Mbah Yai Idris : “Tingkatkan Kewaspadaan”

LirboyoNet, Kediri – (28/04/2011) Berkembangnya berbagai isu tentang Lirboyo via sms maupun media massa, membuat alumni di beberapa daerah di tanah air menjadi gundah, sebab sebagian diantaranya mengatakan bahwa Lirboyo sedang diserang kekuatan supranatural, sehingga lantai keramik di serambi Masjid menjadi retak dan pecah tanpa sebab. Menanggai isu tersebut, secara Khusus KH. Ahmad Idris Marzuqi mengatakan bahwa isu-isu tersebut ada benarnya, sebab melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, kita patut waspada dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Pernyataan yang disampaikan beliau dalam pengajian kitab Al Hikam yang rutin dilaksanakan pada setiap kamis legi ini, menjawab teka-teki yang telah beredar luas di masyarakat, apalagi setelah di beritakan oleh sebuah harian di Jawa Timur. “Saya telah bertanya kepada dua orang sepuh yang saya rasa mampu menerawang, dan kedua-duanya menjawab kita sedang diserang kekuatan Hitam,” ujar beliau serius. Tapi beliau juga menambahkan jika menurut sudut pandang ahli pertukangan, fenomena yang terjadi di serambi masjid tersebut adalah kejadian biasa, yang disebabkan oleh tekstur tanah yang panas dan bergerak. Oleh karenanya apa salahnya jika kita bersiap diri dan berhati-hati.”

Selanjutnya kiai sepuh yang akrab di panggil Mbah Yai ini menuturkan, segenap komponen bangsa sekarang sedang diteror oleh berbagai macam golongan kiri, salah satunya adalah NII, sehingga ada kemungkinan teror yang selama ini diterima oleh keluarga besar PP. Lirboyo adalah bentuk teror mereka, “ada salah satu Alumni sepuh yang bilang, Lirboyo akan ada apa-apa, maka sebaiknya waspada,” ujar beliau. Mbah yai juga menambahkan bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan baik berupa pengamanan fisik maupun Riyadloh dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Dalam kegiatan pengajian Kamis Legi yang membahas dalam tentang macam-macam derajat manusia ini (Halaman 71-73 Kitab Al Hikam), jumlah peserta lebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya, sehingga Serambi Masjid menjadi penuh sesak oleh para Alumni yang sedang mendengarkan petuah dari Mbah Yai Idris dan Mbah Yai Anwar. Salah seorang koordinator pengajian mengatakan “ Mungkin kehadiran mereka selain Ngaos (Ngaji-red) juga ingin mendengarkan langsung jawaban Mbah Yai mengenai isu yang berkembang,” Ujar Ust. Rofi’I Asmuri ketika diwawancari lirboyo.net. untuk (Riff)

Silaturahi dan Istighosah Bersama Kapolda Jawa Timur

LirboyoNet, Kediri –  Merebaknya aksi teror belakangan ini membuat banyak kalangan menjadi gerah, terlebih lagi aparat Kepolisian, mereka seperti kecolongan, sehingga ketentraman yang selama ini telah tercipta kembali terusik. Untuk menanggulangi terjadinya bentuk terror-teror yang lain dan memperkuat keutuhan NKRI, kemarin Kepala Polisi Daerah Jawa Timur (Kapolda-Red) Irjen Pol. Dr. Untung S. Radjab SH mengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo.

Kunjungan silaturohim yang dirangkai dengan acara Istighotsah ini. Kapolda hadir bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Syaifullah Yusuf dan beberapa pengawal Kapolda. Dari unsur Ulama, hadir seluruh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, diantaranya KH. Ahmad Idris Marzuqi, KH. M. Anwar Manshur, KH. Imam Yahya Mahrus dan KH. Abdul Aziz manshur. Acara yang dilaksanakan di Gedung Aula Muktamar komplek barat Pondok Pesantren Lirboyo ini (25/04) diikuti oleh seluruh santri Putra Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam sambutan atas nama Pengasuh dan keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, secara tegas KH. Imam yahya Mahrus mengatakan bahwa para Kyai dan Santri secara tegas akan mengawal Polisi untuk mengamankan NKRI, sebab akhir-akhir ini tugas polisi dirasa semakin berat, “diakui atau tidak, pekerjaan Pak Kapolda ini, sangatlah berat, oleh karenya para Kyai dan santri wajib untuk membantu mengamankan NKRI, dan itu adalah harga mati.”

Senada dengan sambutan Kyai Imam Yahya, Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Saifulloh Yusuf, sebagai representasi pemerintah Jawa Timur akan berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Jawa Timur. Menyinggung salah satu tujuannya hadir di PP. Lirboyo bersama Kapolda Jatim ini, Gus Ipul mengatakan ingin menyambungkan Silaturohim yang terjalin selama ini antara Kapolda Jatim dengan pondok-pondok sejawa Timur, “saya Hadir disini sekaligus mewakili pak Gubernur ingin mengantarkan Pak Kapolda Sowan-sowan kepada Para Yai. ”

Setelah acara sambutan Wakil Gubernur, acara dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, dalam pembacaan Do’a-doa ini, suasana Aula Muktamar menjadi hening, karena bacaan doa yang dilantunkan secara bersama ini diikuti oleh seluruh santri.

Dalam sambutannya, Kapolda Jatim Irjen Pol. Untung S. Radjab banyak menyindir keberadaan golongan-golongan kiri yang merasa paling benar, sebab mereka kerap melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan warga, “Kita dalam beribadah, pasti hanya bertujuan mengharapkan Ridlo dari Allah SWT, jadi kita tidak boleh hanya karena menghormati symbol-simbol semata,” ujarnya, lebih lanjut jenderal polisi dengan bintang dua di pundaknya ini menyatakan, sudah saatnya kita menata hati kita agar keamanan yang selama ini telah terbina selalu terjalin.

Sesaat sebelum acara Istighotsah ditutup dengan Doa, Pengasuh PP. Lirboyo KH. A. Idris Marzuqi berkenan memberikan kenang-kenangan berupa Kalender dan buku Sejarah Tiga Tokoh Lirboyo. Selanjutnya acara di teruskan dengan foto bersama dan di Akhiri dengan Do’a yang di Pimpin KH. M. Abdul Aziz Manshur. (riFF)

Majalah MISYKAT

Di era 80-an, tepatnya tahun 1986, Lirboyo berkesempatan mengirimkan delegasinya (Kru Majalah Dinding Hidayah) untuk mengikuti lokakarya kejurnalisan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Acara tersebut diikuti oleh perwakilan pesantren yang ada di tanah Jawa. Inti kegiatan itu adalah agar dalam lingkungan pesantren budaya tulis menulis kian berkembang, seperti yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Ishomuddin Hadziq, dalam sambutannya.

Menyadari akan pentingnya media informasi sebagai penunjang dakwah, tepat beberapa waktu setelah diadakannya lokakarya tersebut, hampir secara bersamaan terbitlah banyak majalah di pesantren-pesantren, seperti Suara Cipasung di Pondok Pesantren Cipasung, Majalah Tebuireng di Pondok Pesantren Tebuireng, dan Bulletin MISYKAT di Pondok Pesantren Lirboyo yang secara resmi diterbitkan berdasarkan SK. BPK P2L No. 20/BPK P2L/III/’86 Tentang penerbitan Bulletin/ Majalah.

Setelah disepakatinya penerbitan majalah di Lirboyo, dari hasil sidang tim ada dua nama yang diajukan, yaitu GAGASAN dan MISYKAT. Nama MISYKAT sendiri sebenarnya bukanlah usulan dari anggota sidang. Adalah Ghazi GZ, redaktur Majalah Panji Masyarakat (Panjimas) yang mengusulkan nama MISYKAT.

Untuk menentukan salah satu dari kedua nama tersebut, ditunjuklah Nur Badri (Kepala Madrasah PP. Raudlatul Huda, Kerokan, Kedu, Temanggung, Jateng) untuk melakukan shalat istikharah. Oleh Nur Badri –yang selanjutnya menjadi pimpinan redaksi pertama MISYKAT–  kedua nama ini kemudian ditulis pada dua helai kertas dan diletakkan di bawah sajadah. Seusai salat istikharah, kedua kertas nama yang sudah dilipat itu diajukan kepada KH Imam Yahya Mahrus untuk diambil salah satunya. Dan setelah dibuka, yang keluar adalah nama MISYKAT.

Saat penerbitan edisi pertama dilaksanakan selamatan kecil-kecilan yang diikuti oleh semua kru (saat itu kru MISYKAT diambilkan dari kru Majalah Dinding Hidayah). Dengan modal sebuah mesin ketik, satu buah tustel, dan uang sebesar Rp. 600.000,00 hasil mengikuti lokakarya UDPI di Tebuireng, terbitlah edisi perdana Bulletin MISYKAT dengan tema; Empat Belas Macam Ilmu dalam Itmamuddiroyah, yang disampaikan oleh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ketika berkunjung di Lirboyo dan diliput oleh Bulletin MISYKAT.

Sesuai keputusan, Bulletin MISYKAT terbit secara berkala tiga bulan sekali. Edisi pertama cetak 300 exs. dengan harga RP. 500/ exs. Dari 300 exs tersebut, terjual sekitar 200 exs., sedang yang 50 exs. dibagi-bagikan kepada para masyayikh dan simpatisan. Melihat kesuksesan edisi pertama, pada edisi selanjutnya MISYKAT memberanikan diri untuk mencetak 200 exs.

Sayang, saat MISYKAT baru mulai berkembang dan mulai dikenal masyarakat, MISYKAT hanya mampu terbit tiga edisi saja. Alasan utama kevakuman MISYKAT adalah tidak adanya regenerasi. Waktu itu, kru MISYKAT didominasi oleh santri-santri tamatan (kelas III Tsanawiyah). Jadi, sewaktu mereka harus kembali ke rumah masing-masing, secara otomatis meninggalkan MISYKAT dan hanya Faruq Zawawi, satu-satunya kru yang masih bertahan.

Merasa tidak mampu menjalankan MISYKAT sendirian, Faruq Zawawi menyerahkan inventaris yang dimiliki MISYKAT ke pihak pondok Lirboyo. Sebuah mesin ketik, kamera, dan uang tunai 750.000 ia serahkan ke pengurus untuk dimanfaatkan.

Setelah mati suri selama kurang lebih 17 tahun, pada tanggal 29 Januari 2004, tiada yang menyangka kalau akhirnya MISYKAT hidup kembali. Dengan format bulletin sebagaimana edisi terdahulu, tampilan sederhana dan bisa dikata kurang menarik. Namun ternyata, hal itu tidak mengurangi minat pelanggan.

Tahun demi tahun, berkat kegigihan serta loyalitas para krunya, MISYKAT dapat berkembang dengan pesat. MISYKAT yang hadir kembali dengan format Bulletinpun kemudian berbenah dengan format majalah. Mulai dari 12, 34, 64, 68 halaman, dan mulai Edisi 49, November 2008, MISYKAT tampil setebal 100 halaman, meskipun dengan tampilan grayscale. Baru mulai Edisi 60, Mei 2010, MISYKAT tampil full colour.

Segmen pembacanya pun terus meningkat. Tidak hanya berkutat di wilayah Jawa dan pesantren, namun sudah merambah di seluruh Nusantara. Bahkan, MISYKAT juga beredar di luar Negeri dengan oplah pada kisaran 2000 eks. dalam setiap edisi. Sebagai catatan, karena banyaknya permintaan pelanggan, MISYKAT pernah cetak sampai 7000 eks.

MISYKAT terus melakukan pembenahan. Dan melihat perkembangan teknologi kian maju, terutama dunia internet, MISYKAT pun menerbitkan versi onlinenya dengan domain http://misykat.lirboyo.net/.

Sekilas Majalah Dinding Lirboyo

 

Memasuki era 80an, makin banyak saja santri yang menimba ilmu di Lirboyo. Demi menjaga karakteristiknya sebagai pesantren salaf, Lirboyo terbilang menutup diri dari dunia luar. Itu dibuktikan pada tahun 1985, pihak pesantren gencar melarang santrinya membaca koran dan majalah. Dengan program itu, diharapkan para santri fokus melakukan kegiatan belajar.

Namun begitu, Lirboyo tetap memandang perlu menjaga hubungan baik dengan pihak luar. Supaya setelah para santri merampungkan studinya, mereka sudah mengenal dunia luar. Setidaknya mereka mengerti dengan medannya ketika telah kembali ke kampung halaman.

Berlandaskan hal itu, pada 17 Agustus 1985 pesantren Lirboyo ikut serta dalam Pameran Pembangunan Kodya Kediri. Dalam pameran yang bertempat di alun-alun Kediri, Lirboyo menampilkan berbagai macam karya. Termasuk membuat majalah dinding, meskipun waktu itu di dalam pondok sendiri belum ada. Baru seusai pameran, gagasan membuat majalah dinding muncul di benak para santri.

Adalah sosok Fadloli el Munir, santri asal Jakarta (Pengasuh Pondok Pesantren Ziyadatul Mubtadi-en, Cakung, Jakarta Timur, Sekaligus ketua Forum Betawi Rempug, wafat pada selasa, 29 Maret 2009), waktu itu menjabat Ketua Umum Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM), yang menggebu untuk merealisasikan gagasan pembentukan majalah dinding di Lirboyo.

Gagasan itu menimbulkan kontraversi dikalangan pimpinan Lirboyo, sulit sekali mencetuskan kata sepakat. Pendapat yang kontra menganggap naïf atas usulan itu. Namun Kang Fadloli tidak pernah menyerah. Ia tetap gigih memperjuangkan gagasannya. Dengan kecerdasan dan sifat kerasnya (begitulah informasi yang kami dapat), ia menjelaskan bahwa dengan majalah dinding santri Lirboyo justru diajak meningkatkan gairah belajar, disamping mengembangkan bakat tulis menulisnya.
Akhirnya perjuangan Kang Fadloli membuahkan hasil. Dengan dukungan Bapak Marwan Masyhudi, Mudier (kepala) Madrasah Lirboyo saat itu, gagasannya mendapat lampu hijau, walau secara resmi belum mendapat surat izin penerbitan.

Dan tepat pada 9 September 1985, Sidang Redaksi pertama majalah dinding digelar. Fadloli ditampuk sebagai Pimpinan Redaksi, dibantu Nur Badri, Ma’ruf Asrori (pemilik penerbitan Khalista, Surabaya), Bastari Alwi, Sahlan Aidi, Badrudin Ilham dan beberapa santri lainnya.

Di awal berdirinya HIDAYAH sederhana dan apa adanya. Naskah-naskah HIDAYAH hanya direkatkan dengan lem pada papan tanpa kaca. Sehingga, waktu itu pembaca dengan mudahnya mencorat coret naskah. Bahkan tidak jarang redaksi kehilangan foto yang dipampang.

Walaupun masih tampil apa adanya, periode 1987-1988 HIDAYAH masuk finalis ke 30 dalam Lomba Koran Dinding Nasional di Jakarta. Dan pada akhir periode ini, dengan pimpinan redaksi Imam Ghozali Aro (pernah menjadi wartawan harian Surya) untuk pertama kalinya HIDAYAH menerbitkan bundel.
HIDAYAH mengalami kemajuan dari segi tampilan pada periode 1988-1989. Naskah aman dari corat coret, karena periode ini papan HIDAYAH ditutupi kaca. HIDAYAH juga mencatat prestasi menjadi juara IV dan juara favorit dalam Lomba Koran Dinding se Jawa Timur di Surabaya yang diselenggarakan harian Jawa Pos, Majalah Nona dan Majalah Kartini.

HIDAYAH kembali berprestasi dalam Lomba Koran Dinding antar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) se Jawa Timur yang digelar di Surabaya. Dalam lomba yang diselenggarakan harian Jawa Pos dan Universitas Airlangga (Unair) ini, HIDAYAH menjadi juara III.

Memasuki era 90an, tidak ada lagi lomba-lomba Koran dinding Nasional maupun Propinsi. Paling tidak sampai tahun 1997 M. HIDAYAH terakhir kali menunjukkan kebolehannya pada Lomba Koran Dinding Nasional yang diselenggarakan majalah Kartini, Tempo dan PGRI (tanpa kepanjangan, hanya tertulis PGRI; sebagaimana tertera pada medali) tahun 1991 M. Waktu itu, HIDAYAH menjadi satu-satunya Koran dinding Jawa Timur yang meraih prestasi, HIDAYAH berhasil memboyong juara II.

Diusianya yang ke dua puluh lima, HIDAYAH memang minim dalam hal prestasi. Namun bukan berarti sepi dari perkembangan. Prestasi kurang karena memang beberapa tahun belakangan, jarang diadakan lomba koran dinding yang searah dengan HIDAYAH. Yang lebih mementingkan isi dengan tampilan seadanya. Tahun 2000-an, media-media yang dulu sering menjadi penyelenggara lomba koran dinding dengan penekanan kreatifitas tulisan, beralih menekankan pada tampilan. Misalnya Jawa Pos. Jika dulu, HIDAYAH bisa unjuk kebolehan didepan jurnalis-jurnalis senior, sekarang tidak lagi. Karena lombanya pada keunikan tampilan, bukan pada tulisan. Yang tentunya memakan biaya lebih. Namun demikian, di Lirboyo sendiri HIDAYAH tidak sepi dari perkembangan.

Kini, saat Lirboyo telah melewati seabad kelahirannya, HIDAYAH tampil dengan aneka ragam kreatifitas para santri. Di papan yang terbungkus karpet dengan penutup kaca, tiap dua minggu sekali, dua puluh dua naskah kreasi santri terpampang dengan corak yang beragam.[]

Santri Pertama dan Pondok Lama

Demikian jalan yang ditempuh Umar selama di Lirboyo. Selang beberapa waktu ada tiga santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal KH. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah, Kediri. Seperti santri sebelumnya, kedatangan kedua santri ini bermaksud untuk mendalami ilmu agama dari KH. Abdul Karim. Akan tetapi baru dua hari saja mereka berdua menetap di Lirboyo, semua barang-barangnya ludes di sambar pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, di Lirboyo masih ada sisa-sisa perbuatan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.

Tahun demi tahun, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling disekitar pondok.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah