Kediri – Badan Pengelola Ekstrakurikuler (BP-Ekstrakurikuler) yang berada di bawah naungan Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) dan Ma’had Aly Lirboyo menyelenggarakan Seminar Jam’iyyah Nahdliyah. Seminar kali ini bertajuk “Kitab Ulama Nusantara” dengan mengangkat tema “Kitab Kuning dan Jejak Intelektual Ulama Nusantara.” Acara ini berlangsung pada Kamis malam Jumat, 2 Juli 2026 M., pukul 20.00 WIB di Aula Al Muktamar Pondok Lirboyo.
Seminar Jam’iyyah Nahdliyah dilaksanakan dua kali dalam satu tahun, pada seminar pertama ini BP-Ekstrakulikuler menghadirkan Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum., pakar Filologi Islam sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, sebagai pemateri utama.
Baca juga: Jam’iyyah Nahdliyyah l Bersama Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban M. Hum. di Lirboyo
Ratusan santri Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan mahasantri Ma’had Aly Lirboyo tampak antusias dengan seminar kali ini. Karena mereka telah memenuhi Aula Al Muktamar juga lapangan barat Aula Muktamar sebelum acara dimulai.
Sebelum memasuki sesi seminar, para peserta disuguhkan berbagai penampilan hasil pembinaan BP-Ekstrakurikuler. BP-Ekstrakulikuler membawahi beragam kegiatan pengembangan minat dan bakat santri seperti kursus Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Kepenulisan, dan berbagai kursus lainnya.
Pada kesempatan kali ini, Kursus Bahasa Arab menampilkan dialog serta pembacaan puisi berbahasa Arab. Sementara itu, Kursus Bahasa Inggris mempersembahkan sebuah pertunjukan teater dengan dialog bahasa Inggris. Master of Ceremony (MC) pun tampil berbeda dengan memadukan bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia secara komunikatif sepanjang rangkaian acara.
Tidak ketinggalan, bidang kepenulisan melalui Mading Hidayah, badan otonom BP-Ekstrakurikuler, turut berkontribusi dengan menggelar berbagai lomba kepenulisan yang dilaksanakan beberapa pekan sebelumnya. Dan mengumumkan hasilnya di acara ini.
Sambutan Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo
Dalam sambutannya, Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo, Agus Arif Ridlwan Akbar Imam, menjelaskan alasan dipilihnya tema Kitab Kuning dan Jejak Intelektual Ulama Nusantara.
Beliau mengutip sebuah kaidah:
Dhikruhu Ta’ālā fīhi al-qaṣaṣu awi al-akhbāru lil-umami as-sālifah.
“Diantara pembelajaran langsung dari Allah Swt dan Nabi adalah cerita,” tutur Agus Arif Ridlwan Akbar Imam, pada acara Seminar Jam’iyyah Nahdliyah di Aula Al Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.
Baca juga: Drama, Data, dan Dialog: Cara Santri Lirboyo Menjawab Tuduhan kepada Islam
Melalui pendekatan itulah, seminar ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan kitab-kitab karya ulama Nusantara sebagai warisan keilmuan, tetapi juga menelusuri jejak intelektual para penyusunnya.
Seminar Jam’iyyah Nahdliyah
Dalam sesi utama, Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum. mengajak peserta melihat kembali besarnya warisan intelektual ulama Nusantara yang hingga kini belum sepenuhnya mendapat perhatian.
Beliau menyinggung karya monumental Tarikh at-Turats al-‘Arabi karya Prof. Dr. Fuat Sezgin, sebuah ensiklopedia sekaligus katalog manuskrip klasik Arab-Islam yang terdiri atas belasan jilid dan menjadi rujukan utama para peneliti dunia dalam menelusuri khazanah keilmuan Islam.
Baca juga: Seminar Kepenulisan SIBER Lirboyo Bersama Redaktur NU Online
Hampir seluruh khazanah intelektual ulama berbahasa Arab telah terdokumentasikan secara sistematis dalam Tarikh al-Turath al-‘Arabi. Sebaliknya, hingga kini Nusantara belum memiliki karya bibliografis yang secara khusus menghimpun dan menginventarisasi manuskrip serta kitab-kitab karya ulama lokal secara komprehensif. Padahal, kehadiran sebuah karya semacam Tarikh al-Turath al-Jawi memiliki arti penting bagi generasi berikutnya. Karya tersebut bisa menjadi upaya dokumentasi dan melestarikan warisan intelektual ulama Nusantara.
Ironisnya, ketiadaan dokumentasi yang sistematis tersebut terjadi di tengah kenyataan banyak karya ulama Nusantara yang memperoleh pengakuan internasional. Karya ulama Nusantara banyak menjadi rujukan berbagai lembaga pendidikan Islam dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi ulama Nusantara terhadap perkembangan keilmuan Islam tidak hanya berskala lokal, tetapi keilmuan Islam dunia.
Kitab-kitab Ulama Nusantara
Salah satu contohnya ialah Ghunyah ath-Thalabah Syarh Mandzumah ath-Thayyibah fi al-Qira’at al-‘Asyr karya Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi. Hingga kini, kitab tersebut masih menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian Qira’at ‘Asyr di Fakultas Al-Qur’an wa ‘Ulumuhu Universitas Al-Azhar, Kairo.
Baca juga: Seminar Kepenulisan Mading Hidayah Lirboyo Bersama Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Contoh lainnya adalah Siraj ath-Thalibin Syarh Minhaj al-‘Abidin karya Syekh Ihsan Jampes. Kitab ini telah lama dipelajari di lingkungan Jami’ Al-Azhar sejak masa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) ketika menempuh studi di Mesir, hingga tetap digunakan sebagai salah satu referensi penting dalam disiplin tasawuf sampai saat ini. Syekh Ihsan sendiri dikenal sebagai kakak dari KH. Marzuqi Dahlan, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Selain itu, terdapat Hasyiyah Tadrij al-Adani ‘ala Syarh at-Taftazani ‘ala Matan az-Zanjani fi ‘Ilm ash-Sharf karya Syekh Abdul Haq al-Bantani al-Jawi. Kitab ini telah lama diakui sebagai salah satu referensi otoritatif dalam bidang ilmu sharaf dan dipelajari oleh para pelajar, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, di berbagai lembaga pendidikan Islam.
Baca juga: Bedah Buku Trilogi Musik: Perdebatan Hukum Musik
Melalui berbagai contoh tersebut, Dr. KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban menegaskan bahwa ulama Nusantara bukan sekadar penerima tradisi keilmuan Islam, tetapi juga kontributor aktif yang melahirkan karya-karya ilmiah berkelas dunia.
Menurutnya, tantangan besar yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama adalah menghadirkan dokumentasi yang komprehensif terhadap manuskrip dan kitab-kitab ulama Nusantara. Dengan demikian, jejak intelektual mereka dapat terus dikenali, diteliti, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari khazanah peradaban Islam dunia.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





