswa dipungut sumbangan sebesar lima sen setiap bulan.

Tahun 1941, dibentuklah divisi yang khusus mengkoordinir diskusi atau musyawarah siswa MHM/ santri. Divisi yang sampai sekarang masih eksis ini diberi nama Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-Ien (M3HM). Ketika itu jenjang pendidikan MHM baru memiliki dua tingkatan, siffir dan ibtidaiyyah.

Setelah mengalami perubahan kurikulum beberapa kali, saat ini MHM memiliki empat tingkatan: idadiyah (1 tahun), ibtidaiyyah (6 tahun), tsanawiyah (3 tahun), dan aliyah (3 tahun). Tingkat idadiyah tersebut semacam kelas persiapan. Artinya, dikarenakan pendaftaran siswa baru MHM selain tingkat idadiyah hanya bisa dilakukan pada awal tahun (bulan syawal), maka bagi santri baru yang datang setelah syawal akan masuk di kelas persiapan ini. Menunggu sampai pendaftaran tahun ajaran baru dibuka. Dan perlu disampaikan bahwa siswa baru MHM hanya bisa daftar untuk masuk di kelas 1-4 ibtidaiyah, 1 tsanawiyah, dan 1 aliyah dengan terlebih dahulu mengikuti serangkaian tes ujian masuk yang diselenggarakan MHM.

Sedangkan berbicara metode dalam MHM, secara umum, metode yang digunakan oleh para guru (di Lirboyo seorang wali kelas biasa disebut dengan mustahiq) dalam menyampaikan pelajaran cukup bervariasi. Diantaranya metode ceramah (menerangkan secara menyeluruh), demonstrasi (praktek), tanya jawab dan penugasan untuk menerangkan pelajaran yang telah lewat pada siswa. Satu metode atau lebih terkadang digunakan untuk mengajarkan satu mata pelajaran secara saling melengkapi.

Muhafadzoh MHM
Siswa MHM sedang mengikuti Evaluasi Hafalan Nadzom/ Muhafadzah Umum sebagai persyaratan mengikuti semester genap dan naik tingkatan.

Pengajaran materi fikih, semisal bab wudlu, sholat, haji, tentu kurang efektif jika hanya menerapkan metode ceramah. Metode semacam ini perlu diperkuat dengan metode demonstrasi, praktek dan tanya jawab. Dengan begitu proses belajar-mengajar lebih menarik dan guru bisa mengetahui seberapa pemahaman dan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pemahamannya.

Dan sebagaimana lembaga pendidikan di luar pesantren, MHM juga rutin melakukan evaluasi terhadap kemampuan para siswanya. Jenis evaluasi yang digunakan setidaknya ada  lima macam :

  1. Evaluasi Harian; evaluasi ini dilakukan sehari-har
    i oleh pengajar terhadap materi yang diajarkan, baik berbentuk lisan atau tulisan. Di MHM evaluasi semacam ini biasa disebut muraja’ah.
  2. Evaluasi Mingguan; evaluasi ini diadakan setiap minggu oleh pengajar secara tertulis terhadap materi yang diajarkan. Evaluasi ini biasa disebut tamrin.
  3. Evaluasi pertengahan tahun dan akhir tahun; evaluasi ini diadakan setiap pertengahan tahun dan akhir tahun secara tertulis terhadap materi yang diajarkan. Jenis ini biasa disebut semester ganjil dan genap.
  4. Evaluasi/ koreksian tulisan (buku dan kitab); evaluasi ini dilakukan dua kali dalam setahun dan lengkapnya tulisan/ materi pelajaran sebagai persyaratan mengikuti semester ganjil dan genap.
  5. Evaluasi hafalan nadzom; evaluasi ini diadakan setahun sekali yang juga sebagai persyaratan semester genap, serta salah satu syarat untuk para siswa agar bisa naik tingkatan.

Begitulah sekilas tentang MHM yang tentu saja ke depan akan terus melakukan perubahan menuju yang lebih baik. Karena Pondok Pesantren Lirboyo yang sejak awal berdirinya adalah sebagai lembaga yang berkonsentrasi memperdalam agama,  maka menjadi keharusan untuk terus memperbaiki kualitas para santrinya agar apa yang dicita-citakan tercapai.

Sejarah dan Peran Pondok Pesantren

Sejarah pendidikan agama Islam yang independent, kemudian populer dengan jargon “Pesantren” sebenarnya merupakan sejarah tipologi Institusi Pendidikan Islam yang usianya sudah mencapai ratusan tahun, para ahli sejarah mencatat bahwa eksistensi pondok pesantren telah lahir jauh sebelum Republik Indonesia dibentuk. Hampir di seluruh penjuru Nusantara, terutama di pusat-pusat Kerajaan Islam telah banyak para ulama yang mendirikan pondok pesantren dan menelorkan ratusan bahkan ribuan alumni yang mumpuni di medan perjuangan masyarakat beragama.

Sebagai Lembaga Pendidikan Islam pertama yang mendukung keberlangsungan pendidikan Nasional, Pesantren tidak hanya berkembang sebagai Lembaga yang isinya cuma ngaji dan menelaah kitab salaf melulu, sekaligus juga berperan penting bagi keberlangsungan komunitas yang mempertahankan tradisional sebagai wajah bagi keaslian budaya Indonesia, disamping Lembaganya yang bercorak pribumi (indegenous), pesantren juga mampu merekonstruksi budaya kemarut yang kian menghantam jantung ideology masyarakat Indonesia. Maka dalam Sejarahnya, perkembangan pesantren telah memainkan peran sekaligus kontribusi penting dalam pembangunan Indonesia. Sebelum Kolonial Belanda masuk ke Nusantara, pesantren tidak hanya berperan sebagai Lembaga Pendidikan yang berfungsi menyebarkan ajaran Islam sekaligus juga mengadakan perubahan-perubahan tertentu menuju keadaan masyarakat yang lebih baik (progresif). Sebagaimana tercermin dalam berbagai pengaruh pesantren bagi kelancaran kegiatan politik para raja dan pangeran di-Jawa, kegiatan perdagangan dan pembukaan pemukiman daerah baru. Di saat Penjajah Belanda menduduki Kerajaan-Kerajaan di Nusantara, pesantren malah menjelma sebagai pusat perlawanan dan pertahanan terhadap Kolonial Belanda, Inggris, dan Jepang. Bahkan, pasca kemerdekaan tahun 1959-1965, pesantren masih dikategorikan sebagai ‘Alat Revolusi’ dan ‘Bahan Peledak’ yang mampu menghancurkan kelancaran politik yang stagnan. Dan saat memasuki orde baru, pesantren dipandang sebagai ‘potensi pembangunan’ negara bagi masyarakat Indonesia.

Geneologi ideology pesantren dapat dirujuk kepada tumbuh kembangnya pesantren yang cukup panjang. Sebagai salah satu wujud entitas budaya, Pesantren ternyata mampu survive mempertahankan diri ditengah kehidupan masyarakat modern dan kebangsaan global sepanjang jaman. Awalnya, pesantren tumbuh sebagai simbol perlawanan terhadap agama dan kepercayaan poliestik, khurafat dan takhayul. Kehadiran Pesantren di tanah air selalu diawali dengan perang nilai antara “nilai putih” yang dibawa Pesantren dengan “nilai hitam” yang telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Jawa. Sehingga pertarungan tersebut selalu dimenangkan pihak pesantren sekalipun sinkretisasi antara kejawen dan ajaran Islam sulit dibantahkan.

Kapan dan dimana model pesantren pertama kali didirikan masih terjadi perbedaan. Ada yang mengatakan bahwa pesantren sudah ada sejak abad ke-16 M yang ditandai dengan munculnya karya-karya Jawa klasik, seperti Serat Cabolek dan Serat Centini, sejak abad ke-16 M. di Indonesia telah banyak dijumpai Lembaga-Lembaga yang mengajarkan pelbagai kitab Islam klasik dan disiplin ilmu pengetahuan Islam seperti Fiqh, Aqidah, Tasawuf, dan variable ilmu Islam yang universal. Di samping itu, ada pula yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren tak lain dan tak bukan adalah “jiplakan” dari sistem pendidikan Hindu-Budha pada abad ke-18 M. Dengan demikian, sejak abad ke 19-20, model pendidikan pesantren mulai banyak mengalami perubahan dipelbagai segi sosial sebagai konsekuensi logis dari “muncratnya trend jaman” akibat terpengaruh globalisasi. Bahkan, tidak sedikit akhir-akhir ini dari Lembaga-Lembaga Pesantren yang mulai menerjuni dunia pendidikan sebagai alternative pembangunan bangsa kearah yang lebih baik .

Tidak sedikit kontribusi yang diberikan Pesantren dalam pembangunan nation-state selama ini. Tengoklah pada masa penjajahan, Pesantren telah memainkan perlawanan dan mengambil posisi uzlah sebagai bentuk perlawanan sekaligus pertahanan dari para penjajah. Sebab dari uzlah inilah sebuah pesantren mampu mendapatkan stereotip dari Pemerintah Kolonial yang pada waktu itu dikonotasikan sebagai Lembaga Pendidikan yang semrawut, sehingga banyak orang yang tidak tahu secara jelas sampai mana batas-batas Lembaga Pendidikan Pesantren apakah sebagai Lembaga Sosial, ataukah Lembaga Penyiaran Agama. Banyak para Kyai yang kedudukannya juga ikut-ikut tidak jelas apakah peran mereka sebagai guru, pemimpin spiritual, penyiar agama ataukah sebagai pekerja social, sehingga masih banyak Lembaga Pesantren yang hingga detik ini tidak mendapat stigmatisasi pendidikan, sistem evaluasi, metode pengajaran, dan sebagainya.

Karena anggapan miris Pemerintah Kolonial pada waktu itu, maka Pesantren lebih memprioritaskan diri untuk pengajaran fiqh-sufistik daripada hal-hal yang berkaitan langsung dengan masalah keduniawian. Tentu saja prioritas ini menimbulkan kerugian sekaligus keuntungan. Keuntungannya, pesantren menjelma menjadi Lembaga Pendidikan yang berhasil mengembangkan pertahanan mental spiritualitas, solidaritas, dan kesederhanaan hidup yang kokoh. Namun di sisi lain, kerugian yang harus ditanggung pesantren ialah, pesantren seakan-akan telah terlepas dari kehidupan nyata, tidak membumi, terlalu melangit ke akhirat serta kurang mengapresiasi diri bahkan melupakan kehidupan duniawi.

Pada masa pergerakan dan persiapan kemerdekaan saja, pesantren berperan sebagai pusat perjuangan / gerilyawan seperti Hizbullah dan Sabilillah. Pada masa-masa awal pembentukan Tentara Nasional Indonesia khususnya Angkatan Darat, banyak berasal dari santri dan sedikitnya diwarnai oleh kultur santri. Banyak dari para Kyai dan pengasuh pesantren menjadi pemimpin diplomasi yang cukup piawai untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia melalui penyusunan dasar-dasar institusi negara. Meski saat itu, Lembaga Pendidikan Pesantren masih menjadi Lembaga Pendidikan Agama yang bercorak fiqh-gnostik dan klinik sosial-keagaman masyarakat.

Pada abad ke-20, pesantren mampu mereposisi diri kearah sistem pendidikan yang berorientasi ke arah masa depan dengan tanpa menghilangkan tradisi-tradisi yang baik, dengan berpedoman kepada prinsip “al-muhafadzah alâ al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bî al-jadîd al-ashlah”. Sejak tahun 1970-an, Pesantren mulai mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan dengan berusaha mengadaptasi dan mengakomodasi perubahan-perubahan khususnya di bidang pendidikan, perubahan pendidikan khususnya masalah pendidikan meliputi orientasi pendidikan serta aspek-aspek administrasinya, diferensiasi struktural dan ekspansi kapasitas bahkan transformasi kelulusan yang berkenaan dengan nilai, sikap, dan perilakunya. Pondok Pesantren Lirboyo yang terletak di kawasan Kota Kediri saja pada abad ke-20, mulai mengajarkan pendidikan ketrampilan di pelbagai bidang. Seperti menjahit, pertukangan, perbengkelan, peternakan, dan sebagainya. Pendidikan ketrampilan ini diberikan dengan tujuan supaya civitas pesantren memiliki wawasan keduniawian sesuai profesi yang diinginkan melalui pendidikan ketrampilan, santri tidak hanya fasih dalam  hal-hal yang bersifat karitas atau charitable, tetapi juga professional menghadapi hal-hal yang bersifat sekuler, pragmatis, dan kalkulatif.

Dengan demikian, para sejarawan akhirnya berhasil menyimpulkan bahwa sejarah geneologi sistem pendidikan ala pesantren sebenarnya dapat ditelusuri dari era sebelum masuknya Agama Islam. Istilah pesantren yang berawal dari surau Sunan Ampel dianggap oleh sebagian ahli sejarah sebagai tonggak eksistensi awal munculnya bendera Lembaga Pendidikan Pesantren dalam rangka mentransfomasikan keilmuan dan kebangkitan Islam di Indonesia. Berawal dari tempat inilah, Pesantren menjelma sebagai Lembaga Pendidikan rakyat yang berorientasi mencetak agen-agen perubahan dan pembangunan masyarakat.

Pesantren sebagai Benteng Spiritual
Di samping sistem pendidikannya yang amat sederhana, di dalamnya juga terdapat interaksi sosial antara Kyai atau ustadz yang berperan penting sebagai guru bagi para santri dan telah menjadikan standar pendidikan yang cukup efektif bagi keberlangsungan sumber daya manusia. Kyai, sebagai top leader (uswah) yang menjadi pemimpin tunggal, aktif mengatur langsung komunitas yang diembannya, mulai urusan para tamu, santri baru, penentuan kitab-kitab kajian hingga berbagai aktifitas yang dijalankan dalam tubuh Pesantren. Bertambah banyaknya santri, biasanya menjadikan Kyai menunjuk santri seniornya menjadi Lurah Pondok. Melalui Lurah inilah, semua urusan Kyai didelegasikan. Sejarah metodologi pendidikan salaf semacam ini tak ayal menempatkan Pesantren sebagai “kerajaan-kerajaan kecil” (muluk al-thawaif, emiret), dimana antara satu Pesantren dengan yang lain memiliki aturan dan aktifitas yang berbeda.

Kini, seiring dengan perkembangan waktu, Lembaga yang sering disebut-sebut “tradisional” itu, memasuki era globalisasi dan milenium ketiga dan mendapat sorotan cukup tajam. Masalahnya, meski dikatakan tradisional, toh kenyataannya, Pesantren sampai sekarang masih tetap eksis, bahkan mendapat simpati dan animo masyarakat luas. Terlebih lagi dalam merespon krisis berkepanjangan di Indonesia. Karenanya, topik sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, pelestarian dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tinjau dari berbagai manfaat guna dijadikan sebagai suri tauladan umat.

Hal ini tak lain karena “omongan” para ahli sejarah yang memprediksikan bahwa keberadaan Pesantren di Indonesia merupakan benteng pertahanan terakhir bagi spiritualitas Negara Kesatuan Repuplik Indonesia maupun Umat Islam di negeri ini. Harus di akui bahwa sejarah berdirinya republik ini tak lepas dari jasa para ulama alumnus pesantren, begitu pula dengan lenyapnya komunitas serta gerakan pengacau Republik Indonesia. Bagi umat Islam, melalui Pesantrenlah mereka berharap kontinuitas estafet dakwah Islam terus dilanjutkan. Hilangnya Pesantren, berarti lenyapnya para ulama (agamawan) serta orang-orang shalih. Kalau sudah demikian, maka tinggal tunggu kehancuran keindahan spiritual agama tersebut. Sungguhpun saat ini telah menjamur institusi pendidikan formal yang berlabelkan Islam, akan tetapi out-put Lembaga mereka nyata-nyatanya tidak mampu menelorkan para ulama yang menjadi pewaris para Nabi.

Apalagi jika menengok sejarah penanaman nilai-nilai moral dan metodologi pendidikan salaf bernafas religius seperti yang diterapkan Pondok Pesantren Lirboyo sampai saat ini ternyata mampu membuktikan dirinya mempertahankan anak bangsa dari erosi akhlaq dan dekadensi moral. Pembentukan jati diri manusia yang ber-akhlakul karimah hingga terwujudnya insan paripurna merupakan salah satu misi Lembaga-Lembaga Pesantren Salaf di Indonesia. Sikap Kyai yang tulus, ikhlas, sabar. Tawakal (berserah diri), tawadlu’ (hormat), jujur serta independensi merupakan dinamika energy power bagi nilai-nilai luhur Bangsa dan Negara. Manusia-manusia tipe mereka saat ini sungguh langka ditemukan. Padahal hanya dengan jiwa yang terpatri pada nilai-nilai mulia itulah Bangsa Indonesia bisa terselamatkan dari dekadensi moral serta penyakit-penyakit lain yang akan menyeret Bangsa ke dalam kondisi “krisis” berkepanjangan, tidak mustahil jika nantinya terjadi big bang kehancuran bagi umat manusia.

Sejarah independensi Pesantren dari generasi ke generasi telah membuktikan betapa kokohnya Lembaga-Lembaga ini dalam memikul beban meneruskan perjuangan Nabi dan Rasul. Di tambah, dengan sejarah keberadaan Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam tidak hanya berperan atas unsur politik dan ekonomi, tapi lebih dari itu, ia hadir sebagai bentuk tingginya animo masyarakat atas keilmuan para ulama salaf. Sejak era Kolonial sampai Kemerdekaan, keberadaan Pesantren yang berdiri baik di wilayah pedesaan atau pinggiran. Demografis serta doktrin jihad yang diterapkan, menjadikan Pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan rakyat tetapi telah menjadi simbol kebudayaan Bangsa Indonesia itu sendiri.

Nilai-nilai Pesantren
Harus diakui bahwa pada dasarnya, Pesantren dibangun atas dasar keinginan bersama dua komunitas yang saling bertemu. Komunitas santri yang ingin menimba ilmu sebagi bekal hidup dan kyia/guru yang secara ihklas ingin mengajarkan ilmu dan pengalamannya. Relasi simbiosis mutualisme ini saling melangkapi, santri dan Kyai merupakan dua entitas yang memiliki kesamaan kesadaran dan bersama-sama membangun komunitas keagamaan yang kemudian disebut Pesantren. Kyai, ustadz, dan santri hidup dalam satu keluarga besar berlandaskan nilai-nliai Agama Islam yang dilengkapi dengan norma-norma.

Komunitas keagamaan Pesantren berlandaskan oleh keinginan tafaqquh fî ad-dîn (mendalami ajaran Agama), dengan kaidah yang menjadi soko gurunya, al-muhafadzah alâ al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bî al-jadîd al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Keinginan dan kaidah ini merupakan nilai pokok yang melandasi kehidupan dunia pesantren. Suatu bentuk falsafah yang cukup sederhana, tetapi mampu mentransformasikan potensi dan menjadikan diri Pesantren sebagai agent of change bagi masyarakat. Sehingga, eksistensi Pesantren identik dengan Lembaga pemberdayaan serta pengembangan masyarakat.

Selain kedua nilai diatas, eksistensi pesantren menjadi kokoh karena dijiwai oleh panca-jiwa, Seperti jiwa keihlasan yang tidak pernah didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan tertentu, khsusnya material, melainkan karena semata-mata karena beribadah kepada Allah. Jiwa keikhlasan memanifestasikan dalam segala rangkaian sikap dan perilaku serta tindakan yang dilakukan secara ritual oleh komunitas pesantren. Jiwa kiekhlasan ini dilandasi oleh keyaqinan bahwa perbuatan baik pasti diganjar oleh Allah dengan sesuatu yang tak bisa dilukiskan oleh akal.

Selain itu dalam budaya Pesantren salaf juga telah terpatri jiwa kesederhanaan, kata’sederhana’ disini bukan berarti pasif, melarat, miskin, dan menerima apa adnya, akan tetapi lebih dari itu mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, kemampuan mengendalikan diri dan kecakapan menguasai diri dalam menghadapi kesulitan. Dibalik jiwa kesederhanaan ini tersimpan jiwa yang besar, berani, maju, dan pantang menyerah dalam menghadapi dinamika sosial secara kompetitif. Jiwa kesederhanaan ini menjadi ‘baju’ identitas yang paling berharga bagi civitas santri dan Kyai. Apalagi dengan adanya jiwa kemandirian yang peranannya mampu mengurusai persoalan-persoalan internal pesantren, namun kesanggupan membentuk Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang independen, tidak menggantungkan diri kepada bantuan dan pamrih pihak lain. Pesantren dibangun diatas pondasi kekuatan sendiri sehingga banyak dari mereka yang benar benar menjadi merdeka, otonom dan mandiri di dalam budaya Pesantren salaf, biasanya ada jiwa kebebasan dalam mengandalkan civitas Pesantren sebagai manusia yang kokoh dalam memilih jalan hidup dan masa depannya, hanya dengan jiwa besar dan sikap optimis inilah maka dalam lembaran sejarahnya, Pesantren mampu mengahadapi segala problematika kehidupan umat manusia dengan dilandasi nilai-nilai Islam. Kebebasan ini juga berarti sikap kemandirian yang tidak berkenan didikte oleh pihak luar dalam membangun orientasi kepesantrenan dan kependidikan. Sehingga muncullah jiwa jiwa lain seperti ukhuwwah Islamiyyah, jiwa ini memanifesatasi dalam keseharian civitas Pesantren yang bersifat dialogis, penuh keakraban, penuh kompromi, dan toleransi. Jiwa ini mematri suasana sejuk, damai, saling membantu, senasib dan saling mengharagai bahkan saling mensupport dalam pembentukan dan pengembangan idealisme santri.  Semua itu menjadikan Pesantren tetap “bernilai” dan mampu eksis sepanjang sejarah kehidupan dan dinamika jaman. Globalisasi teknologi industry yang massif dan mendunia tidak menggoyahkan eksistensi Pesantren sebagai penjaga sekaligus pelestari nilai-nilai luhur. Dikarenakan Pesantren hanya tergantung terhadap kebenaran mutlak (tuhan) yang diaktualisasi dalam fiqh-sufistik yang berorientasi kepada amalan ukhrawiy, maka kebenaran didalamnya relative bersifat empiris pragmatis dalam memecahkan beragam persoalan kehidupan sesuai dengan hukum agama. Semua aktivitas Pesantren selalu mengacu kepada keseimbangan antara ukhrawiy dan duniawi. Keimanan civitas Pesantren senantiasa memanifestasikan setiap perilaku, sikap dan tindakan sehari-hari. Karena itulah, identitas Kyai dan santri menjadi sesuatu yang layak diteladani bagi setiap pengembangan masayarakat secara utuh.

Nilai kemandirin yang menjadi pondasi eksistensial pesantren merupakan nilai utama paling signifikan bagi perubahan sosial dan budaya yang otonom. Dengan kemandiriannya, Pesantren telah mampu menjelma sebagai creative cultural makers dan figure sang kyai sangat penting dalam kehidupan bermasyrakat. Sehingga, profesi Kyai selain sebagai pengasuh Pondok juga sebagai tokoh masyarakat, mediator, dan pialang. Kenyatan semacam ini tentu saja disebabkan Kyai mempunyai integritas keilmuan tinggi yang mampu mempriteksi kesadaran masyarakatnya sehingga terbentuk komunitas keagamaan dan budaya kemandirian. Dengan kemandiriannya pula, Pesantren mampu terlepas dari jerat-jerat dependensi dan hegemoni pihak lain.

Pesantren, Institusi Pendidikan yang komprehensif
Rentang waktu yang kian panjang mengantarkan berbagai Pondok pesantren mengalami perubahan yang amat signifikan, baik di teropong dari metodologi pendidikan maupun mekanisme struktur pondok pesantren yang diterapkannya. Jika dahulu Pesantren hanya menggunakan sistem bandongan kini telah banyak menggunakan sistem modern. Jika dahulu banyak Pesantren yang masih bergelut dalam khazanah kutub as-salaf sebagai kurikulum pendidikan, kini telah banyak di antara pesantren (meskipun sebagian besar juga belum) yang memasukkan pelajaran umum sebagai kurikulum dalam metodologi pendidikannya, pembaharuan ini tentu saja dinilai sebagai eksistensi Pesantren dengan harapan bahwa kelak para alumninya mampu menggembleng masyarakat dengan berbagai kedisiplinan ilmu yang membumi. Meski di lain pihak, banyak pula sebagian pesantren yang masih memegang teguh corak stagnasi pendidikan salaf (konservatif dan cenderung eksklusif), dengan harapan mampu menjaga ke-orisinal-an substansi pendidikan pesantren seperti yang diinginkan para pendahulunya.

Pondok Pesantren Lirboyo yang berareal di Kawasan Kota Kediri merupakan satu diantara ribuan Pesantren yang hingga kini masih tetap percaya diri memegang teguh corak dinamisasi metodologi pendidikan salafnya. Fenomena ini bukan berarti Pondok Lirboyo antipati terhadap perkembangan modernisasi zaman, terbukti, meski masih memegang teguh corak pendidikan salaf, Pondok Lirboyo banyak mengadakan variable rekonstruksi kegiatan ekstrakulikuler berupa pendidkan bahasa Inggris, Komputer, jurnalistik dan berbagai macam dinamisasi modern yang marak di tengah masyarakat dunia. Wallahu A’lam

M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien)

Seperti halnya sebuah lembaga pendidikan lainnya, MHM Lirboyo mempunyai lembaga Intra Madrasah yang dikelola dari dan untuk santri, bernama Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM). Sedangkan untuk kantornya, M3HM terletak di kawasan pondok Induk, tepatnya di lantai I gedung Al-Ittihad I.

Sejarah singkatnya, M3HM bermula dari kegiatan Musyawarah yang diikuti oleh sekitar 90 siswa pada tahun 1941 yang diprakarsai KH.. Zamroji (Kencong Pare). Meski pada waktu itu kegiatan sepert ini belum terorganisir secara struktural, namun kegiatan ini mampu bertahan selama 4 tahun. Kemudian  pada tahun 1955 datang utusan dari pengurus IPNU pusat yang diwakili oleh Tolhah Mansyur (Mahasiswa UGM) dan Bahtiar Sutiono (Pelajar ST Nganjuk), sowan kepada KH. Mahrus Aly agar di Lirboyo didirikan IPNU. Namun karena  IPNU pada waktu itu belum masyhur di kalangan pesantren, maka atas usul Ustadz Ahmad Qosim (Mustahiq  tamatan 1956), dibentuklah Psah Hidayatul Mubtadi-ien, juga sebagai Dewan Pengawas Muhafadzah Mingguan.

Dalam rangka mewujudkan tujuannya, usaha yang telah dilakukan M3HM adalah dengan mengaktifkan musyawarah dan muhafadzah umum serta meningkatkan kualitasnya. M3HM juga mengadakan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler untuk menambah wawasan sosial kemasyarakatan an kreatifitas intelektual siswa MHM. Dalam hal ini, M3HM menyelenggarakan seminar-seminar –lebih dikenal dengan istilah jam’iyyah Nahdliyyah- yang dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan menghadirkan tutor-tutor handal. Dalam jam’iyyah nahdliyah ini, diadakan kuliah umum dengan mendatangkan tutor dari luar pondok dan mengangkat berbagai masalah aktual  dengan berbagai  bahasan seperti keorganisasian, leadership, manajemen ke-NU- an dan lain sebagainya.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah