Ketulusan Mbah Yai Manab Berenang di Selat Madura Dan Apa Yang Harus Santrinya Contoh?

Pahami pergeseran maknanya: Ketika masyarakat menyebut nama besar Kopaska, nyaris hal yang seketika muncul adalah kisah-kisah menakjubkan yang mengelilingi fisiknya.

Lomba Berenang Selat Madura yang Sempat Vakum Tujuh Tahun

Hari ulang tahun Kopaska yang ke-62 tahun ini mendadak bikin gaduh dunia maya. Bukan karena parade kapal perang, bukan pula karena aksi demo pasukan katak yang bikin jantung dag-dig-dug. Tapi karena satu lomba: berenang nyebrang Selat Madura, finish di Surabaya. Ingat, ini lomba berenang! Netizen tentu nggak tinggal diam. Di kolom komentar Instagram panitia, humor-humor satir langsung berseliweran: “Start di Madura, finish di akhirat.” dan “Hadiah 100 juta. 25 juta buat rumah sakit, sisanya buat tahlilan 7 hari.” Ada-ada saja. Memang, medsos kadang jadi tempat stand-up comedy gratis.

Tapi faktanya, lomba ini bukan asal bikin sensasi. Fin Swimming Selat Madura sejatinya tradisi lama. Event tahunan, sempat vakum tujuh tahun, dan kini bangkit lagi. Tahun 2025 ini, 850 perenang tangguh beradu nyali menaklukkan 4,7 km lautan yang tak ramah. Jalurnya dijaga SAR, start di Dermaga Kamal, finish di Koarmada II Ujung, Surabaya.

Namun, dalam kehebohan peringatan lomba ini, penulis merasa penting untuk merenungi kembali makna “menyeberangi selat” itu sendiri. Apakah warisan terbesar dari penyeberangan ini semata-mata terletak pada medali, hadiah, dan rekor fisik? Atau justru pada sesuatu yang lebih dalam, lebih rasional, namun sering kali luput kita sadari: warisan intelektual dan spiritual yang menyeberangi waktu?

Baca juga: Mengapa Lailatul Qadar Dirahasiakan? Ini Hikmah Terbesarnya Menurut Ulama!

Simbol Kagum dan Krisis Nalar Abad Ke-21

Inilah yang penulis sebut sebagai pergeseran dari penyeberangan hissiyah menuju penyeberangan aqliyah. Dari kisah-kisah keajaiban fisik dan kecepatan, menuju kajian tentang warisan keilmuan dan tradisi intelektual pesantren. Dalam tradisi kompetisi modern dan masyarakat yang haus sensasi, penyeberangan hissiyah—yakni penyeberangan yang bersifat lahiriah dan bersandar pada pencapaian fisik yang kasat mata—memang memiliki peran penting. Ia menjadi semacam “bahasa keajaiban” yang memperkuat keyakinan masyarakat awam akan kemampuan fisik manusia.

Kisah-kisah ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari ekspresi kekaguman, dan pengakuan terhadap ketinggian stamina serta persiapan seorang atlet. Bahkan, kalimat komentar seorang peserta lomba renang tersebut, “Bukan soal uang, tapi tentang bersahabat dengan alam. Obat bahagia tanpa dosis. Jangan menua tanpa cerita,” menjadi bukti bahwa penyeberangan hissiyah tidak hanya menghidupkan lomba, tetapi juga memperkuat posisi sosial dan spiritual etos seorang juara dalam memori kolektif masyarakat. Namun, seperti halnya zaman yang terus bergerak, cara kita memaknai penyeberangan pun layak untuk ditinjau ulang. Terlebih di abad ke-21 ini, ketika tantangan umat tidak lagi hanya soal kebugaran personal, tetapi juga soal kebodohan struktural, degradasi moral, dan krisis akal sehat. Untuk itulah, maka makna menyeberangi selat perlu dieksplorasi lebih mendalam lagi dari berbagai sisi.

Baca juga: Delapan Perkara yang Membuatmu Berhenti Mokel

KH. Abdul Karim Lirboyo yang Pernah Berenang Menyebrang Selat Madura

Jauh sebelum ada kamera drone, tim SAR, atau hadiah ratusan juta, ada sosok lain yang menyeberangi selat tersebut. Ia adalah seorang pendidik visioner, cendekiawan tradisional, dan pemikir strategis di masa depan. Beliau adalah Santri bernama Manab, kelak dikenal sebagai KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Lirboyo.

Kisah beliau menyeberangi Selat Madura 150 tahun lalu—dengan satu tangan mengayuh dan satu tangan lagi memegang kitab erat-erat—adalah contoh nyata dari penyeberangan aqliyah. Ini adalah kemampuan mentransformasikan tekad ilmu menjadi laku hidup, dan tradisi mencari ilmu menjadi peradaban. Peninggalan intelektualnya yang tidak kalah penting adalah eksistensi Pondok Pesantren Lirboyo yang beliau dirikannya.

Karomah aqliyah yang telah dikisahkan oleh KH. Muhammad Abdurrahman Hafidz inilah yang justru lebih relevan dengan kebutuhan zaman modern. Di tengah era disrupsi informasi, polarisasi pemikiran, dan krisis adab digital, kita tidak cukup hanya bergantung pada kisah-kisah kecepatan fisik. Kita butuh warisan spiritual yang dapat kita terjemahkan menjadi etos berpikir, kerja keras intelektual, dan keberanian untuk tetap waras dalam mencari ilmu.

KH. Abdul Karim telah menunjukkan bahwa menyeberang selat bukan hanya perkara menembus ruang dan waktu dalam hitungan jam, tapi juga kemampuan membaca konteks dan membentuk generasi. Di tangan beliau, ilmu bukan hanya perihal hafalan, tetapi laku hidup yang diperjuangkan. Inilah penyeberangan yang justru berdiri kokoh dan relevan untuk segala zaman.

Baca juga: Kunci Sukses Puasa Ramadan: 5 Adab Rahasia yang Wajib Kamu Tahu!

Apa yang Harus Santri Lirboyo Contoh dari Beliau?

Refleksi lomba renang Kopaska menjadi momentum untuk menggeser cara pandang kita terhadap nilai perjuangan. Kita diajak untuk tidak berhenti pada takjub terhadap kisah-kisah keajaiban kecepatan, tapi bergerak menuju apresiasi terhadap ketekunan, kesabaran, dan karya intelektual yang nyata. Generasi hari ini lebih membutuhkan karomah dalam bentuk akal sehat, keteladanan dalam berpikir kritis dan bernalar jernih.

Dibandingkan karomah menyeberangi selat demi medali, mungkin lebih dibutuhkan saat ini adalah kemampuan untuk membelah dan memilah antara arus hoax dan arus fakta dalam lautan media sosial. Dibandingkan dengan karomah berlari kencang, lebih dibutuhkan kemampuan berjalan tegak dalam etika dan adab di tengah arus scrolling yang serabutan.

Warisan KH. Abdul Karim adalah warisan yang tidak berhenti bertumbuh. Ia tidak hanya diwariskan melalui kisah, tapi bisa ditumbuhkan dalam karakter, visi pendidikan, dan keberanian membangun masyarakat yang berilmu sekaligus beradab.

Menjadi pewaris KH. Abdul Karim hari ini bukan berarti meniru keajaibannya berenang dengan satu tangan, tapi meneruskan semangat intelektualnya. Kita mungkin tidak bisa meniru beliau untuk menyeberang selat sambil memeluk kitab, tapi kita bisa meneladani beliau dalam berjalan tegak dengan ilmu dan adab.

Kita mungkin tidak mampu berenang melawan arus air, tapi kita bisa menyuarakan nilai dengan pena dan pemikiran. Inilah penyeberangan aqliyah: kemampuan menjadikan akal sebagai jalan menuju Ilahi Robbi, ilmu sebagai kendaraan menuju hikmah, dan laku hidup sebagai bukti cinta kepada kebenaran.

Selama karomah semacam ini terus hidup dalam cara kita berpikir, belajar, dan berjuang, maka perjuangan para ulama tidak pernah benar-benar selesai. Ia hadir dalam niat yang ikhlas, nalar yang jernih dan setiap hati yang lurus.

Al-Fatihah kagem beliau.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses