35 views

Pengertian Ta’aruf

Bapak-bapak pengelola website Lirboyo yang terhormat, sebelumnya kami mohon maaf apabila telah mengganggu kesibukan bapak. Saya ingin menanyakan beberapa hal:

  1. Apakah pengertian ta’aruf menurut Islam?
  2. Apakah diperbolehkan melihat dan berjabat tangan setelah berkhitbah dengan calon istri? Mengingat bersentuhan dengan lain mahram hukumnya haram.
  3. Dan apabila haram, bagaimana solusinya?

Atiq Naila

 

Admin – Mbak Naila yang mudah-mudahan dirahmati oleh Allah, terima kasih telah singgah di website Kami. Sama-sama mbak, Kami juga mohon maaf apabila mungkin, jawaban dari Kami kurang memuaskan Anda.

Mbak Naila, ta’aruf itu artinya saling mengenal yang dapat dilakukan kapan saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan khithbah. Dalam arti, tidak ber-khitbah (melamar), tidak masalah kita ta’aruf. Memang hikmah Allah SWT. menjadikan manusia dengan beraneka ragam suku bangsa agar kita saling ta’aruf sebagaimana firman Allah SWT:

( يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  ( الحجرات ١٣

Tapi, berjabat tangan dengan tanpa penghalang diharamkan selain sesama jenis, mahram, atau sudah menjadi (wanita) halalnya karena sudah dinikah. Sedangkan yang diperbolehkan bagi orang yang melamar terhadap wanita yang dilamarnya hanyalah sebatas melihat pada wajah dan telapak tangan (sisi luar dan dalam, mulai ujung jari sampai pergelangan) dengan tanpa menyentuhnya. Kecantikan, kehalusan watak dan lain-lainnya sudah dapat dilihat pada bentuk dan kehalusan wajah dan telapak tangannya. Sebagaimana keterangan Syekh Abdul Wahid As Syarwani:

وَلَا يَنْظُرُ) مِنْ الْحُرَّةِ (غَيْرَ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ) مِنْ رُءُوسِ الْأَصَابِعِ إلَى الْكُوعِ ظَهْرًا وَبَطْنًا بِلَا مَسِّ شَيْءٍ مِنْهُمَا لِدَلَالَةِ الْوَجْهِ عَلَى الْجَمَالِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى خِصْبِ الْبَدَنِ

Bahkan melihat saja hanya sebatas sampai cukup paham dengannya. Tidak boleh melebihi dari batas yang mencukupi, karena terdapat kaidah, “Segala sesuatu yang diperbolehkan karena terpaksa (darurat), maka hanya boleh dilakukan sekedar kebutuhan saja.”

Boleh melihat wajah atau telapak tangannya secara berulang-ulang, jika masih belum mencukupi. Waktu melihat dilakukan sebelum ia melamar, sedangkan diperbolehkan melihat itu sendiri jika ada harapan lamarannya bakal diterima. Hal ini berlandaskan hadis Nabi:

إِذَا أَلْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةً فَلَا بَأْسَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا

Jika melihat wanita yang ketika dipinang jelas tidak akan diterima, maka melihat wajahnya pun juga haram, apalagi menyentuh. Kemudian, bolehkah melihat calon istrinya setelah lamaran? Melihat penjelasan hadis di atas, hukum melihat calon istri setelah melamar adalah diperbolehkan, karena di dalamnya terdapat mashlahat yang juga tersirat dari hadis tersebut. Tapi harus digaris bawahi, hanya melihat, bukan memegang atau berjabat tangan. Sebagaimana lanjutan keterangan di atas yang diungkapkan oleh Syekh Abdul Wahid as Syarwany.

Terkait pertanyaan tentang solusi, Kami kira ada baiknya jika kedua pasangan itu saling mengingatkan tentang larangan agama. Jika pernikahan itu ibarat masa berbuka setelah seharian puasa, tentu kita akan amat menyayangkan jika pada akhirnya selepas waktu Ashar sebelum Maghrib kita kecolongan berbuka dengan tanpa ada keadaan darurat. Bersabarlah, waktu berbuka untuk kalian sebentar lagi. Mungkin demikian, semoga membantu.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.