Taklukkan UAN dengan Kekuatan Iman

Fenomena kegagalan try out UAN (ujian akhir nasional) yang dialami siswa SLTP dan SLTA sangat memrihatinkan. Letak ketidaklulusannya pada dua mata pelajaran yang mereka anggap momok. Kedua pelajaran itu adalah bahasa Inggris (ING) dan matematika (MTK). Karenanya, patut dicermati untuk dicarikan jalan keluarnya.

Salah satu solusinya adalah mencari akar masalah dari perspektif keislaman. Jika ditelisik secara Islami, kegagalan siswa dalam try out maupun UAN itu, menurut pengamatan penulis selama memberikan bimbingan belajar selama puluhan tahun, minimal disebabkan 4 faktor berikut.

Pertama, siswa kurang istiqamah belajarnya. Mereka tidak ajeg, tidak rutin, serta tidak kontinyu dalam belajar. Mereka belajar model SKS (sistem kebut semalam). Artinya, baru belajar hingga semalam suntuk untuk persiapan menghadapi UAN esoknya. Sangat sulit membujuk mereka agar mau belajar secara rutin dan berkesinambungan. Kalau begitu, mana mungkin maksimal hasilnya?

Seharusnya, mereka mempersiapkan diri jauh sebelumnya. Tujuannya, agar mereka mudah me-recall (mengingat kembali) dan me-recite (mengulang-ulang) inti sari pelajaran kelas 1 dan 2. Inilah yang paling sulit sebab materinya sudah tertimbun lama di otak. Maka, tidak bisa dilakukan secara instan untuk mengingat kembali.

Kedua, siswa kurang siyasah dalammengerjakan soal. Umumnya, mereka menjawab soal secara urut dari nomor satu hingga terakhir. Itu bagai tikus masuk perangkap. Pepatah Jawa menyebutnya, ”Ula marani gepuk.” Padahal, belum tentu soal nomor 1 lebih mudah daripada nomor 2 dan seterusnya. Bisa saja soal nomor 30 lebih mudah. Mengapa tidak mengerjakan soal nomor 30 atau nomor-nomor lainnya yang dianggap mudah.

Akibat terjebak perangkap tersebut, otak siswa sudah terforsir di soal-soal awal. Daya pikir pun kendur ketika mengerjakan soal berikutnya. Mereka bagaikan pelari maraton yang langsung berlari cepat saat start. Maka, bisa dipastikan mereka loyo di tengah jalan. Bahkan, bisa gagal melewati garis finis.

Mestinya, siswa sadar bahwa mengerjakan soal dengan durasi per soal 2 menit untuk bahasa Indonesia (BI) dan ING, serta 4 menit untuk MTK, itu memang harus cepat, tepat, dan tentunya harus taktis. Maka, diperlukan taktik jitu. Salah satunya adalah mengerjakan dulu soal yang dianggap mudah. Soal seperti itu paling butuh waktu 1 menit tiap item, bahkan lebih cepat daripada itu. Nah, keuntungan dari kelebihan waktu inilah yang bisa digunakan mengerjakan soal yang sulit yang memang perlu waktu lebih lama.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Selain itu, siswa alergi menghadapi BI dan ING yang berteks panjang. Mengapa? Karena mereka tak terbiasa membaca. Maka, begitu melihat soal dengan tulisan yang panjang, langsung mati kutu. Padahal, kedua pelajaran itu menuntut keahlian membaca dengan cepat dan efektif. Dari 60 soal, 70%-nya berupa teks panjang. Otomatis perlu waktu lama untuk membaca, mencerna isi, dan menjawabnya dengan benar. Sementara, waktunya mepet sekali, yaitu cuma 2 menit per soal.

Untuk itu, sebaiknya siswa membiasakan membaca koran setiap hari agar terlatih membaca teks yang panjang. Makin banyak membaca, pasti alergi tadi akan sirna sendiri. Disamping itu, perlu menyiasati dengan cara langsung membaca pertanyaannya. Kemudian, baru membaca teks untuk mencari jawabannya. Jika di paragraf pertama sudah ditemukan jawabannya, maka tidak perlu lagi dibaca semua teks soal tersebut. Dengan demikian, waktu bisa dihemat.

Kelemahan ketiga adalah siswa kurang sabar dalam menuntut ilmu. Mereka tak tahan menghadapi beratnya cobaan ngangsu kaweruh. Harus berangkat sekolah pagi-pagi, bahkan belum sempat sarapan. Pulang pun harus rela disengat sinar mentari yang tak kenal kompromi. Belum lagi PR yang menumpuk yang harus dikerjakan pada malamnya. Semua datang bertubi-tubi. Sayangnya, mereka hanya berkeluh kesah. Bukan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Mereka maunya yang enak-enak. Pulang pagi karena ada rapat guru. Libur nasional. Nyontek waktu ulangan. Pokoknya, yang mereka inginkan hanya yang santai dan releks.

Mental negatif ini sangat merugikan siswa sendiri. Itu paling terasa menjelang UAN saat ini. Karena pada saat-saat genting seperti ini, dituntut serius terus-menerus. Ketahanan fisik dan psikis mesti prima. Kesabaran pun betul-betul ditempa.

Kekurangan keempat adalah siswa kurang berdoa dan bertawakal kepada Allah swt. Mereka berusaha secara lahiriah saja, tanpa batiniah. Sibuk les ke sana ke mari tiap hari, tapi Tuhan tak dipeduli. Lupa memasrahkan hasil jerih payahnya kepada Sang Khaliq. Celakanya, mereka malah menggantungkan kongkalikong orangtua dengan oknum sekolah untuk meluluskannya dengan segala cara. Bukannya menyerahkan hasil daya upayanya kepada Yang Maha Berkehendak, tapi malah menyerahkan suap kepada oknum pejabat di lingkungan diknas yang bermoral bejat. Na’uudzubillaah!

Kita semua tentu sangat berharap mereka yang terlibat dalam UAN, khususnya siswa, mau membenahi 4 kekurangan tadi. Bertekad bulatlah memperjuangkan UAN dengan kekuatan iman.[]

Penulis, Saiful Asyhad

Mengenal Konsep Akhlak

Akhlak atau dalam bahasa lain disebut moral, etika maupun budi pekerti, merupakan sarana penting bermasyarakat dengan baik dan makmur. Sesuai dengan inti ajaran agama pada umumnya jika dipandang dari sisi sosial kemasyarakatan.

Islam sebagai salah satu dari tiga agama samawi monotheistik yang dikenal di dunia selain Nasrani dan Yahudi, menyadari betul akan hal itu. Terbukti dalam ajaran Islam akhlak memiliki kedudukan penting. Bahkan ahli sejarah menyebutkan bahwa keberhasilan Rasullah SAW dalam mengemban dan mengembangkan risalah Islamiyah yang paling dominan adalah karena faktor akhlak. Sehingga banyak sekali kafir Quraisy yang sudi masuk Islam karena simpati terhadap akhlak beliau yang mulia.

Secara umum, dalam buku Ilmu Akhlak, Drs. H.M. Ashfiyak Hamida membagi moral (akhlak) ke dalam dua sistem, yaitu sistem moral agama dan sistem moral sekuler.

1.     Sistem Moral Agama

Sistem ini adalah sebuah penilaian baik dan buruk berdasarkan ajaran-ajaran agama. Manakala agama mengatakan perbuatan itu baik maka baiklah perbuatan itu. Manakala agama mengatakan perbuatan itu buruk maka buruklah perbuatan itu.

Mengakui akan kekuatan moral agama yang bersumber dari kepercayaan ini, W.M Dixon  dalam bukunya The Human Sitution  mengatakan : “ Agama (betul atau salah) dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akhirat adalah merupakan totalitas kesuluruhan. Paling tidak merupakan dasar yang paling kuat bagi pelaksanaan moral. Dengan mundur (hilang) nya sebuah agama dan sanksi-sanksinya maka akan timbul masalah besar dan mendesak. Apakah (ada) yang bisa menggantikan kedudukan agama itu?”

Dalam perkembangannya, moral atau akhlak Islam mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan moral agama lain. Konsepsi ketuhanan Islam yang mengajarkan bahwa semua perbuatan manusia baik atau buruk tak akan terlepas dari pandangan Allah SWT, menyebabkan akhlak Islam mempunyai kelebihan berupa disiplin moral yang sangat kuat dan ketat.

Selain itu akhlak Islam tidak menolak dan memusuhi  kehidupan duniawi. Sebagaimana pandangan moral zuhud (yang sempit). Meskipun Islam sebenarnya juga mengajarkan pola kehidupan yang zuhud akan tetapi tidak dalam pengertian yang sempit. Dalam aturan Islam, zuhud memiliki ciri tidak menolak dan memusuhi dunia asal tidak berlebihan (hubbuddunya). Serta bersifat sosial sehingga orang lain pun bisa merasakan manfaatnya.

Kelebihan moral Islam yang lainnya yakni Islam memiliki standar yang mutlak dan universal. Artinya tidak nisbi, relatif dan tidak terbatas waktu maupun tempat.

Dan yang terakhir Islam memiliki moral force atau kekuatan moral yang kuat. Dengan kata lain moral force ini merupakan suatu bentuk ketaatan. Karena akhlak Islam yang berlandaskan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang berdasarkan keimanan.

Dapat disimpulkan, seseorang yang telah beriman akan tetapi tidak tidak mempunyai akhlak yang baik maka akan dianggap tak bermakna. Karena akhlak bisa menjadi tolak ukur bagi keimanan seseorang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

2.     Sistem Moral Sekuler

Berbeda dengan sistem moral agama, moral sekuler mempunyai warna yang berbeda.

Sekuler berasal dari kata scularity  yang mempunyai yang mempunyai arti keduniawian. Maka moral sekuler ini tidak mengakui adanya ajaran-ajaran Tuhan atau sering disebut atheis.

Dalam memberikan penilaian yang baik dan buruk, penganut aliran ini hanya mempertimbangkan hal-hal duniawi tanpa memandang hubungannya dengan Tuhan.

Moral sekuler yang sama sekali terlepas dari pertimbangan agama itu, tentu mempunyai bahan-bahan  pertimbangan lain yang berupa “sesuatu” yang selain agama. Sesuatu yang lain itu ternyata menjadi beraneka ragam bentuknya dan tidak seragam. Sehingga hal ini menjadikan moral sekuler ini dalam menyampaikan pandangan hanya bersifat relatif, sangat subjektif dan tidak memiliki standar yang objektif dan universal.

Moral semacam ini hanya mengajarkan tentang baik dan buruk. Namun sama sekali tidak memiliki moral force. Pada akhirnya moral sekuler seringkali membuat penganutnya berwatak munafik.

Munafik artinya  mendua, perbuatan yang diperlihatkan dihadapan orang banyak tidak sama dengan kondisi dengan diri yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan terlepasnya moral sekuler dari iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat. Tanpa iman yang ditakuti bukanlah Tuhan tetapi sesama manusia.

Para penganut moral ini dapat terlihat pada beberapa aliran diantaranya :

  1. Aliran rasionalisme, yang berpendapat bahwa hanya rasional yang mampu menjadikan sumber dalam menentukan baik dan buruk. Aliran ini dianut oleh sebagian besar para filosof seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain. Ini berbeda dengan mu’tazilah. Meski aliran Islam yang satu ini mengandalkan rasio namun masih dalam koridor agama.
  2. Aliran hedonisme. Aliran ini beranggapan bahwa suatu perbuatan dianggap baik apabila mampu mendatangkan kebahagiaan, kenikmatan dan kelezatan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila tidak mendatangkan  kebahagiaan, kenikmatan maupun kelezatan maka akan dianggap sebagai perbuatan buruk.
  3. Aliran tradisionalisme. Dalam menentukan baik ataupun buruknya suatu perbuatan, para penganut aliran ini bergantung pada tradisi pada masing-masing daerah mereka sendiri. Bahkan tak jarang mereka terlalu mengkultuskan pimpinan mereka sendiri. Contoh aliran seperti ini adalah di Jepang, seseorang akan merasa lebih mulia bunuh diri (dalam Islam bunuh diri merupakan perbuatan tercela) daripada harus menanggung malu karena semisal gagal menjalankan tugas yang diperintahkan oleh pimpinannya. Hal ini di picu oleh adanya semacam undang-undang pada tradisi mereka.
  4. Aliran empirisme (empire =pengalaman), aliran ini menilai suatu perbuatan dapat dikatakan baik maupun buruk berdasarkan suatu pengalaman yang mereka rasakan.

Pada kesimpulannya, moral yang lahir karena manusia (misal pamrih) akan menjadi sangat lemah dan kurang membawa arti, sebab manusia sangat terbatas kemampuannya untuk mengawasi segala tingkah laku manusia lain.

Sedang moral yang terbentuk dari sebuah kepercayaan terhadap Tuhan (agama) akan lebih membawa kepada kemaslahatan secara universal dalam kehidupan bermasyarakat tanpa terkekang waktu, tempat maupun pengawasan sesama manusia.

Penulis, Mukhlisul Ibad, Kru Mading HIDAYAH

Mengenal Konstruksi Madzhab Syafi’i

Madzhab–dalam literatur fiqh istilah ini sering diketemukan–adalah pola pikir dan pola amaliah yang merupakan buah pikir dari seorang mujtahid madzhab, yang disarikan dari al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy dengan metode tertentu. Di masa Tabi’in, islam sampai pada masa supremasi (al-‘ashru ad-dzahabi), dimana khazanah inteletual islam mengalami banyak kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Di masa itu, banyak mujtahid bermunculan hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Namun seiring masa, tidak semua madzhab mampu bertahan. Hingga dewasa ini, madzhab yang memiliki validitas dari segi riwayat dan ajarannya sehingga layak untuk dianut hanya tinggal empat. Yaitu Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad, atau yang sering kita dengar dengan istilah al-Madzahib al-Arba’ah. Diantaranya adalah Madzhab Syaf’i.

Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H.)–yang dikenal dengan sebutan Imam as-Syafi’i–nama besarnya sebagai mujtahid membumi di berbagai penjuru negeri di belahan bumi manapun. Ust. Idrus Ramli mengungkapkan, tidak ada madzhab fiqih yang memiliki jumlah pengikut begitu besar seperti madzhab syafi’i yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Pilipina, Singapura, Thailand, India bagian selatan seperti daerah Kirala, Kalkutta, mayoritas negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar penduduk Yaman, mayoritas penduduk Kurdistan, kaum sunni di Iran, mayoritas penduduk mesir, penduduk sebagian besar benua Afrika bagian timur dan lain-lain. Di indonesia saja, sudah jamak pesantren dan perguruan islam, dalam bidang fiqh mengikuti pola pikir dan amaliah yang merupakan buah pikir Imam Syafi’i 12 abad yang lalu.

Seperti halnya Ust. Idrus Ramli, Hasan bin Ahmad al-Kaff, dalam taqrirat-nya juga mengungkapkan bahwa mayoritas muslim Sunni di dunia mengikuti Madzhab Syafi’i. Hal ini merupakan prestasi ilmiah yang sangat mengagumkan mengingat jarak masanya lebih dari 1200 tahun atau 12 abad silam. Namun ajarannya masih eksis dan bahkan memiliki penganut (muqollid) terbanyak.

Dari paparan diatas, tentunya ada beberapa faktor logis-historys yang melatarbelakangi eksistensi dan perkembangan madzhab hingga mampu bertahan sekian lama, dan menjadi pilihan sekaligus rujukan mayoritas kaum muslim sunni di dunia. Apalagi sejarah menyaksikan banyak Mujaddid (pembaharu) dari para cendekiawan islam yang merupakan tokoh sentral di masanya masing-masing, lahir dengan latar belakang bermadzhab Syafi’i. Kehadiran mereka pun membawa kemajuan dan perkembangan entitas madzhab dan memperkaya khazanah madzhab. Pada kurun ketiga, tampil seorang cendikia, Abul ‘Abbas bin Suraij sebagai seorang pembaharu. Pada kurun keempat hingga kesepuluh, ada Abu at-Thoyyib Sahl as-Shu’luki, Abu Hamid al-Ghozali, al-Fakhru ar-Razi, an-Nawawi, al-Isnawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, as-Suyuthi, dan masih banyak lagi. Tak dapat ditampik, secara estafet munculnya sederet nama-nama tadi dapat memperkukuh landasan ajaran Madzhab dan melestarikannya melalui karya-karya mereka.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Hasan bin Ahmad al-Kaff, mengidentifikasi bahwa perkembangan Madzhab Syafi’i melalui lima tahap. Pertama, adalah tahapan dimasa Muhammad bin Idris yang muncul memperkenalkan dasar pokok pemikirannya. Saat itu kehadirannya mampu memberi warna baru di jazirah Arabia. Ajarannya dianggap moderat. Dalam Manaqib as-Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi mengungkapkan, bahwa ajarannya mampu menengahi polemik ilmiah antara golongan tekstualis (ahlul hadist) dari para cendekiawan Hijaz dan golongan rasionalis (ahlur ro’yi) dari para cendekiawan Iraq.

Konon sebelumnya, kedua golongan ini tak pernah menemukan kata mufakat dalam diskusinya. Argumentasi masing-masing golongan tak pernah diterima oleh golongan lainnya. Ironisnya, lama kelamaan perbedaan tersebut selalu saja berujung pada nuansa rivalitas yang memprihatinkan.

Keadaan sedemikian rupa terus berlanjut hingga kemunculan Muhammad bin Idris. Melalui sebuah kitabnya yang berjudul “ar-Risalah” yang menjadi karya pembuka dalam fan ushul fiqh, Muhammad bin Idris mampu memperbaiki keadaan tersebut. Apa yang disampaikannya melalui ar-Risalah mampu menengahi dua golongan tersebut. Melalui ar-Risalah pula, Muhammad bin Idris pun menjadi orang pertama yang mengkodifikasikan metode ilmiahnya dalam menggali hukum al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy.

Kedua, adalah tahapan periwayatan (marhalatu an-naqli). Setelah pendiri madzhab wafat, para muridnya berperan menggantikan peran Muhammad bin Idris dalam meriwayatkan ajaran madzhab. Diantaranya, al-Buaithi, al-Muzani, Robi’ al-Murodi, Robi’ al-Jizi, Yunus bin Abdul A’la, yang pada akhirnya apa yang disampaikan murid-murid as-Syafi’i tersebut dalam literatur fiqih jamak disebut dengan riwayatul madzhab. Periode ini berlangsung sampai wafatnya para murid as-Syafi’i pada kurun ketiga hijriyah.

Ketiga, adalah tahap kodifikasi problematika furu’iyyah (cabangan) madzhab dan pengembangan ranah pembahasan masalah fiqh (marhalatu tadwini furu’i al-madzhab wa at-tawassu’i fi masa-ilihi). Di masa transformasi tahapan ke-dua menuju tahapan ke-tiga, muncul dua golongan yang memiliki pola pikir berbeda dan memiliki kadar riwayat yang berbeda, serta pengembangan yang berbeda pula dalam mengapresiasikan riwayat-riwayat madzhab as-Syafi’i. Dua golongan tersebut dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-Khurosaniyyun dan al-‘Iroqiyyun. Golongan al-Khurosaniyyun diawali oleh al-Qoffal al-Shoghir Abu Bakar al-Mawarzi. Kemudian diikuti oleh Abu Hamid al-Juwaini, al-Fauroni, al-Qodli Husain, dan lainnya. Sedangkan dari golongan al-‘Iroqiyyun, dimulai oleh Abu Hamid al-Isfiroini, dan diikuti oleh al-Mawardi, Abu Thoyyib at-Thobari, al-Bandaniji, al-Mahamili dan lainnya.

Hingga pada kurun ketujuh Hijriyah, tampil dua orang besar dan sering disebut-sebut dihampir semua kitab fiqih syafi’i dalam setiap bab dan fasalnya. Yaitu ar-Rofi’i dan an-Nawawi. Ketokohan mereka sudah tak teringkari lagi. Dua ulama tersebut memiliki peran dan kontribusi besar terkait ajaran-ajaran madzhab syafi’i. Peran mereka dalam koreksi ajaran madzhab sangatlah besar. Melalui karya-karya mereka, semua problema dalam furu’iyyah fiqih berikut dalil-dalilnya menjadi wilayah yang tak terlewatkan untuk dikaji ulang dan dibenahi. Semua riwayat-riwayat madzhab dan qoul-qoul madzhab juga mengalami pen-tarjih-an dalam rangka merumuskan (tahqiq) kembali ajaran madzhab as- Syafi’i. Diantara karya-karya besar mereka adalah; al-Muharror, as-Syarhu as-Shoghir, as-Syarhu al-Kabir (ketiganya adalah karya imam ar-Rofi’i), al-Minhaj, al-Majmu’, Raudlatut Thalibin (ketiganya adalah karya imam an-Nawawi). Inilah tahapan keempat dalam sejarah berkembangnya madzhab syafi’i yang dalam istilahnya disebut dengan marhalatu at-tahrir.

Dominasi ar-Rofi’i dan an-Nawawi dalam filterisasi riwayat dan ajaran madzhab nampaknya masih saja meninggalkan ruang bagi yang lain untuk melengkapi apa yang dianggap masih kurang. Selayaknya, karya manusia tak pernah sampai pada titik kesempurnaan. Pada kurun kesepuluh Hijriyah, kembali tampil dua ulama penyempurna. Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli. Kehadiran mereka berikut karyanya mempertegas eksistensi dan validitas madzhab.

Sesuai dengan hadist Nabi saw. yang menyatakan bahwa, al-quran dan hadist terhenti dan habis ketika Nabi telah mangkat. Sedangkan problema yang mencuat di tengah-tengah masyarakat terkait realitas amaliah mereka tak pernah terhenti dan habis sebelum kiamat tiba. Maka dua sisi ini tak seimbang bila al-quran dan hadist tidak dikembangkan dalam furu’iyahnya.

Sebab, banyak hal-hal baru yang belum terakomodir dalam fatwa-fatwa ulama pendahulu. Hal ini kiranya membutuhkan tindakan pembaharuan dan penyempurnaan. Maka, Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli tampil sebagai kunci kebuntuan tersebut. Melalui karya-karya mereka, keduanya tampil sebagai penyempurna.

Ranah ilmiah baru yang belum terjamah oleh pendahulunya dikupas serta dirumuskan dan dikemas dalam karya mereka. Kurun ini dikenal sebagai tahapan akhir pembangungan konstruksi madzhab syafi’i.

Nah, dari sekelumit kajian sejarah sederhana ini, kiranya begitu besar militansi para ulama syafi’iyah dalam mempertahankan, menyempurnakan, dan menyebarluaskan ajaran madzhab Syafi’i secara estafet dari generasi ke generasi. Hingga kita pun menuai keberkahan, berupa kemudahan dalam mempelajari, menjalankan, dan melestarikan ibadah ala madzhab syafi’i. “Fas-aluu ahla az-dzikri in kuntum laa ta’lamun..”[]

Penulis, M. Shidqi Lubaid

Tulisan Jelek Kiai Mahrus

Ada satu pengalaman unik yang dialami oleh KH. Fathoni Syihabuddin (Cirebon) saat masih nyantri kepada Kiai Mahrus di Pondok Pesantren Lirboyo. Inilah penuturannyanya : Kepada Kiai Mahrus Aly saya pernah ikut ngaji Fathul Wahhab dan Tafsir Yasin di masjid. Dan saya termasuk dari santri yang sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau. Pada saat pengajian kitab Fathul Wahhab saya berada tepat di belakang beliau. Karena saya merasa bahwa tulisan saya termasuk jelek, akhirnya saya mencoba mengintai dan melihat kitab Kiai Mahrus dengan niat untuk melihat seperti apa isi kitabnya? Kemudian saya mendapati kitab beliau dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.

Alangkah kagetnya saya, saat beliau menghentikan bacanya dan dhawuh, “Nek wong pinter iku biasane tulisane elek”. Karena saat saya melihat tulisan beliau, dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus. Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya kira beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya. (Dikutip dari buku”Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”)

 

Kezuhudan KH. Abdul Karim

Setelah fasilitas penunjang untuk asrama santri di pesantren mulai terpenuhi, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji menyempurnakan rukun Islam yang lama beliau dambakan. Niat itu semakin mantab setelah Pemerintah Daerah Kediri akan membeli sebidang tanah beliau yang terletak di sebelah selatan masjid. Menurut rencana tanah tersebut dipergunakan untuk membangun penjara (lembaga pemasyarakatan) oleh Pemda Kediri.

Karena hak atas tanah tersebut ada pada Ibu Nyai, KH. Abdul Karim meminta persetujuan sekaligus musyawarah kepada Ibu Nyai. Bila kelak Pemda Kediri jadi membebaskan tanah itu, uang ganti ruginya akan digunakan untuk ongkos naik haji. Ibu Nyai Khodijah setuju dengan rencana baliau.

Anehnya, meski rencana itu baru beliau kemukakan kepada ibu Nyai, dalam waktu singkat, sudah terdengar ke mana-mana. Wallahua’lam! Yang jelas kediaman KH. Abdul Karim lantas dipenuhi tamu yang menghormat dan menghaturkan selamat atas keberangkatan beliau. Sebagai lazimnya tamu yang ingin mengungkapkan rasa kebahagiaanya banyak yang menghaturkan tambahan bekal untuk beliau. Memang rizki dari Allah swt. Tidak disangka, ternyata uang hibah dari para tamu tadi mencapai sekitar Rp 600,00. Jumlah yang cukup untuk ongkos naik haji saat itu. Karenanya, penjualan tanah akhirnya diurungkan dan kebetulan juga Pemda Kediri menggagalkan rencana pembeliannya.

Setelah cukup berbenah, KH. Abdul Karim berangkat menuju Surabaya. Perjalanan haji kala itu melalui laut. Di Surabaya, beliau memperoleh tambahan bekal lagi dari para dermawan. Sehingga, bekal beliau menjadi Rp 1.000,00. Jumlah itu tentu lebih dari cukup. Namun, KH. Abdul Karim tidak tahu-menahu dengan uang sebanyak itu. Bahkan, untuk menghitung dan membawanya, beliau serahkan kepada pendamping beliau, yaitu Mbah Dasun Khotob. Begitulah KH. Abdul Karim, tidak peduli pada duniawi sehingga jumlah uang milik sendiri pun beliau tidak tahu.

Kezuhudan KH. Abdul Karim membuat kagum Kiai Hasyim Asy’ari ketika keduanya bertemu di Surabaya. Waktu itu, kebetulan sekali Kiai Hasyim, sahabat sekaligus guru beliau, ternyata juga hendak menunaikan ibadah haji. Kiai Hasyim merasa heran, KH. Abdul Karim, yang kemampuan duniawinya nampak biasa saja, mampu melaksanakan haji. Kiai Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin geleng-gelang kepala ketika ditanya berapa jumlah uangnya, KH. Abdul Karim hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos.”

Kontan Kiai Hasyim meminta uang itu untuk dihitungnya. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, KH. Abdul Karim dan Kiai Hasyim bersama berangkat ke tanah suci. Mereka satu kapal. Di Tanah Suci, KH. Abdul Karim mampu melakukan umroh sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah