Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

ilmu-kritik-hadis

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Penulis: Khoirul Umam

Penulisan sejarah memiliki akar kuat dalam peradaban Islam. Sejak era sahabat, hadis Nabi Saw, yang merupakan kabar dari masa lalu, telah diseleksi ketat untuk diriwayatkan. Meski hadis-hadis nabi beserta metode kritiknya (ilmu musthalah al-hadis / naqd al-hadis) baru dikodifikasi sekitar abad 2 hijriyah.

Dari embrio ilmu kritik hadis tersebut, kisah-kisah sejarah sepanjang peradaban Islam—bahkan pra-Islam, dibukukan oleh sejarawan Muslim. Fakta historis itu, tak seperti yang diklaim Jabiri bahwa sejarah dengan metode kritik matan (interpretasi sumber sejarah) adalah hal baru yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun. Juga tak sesuai dengan apa yang dikatakan Arkoun yang mengatakan sejarah tak memerlukan rantai sanad, yang urgen hanyalah kritik matan.

Meski kaidah ilmu hadis tak mudah diimplementasikan dalam menyeleksi sumber sejarah, tetapi historiografi (penulisan sejarah) menggunakan metode ilmu hadis bukan berarti tak dapat diupayakan. Mari kita buktikan, apakah ilmu hadis mempengaruhi penulisan sejarah?

Pengaruh penulisan sejarah dalam ilmu hadis

Jika diamati, banyak sumber-sumber tertulis sejarah Islam tak menyantumkan riwayat. Kalau pun ada, tidak dapat dipastikan semua rantai periwayat sejarah itu absah menurut ilmu hadis. Inilah akar masalah yang terjadi jika ingin membenturkan ilmu hadis dalam sejarah.

Tetapi upaya penyelesaian masalah ini dapat dicairkan melalui kaidah ilmu hadis berupa: “hadis dloif tidak boleh digunakan sebagai landasan hukum syariat dan permasalahan akidah, seperti sifat-sifat Allah SWT. Tetapi hadis dloif dapat digunakan untuk fadloilul ‘amal dan kisah.”

Jika hadis Nabi yang dloif legal sebagai referensi sebuah kisah, maka kisah sejarah dengan jalur penyampaian lemah, legal juga untuk dijadikan sumber sejarah. Yang terpenting adalah menjaga jarak, agar hadis dan kisah sejarah yang dloif (lemah) tidak digunakan sebagai sumber sejarah dari hal-hal yang berkaitan dengan syariat; seperti sejarah Nabi, Khulafau Rasyidin dan para sahabat.

Alasan kisah sejarah yang memiliki sumber lemah tak lagi berarti. Terlebih banyak sejarawan Muslim ternyata bukan ‘manusia suci’ dalam bidang hadis; sebut saja Al-Waqidi, Muhammad bin Ishaq, dan Saif bin Umar. Beliau bertiga bukan tokoh kompatibel dalam urusan hadis, meski ketiganya adalah tokoh sejarawan besar Muslim.

Karena pendekatan kaidah seputar hadis dloif di atas adalah wajar apabila Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan, “Muhammad ibnu Ishaq adalah pemimpin periwayat kisah-kisah perang, meski ia seorang Mudalis (meriwayatkan hadis yang memiliki kelemahan) ,” “Riwayat hadis al-Waqidi ditinggalkan, meski ilmunya begitu luas”, dan “Saif bin Umar lemah dalam hadis, namun karyanya dapat dijadikan pegangan dalam sejarah.”

Yang menguatkan pendapat Ibnu Hajar adalah pujian Ibnu Khaldun akan kepakaran sejarah al-Waqidi dan Ibnu Ishaq. Meski Ibnu Khaldun sendiri tak luput mengkritik beberapa kisah sejarah yang keduanya ceritakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.