Tag Archives: agama

Larangan Memaki Agama Lain

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang telah digariskan Allah Swt., tak terkecuali perbedaan agama, keyakinan dan kepercayaan. Demi terciptanya keamanan dan kehidupan yang harmonis, agama Islam memberikan aturan-aturan yang berkaitan dengan sikap toleran antar umat beragama. Di antaranya ialah larangan untuk mencela atau mencaci maki hal-hal ‘sakral’ agama dan kepercayaan pihak lain. Dalam al-Qur’an, Allah Swt. telah berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 108)

Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut Allah Swt melarang Rasulullah Saw dan seluruh umat Islam untuk mencela dan memaki sesembahan orang-orang musyrik. Karena dari celaan dan caci-maki itu akan berpotensi menimbulkan dampak negatif yang lebih besar, yakni serangan caci-maki dari orang-orang di luar Islam.[1] Sebagaimana peristiwa asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tersebut.

Apabila dinalar sesuai tabiatnya, manusia memiliki naluri dasar akan kepercayaan fundamental. Tak heran, manusia akan sangat mudah terpancing emosinya apabila agama atau kepercayannya disinggung. Karena pada dasarnya agama bersemi dari dalam hati penganutnya. Di sisi lain, hati adalah sumber emosi. Lain halnya dengan pengetahuan yang lebih mengedepankan akal dan pikiran. Karena itulah seseorang dengan mudah mengubah pendapat ilmiahnya akan tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya, walaupun bukti-bukti kekeliruan telah jelas di hadapannya.

Di satu sisi, yang dihasilkan dari mencaci-maki adalah suatu keburukan. Caci maki hanya menimbulkan sifat antipati terhadap pelakunya. Sangat tak pantas apabila hal itu dilakukan oleh umat Muslim yang semestinya menjaga lidah dan tingkah lakunya.

Perbedaan menjadi sebuah keniscayaan yang sulit dipungkiri. Apabila tidak ada kesadaran akan hal itu, niscaya perbedaan akan selalu dibenturkan. Bahkan berpotensi menyulut api konflik antar golongan. Sehingga sikap toleran dan saling menghormati merupakan kunci utama dalam membangun kehidupan yang harmonis, aman dan tentram di tengah perbedaan yang ada. []WaAllahu a’lam


[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, vol. II hlm. 314.

Di Sudut Peta Kehidupan

Liku kehidupan memang tidak bisa dihindari. Sebagai makhluk sosial, manusia sudah seharusnya berinteraksi dengan yang lain baik sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Dalam hal ini, berarti manusia sudah seharusnya bisa mengetahui keadaan sosialnya seperti: dia siapa, dimana dan harus bagaimana. Artinya, dia harus paham letak dirinya dalam peta dan pola kehidupan yang sedang terjadi. Ini rumus dasar kehidupan yang sudah semestinya dijalankan oleh tiap-tiap individu.

Dalam kaitannya dengan status mahluk sosial, setidaknya interaksi manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga. Yang pertama adalah manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia lalu manusia dengan mahluk lainnya atau alam.

Untuk interaksi manusia dengan alam, hal itu terlihat dengan bukti adanya lembaga-lembaga khusus untuk fokus menangani dan menjaga kelestarian alam. Alam sendiri memang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di belahan dunia mana pun. Dingin salju, terik matahari di gurun, angin pantai, tornado yang melanda Florida, kekeringan, banjir dan beberapa hal yang ada adalah salah satu dinamika alam yang menuntut tanggap-sikap yang tepat.

Untungnya hal itu adalah perkara yang masuk ruang nalar walaupun terkadang terlalu jauh untuk menjangkaunya. Memang keanekaan ragam seolah menjadi sulit untuk menembusnya dan menyatukan dalam batas-batas. Walau demikian, hal itu tidak sampai mengganggu kerangka emosi dan pikiran manusia pada umumnya. Jika di bandingkan dengan kasus interaksi manusia dengan manusia, kiranya dalam permasalahan ini akan bertolak belakang disebabkan faktor yang bermacam macam.

Kesadaran manusia tentang statusnya sebagai makhluk sosial, ini membuatnya berusaha menciptakan kaidah kaidah berbaur dengan sesama melalui para cendekia, pemikir, para ahli yang tertuang lewat tradisi dan budaya pada tiap masa dan lingkungannya; Dan pada gilirannya otomatis akan  timbul perbedaan aturan dan gaya baur mereka. Sederhananya, setiap pergaulan mempunyai budayanya masing-masing.

Sebagai contoh, jika ada pemuka adat jawa  datang di suatu acara, maka sebagai rakyat biasa sudah seharusnya duduk atau setidaknya agak membungkukkan badan seraya menundukkan kepala sebagai simbol penghormatan untuk pemukanya. Lain dari itu, etnis arab justru akan berdiri jika ada tokoh yang menurutnya harus dihormati. Ini menunjukkan jika dalam bersikap banyak terpengaruh oleh tradisi yang melekat pada individunya.

Melihat rumusan analisa ini, sudah sewajarnya ada perkara yang pasti timbul dalam ruang kehidupan. Yaitu, perbedaan. Disini literasi dan pengetahuan mutlak diperlukan guna melangsungkan pemahaman yang sesuai dengan tradisi sosial yang bersinggungan dengan budaya bahkan agama.

Sebagai contoh, sudah seharusnya pemeluk agama islam menggali ajaran islam demi kelangsungan hidup yang tidak menembus batas norma-norma yang telah di tentukan. Miris, banyak pihak yang mengedepankan literasi yang sebenarnya disadari atau tidak, hal itu kurang sesuai dengan keadaan individualnya. Mengapa banyak yang mengedepankan ideologi-ideologi yang dalam penerapannya terlihat tabu dan bahkan menjadi sumber huru-hara. Hal ini memberikan kesan seolah-olah literaturnya begitu sempit.

Sebagai muslim, sudah seharusnya menggali pengetahuan melalui literaturnya. Sebagai rakyat Jawa misalnya, sudah semestinya belajar tradisi Jawa melalui literaturnya sehingga tidak tercampur aduk yang pada gilirannya akan menghantarkan pada batas semu antara ajaran agama dan tradisi.

Berbicara soal masalah, orang dengan standar nalar sehat akan meminta bantuan pada pakarnya jika orang tersebut kurang dan tidak mampu menghadapi. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat al-Anbiya’ ayat 7 :

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Maka bertanyalah kepada orang yang tahu jika kamu tidak tahu”

Orang akan pergi ke bengkel, kiai, penjahit dan pakar lain sesuai kebutuhan.

Namun akhir-akhir ini prinsip tadi terlesan begitu jarang terlihat. Dalam permasalahan agama banyak pihak mendadak menjadi pakar agama, begitu pun dalam hal-hal lainnya. Pendeknya, yang terjadi sekarang adalah “Tontonan jadi tuntunan, tuntunan hanya jadi tontonan,” lebih-lebih dizaman medsos yang meraja ini; Siapa viral, dia jadi panutan. Maka muncullah panutan-panutan atau ‘ulama-ulama’ dadakan yang kapasitasnya masih belum jelas atau bahkan diragukan. Oleh karenanya, kita harus teliti menyikapi keadaan yang semakin lucu ini, tidak mudah terseret dalam arus medsos dsb. Malu bertanya sesat di jalan. Orang Jawa bilang: “Sopo tekun golek teken bakal tekan”. Wallahu a’lam.

Penulis: M. Ibnu Najib, santri Ma’had Aly PP. Lirboyo semester VII asal Magelang.

Muharram dalam Sudut Pandang Budaya Jawa

Dalam kalender Islam (Hijriyah), bulan Muharram merupakan bulan pertama. Urutan tersebut bukan berarti tanpa alasan, karena pada kenyataannya terdapat banyak keistimewaan yang ada di dalamnya. Hal ini dibuktikan dalam beberapa hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya. Salah satunya adalah hadis yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahu itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati,  tiga bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab, terdapat diantara bulan Jumada al-Akhirah dan Sya’ban”.[1]

Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa bulan Muharram tergolong bulan yang dimuliakan. Dalam penjelasannya, salah satu bukti kemuliaan Muharram ialah umat Islan zaman dahulu dilarang melakukan peperangan di bulan tersebut.[2] Bahkan jauh sebelum masa itu, peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam terjadi di bulan Muharram, seperti Nabi Nuh diselamatkan Allah swt. keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan, Nabi Ibrahim diselamatkan Allah swt. dari pembakaran Raja Namrud, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara dan peristiwa-peristiwa besar lainnya.

Dengan beragam kandungan sejarah yang ada di dalamnya, tak ayal lagi bahwa terdapat beberapa amaliah sunah yang dianjurkan pada bulan Muharram. Seperti puasa Tasua’ (9 Muharram) dan ‘Asyura (10 Muharram), menyantuni anak yatim, melapangkan nafkah keluarga, dan bersedekah.

Meskipun demikian adanya, bulan Muharram sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain, salah satunya adalah bulan suci Ramadhan. Karena di dalam bulan Ramadhan, keseluruhan tradisi dan amaliah yang ada di masyarakat masih bisa dianggap murni syariat. Ibadah puasa, salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid dan lain sebagainya merupakan tuntutan syariat semata.

Hal tersebut sangat berbeda dengan bulan Muharram, karena amaliah dan tradisi yang telah mengakar di masyarakat sudah beraroma kebudayaan. Dengan artian, akulturasi syariat dan budaya sangat terasa kental di dalamnya. Salah satu bukti nyata adalah kebudayaan masyarakat Jawa. Mereka menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Suro. Masyarakat Jawa menganggap bulan Suro (Muharram) memiliki aura dan nilai magis yang cukup tinggi. Sehingga mereka memiliki beberapa ritual khusus di dalamnya, diantaranya adalah ritual larung sesaji, memandikan pusaka atau keris, Tapa Bisu, sesajen para Danyang, dan lain sebagainya.

Melihat realita budaya yang demikian adanya, umat Islam memiliki cara pandang atas langkah yang harus diambil. Jika terdapat sebuah budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipertahankan,  maka Islam akan mempertahankannya. Atau jika budaya tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syariat akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya.

Tindakan dan cara tersebut telah dicontohkan Rasulullah saw. dalam strategi dakwahnya. Kedatangan Rasulullah saw. memiliki misi meluruskan norma-norma yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid di samping melestarikan budaya masyarakat Arab yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.[3] []waAllahu a’lam

 

________________

[1] Shahih Al-Bukhari, IV/107.

[2] Umdah al-Qori’, XXI/149, CD Maktabah Syamilah.

[3] Hujjah Al-Balighah, juz 1 hal 284.

Ratusan Santri An-Nuriyah Surabaya Kaji Buku Fikih Kebangsaan

Surabaya – Sabtu, 08 September 2018, Sepanjang sejarahnya, Indonesia tidak pernah sepi dari tantangan. Karenanya, penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda menjadi penting dilakukan. Seperti yang dilakukan pesantren ini dengan membedah buku Fikih Kebangsaan karya tim bahtsul masail Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo).

 

Bedah buku diselenggarakan di Yayasan Pondok Pesantren Putri An-Nuriyah (YPPP An-Nuriyah) Wonocolo Surabaya. Tiga ratus lebih peserta yang mayoritas mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya terlihat antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung Jumat (7/9) malam ini.

 

Hadir sebagai pembicara adalah Ustadz Ahmad Muntaha AM sebagai salah seorang tim penyusun buku. Juga Maya Shovitri, alumnus Universitas Bremen, Jerman dan KH Agus Fahmi selaku Pengasuh An Nuriyah sebagai pembanding.

 

“Dalam konteks sekarang, pengaruh kondisi geopolitik dunia dan upaya mengimpor konflik Timur Tengah ke Indonesia menjadi tantangan yang tidak bisa diremehkan,” kata Ustadz Ahmad Muntaha. Ini bukan ilusi, karenanya penguatan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan, lanjutnya.

 

Alumni Uinsa Surabaya ini juga menegaskan, di alam demokrasi, kritik dan oposisi terhadap pemerintah memang merupakan hal lumrah, namun demikian harus dilakukan dengan nilai akhlakul karimah. “Imam Ahmad dulu juga pernah diprovokasi dan dihasut untuk melawan pemerintah, namun beliau tegas menolaknya,” jelas alumni Pesantren Lirboyo Kediri tersebut.

 

Sementara Maya Shovitri membagikan pengalaman studi selama enam tahun di Jerman. “Meski lama hidup di negeri yang berbeda kultur, kecintaan terhadap tanah air tidak boleh luntur,” kata Kasubdir Admission dan Mobiliti/Direktorat Hubungan Internasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.

 

Dirinya juga menegaskan, bahwa Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan negeri terbaik dan terindah yang layak dibanggakan.

 

Di sisi lain, KH Agus Fahmi menyinggung pentingnya menjaga tradisi dan budaya khas Nusantara. “Bahkan banyak ritual agama yang sebenarnya berangkat dari budaya masyarakat,” katanya.

 

Ia kemudian mencontohkan bagaimana kegiatan aqiqah di mana awalnya merupakan tradisi masyarakat jahiliyah yang kemudian dilestarikan menjadi ajaran agama. “Setelah sebelumnya diselaraskan dengan nilai-nilai Islam,” jelasnya.

 

Kegiatan berlangsung seru, khususnya kala memasuki sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan kritis disampaikan peserta pada acara yang dimedoratori Alaika Muhammad Bagus tersebut.

 

sumber : NUonline

Yang Aku Tahu

Yang aku tahu

Aku Ridlo Allah Tuhanku

Aku Bangga Indonesia Ibu Pertiwiku

Berbagai macam Bahasa ras dan suku

Berbagi bersama dalam bangsa yang satu

Sebagai bukti kedahsyatan citaanMu

Bentangan laut hamparan pulau

Bumi yang harum serta dedaunan hijau

Menjadi simbol keindahan sifat-Mu

 

Yang aku tahu

Aku Ridlo Islam Agamaku

Aku Kagum Indonesai Negaraku

Sopan santun tutur kata bangsaku

Lembut mengurai makna direlung kalbu

Aku diajarkan untuk selalu menjagamu

Lantunan merdu dalam celoteh alammu

Bak syair merdu titipan pewujudku

Aku terpanggil oleh-Nya untuk setia padamu

 

Yang aku ahu

Aku Ridlo Muhammad Nabiku

Aku takjub padamu Indonesia tanah airku

Lantunan takbir menjaga setiap jengkal tanahmu

Puja bangsamu seakan enggan melepasmu

Ibarat buah hati yang terselimuti pelukan ibu

Bila kau ada disini jaga warisan moyangmu

Indahnya tradisi dan kalam ilahi bersatu

Ibarat pelangi beda warna indahnya berpadu

 

Oleh : KH. Reza Ahmad Zahid

 

Kontributor, Majalah El Mahrusy