HomeKonsultasiJasa Qurban Online

Jasa Qurban Online

0 1 likes 267 views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Perkembangan zaman yang semakin maju sedikit banyak telah merubah pola pikir masyarakat untuk lebih mudah dalam segala hal, bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Salah satunya adalah dengan berqurban melalui jasa penerima dan penyalur kurban yang banyak bermunculan saat ini.

Dengan mentransfer sejumlah uang dari salah satu pilihan yang ditawarkan, pihak yang berqurban berarti menyerahkan sepenuhnya urusan yang berkaitan dengan qurbannya. Salah satu contoh adalah untuk satu ekor kambing cukup mentransfer 1,75 juta, dan untuk satu ekor sapi 12,25 juta. Pertanyaan, bagaimana pandangan fikih mengenai praktek jasa penyedia Qurban online tersebut?, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb.

Praktek jasa qurban online yang beredar sekarang ini merupakan salah satu konsep Wakalah (perwakilan) berqurban. Dengan artian, seseorang yang berqurban (Mudhahhi) telah mewakilkan kepada pihak penerima jasa atas segala urusannya yang berkaitan dengan qurban, mulai dari pembelian, penyembelihan, pendistribusian daging, dan lain sebagainya.

Praktek mewakilkan qurban tersebut dapat dibenarkan dalam kaca mata fiqih. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya:

  1. Seseorang yang berqurban diharuskan niat berqurban saat menyerahkan uangnya kepada wakil. Untuk praktek ini, pihak wakil tidak disyaratkan niat lagi. Namun bisa juga dia mewakilkan urusan niat, sehingga yang harus niat hanya dicukupkan kepada wakil.[1]
  1. Sebenarnya, pendistribusian daging qurban hanya ditentukan pada daerah tempat tinggal seseorang yang melakukan qurban. Namun bisa mengikuti pendapat shahih (benar) dalam kitab Kifayah Al-Akhyar yang mengatakan diperbolehkan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain.[2]

Kasus ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek mewakilkan qurban dengan mentransfer uang dari Indonesia ke Mekah untuk dibelikan hewan qurban di Mekah dan disembelih serta didistribusikan disana. Menurut Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam fatwanya mengatakan bahwa ibadah qurban dengan praktek demikian dihukumi sah. [3]

Referensi:

[1] Hasyiyah Al-Qulyibi, juz 4 hal 254, cet. Al-Haromain.

[2] Kifayah Al-Akhyar, juz 2 hal 704, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[3] Hasiyah I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 380.