HomeKonsultasiHukum Mengubur Ari-ari Bayi

Hukum Mengubur Ari-ari Bayi

Konsultasi 0 5 likes 7.7K views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara admin yang saya hormati, kami ingin bertanya bagaimanakah hukumnya mengubur ari-ari bayi? Apakah hal itu menjadi keharusan ataukah sebatas anjuran? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

(Adam I., Cirebon Jawa Barat)

_______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Saat bayi dilahirkan, bersamaan dengan itu keluar ari-ari (plasenta) yang menyertai bayi. Syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj:

هَلْ الْمَشِيمَةُ جُزْءٌ مِنْ الْأُمِّ أَمْ مِنْ الْمَوْلُودِ حَتَّى إذَا مَاتَ أَحَدُهُمَا عَقِبَ انْفِصَالِهَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ الْمَيِّتِ فَيَجِبُ دَفْنُهَا ، … ـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَأَقُولُ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ فِيهَا شَيْءٌ ا هـ .ع ش عَلَى م ر .وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ أَمَّا الْمَشِيمَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْخَلَاصِ فَكَالْجُزْءِ ؛ لِأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنْ الْوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّا الْمَشِيمَةُ الَّتِي فِيهَا الْوَلَدُ ، فَلَيْسَتْ جُزْءًا مِنْ الْأُمِّ وَلَا مِنْ الْوَلَدِ انْتَهَتْ .

Apakah ari-ari tergolong bagian dari anggota ibu atau anak, sehingga apabila salah satunya meninggal dunia setelah terpisah dari ari-ari tersebut maka hukumnya seperti bagian tubuh yang terpisah dari mayat yang wajib dikuburkan? …. Imam Ibnu Qasim berpendapat tidak ada kewajiban apapun atas ari-ari tersebut. Adapun imam al-Barmawi mengungkapkan bahwa ari-ari—yang disebut juga dengan istilah Khlash—itu seperti bagian tubuh seseorang karena ia terpotong dari tubuh bayi sehingga ari-ari termasuk anggota tubuh bayi. Sedangkan ari-ari yang membungkus bayi (plasenta) maka tidak termasuk bagian tubuh ibu maupun anaknya.”[1]

Dengan perincian demikian, maka ari-ari menjadi pembungkus bagyi (plasenta) tidak ada anjuran apapun dan untuk ari-ari yang dipotong dari pusar bayi disunahkan untuk dikuburkan. Sebagaimana penjelasan imam Zakaria al-Anshori dalam kitab Asna al-Mathalib demikian:

وَيُسْتَحَبُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ فىِ الْحَالِ أَوْ مِمَّنْ شَكَكْنَا فِيْ مَوْتِهِ .

Dan disunahkan menguburkan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup yang tidak mati seketika atau bagian tubuh yang kita ragukan kematiannya.”[2]

[]WaAllahu A’lam


[1] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, II/190

[2] Zakaria al-Anashori, Asna al-Mathalib, I/313

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.