Kisah hidup Nabi Muhammad ﷺ selalu menyentuh hati kaum Muslimin. Setiap tindakannya mendapat bimbingan langsung dari Allah melalui wahyu, sehingga langkah-langkah beliau penuh makna, pesan moral, dan hikmah bagi umat Islam. Salah satu contohnya adalah turunnya ayat tentang kesempurnaan agama, yang juga menjadi tanda bahwa wafatnya Rasulullah ﷺ sudah dekat.
Baca Juga: Idul Adha Pertama Kali di Masa Rasulullah
Ramadhan terakhir Rasulullah
Pada tahun 10 H, saat bulan Ramadhan tiba, umat Islam semakin giat beribadah dengan beriktikaf di malam hari. Namun, tahun itu berbeda—Rasulullah ﷺ beriktikaf selama 20 hari, dua kali lebih lama dari biasanya. Setiap malam, Malaikat Jibril datang dan membacakan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali, bukan sekali seperti biasanya. Dari semua tanda itu, Rasulullah pun merasakan bahwa waktunya untuk berpulang sudah semakin dekat.
Pengumuman keberangkatan ibadah haji
Setelah Ramadhan usai, Rasulullah ﷺ mengumumkan rencana pelaksanaan ibadah haji bersama rombongan besar. Mendengar kabar tersebut, kaum Muslimin di Madinah pun berbondong-bondong ikut serta hingga jumlah mereka mencapai sekitar 90 ribu jamaah—angka ini bahkan belum termasuk kaum Muslimin yang telah berada di Mekah.
Baca Juga: Agus Ibrahim Ahmad Hafidz; Keistimewaan Malam Jumat
Peristiwa di Arafah
Beberapa rangkaian ibadah haji telah beliau laksanakan beserta para jamaah. Pada tanggal 8 Dzulhijjah beliau berangkat menuju Mina—dan bermalam di sana. Esok harinya rombongan menuju Arafah, sebuah lembah luas, 30 mil sebelah timur Mekah di luar perbatasan tanah suci. Di bumi Arafah inilah, beliau berkhutbah dengan begitu panjang yang mana petuah-petuah beliau bisa kita rasakan hingga sekarang. Salah satu isi khutbah beliau bisa klik di sini.
Turunnya ayat kesempurnaan agama islam
Pada hari itu pula, turun sebuah ayat yang oleh baginda Nabi bacakan dalam salah satu isi khutbah beliau, yaitu:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS. Al-Maidah ayat: 3)
Perbedaan pendapat mengenai waktu turunnya ayat
Meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini turun ketika peristiwa penaklukkan kota Mekah, tapi menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menegaskan bahwa pendapat yang sahih itu turun pada hari Jumat (hari Arafah) setelah Ashar dalam peristiwa haji wada’ tahun 10 Hijriyah. [Baca: Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah), 6/61].
Dan yang lebih istimewanya lagi, menurut Sahabat Ibnu Abbas bahwa pada hari itu terdapat 5 hari raya umat beragama; Jumat dan Arafah untuk umat islam, hari raya orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Dan ini, tidak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya. [Baca: Al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, (Beirut: Dar Ihya at-Turats), 2/12].
Arti “kesempurnaan agama” pada ayat tersebut
Adapun maksud dari “telah sempurna agama” pada ayat tersebut, menurut Al-Baghawi bahwa: ” Maksud ‘Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian’ —adalah penyempurnaan terhadap kewajiban-kewajiban, sunah-sunah, hukum-hukum, jihad, aturan-aturan, yang halal dan yang haram. Maka setelah turunnya ayat ini tidak ada lagi yang halal atau haram yang diturunkan, begitu pula tidak ada lagi kewajiban, sunah, hukum, atau aturan baru yang diturunkan. Inilah makna dari perkataan Ibn Abbas ra.”
Baca Juga: Peristiwa Haji Wada’
Tangisan Abu Bakar
Di sisi lain, ketika Nabi ﷺ membaca ayat ini kepada para sahabat, mereka sangat gembira dan menampakkan kegembiraan yang luar biasa — kecuali Abu Bakar ra. Beliau justru menangis.
Oleh karena itu, ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab: ‘Ayat ini menunjukkan bahwa wafatnya Rasulullah ﷺ sudah dekat, karena setelah kesempurnaan itu tidak ada lagi selain kehancuran (atau: berakhirnya sesuatu).’ Maka hal ini menjadi bukti akan sempurnanya ilmu Abu Bakar As-Siddiq, karena ia menangkap makna tersembunyi dari ayat ini yang tidak ditangkap oleh sahabat lain.”
Ini menggambarkan kedalaman pemahaman Abu Bakar ra., yang mampu melihat isyarat akan wafatnya Nabi ﷺ di balik ayat yang tampaknya membawa kabar gembira. Sebuah pemahaman yang tidak biasa dan menunjukkan tingkat kepekaan spiritual dan kecerdasan yang tinggi. [Baca: Imam ar-Razi, Mafatih al-Ghaib,(Beirut: Dar Ihya at-Turats), 11/28].
Baca Juga: Sejarah Kurban: Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim yang Diselewengkan
Turunnya ayat sebagai tanda dekatnya ajal Baginda Nabi
Beberapa hari setelah turunnya ayat itu, Nabi Muhammad menghadap keharibaan Sang Khaliq, bahwa titah Tuhan atas beliau benar-benar telah mencapai kesempurnaan. Hal ini sebagaimana ungkapan Imam ar-Razi dalam tafsirnya:
“Para ahli atsar (perawi sejarah) berkata: Ketika ayat ini turun kepada Nabi ﷺ, beliau tidak hidup lebih dari delapan puluh satu atau delapan puluh dua hari setelah turunnya ayat tersebut. Sama sekali tidak ada tambahan, tidak pula penghapusan atau perubahan dalam syariat setelah itu sama sekali. Hal ini merupakan isyarat bahwa Nabi ﷺ diberitahu tentang dekatnya ajal beliau — dan itu merupakan berita tentang hal gaib, maka termasuk mu’jizat.”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





