60 views

Tiga Amalan Istimewa, Penuntun Langkah Menuju Ridla Illahi

Oleh: KH. M. Anwar Manshur

الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِنْعَامِهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ نالنَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَالرَّسُوْلِ الْمُجْتَبَى وَعَلَى آلِهِ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

Pembaca yang dirahmati Allah…

Menjalani hidup di zaman yang kian sarat dengan cobaan seperti sekarang ini, mengharuskan setiap insan memiliki bekal moral yang memadai. Agar tidak terombang-ambing ke sana kemari, tidak mudah hanyut oleh arus perubahan yang kian deras menerpa. Sebab, cobaan dan godaan yang silih berganti mungkin saja melemahkan pertahanan iman, bahkan merobohkan benteng ketakwaan dalam hati seseorang.

Pembaca yang dirahmati Allah…

Dalam ajaran Islam, ada tiga amalan yang bisa menuntun seseorang menjalani hidup. Memapahnya selangkah demi selangkah untuk menggapai asa dan cita, menjemput ridla Ilahi Rabbi. Ketiga amalan tersebut adalah: Pertama, Istikharah, mempertimbangkan dengan matang setiap tindakan yang dilakukan.

Istikharah artinya selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan, bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat. Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan beristikharah, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah. Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut. Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا أَرَدْتَ أَمْرًا فَتَدَبَّرْ عَاقِبَتَهُ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَأَمْضِهِ وَإِنْ كَانَ شَرًّا فَانْتَهِ

“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.”

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawarah dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawarah, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh. Sabda Rasul SAW. menyebutkan:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawarah, dan tak akan pernah menyesal orang yang mau beristikharah.”

Terlebih lagi, jika musyawarah itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih mendalam, serta dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Allah. Firman Allah dalam AlQuran menyebutkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah berpasrah kepada Allah. Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

Amalan kedua adalah Istiqamah, konsisten dalam menjalankan pilihan hidup. Kunci kedua agar dapat menjalani hidup dengan tenang dan tidak terombang-ambing adalah istiqamah. Istiqamah adalah sikap konsisten dan terus-menerus dalam menjalani usaha demi tercapainya suatu tujuan. Dengan memiliki sikap istiqamah, seseorang tidak akan kehilangan arah tujuan, tidak mudah terpengaruh, dan tidak mudah patah semangat.

Dengan istiqamah, cita-cita akan mudah tercapai, sebab orang yang memiliki sikap istiqamah tidak akan berhenti berusaha atau berputus asa. Sedikit demi sedikit asalkan terus dilakukan, setapak demi setapak asalkan tetap melangkah dan berjalan. Syair Arab menyebutkan:

حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ يُقَدِّرْ لَكَ # اللهُ نَجَاحًا فِيْ غَابِرِ الْأَزْمَانِ

“Sekira engkau beristiqamah, maka Allah akan mentakdirkan bagimu keberhasilan dimasa mendatang.”

Dalam Alquran, Allah SWT menjanjikan kepada orang-orang yang memiliki sikap istiqamah, mereka tidak akan pernah merasa gundah, takut atau susah. Ini semua karena mereka berprinsip dalam menjalani hidup, dan berpasrah menerima segala keputusan Allah atas dirinya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itu lah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Namun demikian, memegang prinsip bukan berarti harus selalu menang sendiri. Seseorang tidak boleh memaksakan kehendak dirinya pada orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Jadi, istiqamah adalah sikap tidak memaksakan diri kita menjadi orang lain (berprinsip), dan tidak memaksakan orang lain menjadi diri kita (egois). Istiqamah itu tegas tapi lunak, berprinsip namun juga bertoleransi, mengalir tapi tidak terhanyut.

Hal ketiga dari amalan istimewa tersebut adalah Istighfar, instropeksi dan pembenahan diri. Jika setiap pilihan hidup telah dipertimbangkan dengan segala kemungkinan dampak positif dan negatifnya, dan pilihan itu telah dijalankan dengan istiqamah, maka sikap yang sangat penting dilakukan adalah istighfar. Secara bahasa, makna istighfar adalah meminta ampunan. Bukan hanya demikian, istighfar juga mengandung makna selalu introspeksi terhadap kesalahan dan kekurangan diri, untuk tujuan pembenahan berikutnya. Sejenak menengok masa lalu, menatap langkah-langkah yang telah terukir, demi melanjutkan langkah yang telah tertata, membenahi yang masih terserak, dan menciptakan langkah baru yang lebih baik. Dalam Alquran Allah SWT. berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ. أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji mereka itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya: dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”

Pembaca yang dirahmati Allah…

Dengan ketiga amalan di atas, insyaallah seseorang bisa tabah menghadapi segala tantangan zaman. Mampu mengatasi segala masalah dan siap menghadapi segala cobaan yang merintangi jalan. Tidak mudah terseret arus, namun juga tidak kaku ataupun egois. Semoga kita selalu dikaruniai cahaya hidayah-Nya, yang selalu menerangi langkah kita, menapaki jalan menuju ridla Allah. Amin ya rabbal alamin...

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.