Tag Archives: nusantara

Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Penulis: Muhammad Fajrul Falah
1400 tahun lebih telah berlalu sejak Islam muncul pertama kali di muka bumi, tepatnya di kota suci Makkah al-mukarramah yang terletak di Jazirah Arab, barat daya Benua Asia. Dalam perjalanannya Islam secara signifikan terus meluas ke seluruh penjuru dunia, baik melalui proses invasi ataupun metode yang lainnya. Beriringan dengan perluasan wilayah Islam tersebut, berbagai dinamika keagamaan muncul sebagai akibat dari proses perkembangan Islam menjadi “peradaban madani” di seluruh dunia. Sesuai dengan visi dan misinya yakni menjadi agama yang rohmatan lil ‘alamin.
Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Pada kenyataanya, usaha untuk mewujudkan Islam sebagai agama rohmatan lil ’alamin tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai rintangan siap menghentikan upaya para mujahid yang berjuang atas nama Allah demi mewujudkan visi dan misi Islam yang ramah di seluruh penjuru dunia. Salah satu faktor penting yang menghambat upaya tersebut adalah variasi budaya dan basic seluruh umat manusia di muka bumi. Apalagi, beberapa komunitas masyarakat di dunia memiliki tingkat fanatisme yang tinggi terhadap budaya mereka—sehingga akan cukup sulit untuk mengenalkan dan memasukkan budaya baru, seperti agama Islam dalam komunitas tersebut.

Namun bagi Islam, perbedaan budaya dan basic umat yang menjadi obyek dakwahnya tidaklah masalah. Karena sesuai dengan visi dan misinya menjadi agama rohmatan lil ‘alamin. Islam adalah agama yang global, sehingga Islam akan relevan di berbagai belahan dunia dengan karakter manusia yang sangat variatif. Apalagi, relevansi agama Islam, yakni agama yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah sebagai agama bagi seluruh umat di dunia, telah dipatenkan oleh Allah dalam firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan kami (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh (umat) manusia sebagai pembawa kabar gembira (bagi orang mukmin) dan pemberi peringatan (bagi orang kafir). Hanya saja, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS. Saba’: 28)

Sehingga dapat difahami bahwa risalah yang dibawa Rasulullah Saw. akan tetap relevan bagi seluruh umat manusia, menembus segala ras dan budaya. Selain itu, Islam merupakan agama yang bersifat koperatif.

Kooperatif (Bersifat kerja sama)

Sifat koperatif itulah yang menjadi katalis dalam proses penyebaran dan pengukuhan di seluruh penjuru dunia. Mengapa demikian? Dalam ilmu sosiologi, telah diperkenalkan istilah akulturasi yang secara sederhana dapat diartikan sebagai proses percampuran dua budaya. Dalam proses akulturasi, dibutuhkan karakter koperatif oleh budaya terkait agar terbentuk jalan terbuka yang menjadi konjungsi di antara 2 budaya tersebut. Yang nantinya—konjungsi itu akan memunculkan koherensi di antara 2 budaya terkait sebagai manifestasi dari keberhasilan proses akulturasi. Sehingga melaui karakter koperatif inilah, Islam mudah berakulturasi dengan berbagai budaya, serta mudah beradaptasi dan diterima di seluruh belahan dunia.

Adaptif (Mudah menyesuaikan)

Selain karakter koperatif, adaptif adalah karakter yang tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama Islam. Karakter adaptif yang dimiliki oleh Islam adalah salah satu implikasi dari karakter koperatif, yakni salah satu karakter yang juga dimiliki oleh agama Islam. Seperti yang telah diurai sebelumnya, karakter yang dimiliki oleh Islam telah mampu mengantarkan Islam sebagai agama yang mudah berakulturasi dengan berbagai budaya serta mudah beradaptasi dan diterima di seluruh penjuru dunia—menuju cita-citanya menjadi agama yang rohmatan lil ‘alamin. Dari karakter adaptif ini, Islam menjadi agama yang sangat kaya akan budaya akibat dari tingginya angka akulturasi. Dari karakter ini pula, muncul sebuah slogan yang sangat populer dikalangan ahlus sunnah wal jama’ah yakni:

المحافظة على القديم الصالح و الأخذ بالجديد الأصلح

“Menjaga (budaya) klasik yang baik dan mengambil (budaya) baru yang lebih baik”

Karakter koperatif-adaptif Islam, juga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai toleransi yang menjadi salah satu ruh dalam dunia religi agama ini. Nilai-nilai toleransi yang ditampakkan oleh Islam melalui berbagai ajaran syariatnya, mengindikasikan bahwa Islam adalah agama dinamis yang akan berkembang dan terus menerus relevan dengan berbagai keadaan. Karakter toleransi ini pula yang diamalkan dan ditunjukkan oleh para penganut agama Islam. Sehingga Islam dengan mudah dapat diterima tanpa ada unsur paksaan. Karena pada dasarnya, Islam lahir dengan kedamaian bukan dengan watak teroris yang menakutkan. Bahkan Allah berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqoroh: 256)

Dasar Sikap Moderat

Melihat kembali pada catatan sejarah Nusantara, ternyata nilai-nilai koperatif-adaptif dan toleransi telah diimplementasikan secara nyata dalam penyebaran dan pengokohan agama Islam di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya, yang lebih dikenal sebagai Wali Songo. Para Wali Songo lebih memilih bersikap koperatif-adaptif serta bertoleransi tinggi dalam metode dakwah mereka. Hal ini bukan tanpa alasan, adapatif, koperatif, dan toleransi adalah tiga ruh utama yang menjiwai paham moderat (tawassuth) yang merupakan salah satu prinsip dalam ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan sikap moderat inilah, Wali Songo mampu mengikis budaya non-Islam dari Nusantara. Bahkan, dapat menyisipkan nilai-nilai keIslaman pada budaya yang telah ada.

Teladan Rasulullah

Jika diteliti lebih jauh lagi, sikap moderat yang didasari oleh koperatif, adaptif, dan toleransi, merupakan teladan dari baginda Rosulullah Saw. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau tidak pernah memberikan paksaan. Beliau hadir dengan cara yang begitu arif dan damai. Syariat yang beliau bawapun— juga hadir dengan penuh kebijaksaan. Sedikit demi sedikit, mengikis juga budaya jahiliyah non Islam. Tidak semata-mata secara langsung dalam menghapusnya. Karena sesuai dengan fitroh manusia, segala hal akan menjadi berat dan menakutkan jika terjadi secara spontan. Berbeda jika terjadi secara bertahap.

Salah satu bukti konkrit yang menunjukkan kearifan Rasulullah Saw. dan risalah yang beliau bawa dalam menerapkan syariat saat mengikis budaya jahiliyyah non-Islam, adalah praktek naskh. Salah satu produk dari proses naskh adalah keharaman khomr (arak). Pada masa awal Islam, khomr merupakan salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari budaya jahiliyyah. Padahal, seperti yang diketahui saat ini, bahwa khomr adalah hal yang diharamkan. Namun, keharaman khomr ini tidak diterapkan oleh syariat secara seketika, melainkan dengan step by step (bertahap). Di antara ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan kronologi penerapan hukum haram pada khomr adalah sebagai berikut:
Ayat pertama terletak pada QS. An-Nisa’ ayat 43, yakni:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah mendekati sholat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu sekalian mengetahui apa yang kamu sekalian katakan” (QS. An-Nisa’: 43)

Ayat ini merupakan ayat tentang khomr yang pertama kali diturunkan oleh Allah swt. Ayat ini hanya mengindikasikan keharaman khomr dalam sholat saja, sedangkan di luar sholat hukumnya masih halal. Kemudian disusul dengan ayat berikutnya yang menaskh ayat di atas, yang terletak pada QS. al-Baqoroh ayat 219, yaitu:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Engkau (Muhammad) akan ditanyai mengenai khomr dan judi, maka katakanlah: keduanya mengandung dosa yang besar dan (juga mengandung) kemanfaatan bagi manusia. Adapun dosanya lebih besar daripada kemanfaatannya” (QS. Al-Baqoroh: 219)

Dalam ayat kedua ini, Allah swt. menyampaikan bahwa meminum khomr itu digolongkan perbuatan dosa, sehingga beberapa sahabat sudah tidak lagi meminum khomr meski beberapa yang lain masih meminumnya. Kemudian ayat inipun juga dinaskh dengan ayat yang terakhir turun mengenai hukum khomr, yang terletak dalam QS. Al-Maidah ayat 90, yaitu sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, khomr, judi, berhala, dan mengundi dengan panah hanyalah sebuah dosa yang termasuk amal syaithon. Maka jauhilah agar kalian beruntung” (QS. Al-Maidah: 90)

Ayat terakhir ini dengan tegas memberikan vonis hukum haram kepada khomr, sebagai tahap terakhir dalam penerapan hukum haram khomr yang dilakukan secara bertahap atau step by step. Selain itu, langkah step by step ini juga terbukti lebih ampuh dan lebih mengena pada sasaran daripada cara yang spontan.

Setidaknya, ada 2 hal yang mendasari hal tersebut, yaitu:

a. Suatu hal yang terjadi secara bertahap tidak akan memberatkan, sehingga tidak akan menyebabkan guncangan mental yang memiliki stigma negatif.

b. Suatu hal yang terjadi secara bertahap akan lebih menancap di dalam hati daripada sesuatu yang datang secara spontan. Seperti telah diketahui, bahwa kebanyakan hal yang datang secara cepat maka juga akan hilang secara cepat, berbanding lurus dengan cara kedatangannya.
Sehingga, bukanlah suatu kesalahan, menghadirkan Islam serta menerapkan syari’atnya di bumi Indonesia, khususnya di tanah Jawa, yang pada saat itu masih sarat dengan budaya mistik dan kejawen, dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat menghadirkan Islam di Jazirah Arab yang sarat akan budaya jahiliyyah.
Di sisi lain, syari’at Rasulullah saw. pun juga tidak sepenuhnya menghapus budaya jahiliyyah dan budaya agama sebelumnya. Hal ini terbukti dari beberapa syari’at Rasulullah saw. yang mengadopsi budaya-budaya yang telah ada sebelumnya, dengan menyisipkan nilai keislaman kedalamnya seperti Thowaf, Sa’i dan lain sebagainya. Bahkan adopsi syari’at ini juga termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, yakni dalam QS. Al-Baqoroh ayat 158, yaitu:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya (bukit) Shofa dan (bukit) Marwah termasuk tanda-tanda (kebesaran) Allah, siapa saja yang berhaji atau berumroh, maka tidak ada dosa baginya untuk bethowaf dengan kedua (bukit) tersebut. Dan siapa saja yang melakukan ibadah sunnah dengan (perkara) yang baik, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqoroh: 158)

Lantas hal ini, yakni adopsi budaya dan memasukkannya sebagai syari’at, tidaklah menjadikan Islam sebagai agama yang aneh, namun justru membuatnya menjadi istimewa dan berbeda dari agama-agama lain yang cenderung statis-dogmatis. Hal ini pulalah yang menjadi ibroh bagi para Wali Songo, yang notabene merupakan warotsatul anbiya’, untuk mengadopsi budaya setempat seperti adat telung dinanan, petang puluhan, tingkepan, wayang dan lain sebgainya dan menyisipkan kedalamnya nafas syari’at Islam.

Pada perkembangannya, tongkat dakwah Islam yang dimulai oleh Wali Songo terus-menerus berestafet dari generasi ke generasi. Metode dan sikap moderat Wali Songo secara terus-menerus diwariskan dan diamalkan oleh generasi-generasi berikutnya. Metode Wali Songo inipun terus-menerus menguat seiring berjalannya waktu, sehingga metode dan sikap inipun menjadi sebuah karakter tersendiri bagi kehidupan religi Islam di Indonesia, yang biasanya dilabeli dengan “Islam Nusantara”.
Pada porsi realita, Islam Nusantara hadir dengan memberikan warna berbeda yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Asas toleransi yang menjadi salah satu pilar pembentuk Islam Nusantara, menjadi pendorong bagi umat Islam di Indonesia untuk menghormati berbagai keyakinan yang ada di Indonesia. Islam Nusantara juga memberikan pemahaman bahwa keutuhan, keamanan, dan ketertiban sebuah negara adalah poros untuk mencapai kehidupan yang baik dan layak, entah itu kehidupan religi, sosial, ekonomi, ataupun yang lainnya. Sehingga, Islam Nusantara lebih memilih untuk menjamin keamanan setiap individu yang berdomisili di Indonesia, meski tidak memiliki keyakinan yang sama, daripada menyulut konflik demi mewujudkan kepentingan sepihak. Jalur yang dipilih oleh Islam Nusantara ini pun juga bukan tanpa dasar. Opsi yang dipilih oleh Islam Nusantara ini diilhami dari keteladan Rasulullah saw. saat memimpin kota Yatsrib, yang sekarang lebih dikenal dengan kota Madinah Al-Munawwaroh. Dalam menjalankan roda kepemimpinan Yatsrib, Beliau memilih untuk menjaga perdamaian dengan kaum Yahudi daripada berkonflik dengan mereka. Bahkan, beliau membuat kesepakatan dengan mereka, yang termaktub dalam piagam Madinah, untuk bekerjasama dalam menjaga keamanan dan keutuhan kota Yatsrib. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari piagam Madinah yang sangat fundamen yang menunjukkan kepedulian Rasulullah terhadap keutuhan negara:

Piagam Madinah Nomor:

Kedua pihak kaum Muslimin dan kaum Yahudi bekerjasama dalam menanggung pembiayaan di kala mereka melakukan perang bersama.

Kaum Yahudi dan kaum Muslimin membiayai pihaknya masing-masing. Kedua belah pihak akan membela satu dengan yang lain dalam menghadapi pihak yang memerangi kelompok-kelompok masyarakat yang menyetujui piagam perjanjian ini. Kedua belah pihak juga saling memberikan saran dan nasihat dalam kebaikan, tidak dalam perbuatan dosa.

Islam Nusantara Potret Peradaban Madani
Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Baca juga: PENJELASAN ISLAM NUSANTARA

Simak juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. Aziz Manshur

Islam Nusantara Potret Peradaban Madani
Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Santri Culture Night Carnival

LirboyoNet,Surabaya- Sebanyak 50-an santri Lirboyo siang kemarin (27/10), berangkat menuju Surabaya menggunakan bus yang telah disediakan oleh PWNU Jawa Timur. Mereka akan menghadari perhelatan akbar yang diadakan PWNU Jawa Timur yang mengusung tema Santri Culture Night Carnival (SCN) 2019. semacam karnaval budaya santri pertama kali di Nusantara. Acara ini merupakan rangkaian puncak peringatan Hari Santri Nasional 2019.

Dihadiri oleh Wakil Presiden terpilih KH. Ma’ruf Amin, beberapa Menteri maupun Wakil Menteri yang baru dilantik beberapa hari lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran kepengurusan PWNU dan beberapa PCNU yang ada di Jawa Timur dan Forkopimda.

Dalam sambutannya, ketua pengurus PWNU Jawa Timur KH. Marzukqi Mustamar berpesan kepada Wakil Menteri Agama baru yang berkesempatan hadir agar lebih berhati-hati mengenai buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah supaya jangan sampai lagi terselip materi-materi yang menyimpang dari ajaran Aswaja.

Sambutan berikutnya dari Wakil Presiden yang menyampaikan terima kasihnya kepada warga Jawa Timur yang telah mendukungnya, sehingga bisa terpilih menjadi Wakil Presiden, beliau juga memberi semangat kepada para santri dalam belajar. “Sekarang sudah banyak santri yang menjadi menteri, bahkan menjadi wakil presiden, kedepannya semoga ada santri yang menjadi presiden” Seketika riuh sahutan amiin.

Beliau juga berharap dikalangan santri ada yang ‘pergi keluar’, santri jangan hanya mengetahui seluk-beluk permasalahan keagamaan saja, termasuk juga harus ada santri yang menjadi preneur agar ekonomi dan dunia bisnis tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang saja yang ternyata tidak dari kalangan santri. beliau mencontohkan pendahulu kita dahulu yang sukses mengkompakkan pengusaha dalam satu wadah perjuangan, “Nahdlatu Tujjar”.

sedangkan Ibu Gubernur dalam sambutannya menyampaikan terimakasih Kepada Wapres yang telah menjadikan Jawa Timur ini sebagai kunjungan kehormatan pertamanya setelah pelantikan. Beliau juga berharap dari acara SCNC 2019 ini akan menumbuhkan jiwa interpreneur dikalangan santri dan pesantren di Jatim dengan semangat program barunya, One Pesantren One Product.

Keinginan Ibu Gubernur ini disambut baik oleh Wapres, Kyai Ma’ruf mengagendakan gerakan ekonomi yang beliau istilahkan “Gus Iwan” singkatan dari “santri bagus pinter ngaji usahawan”.

Acara ditutup dengan doa oleh KH. Anwar Manshur kemudian pertunjukan antraksi dan kesenian dibuka oleh Wapres dengan pukulan bedug. Festival berlangsung meriah dengan penampilan memukau dari perwakilan beberapa PCNU yang ada di Jawa Timur, seperti PCNU Banyuwangi yang menampilkan tarian Gandrung Santri, PCNU Sumenep dengan seni musik Ul Daul dan masih banyak lagi penampilan lainnya seperti Grup Drumb Band Akademi Angkatan Laut.

Sebagai pamungkas acara sambil menunggu nasi liwetan yang akan dibagi, panitia pengundian dari kupon-kupon yang telah dikumpulkan oleh para peserta dengan hadiah beberapa paket umroh dan hadiah menarik lainnya, namun ternyata kang-kang santri tidak meminatinya, mereka memilih segera menuju ke lokasi parkir bus ingin cepat pulang. [ABNA]

Malaikat Maut Saja Heran dengan Takdir Kematian

Kematian masih saja menjadi misteri ilahi dan harus terus seperti demikian, karena kalau tidak, manusia akan berbuat sekenaknya, setelah ia tahu bahwa detik-detik kematian akan tiba, baru kemudian ia bersungguh-sungguh taubat kepada Tuhan. Tidak seru lagi. Kondisi, kapan terjadi dan ditempat mana, pun sama sekali makhluk tidak diberi bocoran.

Sebuah kisah menggelitik terjadi waktu Nabi Sulaiman As. sedang berkumpul dengan para pengikutnya, beliau dirubung. Sesaat kemudian dari kejauhan nampak seseorang yang dengan serius menatap tajam salah satu orang yang ada disekitar Nabi Sulaiman.

Yang ditatap merasa risih dan gerah, kenal saja tidak tapi pandangannya begitu menusuk. Lama kelamaan karena sudah tidak betah dipandangin terus, orang ini bertanya kepada Nabi Sulaiman.

Wahai Nabi Allah, siapa gerangan orang yang disana itu, ia sedari tadi mengawasiku” ujar orang tersebut.

ia Malaikat Maut” tukas Nabi Sulaiman enteng. Mendengar jawaban yang mengerikan ini orang tadi gemeteran.

kalau begitu, ia menghendakiku? (untuk dicabut nyawanya) Nabi Sulaiman mengiyakan. Tambah menjadi-jadi kengerian yang dirasa olehnya.

kalau seperti itu. Tolong wahai Nabi engkau perintahkan angin agar ia menerbangkanku ke Hindia” pinta orang ini. tanpa keberatan Nabi Sulaiman mengabulkan permohonannya. Dengan kecepatan super, anginpun membawa orang tersebut kenegara yang dipinta.

Setelah orang ini pergi, Nabi Sulaiman bertanya pada Malaikat Maut “Malaikat Maut, kenapa engakau memandanginya dengan serius lagi tajamtadi?”

aku mengawasinya karena aku sendiri heran” jawab Malaikat Maut

“heran kenapa?”

aku ditugaskan Tuhan untuk mencabut nyawanya di Negara Hindia. Namun aku menjumpainya tadi ada didekatmu (Palestina) ini membuatku heran” setelah berkata demikian Malaikat Maut bergegas pergi menuju Hindia untuk melanjutkan tugasnya tadi. [ABNA]

Tasyakuran Haji di Nusantara

Siapapun mengakui, memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci merupakan sebuah kenikmatan agung. Perasaan hati yang bahagia dan bersyukur secara otomatis akan dirasakan setiap umat Islam yang mendapatkan ‘panggilan’ tersebut.

Di Indonesia, umumnya para jamaah haji yang telah pulang dari ‘perjalanan suci’ itu mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa. Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di bandara dan asrama haji, segenap keluarga telah setia menunggu untuk menyambut kedatangannya.

Sebenarnya, tradisi yang serupa sudah pernah dicontohkan oleh para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw. dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim)[1]

Rangkaian penyambutan haji terus berlanjut hingga ke kampung halamannya. Para saudara, kerabat, dan tetangga telah menunggu kedatangannya di tengah-tengah mereka. Biasanya, masyarakat Indonesia menyebutnya dengan istilah ziarah haji, sebuah tradisi untuk mengunjungi para tamu Allah yang telah pulang ke kampung halamannya.

Kearifan lokal umat Islam di Nusantara ini sama persis dengan tradisi yang disebut dengan istilah an-Naqi’ah dalam kajian fikih. Secara pengertian, an-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis Rasulullah Saw,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi.” (HR. Bukhari)[2]

Rangkaian tradisi yang lebih penting dari semua itu adalah mendapatkan berkah doa dari mereka yang baru pulai menunaikan ibadah haji. Karena sebenarnya, doa tersebut lah yang menjadi tujuan utama dari dari para peziarah haji. Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ …رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni.” (HR. Ahmad)[3]

Hadis tersebut juga memberi pemahaman bahwa seseorang yang usai menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk mendoakan orang lain meskipun orang tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang yang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Tujuannya adalah agar ia termasuk dalam doa yang pernah diucapkan oleh nabi Muhammad saw. Sebagaimana dalam sebuah redaksi hadis,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji.” (HR. Muslim)[4]

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang usai menunaikan ibadah haji. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keutamaan doa dari mereka terus menerus hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal.[5] []waAllahu a’lam

 

_________________________

[1] Shahih Muslim, IV/185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, IV/400, CD. Maktabah Syamilah.

[3] Dalil Al-Falihin, III/237.

[4] Faidh Al-Qodir, II/101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, II/554, CD. Maktabah Syamilah.

Mengenal Aksara Pegon

Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa kelestarian khazanah keilmuan Islam menjadi pondasi utama atas eksistensi agama Islam itu sendiri. Karena alasan tersebut, sejak dulu para ulama telah menggariskan upaya pelestarian akan khazanah keislaman melalui budaya literasi. Tradisi literasi tersebut berjalan dan dikembangkan secara terus-menerus dan berkesinambungan, terutama di pondok pesantren salaf.

Adalah Pegon, sebuah metode penulisan literasi klasik yang diwariskan oleh para ulama Nusantara. Tradisi menulis dengan aksara Arab yang dimodifikasi (Arabic modified script) ini pertama kali dikenal dan tumbuh sejak abad ke-16 dan terus berkembang dengan segala kompleksitasnya hingga abad ke-21.

Memang, aksara ini aneh dan lain daripada yang lain. Dalam bentuk tulisan, Aksara Arab Pegon memang berbentuk huruf-huruf Arab, namun bahasa yang menjadi isi dari tulisann tersebut adalah bahasa Jawa, Sunda, Madura, Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang berkembang di Indonesia. Karena itulah, aksara ini dinamakan Arab Pegon.

Dalam menulis Pegon, harokat tidak lagi digunakan, tetapi diganti dengan huruf vokal. Kecuali jika ada kerancuan bacaan maka perlu dibantu dengan harokat. Selain itu, dalam aksara Pegon juga mengenal kata Serapan bahasa Arab adalah setiap kata yang berasal dari bahasa Arab tidak boleh ditulis Pegon, artinya harus ditulis sebagaimana aslinya, misalkan kata “Islam” ditulis sebagaimana mestinya. Dengan adanya huruf-huruf modifikasi dalam aksara Arab Pegon, pada hakikatnya, aksara ini mampu menjadi pelengkap aksara Arab atau huruf-huruf hijaiyyah ketika berinteraksi dengan sistem fonologis bahasa yang tidak terdapat dalam sistem fonologis Arab.

Kontribusi riil aksara Pegon dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah, pertama, menjadi media untuk menulis teks-teks keagamaan. Kedua, menjadi media untuk menerjemahkan kitab-kitab salaf dengan metode salaf utawi-iki-iku. Ketiga, menjadi media untuk membantu para santri dan siswa dalam menghafalkan mufrodat (kosakata) bahasa Arab dalam bentuk syi’ir. Keempat, menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kelima, menjadi media untuk mengembangkan keterampilan membaca dan memahami teks. Keenam, menjadi media untuk mendalami tata bahasa Arab yang meliputi Nahwu, Sharaf dan Balaghah.

Aksara Pegon juga memiliki kontribusi yang nyata dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia.  Kontribusi aksara Pegon ini terejawentahkan dalam pelaksanaan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren salaf (salah satunya adalah Pondok Pesantren Lrboyo), madrasah diniyyah tradisional yang berada di bawah naungan LP Ma’arif Nahdlatul Ulama’, serta di universitas berbasis pesantren yang ada di Indonesia.

Contoh Pegon dalam Bahasa Jawa:

كانجع نبي محمد إيكو أوتوسان ايفون كوستي الله داتع سدايا مخلوق ، ديني أفا واهي كاع ديفون جريتا اكن دينيع كانجع نبي محمد إيكو ياطا-ياطا بنر. موعكا سكابيهاني مخلوق واجب مبنراكن لن أنديريك ماريع كانجع نبي محمد

Kanjeng Nabi Muhammad iku itusan ipun gusti Allah dateng sedoyo makhluk. dene opo wahe kang dipon ceritaaken deneng kanjeng Nabi Muhammad iku nyoto-nyoto bener. Mongko sekabehe makhluk wajib mbeneraken lan nderek mareng kanjeng Nabi Muhammad. “

Contoh Pegon dalam Bahasa Indonesia:

نبي محمد إيتو أوتوسان الله كفادا سموا مخلوق ، أفا ساجا ياع دي جريتاكان أدالاه كبناران. ماكا سموا مخلوق واجب ممبناركان دان معيكوتي

Nabi Muhammad adalah utusan Allah kepada semua makhluk. Apa saja yang diceritakan adalah kebenaran. Maka semua makhluk wajib membenarkan dan mengikuti.” [1]

______________

 

 

 

 

 

[1] Pintar Menulis Pegon Jilid II, cet. MHM Lirboyo.