Tag Archives: ghibah

Cara Menghapus Dosa Gibah Menurut Imam Nawawi

Pada dasarnya setiap kali kita melakukan kemaksiatan, kita wajib menyesali perbuatan tersebut; tobat. Dengan bertobat insya Allah dosa-dosa kita diampuni-Nya Amin.

Ulama menyebutkan, untuk perbuatan maksiat yang tidak berkaitan dengan hak-hak orang lain, ada tiga syarat yang harus dilakukan untuk bertobat:

  1. Pertama, segera berhenti melakukanya (jika masih di tengah-tengah perbuatan maksiat).
  2. Kedua, menyesali perbuatanya.
  3. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya.

Apabila maksiat yang diperbuat berhubungan dengan hak orang lain, maka selain tiga syarat di atas, ada satu syarat tambahan: mengembalikan hak yang dilanggar pada pemiliknya atau meminta maafnya.

Ibaratnya, tobatnya maling bisa sah kalau dengan mengembalikan barang curianya atau meminta halal pada pemiliknya.

Gibah adalah perbuatan yang berkaitan sama orang lain. Maka, orang yang menggibah wajib meminta maaf kepada orang yang di jadikan bahan gibah.

Lantas , cukupkan minta maaf dengan ungkapan umum, semisal.” Aku telah bergibah tentang dirimu, tolong dimaafkan”, atau wajib dijelaskan apa saja bentuk gibahnya?

Dalam hal ini ada dua pendapat yang disampaikan oleh ulama mazhab Syafi’i :

  1. Pertama, harus dijelaskan secara spesifik bentuk gibahnya
  2. Kedua, tidak harus.

Menurut Imam Nawawi pendapat yang pertama lebih kuat, sebab kadang orang bisa memaklumi satu gosip tertentu tantang dirinya tapi tidak dengan gosip yang lain.

Terakhir, bagaimana jika orang yang kita jadikan bahan gibah ternyata sudah meninggal, sedang di perantauan, atau keadaan lain yang tidak memungkin kita untuk meminta maafnya?

Maka, kita cuma bisa pasrah sambil memperbanyak kebaikan dan mendoakan kebaikan, serta memohonkan ampunan kepada Allah Swt. untuk orang yang kita gibah.WaAllahu a’lam.

*Sumber: Abi Zakaria Yahya binSyaraf An- Nawawi, Al-Azkar.

Gosip dan Seluk-beluknya

Di mana saja kita sering dengar gosip. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mulai dari permasalahan-permasalahan sepele hingga permasalahan yang serius. Bahkan anak kecil pun juga kadang melakukannya. Karena menggosip sering dilakukan banyak orang, maka membahas hukum dan seluk-beluknya sangat penting dilakukan.

Pengertian dan Dampak

Gosip dalam terminologi syariat disebut dengan ghibah. Yakni membicarakan kejelekan orang lain, sekalipun orang yang dibicarakan berada di hadapannya. Allah berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ.

Artinya: “Dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kamu merasa jijik”. (al-Hujurat:12)

Ghibah (selanjutnya disebut gosip) termasuk kategori akhlaqul mazmumah (akhlak tercela) yang diharamkan oleh Allah, dikarenakan dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang yang membicarakan maupun yang dibicarakan. Dampak-dampak tersebut di antaranya:
1. orang yang dibicarakan tersakiti;
2. orang yang membicarakan seakan-akan menganggap bahwa ciptaan Allah penuh kekurangan;
3. membuang-buang waktu;
4. menjadikan dosa.

Delapan (8) Sebab Menggosip
Sementara sebab-sebab gosip ada 8, yaitu:
1. Iri
Berawal dari rasa iri kepada orang lain, terkadang orang terjebak melakukan gosip, membicarakan kejelekannya, meskipun sebenarnya orang tersebut tidak mempunyai kesalahan kepadanya.

2. Sebagai pemuas hati
Memuaskan hati yang dimaksud adalah melampiaskan rasa kesal karena iri. Sehingga ia akan merasa puas dengan membicarakannya, karena beranggapan seakan-akan orang yang diajak bicarapun juga sependapat dengannya.

3. Tidak ingin orang lain sukses

Hal ini biasanya dikarenakan rasa takut seseorang andai saja ada orang lain yang sukses seperti dia maka dia akan tersaingi.

4. Keinginan untuk dianggap
Biasanya orang yang sering menggosip merupakan orang yang ingin dianggap sebagai orang hebat dan mulia. Dengan cara membicarakan kejelekan orang lain dan merendahkannya, ia berharap agar lawan bicara beranggapan sebenarnya dirinya lebih mulia dibanding dengan orang yang dibicarakan.

5. Ingin memiliki banyak teman
Upaya seseorang untuk memperbanyak teman ada kalanya dengan menjelekkan orang lain. Agar orang-orang di sekitarya lebih suka kepadanya, sehingga mempunyai teman banyak.

6. Bercanda
Membicarakan orang lain terkadang hanya untuk bercanda saja, untuk mencairkan suasana. Meskipun pada kenyataannya hal tersebut dapat menyakiti salah satu pihak.

7. Cuci tangan dari kesalahan
Ketika seseorang mempunyai kesalahan, terkadang ia tidak mau mempertanggungjawabkannya. Justru ia memilih untuk membicarakan kesalahan atau kejelekan orang lain, agar terbebas dari kesalahanya sendiri dan justru orang lain yang dituntut untuk mempertanggungjawabkannya.

8. Menertawakan orang lain
Yakni sebagai bahan ledekan atau ejekan. Menyakiti orang lain dengan cara meledek atau menjelek-jelekannya dihadapan orang banyak. Entah teman-temannya, kerabatnya ataupun yang lain.

Nasihat Bukan Termasuk Gosip

Menasehati orang lain sebab kecerobohannya, tidak masuk kategori gosip. Begitu juga ketika menunjukkan suatu kemaslahatan kepada orang yang ceroboh. Karena Allah tidak pernah mencegah hamba-Nya untuk saling menasehati. Dalam konteks ini orang yang diajak bermusyawarah tentang calon suami atau istri boleh menyampaikan kekurangan-kekurangan darinya kepada calon pasangannya. Namun sebatas yang diperlukan, demi kemaslahatan setelah pernikahan, agar tidak terjadi penyesalan di antara keduanya. Dalam hal ini Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan:

وَمَنِ اسْتُشِيرَ فِي خَاطِبٍ أَوْ نَحْوِ عَالِمٍ يُرِيدُ الْاِجْتِمَاعَ بِهِ ذَكَرَ وُجُوبًا مَسَاوِيهِ.

Artinya: “Orang yang diajak musyawarah tentang laki-laki pelamar seorang wanita, atau semisal tentang guru yang hendak berhubungan dengannya, maka ia wajib menyebutkan keburukan-keburukannya.

Di mana kemudian oleh Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi dijelaskan, bahwa menyebut keburukan itu menjadi satu-satunya jalan untuk menghindarkan orang yang meminta nasihat dari keburukan orang yang akan berhubungan dengannya. (Fath al-Mu’in dan I’anah at-Thalibin, III/311).

Doa Pelebur Dosa Gosip
Sehubungan dengan sulitnya menghindarkan diri dari gosip, apabila seseorang terlanjur melakukannya, maka disunnahkan membaca doa:

(سُبْحَانَكَ اللهم وَبِحَمْدِك أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ. (رواه الترمذي، حديث حسن صحيح

Artinya, “Maha suci engkau ya Allah. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.” (HR. At-Tirmidzi. Hasan shahih)
Sumber:
1. Hafizh Hasan al-Mas’udi, Taisir al-Khalaq, (Surabaya: al-Hidayah, tth.),44-45)
2. Abu Zakariya Yahya an-Nawawi, Riyadh as-Shalihin, I/439.
3. Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, (Bairut: Daral-Fikr, tth.), III/311.
4. Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah at-Thalibin, (Bairut: Daral-Fikr, tth.), III/311

Oleh: Arina Robithoh Fuadina, Santri 3 Tsanawiyah MPHM PP. Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, asal Magelang

Khotbah Jumat: Ngrekso Lisan

لْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:

فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Jemaah Salat Jumat Ingkang Minulyo…

Monggo kito sedoyo sareng-sareng ningkataken takwa kito dateng Allah ta’ala kanti nglampahi punopo ingkang dados printahipun soho nebihi sedoyo ingkang dados cecegahanipun. Langkung-langkung kito sedoyo kedahipun anjagi pinten-pinten anggoto kito supados mboten nglampahi perkawis ingkang andadosake bendunipun Allah awit saking pucuking rambut ngantos delamakan suku kekalih. Sebab sedanten wau inggih nikmat ingkan kedah dipun syukuri kanti angginaaken minongko ngabekti soho nglampahi perkawis ingkang pinuji. Mboten nglampahi laku dhuroko soho laku ingkang ndadosaken rusaking dunyo. Kaum muslimin ingkang minulyo….

Wonten khutbah puniko, kaulo badhe medhar sabdo magayutan pentingipun njagi anggoto ingkang tinerap wonten rogo kaulo panjenengan sedoyo supados nebihi maksiat, utaminipun anggoto ingkang manungso anggegampil soho  gampil sanget mlesetaken manungso dateng jurang maksiat. Inggih tutuk utawi kawastanan lisan. Ananging kejawi perkawis kolo wahu, lisan puniko ugi saget andadosaken luhuring derajat menawi manungso kolo wahu saget anggenipun ngrekso.

Dawuhipun kanjeng nabi…

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ قَالَ تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ الْخُلُقِ قَالَ وَ مَا أَكْثَرَ مَا يَدْخُلُ الَّنارَ قَالَ الْأَجْوَفَانِ اَلْفَمُّ وَالْفَرْجُ

Artosipun: “Rasulullah dipun suwuni pirso,punopo perkawis ingkang katah manjingaken dateng suwargo? Rasulullah dawuh: taqwa marang gusti Allah lan pakerti kang bagus. Shohabat dawuh: punopo perkawis ingkang katah manjingaken dateng neroko?Rasulullah dawuh: bolongan loro kang yoiku cangkem lan farji.”

Punopo lisan meniko sanget mbahayani tumpraping manungso dateng akhirat? Amargi lisan puniko gampil anggenipun tumindak ananging ewet utawi ngel dipun kendaleni. Maksiyat lisan puniko mboten rekaos ugi mboten mbetahaken katahing tenogo soho ragat. Pramilo saking meniko, bahaya lisan langkung ageng tinimbang anggotho lintunipun.

Kaum Muslimin Ingkang Dipun Rahmati Allah…

Maksiyat lisan puniko katah sanget ing antawisipun ghibah, tegesipun angrasani liyan kanti perkawis ingkang andadosaken mboten sekecho dateng penggalih menawi tiyang kolo wahu mireng ucapan kolo wahu. Kanti teges gusti Allah nyegah ghibah langkung langkung Allah swt. Ngibarataken bilih ghibah puniko kados dene mangan bathangipun sapodo. Allah swt. Dawuh…

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ, وَلَا تَجَسَّسُوْا وَ لَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“He… Piro-piro wong kang iman, ngedohono siro kabeh ing perkoro akeh songko penyono. Saktemene setengah saking penyononiku duso. Lan siro kabeh ojo niti-niti celone liyan lan setengah saking siro kabeh ojo ngrasani setengah saking liyan. Opo salah sijining siro kabeh demen mangan daging piro-piro sedulur siro kabeh hale rupo bathang? Mongko siro kabeh ngroso jijik kelawan perkoro mahu. Lan podo taqwaho siro kabeh marang Allah. Saktemene Allah iku dzat kang akeh anggone nrimo taubat serto dzat kang welas asih. (QS. Al- Hujarat: 12)

Jemaah Jumat Ingkang Minulyo…

Ing zaman ingkang modern puniko, kito sedoyo kedah ngatos-atos angkenipun tumindak keranten maksiyat puniko sampun kaprah lan kadang kawis maksiyat puniko dipun tindaaken tanpo sadar. Conto ingkang gampil ingih katahipun ucapan ucapan ingkang mengku sesengitan, ngino ngino soho lintunipun ingkang dados wabah piranti elektronik utawi langkung kinaweruhan kanti aran media sosial. Wabah puniko katah ingkang anggegampil soho gampil kelampahan tumpraping menungso ngantos menungso kolo wahu kasupen bilih sedanten ingkang dipun lampahi puniko dipun catet dening malaikat. Pramilo kito sedoyo kedahipun ngugemi punopo ingkang sampun dipun dawuhaken kanjeng nabi SAW.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artosipun: “Sing sopo wonge iman marang Allah lan dino ahir, mongko ngucapo perkoro kang bagus utowo wong mahu becik meneng.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

untuk bahasa indonesianya bisa klik di sini

Tabayun di Era Literasi Digital

Oleh: HM. Abdul Muid Shohib*

 

Sejarah mencatat, betapa saat datang, ajaran Islam terbukti mampu menyatukan suku-suku di kawasan jazirah Arab, yang notabene tradisi, watak dan budayanya keras, kaku, kerap kali berseteru dan juga suka berperang. Pola pikir primitif seperti ini menyebabkan zaman itu disebut sebagai zaman jahiliyah.

Islam datang dan menyatukan mereka dalam sebuah ikatan persaudaraan luhur yang seakidah dan sekeyakinan. Hal itu sebagaimana dikatakan dalam Alquran QS. Ali Imran 103: Dan berpeganganlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah nikmat Allah, di saat kalian saling bermusuhan, kemudian Dia mendamaikan diantara hati kalian, lalu dengan nikmat-Nya kalian bersaudara.”

Tali persaudaraan inilah yang seharusnya mengikat kaum muslimin dibawah naungan panji Islam. Dan tali persaudaraan inilah yang juga seharusnya menjadi ruh penyemangat kita dalam meniti berliku-likunya jalan kehidupan dengan tetap berpegangan pada sendi-sendi ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Namun, layaknya sebuah etape dan episode perjalanan hidup, sekaligus sebagaimana lumrahnya dinamika dalam sebuah komunitas masyarakat, akan selalu terjadi riak-riak kecil, bahkan mungkin juga gelombang besar yang menguji kokohnya bangunan bahtera kehidupan.

 Jurnalisme Gosip

Dalam konteks kehidupan terkini, riak-riak kecil itu antara lain, sebagaimana yang kita alami saat ini,  disebabkan oleh fenomena merebaknya informasi tak bertanggung jawab dari kalangan fasik atau orang-orang yang taat beribadah.

Alquran, jauh hari sudah mengingatkan dalam Surat Al-Hujurat: 6; Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sejarah pada awal generasi Islam pun juga selayaknya bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua. Betapa akibat kecerobohan dalam menyikapi sebuah informasi, terjadilah kegoncangan hebat dikalangan kaum muslimin saat itu. Yakni haditsul ifki, gosip yang melanda ummul mukminin Sayyidah Aisyah ra.

Maka, dalam konteks hubungan keumatan dalam tubuh kaum muslimin saat ini, demikian pula dalam proses pendewasaan diri dalam berbangsa dan bernegara dewasa ini, sekaligus sebagai upaya untuk melawan berita palsu, fitnah, dan juga hoax, perlu dan bahkan penting dikembangkan tradisi tabayun atau klarifikasi dalam setiap informasi yang berkembang di masayarakat. Jikalau ada informasi negatif tentang diri dan kepribadian orang atau pihak lain, terlebih lagi sesama muslim, maka prinsip husnudzan atau praduga tak bersalah harus menjadi pijakan awal dalam menyikapinya, sebelum kemudian melakukan tabayun.

Hal lain yang juga harus diwaspadai di era digital ini adalah tajassus, atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan juga ghibah atau menggunjing. Keduanya, baik tajassus ataupun ghibah memiliki kadar bahaya yang sangat tinggi. Terlebih di era informasi yang jumlahnya sudah sangat tak terbatas seperti saat ini.

Demi ihwal tajassus dan juga ghibah ini, Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hujurat : 12)

 Tatkala prasangka buruk dilarang oleh Allah swt., bukan berarti seseorang diharuskan mencari kepastian tentang kebenaran dari berita tersebut, yang ujungnya akan melahirkan tajassus, atau mencari-cari kesalahan orang lain. Jika berita yang beredar tak membutuhkan tabayyun atau klarifikasi dikarenakan terkait privasi seseorang, maka tak perlu antar sesama saling mencari-cari kesalahan. Justru kita diperintahkan untuk menutupi aib atau kesalahan pribadi orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan orang lain atau kepentingan umum.

 Lebih dari itu, ihwal ghibah atau menggunjing, Imam An-Nawawi mengkategorikannya dalam dosa besar. Dalam surat Al-Hujurat di atas, dimetaforkan bahwa menggunjing terhadap saudara seiman sama halnya dengan memakan daging saudaranya tersebut dalam keadaan mati. Jikalau seseorang dipotong dagingnya pastilah ia akan merasa kesakitan yang luar biasa. Bukankah akan lebih sakit lagi jika ia dipotong kehormatannya.

Watak tajassus dan ghibah ini sangat berbahaya jika menjangkiti media pemberitaan. Media sudah tidak akan mengabarkan berita dan informasi yang jernih dan proporsional. Produk yang lahir dari watak media yang seperti ini adalah jurnalisme gosip.

Formula Ishlah

Jikalau memang terjadi perselisihan, sudah semestinya perselisihan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut. Harus segera diupayakan jalan ishlah atau perdamaian di antara keduanya. Karena sesama muslim adalah bersaudara. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”(QS. Al-Hujurat : 10)

Jalan ishlah akan lapang terbuka, jika masing-masing pihak mengedepankan sikap saling mengalah, dan mencari titik temu di antara dua kepentingan yang menjadi pangkal sengketa. Hal tersebut akan terwujud jika masing-masing pihak tidak mencela, mengolok-olok dan menganggap rendah pihak lain. Serta dia tidak merasa tinggi diri dan paling benar, apalagi paling baik di hadapan Allah SWT.

Jika sikap tinggi diri atau sombong ini telah mewarnai kesadaran seseorang, maka disadarai atau tidak, hal inilah yang akan menjadi titik tolak awal sebuah kehancuran. Sebagaimana pula Iblis terlaknat oleh Allah dan terusir dari surga akibat sikap tinggi dirinya terhadap Nabi Adam as.

Imam Al-Ghazali pernah menyatakan bahwa terhadap siapapun, kita tak selayaknya menyombongkan diri. Karena kita tidak akan tahu dengan keadaan bagaimana hidup kita berakhir, husnul khatimah-kah, ataukah su’ul khatimah? Tetap dalam keimanan-kah, ataukah berakhir tanpa membawa iman? Pertanyaan sekaligus pernyataan yang harus benar-benar kita renungkan dalam-dalam.

Walhasil, di era pergunjingan, fitnah, dan juga bertebarnya berita hoax seperti saat ini, yang perlu kita kedepankan adalah sikap waspada sekaligus tetap selektif dan verifikatif terhadap setiap informasi yang kita terima. Ketiga usaha tersebut menurut penulis merupkan bagian penting dari literasi media sosial. Wallahua’alam.

 

*Pengabdi di PP. Lirboyo, Wakil Ketua DPRD Kota Kediri Jawa Timur