Tag Archives: Rasulullah

Berbakti Adalah Jihad

Di zaman Rasulullah Saw, pernah suatu ketika ada seorang lelaki berkebangsaan Yaman berhijrah menemui Rasulullah. Tujuan lelaki tersebut tak lain ialah untuk bergabung untuk berjihad bersama pasukan Islam.

Melihat semangat yang sangat menggebu dari lelaki tersebut, Rasulullah Saw bertanya “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu”.

Ya, wahai Rasulullah” jawab lelaki itu.

Apakah mereka berdua mengizinimu untuk berjihad?” Rasulullah Saw kembali bertanya.

Tidak” jawab lelaki itu singkat.

Kembalilah kepada orang tuamu. Dan mintalah izin pada keduanya. Apabila mereka berdua mengizinimu, maka berjihadlah. Namun apabila kedua orang tuamu tidak mengizinkan, maka berbaktilah pada keduanya. Karena hal itu (berbakti) adalah kebaikan yang bisa mempertemukanmu pada Allah setelah mengesakan-Nya” kata Rasulullah Saw pada lelaki tersebut.

 

____________________

Disarikan dari kitab Ihya’ Ulumuddin (II/189), karya al-Ghazali.

 

 

 

 

 

Sungguh Indah Menjadi Kekasih Rasulullah

Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang jarang membaca shalawat kepada Rasulullah saw. Pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah. Anehnya, sang Nabi tidak mau menoleh kepadanya. Dengan raut heran dia beranikan diri untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”

 “Tidak.”

Lelaki itu masih menyimpan rasa heran. Kemasygulannya belum terjawab.

 “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”

Lelaki itu menaburkan heran dan masygul di tiap kata-katanya. Ia tahan tarikan nafasnya beberapa detik. Menunggu jawab dari sang kekasih.

“Karena aku tidak mengenalmu.”

Jrusss. Perkataan itu menikam tajam. Seketika hati lelaki itu remuk redam. Jawaban Rasulullah membuat tumpukan rasa rindu lebur, menjadi debu-debu penyesalan. Bagai kekasih yang dicampakkan.

“Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu?”

Hatinya tak terima. Ia ingin dicintai kekasihnya. Bukan dibenci semena-mena.

“Bukankah engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”

Sosok mulia yang ia cintai itu bukanlah membencinya. Ia bukanlah seorang pembenci. Kepada musuh-musuhnya sekalipun, ia tak pernah sedikitpun menanam kebencian. Ia tak punya cukup alasan untuk membenci makhluk-makhluk tuhan, apalagi pada umatnya yang terkemudian.

“Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat diriku.”

Tak pernah mengingat dirimu? Wahai Rasul, bukankah shalatku, puasaku, zakatku, adalah tanda bahwa aku mencintaimu?. Hati lelaki itu dipenuhi keheranan yang memuncak.

“Aku mengenal umatku yang mengingat diriku dalam hari-hari mereka.”

“Kau tahu bagaimana cara mengingatku? Aku diingat oleh umat dengan bacaan shalawat mereka kepadaku. Semakin sering mereka bershalawat padaku, semakin lekat nama mereka hinggap dalam ingatanku.”

Sedetik kemudian, bangunlah laki-laki itu dari mimpi pertemuan itu. Sontak ia bertekad, akan mengingat Rasulullah sepanjang hayat. Sejak hari itu, ia mewajibkan bagi dirinya sendiri untuk bershalawat kepada Rasulullah seratus kali setiap hari.

Waktu terus berlalu dengan janji yang terus ia pelihara, terus ia laksanakan demi rasa cinta. Hingga pada suatu mimpi, ia bertemu Rasulullah saw kembali.

Wahai Rasul, kini aku datang padamu dengan segunung shalawat. Rasa cintaku sudah kuungkap dengan cara yang kau inginkan waktu itu. Akankah kini kau mengenalku? Atau harus ribuan hari lagi kulalui dengan sesaknya tanaman-tanaman rindu?

Sang kekasih itu tersenyum. Melihatnya dengan wajah ranum, seranum delima kala matang merona.

“Sekarang aku mengenalmu.”

Oh, bahagia tiada terkira. Penantian panjang itu berbuah suka. Derita kerinduan meronta-ronta itu musnah, terhapus kata-kata indah nan mesra, aku dikenalnya.

 “Dan akan memberi syafa’at kepadamu.”

Maka nikmat mana yang setingkat dengan perkenan Nabi untuk mengenal umatnya? Dengan janji syafaatnya kelak, di hari penuh penantian dan sengsara? Maka mari perbanyak membaca shalawat di tiap hari-hari kita. Semoga kita dikenal oleh Rasulullah saw. sebagai umat tercintanya.

 

*Disarikan dari beberapa kisah yang ditulis Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Sedalam Cinta, Sesering Menyebut Namanya

Ubayy bin Ka’ab Al-Anshary ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang gigih berjuang bersama Rasulullah saw. Ia bukan termasuk sahabat yang pertama kali masuk islam. Ia baru berikrar ketika Baiat Aqabah kedua. Namun, ia memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullah saw. Bahkan, Rasulullah saw. memberinya nama kunyah (julukan), layaknya yang juga dilakukannya kepada sahabat-sahabat ternama, seperti Abu Bakar, Umar, dan lainnya. Ia sering dipanggil dengan nama Abu al-Mundzir.

Suatu hari, ia ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, aku senantiasa membaca shalawat untukmu. Sebaiknya, berapa banyak lagi aku membaca shalawat untukmu?”

“Sesukamu, Ka’ab.” Rasulullah saw. menyambut ungkapan cinta Ubay bak lembayung senja.

Ubay bertanya lagi, “Bagaimana kalau seperempat waktu dari setiap hariku?”

“Sesukamu. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

“Jika sepertiga?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

“Jika setengah?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.” Untuk keempat kalinya, Nabi memberi jawaban yang sama.

Ubay adalah sahabat yang sangat mencintai Rasulullah saw. Ia tak puas dengan hanya mengingat dan menyebut nama Rasulullah dalam waktu-waktu tertentu saja. Ia menantang dirinya sendiri untuk bertanya lagi, “Bagaimana jika kutambah dua pertiga?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

Mendapat jawaban yang sama dalam beberapa pertanyaannya, membuat rasa cinta Ubay semakin membuncah. Maka kemudian ia bertekad untuk menghabiskan waktu-waktunya untuk menggumamkan rasa cinta kepada kekasihnya itu, “Ya Rasulullah, akan kugunakan seluruh hariku untuk bershalawat kepadamu.”

Mendengar pernyataan Ubay yang begitu yakin dan sungguh-sungguh, Rasulullah tak segan-segan memujinya. “Kalau begitu, wahai Ka’ab,” ungkap Rasulullah. “Keinginanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni Allah.”

Ubay bin Ka’ab seorang sahabat yang begitu dekat dengan Rasulullah saw. Ia dalam berbagai waktu dan ruang sering mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. Oleh beliau, ia dipuji sebagai sahabat yang paling bagus dalam membaca Alquran.

Seorang yang begitu dekat dengan Rasulullah saw. saja, dengan sungguh menghabiskan seluruh waktunya untuk menyebut nama kekasihnya. Seseorang yang jelas-jelas mendapat tempat di hati Rasulullah saw. saja, tak rela waktunya hilang tanpa menyirami rasa cinta yang kian waktu kian tumbuh.

Apalagi kita, yang hidup ribuan abad sepeninggal Rasulullah saw. Yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. Yang sangat membutuhkan pertolongan dan belas kasih Rasulullah saw. Apa yang bisa kita lakukan, selain terus memujanya, menyebut-nyebut namanya dalam tiap hirupan nafas, setiap saat, dalam luruhnya doa dan permohonan syafaat?

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

 

Tekad Meneguhkan Sanad

Salah satu dari sekian banyak keistimewaan yang ada dalam agama Isam adalah terjaganya keorsinilan Alqur’an. Karena hampir sebagian besar dalam pengajaran dan periwayatannya, Alqur’an diajarkan melalui periwayatan yang sambung menyambung sampai Rasulullah SAW. Adapun jaminan atas terjaganya keautentikan tersebut sudah menjadi janji Allah SWT sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alqur’an;

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alqur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Sangat berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, contohnya adalah kitab Injil. Dari sejak masa nabi Isa AS, kitab Injil pernah mengalami masa vakum sampai seratus tahun. Dalam jeda waktu yang cukup lama ini sangat besar kemungkinan adanya tindakan distorsi atau tahrif terhadap isi kitab tersebut. Dan hal tersebut ternyata benar adanya, bahkan untuk saat ini segala bentuk perubahan dalam kitab Injil yang ada telah memutuskan status para penganut Injil tidak masuk dalam kategori Ahlul Kitab sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alqur’an.[1] Allah SWT sudah berfirman;

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui,” (QS. Al-Baqoroh; 146).

Demikian juga dalam periwayatan hadis, di dalam menjaga keauntentikan dan kemurniannya, bagi seseorang yang meriwayatkan hadis (Rawi) diharuskan memenuhi berbagai persyaratan yang cukup ketat. Pembebanan syarat tersebut bukan berarti menghalang-halangi dan mempersulit seseorang dalam meriwayatkan hadis, melainkan hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya pemalsuan maupun distorsi. Sanad periwayatan ini memiliki peranan penting dalam menyaring adanya pemalsuan hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Konteks ini sedikit berbeda dengan sanad hadis yang merupakan langkah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi sebuah hadis.

Memahami hal demikian, para ulama sangat berhati-hati dalam menyandarkan sebuah hadis terhadap Rasulullah SAW dan meriwayatkannya, sehingga dalam masalah seperti ini muncul istilah hadis Shahih, hadis Hasan, dan hadis Dhoif dan istilah lainnya dalam pembahasan ilmu Mustholah Hadits. Karena Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam hadisnya;

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah tempatnya di neraka,” (HR. Bukhari).

Sebenarnya, diskursus pembahasan mengenai sanad pernah disinggung dalam Alqur’an;

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaan langit? Bawalah pada-Ku kitab sebelum Alquran ini atau peninggalan (dengan sanad yang shahih) dai pengetahuan (orang-orang terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar,” (QS. Al-Ahqaf: 4).

Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, imam Qurthubi menafsiri kata “au itsarotan min ‘ilmin” dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung.[2]

Dari sini sudah dapat dipahami, kejelasan sanad dan mata rantai yang sambung menyambung dari generasi ke generasi selanjutnya sangat dibutuhkan dan merupakan upaya yang mendesak demi terjaganya warisan keilmuan dari masa ke masa. Urgensitas sanad dalam menjaga kemurnian agama Islam sudah tidak dapat dipungkiri lagi melihat begitu besar sumbangsih dan peranannya. Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik RA berkata;

اَلْاِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْاِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad/sanad adalah bagian dari agama, dan seandainya tidak ada sanad maka seseoarang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin dia katakan”.[3]

Sanad Keilmuan

Banyak sederetan ulama yang mengeluarkan pendapat dan statementnya mengenai masalah pentingnya sebuah sanad,  diantaranya adalah Imam Malik bin Anas RA. Beliau pernah berkata;

اِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْا دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmumu),”.[4]

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang untuk mengamalkan atau menjadikan sebuah argumentasi terhadap suatu pendapat atau keterangan yang tercantum dalam beberapa redaksi kitab. Karena menurut mereka, sanad keilmuan atau periwayatan tak ubahnya seperti periwayatan sebuah hadis. Karena tujuan utama dari adanya sanad keilmuan atau periwayatan adalah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan dan penjelasan yang didapat dari generasi sebelumnya dan untuk generasi selanjutnya.

Salah satu akibat fatal apabila mengesampingkan permasalahan sanad ini adalah munculnya berbagai aliran yang menyimpang. Apalagi di zaman modern yang serba instant seperti saat ini, banyak orang belajar dari buku terjemahan atau situs internet yang tidak jelas kemudian dia memahami dengan akal pikirannya sendiri, sehingga praktek tersebut akan memunculkan ketidaksesuaian dengan maksud sebenarnya atau terkadang salah faham terhadap makna yang dikandungnya. Jadilah pemahaman tersebut menyesatkan dirinya bahkan orang lain.

Mengantisipasi hal yang demikian, metode pembelajaran yang memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas sudah menjadi sebuah keharusan. Untuk mendapat sanad dalam ranah mata rantai keilmuan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah mendengarkan secara langsung (As-Sima’i), membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seorang guru (Al-Qira’ah/Talaqqi), izin seorang guru untuk meriwayatkan atau mengajarkan (Al-Ijazah).

Dengan sanad pula, akan memunculkan kesadaran umat Islam akan pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap seluruh ajaran Islam dengan menetapkan jalur ketelitian dalam kritik maupun analisis yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dengan beegitu, klaim musuh Islam yang selalu membuat keraguan terhadap ajaran Islam dengan sendirinya akan runtuh.

Cukup sudah pengalaman suram yang telah terjadi di masa silam, sudah saatnya umat Islam untuk menyisingkan lengan baju dan benar-benar memperhatikan permasalan sanad yang menjadi ujung tombak dalam menjaga kemurnian syariat tersebut demi terealisasinya pemahaman, pengamalan, dan penyebaran agama Islam secara universal. []. waAllahu A’lam.

____________________________________

[1] Hasyiyah Al-Jamal, juz 4 hal 197, Maktabah Syamilah.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, juz 16 hal 182, Maktabah Syamilah.

[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqadimah Shohih Muslim, juz 1 hal 15.

[4] Syarah Muslim Li An-Nawawi, juz 1 hal 84.

Kamis Legi bersama Kang Said

LirboyoNet, Kediri—Suasana Kamis Legi kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya.Tempat parkir lebih penuh. Kamar-kamar lebih riuh. Pasalnya, para alumni yang ingin hadir dalam pengajian rutin kitab Al-Hikam lebih banyak dari biasanya. Ada beberapa dari mereka sebelumnya jarang ikut.Kebanyakan karena jarak yang jauh. Tapi Kamis pagi itu, mereka seperti telah menyiapkan diri jauh-jauh hari. Bisa karena rasa rindu yang memuncak. Atau sambang kepada sanak saudara yang baru mesantren di sini. Atau barangkali, ada satu peristiwa, yang jarang terjadi, yang tak ingin mereka lewatkan.

Beberapa hari lalu, telah tersiar kabar bahwa Kamis Legi edisi ini, (26/01) akan dihadiri Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA, ketua umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Mungkin ini yang membuat ramai Kamis Legi sekarang,” kira salah satu pengurus pondok. Hal ini kemudian diamini oleh beberapa alumni yang sengaja hadir demi bertemu dengan sosok yang juga salah satu alumni itu. Serambi masjid pun penuh sesak. Masjid Lawang Songo, yang biasanya ditutup, dibuka dan segera diisi oleh para alumni yang ingin mengaji dari dekat.

Setelah kitab Al-Hikam dibacakan oleh KH. M. Anwar Manshur, Kang Said, sapaan akrab beliau, diberi waktu untuk memberikan petuah. “Kita patut bersyukur, kitab Al-Hikam ini masih dibaca oleh para ulama. Ini berarti pondasi Islam kita masih kuat.” Kuat, karena kajian tasawuf, yang menjadi ruh dari kitab yang ditulis oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Atha’illah as-Sakandari ini, adalah kajian yang sangat penting dalam beragama.

“Tasawuf itu tsaurah ruhaniyah. Revolusi spiritual,” ungkap beliau. Dan dalam sebuah revolusi, tidak pernah ada kata kompromi. Jika ingin mendalami tasawuf, menjadi sufi, maka harus ada perubahan total dalam sikap spiritual seseorang.

“Tasawuf bukanlah tentang banyaknya ibadah. Rajin, disiplin dan salat fi awali waqtiha. Mereka yang salat dhuha, tahajud, belum tentu sufi.” Dimensi tasawuf dan syariat berbeda. Hakikat, ilmu yang dipelajari dalam tasawuf, bagaikan pondasi dalam agama. “Syariat adalah genteng, dan temboknya akhlakul karimah,” lanjut beliau. Tasawuf juga bukan akhlakul karimah. Hormat guru, tetangga, ifsya’us salam (menebar salam), birrul walidain (bakti orangtua) adalah hal yang penting. Sangat penting. Namun dalam tasawuf bukanlah hal-hal itu yang dibicarakan. “Yang dinilai (dalam tasawuf) bukan berapa rakaat salatnya, berapa bulan puasanya, berapa kali hajinya, tapi keadaan batinnya. Yang diikhtiarkan oleh seorang sufi adalah mendapatkan kedudukan di depan Allah.” Kedudukan itu adalah seberapa dekat dengan Allah. Lurus atau bengkok, berhadap-hadapan atau bertolak belakang. Dengan tasawuf, hati berusaha diarahkan lurus dan dekat menghadap Allah swt.

Dalam kesempatan itu, beliau juga memberikan pencerahan atas beberapa perkara urgen dalam kajian tasawuf, seperti moral (dlamir). Ia adalah satu dari lima tingkatan hati. “Apa dlamir itu? Moral. Apa fungsinya? Akan mengeluarkan salah satu dari dua kata, if’al atau la taf’al. Do it, atau don’t do that. Kerjakan, atau jangan. Setelah seseorang (dengan bashirah/mata hati) tahu ini baik, maka moral mengatakan ‘lakukan’. Jika bashirah tahu ini jahat, ini salah, korupsi salah, melanggar hukum salah, maka dlamir mengatakan ‘la taf’al’.”

Tingkatan moral, sebut Kang Said, ada tiga level. Pertama, dlamir ijtima’i, atau moral lingkungan. Seseorang akan berprilaku baik hanya karena pengaruh orang-orang sekitarnya. Ketika tidak ada, ia akan diam-diam meninggalkan prilaku itu. Kedua, dlamir qanuniy. Moral pada level ini dipengaruhi oleh seberapa besar timbal-balik yang didapatnya. Mau kerja jika ada diberi gaji. Akan kerja dengan sangat baik jika memang telah ada kontrak yang mengikatnya. Kalau ada rumah kebakaran, misalnya, seseorang pada tingkat moral ini akan bersikap, ‘saya bukan pemadam kebakaran, ngapain saya ikut memadamkan. Kalau saya petugas pemadam, akan saya tangani dengan baik.’

Moral pada tingkatan tertinggi tentu dapat dilihat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Suatu ketika, Abu Thalib menghampiri beliau dan memberi tawaran Nabi saw. untuk berhenti berdakwah. ‘Supaya kamu selamat, tenang.’ Nabi saw. dengan teguh menjawab, ‘Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tak akan meninggalkannya, hatta ahlik, sekalipun aku binasa.’ Moral diniy, moral yang ditakar dengan agama ini, kapanpun, tanpa imbalan, tanpa gaji, tak peduli pengaruh sekitar, ia akan tetap menjalankan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. “(kalau kita) Ada amplop alhamdulillah, kalau ga ada innalillah,” canda beliau diiringi tawa hadirin.

Pengajian Al-Hikam kali itu diakhiri dengan mushafahah, bersalaman antara masyayikh, dan para alumni, termasuk Kang Said. Meski berakhir lebih siang, para alumni tetap meneruskan tradisi yang telah lama mereka lakukan, yakni sowan masyayikh. Mereka dengan sabar mengantri di depan ndalem KH. M. Anwar Manshur untuk sekedar berjumpa dan mendengarkan nasehat singkat dari beliau. Sementara Kang Said, yang pada malam harinya mampir di warung pasar Bandar untuk menikmati penganan malam, pulang bersama rombongan setelah sowan.][