Kisah Mbah Karim Sebrangi Selat Madura demi Menimba Ilmu

mbah karim

Semangat dalam menuntut ilmu tidak pernah lahir dari kemudahan, melainkan dari kesungguhan dan pengorbanan. Nilai inilah yang tergambar dalam kisah perjalanan Mbah Karim (biasa kita sebut KH. Abdul Karim) saat berangkat menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, sebagaimana diceritakan oleh Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz dalam acara Majelis Sholawat Kubro di Aula Al Muktamar pada 8 Agustus 2025.

Dalam mauidzohnya, Agus Abdurrohman mengisahkan KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Lirboyo, yang hendak berangkat untuk thalabul ‘ilmi ke Bangkalan, Madura. Mbah Salamah, ibu Mbah Karim, berusaha memberikan bekal semampunya. Karena kondisi ekonomi yang sederhana, bekal tersebut hanya cukup untuk membeli tiket kereta api dari Magelang menuju Surabaya.

Baca juga: Kisah Mbah Karim dan Mbah Nyai Dlomroh

Saat menerima uang itu, KH. Abdul Karim justru dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak mudah.

“Iki ngko lek tak gawe tuku sepur, saya gak bisa beli kitab. Tapi kalau saya beli kitab, saya harus jalan kaki.” Agus Abdurrohman memberikan gambaran pikiran Mbah karim dalam situasi ini.

Artinya, jika uang tersebut digunakan untuk membeli tiket kereta, beliau tidak akan mampu membeli kitab yang akan beliau pelajari di Bangkalan. Sebaliknya, jika uang itu dibelikan kitab, maka seluruh perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Tanpa ragu, Mbah Karim memilih pilihan kedua. Beliau memutuskan untuk menggunakan seluruh bekal itu membeli kitab yang saat itu sedang dikaji oleh Syaikhona Kholil. Konsekuensinya, perjalanan dari Magelang menuju Surabaya, Mbah Karim harus berjalan kaki.

Sesampainya di Surabaya, uang yang dibawanya habis karena telah digunakan membeli kitab. Namun perjalanan belum berakhir. Untuk sampai ke Bangkalan, beliau masih harus menyeberangi Selat Madura.

Mbah Karim Sebrangi Selat Madura

Karena tidak memiliki biaya untuk membayar perahu, Mbah Karim mengambil keputusan menyeberangi Selat Madura dengan berenang sambil membawa kitab yang baru dibelinya.

“Padahal dari Surabaya menuju Ke bangkalan masih harus nyebrang. Beliau sudah tidak punya uang, naik perahu nggak mungkin, karena tidak bisa bayar. Sehingga perjalanan nyebrang Selat Madura ini, beliau lakukan dengan berenang sambil membawa kitab.” Ucap Agus Abdrrohman Ahmad Hafidz.

Baca juga: Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh

Agus Abdurrohman kemudian mengajak para hadirin merenungkan perjuangan tersebut. Menurut beliau, kondisi para santri saat ini sangat berbeda. Berangkat dan pulang dari pondok sering kali telah difasilitasi orang tua dengan kendaraan dan bekal yang mencukupi. Bahkan terkadang masih merasa berat menjalani perjalanan yang jauh lebih mudah dibandingkan para ulama terdahulu.

“Bandingkan dengan sampean sekarang. Pulang pergi dari pondok ke rumah-rumah ke pondok, kadang wes disangoni kari budale tok ae jek jegot. Mbah Karim dahulu tidak seperti itu, bahkan menyeberangi Selat Madura pun beliau berenang.” Tegas Agus Abdurrohman kepada para santri.

Baca juga: Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri

Dalam kesempatan itu pula, Agus Abdurrohman juga menyampaikan penuturan yang diperoleh ayahnya langsung dari KH. Abdul Karim mengenai cara beliau membawa kitab saat berenang.

“Bapak saya menceritakan kisah yang beliau peroleh langsung dari Mbah Karim. Bagaimana cara menyebrangnya, kan sambil membawa kitab? Menyebrangnya ini gantian dengan satu tangan, ketika satu megang kitab ke atas, maka yang berenang satu tangan yang lain. Kemudian, ketika capek, gantian yang pegang kitab.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses