3 views

Berfikir (dulu) Lagi

Syahdan, Abu Nawas didatangi seorang pemuda yang menggerutu karena rumahnya sempit bukan main. Cuma tiga kali empat, isinya empat kepala. Dia, sang istri, dan dua anak tercinta. Abu Nawas hanya ringan saja menghadapi masalah pemuda ini. Abu Nawas berkata, “Tak perlu dibesar-besarkan, kalau kamu mau ikut saranku, rumahmu akan jadi luas.” Tapi si pemuda tak lantas percaya, takut-takut yang dibicarakan Abu Nawas adalah masalah biaya. “Bukan, aku bahkan tak minta memugar rumahmu. Tidak satu jengkalpun,” Abu Nawas menambahkan.

Mungkin si pemuda berpikir, “Bagaimana caranya punya rumah yang nyaman dengan gratisan?” 
“Pinjam ayam ke tetanggamu. Taruh di rumah kamu. Bilang saja kalau kamu mau ikut kasih makan dia. Kamu mau tinggal sama dia sementara.” Si pemuda tercenung tak percaya. Apa-apaan ini? Pikirnya. “Jadi pingin punya rumah nyaman ndak?” Kalimat Abu Nawas terakhir ini meyakinkan pemuda tadi. “Kalau sudah, tiga hari lagi kamu ke sini. Kasih tahu perkembangannya seperti apa.”

Malam berlalu, siang bergulir, tiga hari yang dijanjikan buat si pemuda telah tiba. Bukannya rumah nyaman yang didapatkan, rumah si pemuda makin keruh, suram, mendung, dan buram. Pemuda ini protes. Lagi-lagi Abu Nawas hanya menanggapi dengan ringan dan makin berwibawa. “Hmm, itu bagian dari proses mas. Biasa aja lah. Sekarang kamu pinjam lagi seekor angsa. Tempatin berpasangan sama ayam tetangga kamu itu. Jangan lupa kasih dia nama. Si Desi.” Pemuda tadi seperti disambar petir di siang bolong. Sebenarnya Abu Nawas ini konsultan atau akuntan sih? Pikir pemuda tadi. Masak sih aku disuruh ‘ngingu’ angsa, dikasih nama pula?

Melihat mimik pemuda mulai ragu, Abu Nawas meyakinkan, “Masih pingin punya home sweet home apa ndak?” Bagai jurus maut, pemuda itu akhirnya mengangguk, -okelah kalau begitu-. “Jangan lupa, lima hari lagi kamu ke sini.”

Lima hari bagaikan lima tahun, pemuda tadi mulai merasa menyesal sudah konsultasi ke Abu Nawas. Alih-alih masalahnya tandas, cobaan hidupnya justru terasa makin pedas. Sambil membawa kayu balok, dia kembali ke Abu Nawas. Dan seperti sebelumnya, Abu Nawas justru semakin cool, “Sabar… Sabar.. Satu langkah lagi, rumahmu bakal mirip istananya Erdogan yang di Turki itu.”

Bisa saja Abu Nawas ini meredakan emosi, sehingga si pemuda dingin kepalanya. Tapi, ketika dia tahu apakah langkah terakhir yang harus ia kerjakan, si pemuda hampir pingsan dibuatnya. “Kamu pinjam kambing tetangga, terus rawat deh tuh, seminggu paling lama.”

Kalau orang di depannya bukan Abu Nawas, tentu balok kayu tadi sudah melayang. Aku ke sini mau mengurangi masalah, bukan nambah masalah. Pikir pemuda tadi. Aku tak lungo wae. “Ingat lho mas, Istana Erdogan itu kaya apa, ada kolam renang pribadinya. Kalau lebih beruntung, mungkin rumahmu bisa hampir mirip pelataran kuil Nabi Sulaiman yang terkenal itu.” Cuma pelataran? Pemuda tadi bereaksi. “Ya udah, mirip Altarnya deh…,” sambil merengut, pemuda tadi harus bilang ia, mau tak mau. Ia pulang ke rumah. Sekali lagi, penonton kecewa.

Daun berguguran, ranting berjatuhan, seminggu bagaikan sewindu. Hari berganti namun waktu seolah terhenti. Lama sekali pemuda menanti, hari pembalasan akhirnya datang juga. Mana janjimu! Katanya rumahku bisa jadi mirip Istana, minimal Haghia Sophia lah, tapi mirip WCnya pun tidak. Pemuda tadi mencak-mencak. “Gini mas, yang namanya manusia bisa salah. Sekarang coba deh, mas kembaliin ayam yang mas pinjam. Bilangin terima kasih dari Abu Nawas ke empunya. Biar mas lebih tenang.” Awas kalau ini kagak berhasil! Umpat pemuda tadi. Aku bakal pakai jalur kekerasan. Aku gak perduli tuh sama Komnas HAM. “Jangan lupa balik lagi ya mas, dalam tiga hari. Senin depan.”

Tiba-tiba matahari langsung tenggelam, tak sabar lagi akan datangnya hari Senin. Tak mau ngantri sama hari Ahad dan Sabtu, Senin datang mencolot—Tiga hari ini secepat kilat. Si pemuda wajahnya sumringah, bukan parang, bukan golok, kali ini dia membawa rambutan sebagai oleh-oleh. “Benerkan, sekarang udah lega kamu.” Ia sudah mending daripada kemarin. Aku dan anak istri sekarang bisa tidur bareng tanpa bau ayam broiler. “Udah mirip sama yang di Cikeas kan rumah kamu?” Bukan Cikeas, tapi di Jalan Cendana. “Besok kamu kesini lagi, lima hari. Setelah kamu kembaliin si angsa.” Si pemuda melongo, Haruskah kukembalikan si Desi? Aku udah mulai akrab sama dia.

Setelah berpisah dengan Desi si Angsa, rumah pemuda itu terasa makin luas sekarang. Mirip yang di Washington DC. Gubuk putih, bukan gedung putih. Dengan wajah berbinar pemuda itu kembali lagi. Ia mengucap beribu terimakasih kepada Abu Nawas. Atas jasanya yang tak terhingga dalam mengubah rumahnya menjadi semakin nyaman. “Gak perlu berlebihan, mas, saya cuma melakukan tugas saya. Kita kan juga harus saling membantu tanpa pamrih. Tapi, ehmm, rambutan yang kemarin enak juga.”

Sebelum pamit, Abu Nawas tak lupa berpesan kepada pemuda tadi, “Besok seminggu lagi main ke sini yah? Saya pingin tahu perkembangan istana sampeyan. Jangan lupa kambingnya di kembaliin dulu. Takutnya keburu beranak.”

Dan rumah tiga kali empat itu sejatinya tak berubah. Tak bergeser satu senti meterpun. Tak berubah cat, apalagi masuk acara bedah rumah. Tapi rasanya menghuni rumah sesederhana itu bagaikan menghuni yang di Ctespion itu. Iwan Kisra, istana putihnya raja Yazdigrid III. Yang ada hanya tawa setelah si kambing pulang ke rumah majikannya.

Pada hari terakhir si pemuda bertandang ke kediaman Abu Nawas, dia membawakan satu tandan pisang penuh sebagai oleh-oleh. Andaikan aku yang menggubah lagu pahlawan tanpa tanda jasa, pasti lagu itu aku persembahkan unukmu Abu Nawas, begitu kesan si pemuda.

Abu Nawas menunjukkan kepiawaiannya merendah, “Ah, aku bukan siapa-siapa, mas…. Aku juga tidak ngapa-ngapain ‘kan?” Dia menambahkan, “Sebenarnya apa yang kita dapat sekarang, apa yang kita alami sekarang, apapun bentuknya, bagaimanapun rasanya, adalah yang terbaik yang dianugerahkan-Nya kepada kita, mas… Rumah mas yang kecil kalau pandai-pandai sampeyan syukuri sudah merupakan pemberian besar. Kadang kita hanya kurang melihat ke bawah saja. Apa yang kita dapatkan, tentunya apa yang pantas kita terima. Banyak orang pengen jadi tentara mas, teman-teman saya yang tukang sayur dulu ada ingin jadi tentara. Begitu mereka udah jadi tentara, mereka bilang tentara itu pekerjaan paling menjengkelkan, yang tak pernah pulang lah, bertaruh nyawa lah, yang gak bisa tidur nyenyak lah, Paling enak jadi tukang sayur kaya dulu, bisa tiap hari pulang, tidur nyenyak, makan bergizi.” Kalau Abu Nawas sudah asyik dengan mau’idzoh, pemuda itu hanya bisa diam. Apa yang dikatakan Abu Nawas terjadi padaku. Pikir pemuda itu. Aku ingin punya rumah nyaman, ternyata rumah paling nyaman adalah rumahku kemarin.

“Gini mas, Ada juga temanku yang pengen jadi artis. Katanya biar bisa terkenal, muncul di televisi, dan dimintai tanda tangannya. Nah, pas dia dah jadi artis, dia pingin mbalik lagi jadi orang biasa, katanya paling nggak enak itu jadi artis. Yang dikejar-kejar papparazi lah, digosipin ibu-ibu melulu lah, gak bisa tenang hidupnya pokoknya…. Maksud saya, kita harus pandai-pandai bersyukur mas…. Tak usah pingin ini itu, kayak gini kayak gitu, sebenarnya kalau kita bisa melihat apa yang kita miliki sekarang dengan positif, itulah yang terbaik buat kita mas.” Abu Nawas mengakhiri petuahnya dengan kalimat sederhana. Sementara jauh diatas sana, langit masih terdiam seribu bahasa. [wf]

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.