31 views

Narasi Tak Berending

Oleh: Adinda Husnu*)

Apalah hendak meminta, jika takdir telah berkuasa, jauh sebelum mereka saling bersua. Harapan-harapan itu tak ubahnya bayang-bayang yang kemudian hilang tanpa terpandang. Dia telah men-skenario begitu indahnya hingga belum ia tahu seketika itu juga. Saat apa yang terencana harus berhenti di atas puing-puing ketakberaturannya. Harus ia katakan “iya” untuk sesuatu yang tak ia mengerti sebelumnya.

Seseorang tiba-tiba datang sebagai dosen biologi baru, yang entah kenapa tiba-tiba pula ditentukan sebagai pembimbing skripsi akhirnya. Ia yang awalnya nggrundel karena merasa, mana mungkin dia segera mengerti tradisi kampusnya, yang lain dari pada yang lain. Tapi ternyata, waw…jauh di luar dugaannya. Orang baru itu begitu supel, ramah, mudah beradaptasi, murah senyum dan satu lagi yang membuat ia terpukau, cendekiawannya ibarat Einstein di zaman ini.

Tak heran pula jika ia menyematkan idola berat padanya, dan entah sejak kapan ia memindah haluan itu menjadi sebuah rasa yang ia sendiri tak mau menamakannya sebagai rasa apa. Rasa gado-gado mungkin, atau…entahlah. Ia tak tergesa-gesa menyimpulkannya. Masa bodoh, yang jelas ia semangat mengerjakan tugas akhirnya menuju kata wisuda.

“Terima kasih, Mister. Akhirnya skripsinya selesai dalam waktu yang singkat. Dan hasilnya…cukup membanggakan, Mister hebat,” ujarnya sore itu di koridor kampus, berjalan beriringan menuju parkiran.

“Ah, tidak. Saya hanya membantu sedikit. Justru semangat dan kesungguhanmulah yang menentukan semua ini. Kamulah yang hebat. Selamat ya…,” ia merendah. Ia membalik kalimat mahasiswi bimbingannya. Ialah mahasiswi pertama yang ia bimbing saat ia baru saja direkomendasikan di kampus yang baru saja ia diami sejak tiga bulan yang lalu.

“Tidak, Mister. Semangat dan inspirasi itu dari Mister. Saya hanya mengembangkannya sesuai arahan Mister,” ia masih menyangkal. Tak mau memungkiri pembimbingnyalah yang lebih hebat.

“Tapi semua tetap dari usaha kerasmu, Saya hanyalah perantara,” seseorang itu masih saja merendah, tak mau menampakkan cendekianya. Kemudian ia membelok mencari kendaraannya lalu membawanya pulang seraya tersenyum tanda sapa mahasiswi pertamanya yang ia juga membalasnya manis.

*****

“Kami gak bisa menolaknya, Yafa,” ujar ibunya di malam itu.

Ia hanya terdiam, tertunduk dalam, mengerti akan dibawa ke mana arah kalimat itu nantinya. Ia sudah tak punya pilihan. Orang tuanya sudah mengatakan “iya” atas hidupnya yang akan ia jalani di kemudian hari. Ia hendak memberontak andaikan ia tak teringat bagaimana ia digembleng sejak kecil untuk beradab pada orang tua. Dan ia hanya mampu berpasrah. Harapan-harapan itu kembali melambung, menirwana bersama mimpi yang ia tahu bukan untuknyalah narasi itu. Padahal ia baru saja merangkai dan belum sempat mengungkapkan kepada orang tuanya, tapi skenario berpihak lain.

“Dia orang baik, orang tuanya pun juga baik, tak ada alasan untuk berkata tidak,” ujar beliau lagi. Dia semakin menunduk, mencoba menahan air mata sejak tadi, tapi nihil, ia sudah hampir tersedu. Diusapnya perlahan seraya menenangkan diri.

“Aku ngikut saja apa kata ibu, tapi kalau boleh jujur, aku telah menyayangi seseorang. Ia adalah orang baru dalam kampusku yang juga sebagai pembimbingku. Aku sering menemuinya untuk ia arahkan sesuatu yang terbaik untuk skripsiku. Ia juga sering menemaniku melakukan penelitian-penelitian langsung untuk mendukung ujian akhirku. Hingga setelah misi itu usai, kami masih sering bertemu. Saat itulah rasa ini mengalir apa adanya tanpa aku paksa. Bukan pintaku untuk memiliki rasa pada orang seperti dia, tapi ruang dan waktulah yang mendorongku untuk memiliki sesuatu itu. Pucuk di cinta, ulam pun tiba, dengan apa adanya pula ia pun menyambut rasaku. Dan kami telah mempunyai rencana, Bu. Rencana yang hanya tinggal rancangan, hanya terungkapkan tanpa terpenuhinya harapan-harapan yang terkandung di dalamnya.”

Ia kembali terdiam, tangisnya tumpah. Tapi ia lega. Baru kali ini ia jujur tentang perasaannya pada seseorang. Meski hanya sekedar terungkap, meski hanya sekedar pemberitahuan. Ya…hanya sebatas itu, tak kurang. Selebihnya ia tak tahu. Akan ia enyahkan secara paksa atau ia biarkan begitu saja.

“Yafa…,” kakak iparnya mendekat, mengusap punggungnya melas. “Biarlah perasaan itu mengalir apa adanya dari hatimu. Jangan kau paksa untuk kau lupakan, karena itu akan semakin menambah beban dan menyakitimu. Mbak tahu apa yang kamu rasakan, karena mbak juga pernah merasakan sepertimu. Tapi kamu juga harus mulai sadar dan tahu, sebatas mana kamu menempatkannya lagi dalam hatimu. Toh itu adalah rasa terindah, biarlah menjadi masa lalu yang indah,” tutur kakak iparnya bijak. Ia hanya menyarankan apa yang apa yang ia lakukan dulu saat hal yang sama memenuhi pilihannya.

“Dan untuk saat ini, cobalah kamu menerima apa yang sebelumnya tak kamu mengerti. Kamu sudah terikat Yaf,” berat rasa kakaknya mengucapkan kalimat terakhir itu, tapi ia harus mengucapkannya. Ia masih menunduk, masih dengan air matanya.

“Tugasmu sekarang hanya satu, birrul walidain.” Kalimat itulah yang selalu terngiang dalam pikirannya. Pesan kakaknya yang kerap diucapkan untuk menasehatinya. Ya…ia akan mencoba menerima keputusan itu dengan dalih, kapan lagi akan membahagiakan orang tuanya yang tak jarang selalu ia repotkan dengan tingkah bandelnya. Kapan lagi lagi ia bisa menyunggingkan senyum di hati orang tuanya saat ia belum sempat membalas jasa-jasa mereka selama ini. Ia tak mau membuat air mata dalam hati keduanya dengan mengatakan “tidak”, mengingat usia mereka yang mulai renta.

Kembali untuk bertekad, ia tak hendak memberontak, meski hatinya belum bisa berdamai. Ia akan mencoba menyemikan ranting yang ia sendiri pun masih berusaha untuk menumbuhkannya.

*****

Tujuh hari ia mengabaikan sapanya, bahkan ia selalu menghindar saat seseorang itu berusaha mendekat dan ingin membicarakan sesuatu. Ia juga tak mengindahkan pesan singkat dan telepon darinya. Tidak, sebenarnya ia hanya berusaha tak peduli. Bertubi-tubi pertanyaannya datang, seiring itu pula ia diam. Tak hendak membalas. Mencoba berdamai meski sering tumbang dengan tekad yang ia buat sendiri.

Setelah berpikir berulang kali, dengan ditemani Alizza, sepupunya, akhirnya ia memutuskan untuk menemuinya di taman kota. Siang itu, baru kali inilah ia berani menemuinya paska penuturan orang tuanya tentang perjodohan itu.

Dengan langkah gontai, ia dan sepupunya berjalan mendekati tempat yang telah ia janjikan. Terlihat samar, seseorang telah duduk di sana, menunggu.

“Apa kabar Mister?” tanya Yafa setelah mereka mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Alizza masih ikut serta menengahi pertemuannya dengan seseorang itu.

“Harusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu?” tanyanya serius, masih tak mengerti dengan sikap Yafa padanya tujuh hari terakhir ini.

“Aku hanya mengumpulkan keberanian untuk menemui Mister. Dan…hendak mengungkapkan semuanya,” Yafa mulai berujar pelan.

“Sebenarnya ada apa, tho?” Tanyanya lagi. Mulai tak sabar. “Kamu tak hendak mengatakan rasamu padaku sudah hilang, kan?”

“Biar Mister terbiasa dengan sikapku yang seperti ini. Karena, seterusnya akan tetap seperti ini. Biar tak terlalu ada harapan, meski pada dasarnya akulah yang terlalu berharap. Tapi tidak untuk setelah ini, juga tidak untuk hari-hari yang akan datang. Karena sebulan lagi pernikahan itu akan digelar,” berat ia mengungkapkan kalimat-kalimat ini.

“Pernikahan?” Tanya seseorang itu, memastikan dan berharap bukan “iya” lah yang menjadi jawabannya.

Ia mengangguk pelan. Seseorang itu menatapnya tak percaya. Ada semburat kecewa di wajahnya.

Hening, semuanya terdiam. Alizza berkutat dengan ponselnya. Mencoba tak peduli, meski ia mendengar dengan jelas, but…no comment. Ia hanya mengabulkan permintaan sepupunya, menemaninya menemui seseorang itu, hanya sekedar menemaninya atas permintaan paksanya. Kalau bukan karena itu, ia lebih memilih diam di rumah sambil mendengarkan musik kesukaannya.

“Mister selalu mengatakan, kan? Berbuat baik pada orang tua adalah segalanya. Mister juga selalu mengatakan, tak ada suatu hal yang indah selain restu dari mereka. Perjodohan ini sudah lama diputuskan jauh sebelum kita saling menyapa. Dan hal ini baru aku tahu seminggu yang lalu. Mungkin dengan inilah aku membuahkan senyum di hati kedua orang tuaku, meski masih tetap tak sebanding dengan perjuangan mereka, yang membesarkanku hingga sampai detik ini. Meski pula masih tahap mencoba menerima. Keputusanku tak salah kan?”

Seseorang itu terdiam, masing terngiang kalimatnya barusan, dan masih merangkai kata untuk menuturkan pendapatnya.

“Tidak, lakukan perintahnya, selama itu bukan hal yang perlu dibantah. Aku mencintaimu karenaNya, aku lepas kau karenaNya pula,” ujar seseorang itu tenang, setenang air tanpa arus. Ya…dia mencoba setenang itu. Meski hatinya jauh dari kata tenang, bergumul melawan perasaannya sendiri, meniti mimpi yang akan ia rajut bersamanya dulu, saat pertemuan di taman kota ini, belum terbersit menjadi nyata. Dan semuanya harus kembali ia redam. Ia biarkan berpuing-puing berantakan, memandang kenyataan yang tak berpihak dengan harapannya.

“Saat cinta tak bisa bersatu, biarlah teman yang menjadi penawar. Kau ingat kalimat itu, Yaf?” Seseorang itu telah menguasai hatinya. Mulai meraba apa yang menimpanya. Bukan diratapi, tapi untuk diselesaikan.

“Iya, masih,” ia berujar pelan.

“Aku rasa teman akan jauh lebih nyaman. Dan atas nama teman, aku ucapkan selamat. Semoga ini lah yang terbaik,” seseorang itu tersenyum, meski samar-samar masih terlihat guratan kecewa di sana.

Ia pun juga mencoba tersenyum, meniti perasaannya seakan semua akan baik-baik saja. Padahal sejak tadi hatinya tersedu, dan akan semakin terasa sakit saat ia bertekad untuk tak membiarkan titik-titik air mata itu mengalir memenuhi lesung pipinya. Ia berusaha tegar, meski hatinya telah tumbang tak terperikan.

Angin berhembus pelan, menerpa dawai hati yang masih terdiam, menelisik alur yang kian tak teratur dan mulai berpasrah saat tak menemukan ujung yang akan mempersatukan mereka. Resah gelisah yang tadi menyandera perasaan masing-masing tumpahlah sudah, dan berbalut saling merelakan. Tak ada hal yang lebih indah selain menerima takdirNya dengan ikhlas.

*****

Seseorang itu duduk termenung dengan membolak-balikkan undangan yang baru saja ia terima. Hatinya berkecamuk tak tentu. Dua nama yang sama-sama ia kenal dan sama-sama pernah menjadi orang terdekatnya. Abda Syauqi Fika -Kaka-, teman seperjuangannya dari kecil yang nyaris mereka tak bisa dipisahkan saat masih sekoah dulu. Lidiya Fakhrina -Yafa-, seorang perempuan nan lemah lembut yang berhasil membuat kejora dengan harapan-harapan indah di hatinya. Tapi baru saja ia melepas mimpi-mimpi itu demi sesuatu yang ia rasa memang harus seperti itu.

Nama merekalah yang terlukis indah di atas undangan pernikahan yang kini ia pegang. Dua kenyataan yang membuatnya tercengang sekaligus. Seseorang yang menurutnya spesial harus ia relakan untuk temannya sendiri yang sebelumnya tak pernah disangkanya. Bahkan ia baru saja tahu pada hari ini juga.

Sebegitu sempitkah dunia ini? Ia menarik nafas dalam. Cukup sudah, biarlah menjadi kenangan, biarlah menjadi narasi tak ber-ending. Hingga entah sampai kapan akan terpelihara atau bahkan terlupakan tanpa terasa. Rencana itu tak ubahnya rangkaian-rangkaian tanpa hasil akhir. Ibarat daun yang mulai bersemi, tiba-tiba meranggas karena tercabut dari akarnya. Karena tetap Dia-lah yang menentukan segalanya.

*) Santri Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.