Tag Archives: Rasulullah

Abu Tholhah Menjamu Tamu Rasulullah Saw.

Imam al-Bukhari dan Muslim serta para pakar Hadis yang lain meiwayatkan sebuah hadis yang mengisahkan bahwa suatu hari ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah Saw lalu berkata,

“Wahai Rasulullah, aku dlama keadaan payah.”

Lalu Rasulullah mengirimkan utusan pada isteri beliau untuk menanyakan adakah makanan untuk menjamu tamu. Ternyata tidak tersisa sedikit pun makanan pada siteri beliau.

Lalu beliau menawarkan kepada para sahabatnya,

“Adakah seseorang seseorang yang bersedia menjamu tamuku pada malam hari ini?”

Seorang sahabat dari kaum Anshor yang bernama Abu Tholhah menjawab,

“Saya Rasulullah”

Lalu ia pun membawa tamu tersebut menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah, diam-diam ia menyampaikan kepada isterinya,

“Muliakan tamu Rasulullah, keluarkan makanan-makanan kita,”

Lalu isterinya menimpali,

“Demi Allah, sisa makanan kita hanya tinggal untuk anak-anak saja.”

Mendengar demikian Abu Tholhah menjelaskan kepada isterinya,

“Baiklah, nanti saat anak-anak kita ingin makan malam, ajaklah mereka tidur. Untuk malam ini, padamkanlah lampunya, kita akan menahan lapar demi tamu Rasulullah.” Saat hari sudah gelap, dan penerang sudah dimatikan yang terdengar hanya dentingan sendok yang menyentuh piring dari Abu Thalhah, isteri dan tamunya. Namun dalam gelap malam itu, sebenarnya hanya sang tamu yang menyantap makanan. Tuan rumah sengaja memadamkan lampu agar sang tamu bisa lega menyantap makanan tanpa sungkan karena melihat tuan rumah yang ternyata tidak punya makanan selain itu.

Hari Kasih Sayang, Lima Belas Abad Lalu

Sungguh paradoks. Hari itu seharusnya menjadi hari duka bagi penduduk Makkah. Mereka bakal kehilangan pemuda terbaiknya. Tapi Allah berkehendak lain. Ia jadikan hari itu menjadi hari tak terlupakan oleh mereka: Hari paling bahagia.

Bertahun-tahun seusai menikah, Abdul Muthalib tak kunjung dikaruniai putra. Bangsa Arab di masa-masa sebelumnya mewariskan tradisi nazar untuk hal-hal yang sangat diharapkan. Karenanya Abdul Muthalib merasa perlu melakukannya: Jikalau ia dikarunai putra, sepuluh jumlahnya, akan ia kurbankan putra terakhirnya.

Tahun demi tahun berlalu. Mula-mula ia bergembira. Ia benar-benar dikarunia putra. Satu putra lahir, kegembiraan luar biasa terukir. Satu lagi lahir menyusul kakaknya. Bertambah lagi kebahagiaannya. Hingga kemudian lahirlah Abdullah. Kebahagiaan itu lambat laun berubah kengerian: Abdullah adalah putra yang kesepuluh.

Abdullah tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa tampannya. Budi pekertinya santun, selayaknya putra pemegang kunci Ka’bah. Di masa itu, tak ada perawan yang tak memajang potret tampan Abdullah di hatinya. Bukan hanya klan Quraisy, tapi seluruh perawan Makkah. Abdullah menjelma cita-cita perawan di mana-mana: menjadi pilihan Abdullah sebagai pelabuhan terakhirnya.

Tetapi hari itu tetap tiba. Hari di mana Abdul Muthalib berkehendak menunaikan janjinya: menyembelih salah satu putranya. Berbagai rayuan dihaturkan pada Abdul Muthalib untuk mengurungkan niatnya. Dari keluarga hingga tetangga. Semua berakhir percuma.

Tetapi sungguh. Masyarakat Makkah tak rela pemuda setampan dan sesantun itu meninggalkan dunia ini dengan sia-sia. Abdul Muthalib sebenarnya tak kuasa membunuh Abdullah. Dia putra tercintanya. Tetapi ia bukan orang yang gampang mengingkari janji. Walaupun sebuah janji untuk membunuh anak sendiri. Ia begitu kukuh pada pendiriannya. Sebab sifatnya itulah ia pantas menjadi pemuka masyarakat Makkah.

Tetapi kaum Quraisy yang enggan kehilangan pangeran terbaiknya itu menawarkan hal yang tak bisa ditolak Abdul Muthalib.

“Wahai Abdul Muthalib. Apa yang kau perbuat ini justru akan memperburuk watak kaummu. Mereka akan menganggap pembunuhan ini sebagai perbuatan yang wajar, ‘Toh, pemimpin kita juga melakukannya’. Dan apa yang akan terjadi tahun-tahun kemudian? Mereka akan terbiasa memenggal anak kandungnya. Kau ingin kaum kita mewariskan tradisi seperti ini?”

Dan pada akhirnya hati Abdul Muthalib perlahan luluh. Apalagi kaum Quraisy juga menawarkan win-win solution. Sebagai pengganti kepala Abdullah, Abdul Muthalib dipersilahkan untuk menyembelih seratus unta. Ia terima itu.

Kabar batalnya pengurbanan Abdullah itu tersiar cepat. Maka bergembiralah seantero Makkah. Tak terkecuali seseorang di sudut rumah sana. Perempuan muda yang tak kalah tenarnya dengan Abdullah. Dialah Aminah.

Rumahnya sangat dekat dengan bukit tempat Abdul Muthalib melaksanakan kafaratnya. Ketika Aminah di dalam kamar dan berusaha meredam suka hatinya, di detik yang sama Abdul Muthalib memandang ke arah rumahnya.

“Ibu, untuk apa pemuka Bani Hasyim itu datang ke sini?” Pikirannya bertanya-tanya ketika Abdul Muthalib dipersilahkan ayahnya masuk ke dalam rumah. Tentu saja bersama Abdullah.

Beberapa saat kemudian sang ayah menyusul ke kamar. “Ia datang untuk melamar engkau, Aminah. Sebagai istri bagi anaknya, Abdullah.”

Wahab bin Abdi Manaf, sang ayah, segera kembali ke ruang tamu. Menjamu sang tamu agung. Ia meninggalkan Aminah yang hatinya sedang meluap-luap bahagia. Begitu bahagianya ia. Dadanya yang tak kuat menahan letupan-letupan itu ia tangkupkan ke dada ibunya. Sulit baginya percaya bahwa pemuda idaman Makkah itu memilih dirinya.

Kabar rencana pernikahan ini menyebar ke seantero Makkah. Turut bahagialah mereka. Bagi masyarakat Makkah, pernikahan ini adalah pernikahan yang sempurna: Abdullah diidam-idamkan pemudi Makkah, dan Aminah adalah puncak harapan pemuda-pemudanya.

Jika Abdullah adalah lambang ketampanan Makkah, Aminah adalah lambang kecantikannya. Jika Abdullah mewakili ketangguhan, Aminah adalah tauladan keanggunan. Jika Abdullah simbol budi pekerti, Aminah adalah pemudi dengan kesucian hati.

Maka wajar jika pesta pernikahan itu diselenggarakan Makkah sangat lama: tiga hari beserta malamnya.

Seusai pesta itu, Aminah diboyong ke rumah suaminya. Rumah yang sederhana. Bagi Aminah, dan bagi siapapun yang hidup bersama kekasih hatinya, sesederhana apapun rumah tangga jauh lebih indah daripada istana manapun di dunia.

Innaha Fathimah al-Zahra. Dr. Muhammad Abduh Yamani. Muassasah Ulum al-Quran, Beirut.

Penulis : M. Hisyam Syafiqurrahman santri Lirboyo

Asal Sidoarjo

Makan Siang Rasulullah

Dalam suatu perjalanan, Rasulullah saw. beserta para sahabatnya berhenti di suatu tempat untuk beristirahat dan makan siang. Beliau memerintahkan para sahabat untuk menyembelih seekor kambing dan mempersiapkannya.

Mendengar itu, seorang sahabat berkata, “Biar aku yang menyembelihnya”

Yang lain menimpali, “Aku yang mengulitinya.”

Seorang sahabat lagi berkata, “Aku yang memasaknya”

Melihat hal tersebut, Rasulullah pun berkata, “Aku yang akan mencarikan kayu bakar dan menyalakan apinya untuk kalian”

Mendengar perkataan Rasulullah demikian, tentu saja para sahabat tidak rela sang junjungannya sampai ikut repot mempersiapkan makanan.

“Tidak usahlah baginda merepotkan diri seperti itu, biar kami saja yang mencari kayu dan mempersiapkan apinya.

Demi mendengar permintaan para sahabatnya itu, Rasulullah menjawab,

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin melebih-lebihkan diriku diantara kalian dan terlalu bergantung kepada orang lain. Karena, sungguh, Allah tidak mencintai kepada hambanya yang gemar melebih-lebihkan diri dan suka bergantung kepada orang lain.”*

Padahal beliau sudah mulia sejak sebelum dunia diciptakan, namun itulah diantara atom percikan Khuluqin ‘Adzim yang Allah swt firmankan dalam kitab-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

 “Sungguh engkau benar-benar berbudi pekerti luhur.”

*Diterjemahkan dari kitab Muhammad al-Insan al-Kamil, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani hal. 171.

Dahsyatnya Ayat Kursi

Dikisahkan pada zaman Rasulullah Saw.  ada kejadian yang mengusuik ketenangan sebuah masjid. Dimana, di masjid itu terdapat tempat menyimpan harta sedekah dari orang-orang muslimin. Namun, beberapahal terjadi pencurian harta oleh seseorang yang tak dikenal.

Karena kejadian itu terus berlarut, akhirnya bilal bin Rabah salah seorang sahabat Nabi Saw merasa geram dan menyelidiki siapa gerangan yang sampai berani mengambil harta milik kaum muslimin itu.

Suatu malam Bilal bin Rabah melihat sosok makhluk yang datang ke masjid  dan mengambil harta, namun ketika diikuti tiba-tiba menghilang. Esoknya lagi, rasa penasaran Bilal menuntunnya untuk membuntuti pencuri itu. Akhirnya malam itu Bilal berhasil menangkap pencuri itu.

Ketika tertangkap, pencuri itu ditanyai oleh Bilal, namun tidak mau menjawab. Akhirnya dengan tegas Bilal berkata; “Andaaikan kamu tidak mau mengaku, maka kamu akan aku adukan pada Rasulullah!” kata Bilal. Orang itu pun lantas meminta dengan memelas kepada Bilal agar tidak diadukan kepada Rasulullah, “Jangan kau adukan aku kepada Rasulullah,” Pintanya seraya memelas.

Ia pun mengaku bahwa ia sebenarnya jin yang menyamar. Dan ia berpesan kepada Bilalagar ia tidak diadukan kepada Rasulullah dan memberinya amalan agar tidak diganggu oleh jin dan sebangsanya.

“Bacalah ayat kursi sebanyak tujuh kali, setiap akhir ayat bacalah tujuh kali mengahadap tujuh penjuru. Maka aku dan bangsaku tidak akan bisa menganggu kalian,” Kata jin tersebut. Setelah itu jin tersebut menghilang dan tak pernah kembali.

Selang beberapa hari, Bilal menceritakan kejadian tersebut kepada Raulullah Saw. lantas beliau Nabi membenarkan bahwa diantara faidah ayat kursi adalah  membentengi diri dari gangguan jin dan sebangsanya.

Berikut bacaaan ayat kursi tersebut,

اللَّهُ لا إِلٰهَ إِلّا هُوَ الحَيُّ القَيّومُ ۚ لا تَأخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَومٌ ۚ لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الأَرضِ

مَن ذَا الَّذي يَشفَعُ عِندَهُ إِلّا بِإِذنِهِ ۚ يَعلَمُ ما بَينَ أَيديهِم وَما خَلفَهُم ۖ وَلا يُحيطونَ بِشَيءٍ مِن عِلمِهِ

إِلّا بِما شاءَ ۚ وَسِعَ كُرسِيُّهُ السَّماواتِ وَالأَرضَ ۖ وَلا يَئودُهُ حِفظُهُما ۚ وَهُوَ العَلِيُّ العَظيمُ

dibaca ditempat-tempat yang ingin debentengi, semisal toko atau rumah setiap selesai salat subuh dan maghrib, secara istiqomah (terus menerus) insyaAllah, biaunillah terijabahi.

Ketika Cicit Rasulullah saw. Dicaci Maki

Sayyidina Ali Zainal Abidin, salah satu cicit Rasulullah saw., pada suatu hari baru saja keluar dari masjid. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tiba-tiba menghadangnya. Lelaki itu lantas mencela dan mencaci-makinya.

Melihat kejadian itu, serta merta para budak dan fakir miskin yang berada di sekitar tempat itu menghambur dengan maksud memberi pelajaran kepada lelaki tersebut. Namun Sayyidina Ali Zainal Abidin mencegahnya dan berkata, “Bersikap lembutlah kalian!”

Lalu, Sayyidina Ali Zainal Abidin kembali menghadap lelaki tadi dan dengan lemah lebut berkata, “Kekurangan kami yang tak engkau ketahui masih banyak. Saudaraku, apakah engkau punya kebutuhan yang bisa kami bantu?”

Lelaki itu pun merah wajahnya menahan rasa malu. Kemudian Sayyidina Ali Zainal Abidin memberinya gamis yang ia kenakan, juga mengatakan titah untuk memberinya seribu dirham.

Sejak saat itulah, setiap lelaki itu bertemu dengan Sayyidina Ali Zainal Abidin, ia selalu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau salah seorang putra (cicit) Rasulullah saw.

 

_____________

Disarikan dari kitab Shifat as-Shafwah, vol. II, hal. 100