HomeArtikelMenyingkap Keabsahan Halal Bi Halal

Menyingkap Keabsahan Halal Bi Halal

0 3 likes 138 views share

Saat idul fitri telah tiba, seluruh umat Islam menyambutnya dengan suka cita. Betapa tidak, pada hari itu umat Islam merayakan hari raya setelah satu bulan penuh melakukan amal ibadah puasa Ramadhan. Segala aktivitas, tradisi, kebiasaan, adat istiadat banyak dilakukan oleh masyarakat di saat hari raya Idul Fitri tiba.

Mayoritas masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum hari raya Idul Fitri tersebut untuk berkumpul dan bersilaturrahim bersama keluarga, sanak saudara, teman, tetangga dan lain sebagainya. Selain itu, dalam kesempatan itu pula mereka saling meminta dan memberi maaf atas segala perbuatan atau kesalahan yang telah terjadi di antara mereka. Biasanya tradisi tersebut dikemas dalam acara yang sering disebut Halal bi Halal. Sebuah upaya untuk saling memberikan kerelaan dan saling memaafkan di antara umat Islam.Tidak dapat dipungkiri segala tradisi dan aktivitas tersebut merupakan penyempurna ibadah penyucian diri di bulan Ramadhan.

Sebagai manusia biasa, manusia tak kan pernah terlepas dari sebuahh kesalahan. Maka dari itu, syariat selalu memberi peringatan agar senantiasa melakukan taubat dalam setiap kesalahan yang diperbuat. Salah satu dari macam-macam klasifikasinya, perbuatan dan kesalahan manusia ada yang bersifat haqqul adami. Yaitu kesalahan yang diperbuat di antara sesama manusia. Dan satu-satunya cara untuk keluar dari dosa yang semacam ini ialah dengan melakukan permohonan maaf terhadap seseorang yang telah tersakiti.[1] Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Begitu juga anjuran untuk saling memaafkan, begitu banyak untaian kalimat dari hadis Rasulullah SAW akan hal itu. Salah satunya ialah hadis yang cukup populer di kalangan umat Islam yang berbunyi:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ , إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tiadalah dari dua orang Islam yang berjumpa lalu saling bersalaman, melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” [2]

Dalam acara Halal bi Halal, silaturrahim adalah suatu aktivitas yang terpisahkan. Salah satu kegiatan yang menjadi perekat ikatan persaudaraan dan kekeluargaan ini hampir tidak pernah terlewatkan saat hari raya Idul Fitri tiba. Silaturrahim dianjurkan terhadap siapapun, tanpa memandang siapa orangnya. Terlebih lagi mereka yang masih memiliki ikatan darah kekeluargaan, tetangga, kerabat, terlebih lagi orang-orang saleh.

Bahkan dalam kaca mata syariat, silaturrahim mendapatkan apresiasi luar biasa dari syariat. Silaturrahim menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Begitu banyak hadis yang telah menjelaskan keutamaan ibadah tersebut. Salah satunya ialah:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (Muttafaq ‘Alaihi)[3]

Walhasil, tradisi Halal Bi Halal merupakan manifestasi dari hadis Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk silaturrahim dan saling memaafkan sesama umat Islam. Terlebih lagi di saat momentum hari raya Idul Fitri yang menjadi penyempurna dari ibadah di bulan Ramdhan. Sehingga, buah kebaikan yang dihasilkan dari tradisi Halal Bi Halal tidak hanya sebatas memperkuat ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. Namun lebih dari semua itu, termasuk mempersempit adanya perpecahan dan semakin memperkuat persatuan umat Islam. []waAllahu a’lam

 

__________

[1] Siraj at-Thalibin, I/162

[2] Al-Jami’ as-Shahih, VIII/11

[3] Shahih Bukhari, III/56, atau Shahih Muslim, IV/1982, Maktabah Syamilah