Telah sering kita jumpai banyak serba-serbi tradisi yang umum terlaku ketika memasuki awal tahun baru Hijriah. Salah satu yang umum berlaku adalah kebiasaan mengkhususkan minum susu putih saat tahun Hijriah menjelang. Hal ini merupakan wujud tafa’ul (harapan) supaya lembaran baru yang masih putih bersih di tahun baru terisi oleh kebaikan.
Sebelumnya, perlu kita ketahui bahwa kebiasaan meminum susu di awal Muharam ini merupakan ajaran salah satu ulama terkemuka di tanah Makkah, yakni Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Beliau terbiasa membagikan susu kepada para muridnya tiap kali awal tahun Hijriah menjelang.
Baca juga: Doa Masuk Pasar: Keutamaan dan Hikmah Berzikir di Tengah Sibuknya Dunia
Bahkan, tidak sampai di situ. Beliau juga mengajarkan doa yang baik sekali dibaca ketika meminum susu tersebut. Doa tersebut yakni:
اللهم بارك لنا فيه وزدنامنه
“Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami.”
Dalil Perihal Tafa’ul
Selanjutnya, perihal tafa’ul yang berasal dari akar kata al-fa’lusecara definisi bisa kita artikan sebagai harapan yang Allah Swt. berikan atas sesuatu. Dalam satu hadis, Nabi Muhammad saw. bersabda
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ. قَالُوا: وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ
“Tidak ada penularan (yang terjadi dengan sendirinya tanpa kehendak Allah) dan tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda tertentu). Namun aku menyukai fa’l (pertanda baik). Para sahabat bertanya, ‘Apakah fa’l itu?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu kalimat yang baik.'” (H.R. Bukhari & Muslim)
Baca juga: Di Balik Aturan Haji Sekali Seumur Hidup
Masih senada dengan hadis di atas, yakni hadis yang terdapat dalam Musnad Imam Ahmad:
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يحب الفأل الحسن ويكره الطيرة
“Rasulullah saw. mencinta tafaul yang baik dan membenci anggapan sial.” (H.R. Ahmad)
Dari kedua hadis tersebut, Imam Khatib Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj menjadikan keduanya dalil memindah posisi selendang saat khutbah salat istisqa’. Hal ini merupakan bentuk Tafa’ul semoga keadaan yang tadinya mengalami kemarau panjang berubah menjadi subur makmur loh jinawi.
Praktek Tafa’ul dalam Kitab Kuning
Sementara itu, dalam literatur kitab kuning dapat kita jumpai banyak sekali praktek Tafa’ul. Seperti anjuran memasak daging aqiqah dengan bumbu cenderung manis, sebagai wujud Tafa’ul semoga sang anak memiliki akhlak yang terpuji. Atau juga anjuran tidak memecah tulang hewan sembelihan aqiqah, sebagai wujud Tafa’ul keselamatan si anak. Dan masih banyak lagi.
Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa praktek meminum susu di awal Muharam bukanlah sesuatu yang perlu kita ingkari. Hal ini merupakan bentuk simbolisme umat islam dalam mengharapkan hal-hal baik yang akan menyertai di hari berikutnya saat tahun sudah berganti. Semoga saja.
Baca juga: Panduan Singkat Doa Akhir & Awal Tahun
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





