Delapan Perkara yang Membuatmu Berhenti Mokel

Dalam tradisi Islam di Jawa, istilah mokel punya daya magis tersendiri. Bukan dalam arti mistis, tapi dalam daya tariknya yang sangat manusiawi. Mokel — membatalkan puasa sebelum waktunya — adalah kata yang sering diucapkan dengan nada bercanda, tapi menyimpan drama teologis yang cukup dalam: antara lapar yang menggoda dan iman yang harus kita jaga.

Namun, tahukah kita bahwa dalam salah satu karyanya, ulama besar Nusantara, Syaikh Nawawi al-Bantani, pernah menukil dawuh Imam al-Ghazali, terdapat delapan alasan mengapa seseorang bisa berhenti dari mokel, atau lebih tepatnya: berhenti atau (jika tidak kuasa) menutupi sebuah maksiat

Dalam kitab Salālim al-Fuḍalā’, beliau menyebut delapan perkara yang membuat seseorang harus menjaga sitr al-ma‘āṣī — menutup aib dan tidak mempertontonkan dosa. Delapan perkara itu juga bisa jadi “rem tangan spiritual” agar kita tidak mudah mokel— membatalkan puasa di tengah jalan.

Mari kita renungkan satu per satu.

Baca juga: Kunci Sukses Puasa Ramadan: 5 Adab Rahasia yang Wajib Kamu Tahu!

1. Gembira karena Allah masih menutup aibnya

Orang yang sadar bahwa Allah menutup dosanya akan bersyukur dan takut jika tirai itu Allah buka. Ia malu, bukan karena manusia, tapi karena kehilangan rahmat Allah yang menutupi keburukannya. Orang yang seperti ini tidak akan mudah mokel, sebab ia tahu — “kalau Allah masih nutupi, jangan malah bongkar sendiri lewat tindakan bodoh.”

Baca juga: Menabur Bunga dan Menanam Tumbuhan di atas Kuburan, Bolehkah?

2. Tahu bahwa Allah benci dosa yang tampak, dan cinta pada yang dosa yang kita tutupi

Imam al-Ghazali menulis, Allah membenci pertunjukan dosa dan mencintai kerahasiaannya. Jadi, kalau mokel itu kita lakukan terang-terangan — sambil makan gorengan di depan warung — itu bukan cuma batal puasanya, tapi juga batal rasa malunya.

3. Tidak ingin dicela karena perbuatannya

Kadang, takut dicela bisa menyelamatkan. Jika seseorang enggan mokel karena tak ingin dilihat buruk oleh orang lain, maka rasa malu itu menjadi pagar dari maksiat. Bukan berarti riya, tapi malu sosial juga bagian dari iman — asal tidak lebih besar dari rasa malunya kepada Allah.

Seketika kita kembali ingat pada cerita Zaid bin Tsabit:

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Ma‘mar, dari Hisyam bin Hassan, dari Muhammad bin Sirin, bahwa Zaid bin Tsabit — salah satu sahabat besar Rasulullah ﷺ — pernah datang ke masjid pada hari Jumat.

Namun, ketika beliau tiba, orang-orang sudah selesai salat Jumat dan sedang beranjak pulang. Maka beliau masuk ke salah satu rumah, lalu salat di sana.

Orang pun bertanya kepadanya,

“Mengapa engkau tidak datang ke masjid?”

Zaid menjawab,

إِنَّ مَنْ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ النَّاسِ، لَا يَسْتَحْيِي مِنَ اللَّهِ.

“Sesungguhnya, siapa yang tidak malu kepada manusia, maka ia juga tidak akan malu kepada Allah.”

Baca juga: Kenapa Masih Ragu Ziarah Kubur? Ini Dalil dan Penjelasannya!

4. Karena celaan itu menyakitkan hati

Al-Ghazali mengibaratkan celaan seperti pukulan terhadap hati — sama sakitnya seperti pukulan terhadap tubuh. Maka orang berakal akan menahan diri dari mokel, karena tahu setelah kenyang sesaat, akan datang sakit hati berkepanjangan: “Kenapa aku nggak sabar lima belas menit lagi?”

5. Karena tak ingin orang lain berdosa karena dirinya

Jika seseorang menampakkan dosanya, ia bukan hanya berdosa sendiri, tapi juga membuat orang lain berdosa karena ikut mencela. Maka ia jika tidak bisa menahan diri — sebab mokel di depan umum bisa jadi menggandakan mudarat: perutnya kenyang, tapi pahala orang lain hilang karena marah melihatnya.

6. Takut jadi sasaran keburukan orang

Orang yang berbuat salah sering jadi sasaran cibiran dan niat buruk. Maka, demi menjaga diri dari bala sosial dan batin, seseorang menahan diri untuk tidak mokel. Karena sesudah mokel, yang datang bukan kenyamanan, tapi gosip, cibiran, dan rasa bersalah yang menempel lama.

Baca juga: Ziarah Kubur: Tradisi Umum di Nusantara

7. Karena rasa malu (ḥayā’)

Rasa malu adalah perhiasan batin yang tak ternilai. Nabi ﷺ bersabda: “Al-ḥayā’u khayrun kulluhu” — “Malu itu seluruhnya baik.” Orang yang masih punya malu tidak akan tega mematahkan puasanya hanya karena godaan aroma makanan.

8. Takut menjadi contoh buruk

Yang terakhir, dan rasanya yang paling penting: seseorang menahan diri dari mokel karena khawatir orang lain akan meniru. Terutama keluarga dan anak-anak. Jika ayahnya atau abangnya mokel, maka generasi sesudahnya bisa menganggap hal itu wajar. Maka mokel bukan sekadar soal perut, tapi soal peradaban.

Penutup

Delapan perkara di atas, yang merupakan sarian kata Imam al-Ghazali, bukan sekadar dalih moral, tapi bentuk keseimbangan batin. Orang yang mampu menahan diri bukan berarti ia tak lapar — ia hanya tahu menempatkan lapar pada posisinya: sebagai ujian, bukan alasan untuk menyerah.

Jadi, kalau besok siang kamu menatap es teh di meja dan terdengar suara kecil di hati berkata, “Sedikit aja, gak apa-apa kan?” — ingatlah, bukan hanya es tehnya yang menggoda, tapi juga keseimbangan jiwamu yang sedang teruji.

Puasa itu menahan, dan menahan itu kemenangan kecil — kemenangan yang tidak terlihat, tapi dirasakan oleh orang yang tak mokel.

Sekian.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses