Tag Archives: Online

Jasa Qurban Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Perkembangan zaman yang semakin maju sedikit banyak telah merubah pola pikir masyarakat untuk lebih mudah dalam segala hal, bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Salah satunya adalah dengan berqurban melalui jasa penerima dan penyalur kurban yang banyak bermunculan saat ini.

Dengan mentransfer sejumlah uang dari salah satu pilihan yang ditawarkan, pihak yang berqurban berarti menyerahkan sepenuhnya urusan yang berkaitan dengan qurbannya. Salah satu contoh adalah untuk satu ekor kambing cukup mentransfer 1,75 juta, dan untuk satu ekor sapi 12,25 juta. Pertanyaan, bagaimana pandangan fikih mengenai praktek jasa penyedia Qurban online tersebut?, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb.

Praktek jasa qurban online yang beredar sekarang ini merupakan salah satu konsep Wakalah (perwakilan) berqurban. Dengan artian, seseorang yang berqurban (Mudhahhi) telah mewakilkan kepada pihak penerima jasa atas segala urusannya yang berkaitan dengan qurban, mulai dari pembelian, penyembelihan, pendistribusian daging, dan lain sebagainya.

Praktek mewakilkan qurban tersebut dapat dibenarkan dalam kaca mata fiqih. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya:

  1. Seseorang yang berqurban diharuskan niat berqurban saat menyerahkan uangnya kepada wakil. Untuk praktek ini, pihak wakil tidak disyaratkan niat lagi. Namun bisa juga dia mewakilkan urusan niat, sehingga yang harus niat hanya dicukupkan kepada wakil.[1]
  1. Sebenarnya, pendistribusian daging qurban hanya ditentukan pada daerah tempat tinggal seseorang yang melakukan qurban. Namun bisa mengikuti pendapat shahih (benar) dalam kitab Kifayah Al-Akhyar yang mengatakan diperbolehkan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain.[2]

Kasus ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek mewakilkan qurban dengan mentransfer uang dari Indonesia ke Mekah untuk dibelikan hewan qurban di Mekah dan disembelih serta didistribusikan disana. Menurut Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam fatwanya mengatakan bahwa ibadah qurban dengan praktek demikian dihukumi sah. [3]

Referensi:

[1] Hasyiyah Al-Qulyibi, juz 4 hal 254, cet. Al-Haromain.

[2] Kifayah Al-Akhyar, juz 2 hal 704, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[3] Hasiyah I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 380.

Pahala dan Dosa Saling Gencet di Internet

Komunikasi lewat dunia maya itu telah digandrungi semua lapisan masyarakat, khususnya para remaja. Penyebabnya adalah internet yang menjajakan, menjanjikan, sekaligus menyajikan banyak kemudahan. Mulai dari e-mail (electronic mail), chatting, browsing, face book, twitter, dan lain-lain. Dengan internet, komunikasi di seluruh dunia bisa berlangsung hanya dalam hitungan detik. Gratis pula.

Walau begitu, sebagai warga Indonesia yang beragama harus menyadari bahwa kemajuan apapun yang telah dicapai manusia di bidang teknologi jangan sampai melalaikan aspek moral. Kita harus tetap mempertimbangkan baik buruknya berinternet. Sebab, teknologi itu sifatnya netral. Bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Tergantung niat pemakainya. Itulah rumus yang berlaku di bidang teknologi.

Demikian juga internet. Kita bisa memanfaatkannya untuk media dakwah secara tertulis maupun dalam bentuk video dan audio. Kita dapat mengirimkan karya tulis ke berbagai media massa di seluruh penjuru dunia dengan layanan e-mail. Naskah kita bisa sampai ke komputer redaktur media massa yang nun jauh di sana hanya dalam hitungan detik. Gratis pula!

[ads script=”1″ align=”center”]

Kita bisa menjalin hubungan internasional dengan orang mancanegara. Juga bisa memperoleh informasi terbaru dari berbagai belahan dunia dari situs-situs yang menyediakan berita. Juga dapat menggali ilmu pengetahuan dan penemuan iptek, kesehatan, dan lain-lain. Masih banyak lagi nikmat internet yang bisa kita reguk kapan pun kita mau. Itulah anugerah Tuhan yang Maha Pemurah kepada kita dalam bentuk internet. Alhamdulillah.

Di sisi lain, internet juga menyimpan bongkahan keburukan. Karena sifatnya yang tanpa batas, internet bisa dijadikan ajang obral informasi mesum dan gambar-gambar porno. Bisa juga untuk menyebarluaskan berbagai modus operandi kejahatan. Misalnya, membobol bank dan kartu kredit, transaksi PSK remaja, teknik meracik bom yang pernah dipraktekkan oleh almarhum Imam Samudra, dan tindak kejahatan lainnya. Na’uuzubillah!

Pada akhirnya, baik buruknya pemakaian internet tergantung pada nawaitu pemakainya. Di internet, tidak ada pilih kasih antara yang baik dan buruk. Tidak ada seleksi mana pahala dan dosa. Tak ada filter mana yang benar dan salah. Mau yang baik, ada. Ingin yang buruk, juga tersedia. Baik dan buruk saling mendesak satu sama lain. Pendek kata, pahala dan dosa saling gencet di internet.

Nah, sebagai warga Indonesia yang masih kuat memegang moral, terutama nilai-nilai religi, kita harus selalu ingat bahwa Tuhan itu tidak pernah tidur dan sangat teliti perhitungannya. Bagi umat Islam misalnya, penting memperhatikan firman Allah swt. dalam Al Quran surat Az Zalzalah ayat 7 dan 8. Isinya, apa pun yang kita lakukan, pasti kita akan memperoleh balasannya. Maka, kalau kita mempergunakan internet dengan niat baik dan kita laksanakan dengan baik pula, pasti Dia akan menganugerahi pahala. Sebaliknya, jika menyalahgunakan internet untuk kemungkaran, kejahatan, kezaliman, atau bentuk keburukan lainnya, maka pasti Dia akan menghukum kita karena telah berbuat dosa. Pahala dan dosa kita selama berinternet akan ditimbang-Nya dengan sangat adil walaupun seberat dzarrah (atom) sekali pun!

Oleh karena itu, tiada jalan lain supaya aman dan bermanfaat dalam berinternet, baik di dunia maupun di akhirat, kita harus memiliki prinsip moral dan agama yang kuat. Biar pun pahala dan dosa saling gencet di internet, ajaran Tuhan harus tetap bersemayam di hati. Kita harus tetap memergunakan parameter atau tolok ukur yang Dia tetapkan dalam menentukan baik-buruk dalam berinternet. Patokan dasarnya sudah ada, yaitu kita harus berniat untuk berbuat baik dalam berinternet serta melaksanakan niat baik itu selama berselancar dalam internet.

Kita memang dituntut lincah berbelok, bahkan menikung tajam, tatkala bersurfing di internet. Terutama jika sudah kemasukan gambar-gambar porno maupun informasi mesum lainnya yang sering sengaja dimasukkan penyedia jasa internet. Pada saat seperti itu, kita dituntut tegas dan tangkas mengalihkan kursor komputer ke arah tanda “X” di pojok kanan atas untuk menutup informasi sesat tersebut. Jangan malah bingung, linglung, melamun, bersikap bodoh, atau malah mencoba-coba membukanya. Jika yang terakhir ini yang dipilih, maka kita akan kerasukan info laknat tersebut. Lama-lama kita ketagihan untuk melihat, menatap, memandang, dan terus memperhatikan, bahkan mempraktekkannya. Na’uuzubillah!

Maka, selama berinternet, hati kita harus tetap lekat dan lengket dengan Tuhan. Dialah Pengendali terbaik dalam menuntun diri kita selama berinternet. Ingat, benang merah sebagai pembeda baik dan buruk sudah sangat tipis di internet. Pahala dan dosa sudah demikian serunya saling gencet di internet. Tinggal tergantung kita jualah yang harus pandai-pandai menyiasati dan memanfaatkan internet hanya demi kebaikan semata.

Nah, kalau bisa memetik pahala yang melimpah ruah dengan mudah dari internet, mengapa kita malah bersusah payah menuai gencetan dosa dari internet? Sayang, bukan?

Penulis, Saiful Asyhad