Tag Archives: Pelajar

KH. Mashum Jauhari

Betapa banyaknya orang yang alim, tapi ilmunya manfaat tidak, barokahpun tidak. Semua itu disamping takdir, dipengaruhi juga oleh sepak terjang, tingkah laku juga perangai waktu di pondok. Mungkin mereka sombong, pongah, congkak, takabbur dan mungkin pula mereka tinggi hati.

Namun juga sebaliknya, banyak orang yang ilmunya sedang-sedang saja, tapi betapa hebat manfaat & barokahnya. Karena ditunjang oleh sifat tawadlu’ (rendah hati) dan banyak khidmah tholabul ‘ilmi.

Taklukkan UAN dengan Kekuatan Iman

Fenomena kegagalan try out UAN (ujian akhir nasional) yang dialami siswa SLTP dan SLTA sangat memrihatinkan. Letak ketidaklulusannya pada dua mata pelajaran yang mereka anggap momok. Kedua pelajaran itu adalah bahasa Inggris (ING) dan matematika (MTK). Karenanya, patut dicermati untuk dicarikan jalan keluarnya.

Salah satu solusinya adalah mencari akar masalah dari perspektif keislaman. Jika ditelisik secara Islami, kegagalan siswa dalam try out maupun UAN itu, menurut pengamatan penulis selama memberikan bimbingan belajar selama puluhan tahun, minimal disebabkan 4 faktor berikut.

Pertama, siswa kurang istiqamah belajarnya. Mereka tidak ajeg, tidak rutin, serta tidak kontinyu dalam belajar. Mereka belajar model SKS (sistem kebut semalam). Artinya, baru belajar hingga semalam suntuk untuk persiapan menghadapi UAN esoknya. Sangat sulit membujuk mereka agar mau belajar secara rutin dan berkesinambungan. Kalau begitu, mana mungkin maksimal hasilnya?

Seharusnya, mereka mempersiapkan diri jauh sebelumnya. Tujuannya, agar mereka mudah me-recall (mengingat kembali) dan me-recite (mengulang-ulang) inti sari pelajaran kelas 1 dan 2. Inilah yang paling sulit sebab materinya sudah tertimbun lama di otak. Maka, tidak bisa dilakukan secara instan untuk mengingat kembali.

Kedua, siswa kurang siyasah dalammengerjakan soal. Umumnya, mereka menjawab soal secara urut dari nomor satu hingga terakhir. Itu bagai tikus masuk perangkap. Pepatah Jawa menyebutnya, ”Ula marani gepuk.” Padahal, belum tentu soal nomor 1 lebih mudah daripada nomor 2 dan seterusnya. Bisa saja soal nomor 30 lebih mudah. Mengapa tidak mengerjakan soal nomor 30 atau nomor-nomor lainnya yang dianggap mudah.

Akibat terjebak perangkap tersebut, otak siswa sudah terforsir di soal-soal awal. Daya pikir pun kendur ketika mengerjakan soal berikutnya. Mereka bagaikan pelari maraton yang langsung berlari cepat saat start. Maka, bisa dipastikan mereka loyo di tengah jalan. Bahkan, bisa gagal melewati garis finis.

Mestinya, siswa sadar bahwa mengerjakan soal dengan durasi per soal 2 menit untuk bahasa Indonesia (BI) dan ING, serta 4 menit untuk MTK, itu memang harus cepat, tepat, dan tentunya harus taktis. Maka, diperlukan taktik jitu. Salah satunya adalah mengerjakan dulu soal yang dianggap mudah. Soal seperti itu paling butuh waktu 1 menit tiap item, bahkan lebih cepat daripada itu. Nah, keuntungan dari kelebihan waktu inilah yang bisa digunakan mengerjakan soal yang sulit yang memang perlu waktu lebih lama.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Selain itu, siswa alergi menghadapi BI dan ING yang berteks panjang. Mengapa? Karena mereka tak terbiasa membaca. Maka, begitu melihat soal dengan tulisan yang panjang, langsung mati kutu. Padahal, kedua pelajaran itu menuntut keahlian membaca dengan cepat dan efektif. Dari 60 soal, 70%-nya berupa teks panjang. Otomatis perlu waktu lama untuk membaca, mencerna isi, dan menjawabnya dengan benar. Sementara, waktunya mepet sekali, yaitu cuma 2 menit per soal.

Untuk itu, sebaiknya siswa membiasakan membaca koran setiap hari agar terlatih membaca teks yang panjang. Makin banyak membaca, pasti alergi tadi akan sirna sendiri. Disamping itu, perlu menyiasati dengan cara langsung membaca pertanyaannya. Kemudian, baru membaca teks untuk mencari jawabannya. Jika di paragraf pertama sudah ditemukan jawabannya, maka tidak perlu lagi dibaca semua teks soal tersebut. Dengan demikian, waktu bisa dihemat.

Kelemahan ketiga adalah siswa kurang sabar dalam menuntut ilmu. Mereka tak tahan menghadapi beratnya cobaan ngangsu kaweruh. Harus berangkat sekolah pagi-pagi, bahkan belum sempat sarapan. Pulang pun harus rela disengat sinar mentari yang tak kenal kompromi. Belum lagi PR yang menumpuk yang harus dikerjakan pada malamnya. Semua datang bertubi-tubi. Sayangnya, mereka hanya berkeluh kesah. Bukan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Mereka maunya yang enak-enak. Pulang pagi karena ada rapat guru. Libur nasional. Nyontek waktu ulangan. Pokoknya, yang mereka inginkan hanya yang santai dan releks.

Mental negatif ini sangat merugikan siswa sendiri. Itu paling terasa menjelang UAN saat ini. Karena pada saat-saat genting seperti ini, dituntut serius terus-menerus. Ketahanan fisik dan psikis mesti prima. Kesabaran pun betul-betul ditempa.

Kekurangan keempat adalah siswa kurang berdoa dan bertawakal kepada Allah swt. Mereka berusaha secara lahiriah saja, tanpa batiniah. Sibuk les ke sana ke mari tiap hari, tapi Tuhan tak dipeduli. Lupa memasrahkan hasil jerih payahnya kepada Sang Khaliq. Celakanya, mereka malah menggantungkan kongkalikong orangtua dengan oknum sekolah untuk meluluskannya dengan segala cara. Bukannya menyerahkan hasil daya upayanya kepada Yang Maha Berkehendak, tapi malah menyerahkan suap kepada oknum pejabat di lingkungan diknas yang bermoral bejat. Na’uudzubillaah!

Kita semua tentu sangat berharap mereka yang terlibat dalam UAN, khususnya siswa, mau membenahi 4 kekurangan tadi. Bertekad bulatlah memperjuangkan UAN dengan kekuatan iman.[]

Penulis, Saiful Asyhad

Mengenal Konsep Akhlak

Akhlak atau dalam bahasa lain disebut moral, etika maupun budi pekerti, merupakan sarana penting bermasyarakat dengan baik dan makmur. Sesuai dengan inti ajaran agama pada umumnya jika dipandang dari sisi sosial kemasyarakatan.

Islam sebagai salah satu dari tiga agama samawi monotheistik yang dikenal di dunia selain Nasrani dan Yahudi, menyadari betul akan hal itu. Terbukti dalam ajaran Islam akhlak memiliki kedudukan penting. Bahkan ahli sejarah menyebutkan bahwa keberhasilan Rasullah SAW dalam mengemban dan mengembangkan risalah Islamiyah yang paling dominan adalah karena faktor akhlak. Sehingga banyak sekali kafir Quraisy yang sudi masuk Islam karena simpati terhadap akhlak beliau yang mulia.

Secara umum, dalam buku Ilmu Akhlak, Drs. H.M. Ashfiyak Hamida membagi moral (akhlak) ke dalam dua sistem, yaitu sistem moral agama dan sistem moral sekuler.

1.     Sistem Moral Agama

Sistem ini adalah sebuah penilaian baik dan buruk berdasarkan ajaran-ajaran agama. Manakala agama mengatakan perbuatan itu baik maka baiklah perbuatan itu. Manakala agama mengatakan perbuatan itu buruk maka buruklah perbuatan itu.

Mengakui akan kekuatan moral agama yang bersumber dari kepercayaan ini, W.M Dixon  dalam bukunya The Human Sitution  mengatakan : “ Agama (betul atau salah) dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akhirat adalah merupakan totalitas kesuluruhan. Paling tidak merupakan dasar yang paling kuat bagi pelaksanaan moral. Dengan mundur (hilang) nya sebuah agama dan sanksi-sanksinya maka akan timbul masalah besar dan mendesak. Apakah (ada) yang bisa menggantikan kedudukan agama itu?”

Dalam perkembangannya, moral atau akhlak Islam mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan moral agama lain. Konsepsi ketuhanan Islam yang mengajarkan bahwa semua perbuatan manusia baik atau buruk tak akan terlepas dari pandangan Allah SWT, menyebabkan akhlak Islam mempunyai kelebihan berupa disiplin moral yang sangat kuat dan ketat.

Selain itu akhlak Islam tidak menolak dan memusuhi  kehidupan duniawi. Sebagaimana pandangan moral zuhud (yang sempit). Meskipun Islam sebenarnya juga mengajarkan pola kehidupan yang zuhud akan tetapi tidak dalam pengertian yang sempit. Dalam aturan Islam, zuhud memiliki ciri tidak menolak dan memusuhi dunia asal tidak berlebihan (hubbuddunya). Serta bersifat sosial sehingga orang lain pun bisa merasakan manfaatnya.

Kelebihan moral Islam yang lainnya yakni Islam memiliki standar yang mutlak dan universal. Artinya tidak nisbi, relatif dan tidak terbatas waktu maupun tempat.

Dan yang terakhir Islam memiliki moral force atau kekuatan moral yang kuat. Dengan kata lain moral force ini merupakan suatu bentuk ketaatan. Karena akhlak Islam yang berlandaskan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang berdasarkan keimanan.

Dapat disimpulkan, seseorang yang telah beriman akan tetapi tidak tidak mempunyai akhlak yang baik maka akan dianggap tak bermakna. Karena akhlak bisa menjadi tolak ukur bagi keimanan seseorang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

2.     Sistem Moral Sekuler

Berbeda dengan sistem moral agama, moral sekuler mempunyai warna yang berbeda.

Sekuler berasal dari kata scularity  yang mempunyai yang mempunyai arti keduniawian. Maka moral sekuler ini tidak mengakui adanya ajaran-ajaran Tuhan atau sering disebut atheis.

Dalam memberikan penilaian yang baik dan buruk, penganut aliran ini hanya mempertimbangkan hal-hal duniawi tanpa memandang hubungannya dengan Tuhan.

Moral sekuler yang sama sekali terlepas dari pertimbangan agama itu, tentu mempunyai bahan-bahan  pertimbangan lain yang berupa “sesuatu” yang selain agama. Sesuatu yang lain itu ternyata menjadi beraneka ragam bentuknya dan tidak seragam. Sehingga hal ini menjadikan moral sekuler ini dalam menyampaikan pandangan hanya bersifat relatif, sangat subjektif dan tidak memiliki standar yang objektif dan universal.

Moral semacam ini hanya mengajarkan tentang baik dan buruk. Namun sama sekali tidak memiliki moral force. Pada akhirnya moral sekuler seringkali membuat penganutnya berwatak munafik.

Munafik artinya  mendua, perbuatan yang diperlihatkan dihadapan orang banyak tidak sama dengan kondisi dengan diri yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan terlepasnya moral sekuler dari iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat. Tanpa iman yang ditakuti bukanlah Tuhan tetapi sesama manusia.

Para penganut moral ini dapat terlihat pada beberapa aliran diantaranya :

  1. Aliran rasionalisme, yang berpendapat bahwa hanya rasional yang mampu menjadikan sumber dalam menentukan baik dan buruk. Aliran ini dianut oleh sebagian besar para filosof seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain. Ini berbeda dengan mu’tazilah. Meski aliran Islam yang satu ini mengandalkan rasio namun masih dalam koridor agama.
  2. Aliran hedonisme. Aliran ini beranggapan bahwa suatu perbuatan dianggap baik apabila mampu mendatangkan kebahagiaan, kenikmatan dan kelezatan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila tidak mendatangkan  kebahagiaan, kenikmatan maupun kelezatan maka akan dianggap sebagai perbuatan buruk.
  3. Aliran tradisionalisme. Dalam menentukan baik ataupun buruknya suatu perbuatan, para penganut aliran ini bergantung pada tradisi pada masing-masing daerah mereka sendiri. Bahkan tak jarang mereka terlalu mengkultuskan pimpinan mereka sendiri. Contoh aliran seperti ini adalah di Jepang, seseorang akan merasa lebih mulia bunuh diri (dalam Islam bunuh diri merupakan perbuatan tercela) daripada harus menanggung malu karena semisal gagal menjalankan tugas yang diperintahkan oleh pimpinannya. Hal ini di picu oleh adanya semacam undang-undang pada tradisi mereka.
  4. Aliran empirisme (empire =pengalaman), aliran ini menilai suatu perbuatan dapat dikatakan baik maupun buruk berdasarkan suatu pengalaman yang mereka rasakan.

Pada kesimpulannya, moral yang lahir karena manusia (misal pamrih) akan menjadi sangat lemah dan kurang membawa arti, sebab manusia sangat terbatas kemampuannya untuk mengawasi segala tingkah laku manusia lain.

Sedang moral yang terbentuk dari sebuah kepercayaan terhadap Tuhan (agama) akan lebih membawa kepada kemaslahatan secara universal dalam kehidupan bermasyarakat tanpa terkekang waktu, tempat maupun pengawasan sesama manusia.

Penulis, Mukhlisul Ibad, Kru Mading HIDAYAH

Haflah Akhirussanah Pondok Lirboyo

 

LirboyoNet, Kediri – Selasa Malam Kemaren (26/06/12) Pondok pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mengadakan acara Haul-Haflah Akhirussanah yang ke-102 dalam rangka mengenang kembali perjuangan dan keteladanan para pendiri dan sesepuh Pondok Pesantren Lirboyo.

Rangkaian acara yang digelar di Aula Al-Muktamar ini berupa Lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an yang dibawakan oleh santri Lirboyo bernama Husni Mubarok  yang menjadi Juara Tiga MTQ Nasional ke-24 di Ambon Maluku bidang Tahfizhil Qur’an. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan maulid Nabi oleh Habib Sholeh al-Idrus dari Malang sementara Mauidzoh Hasanah di bawakan Oleh Da’i kondang dari Semarang Habib Umar Al-Muthohar.

Beberapa tamu undangan tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya; Keluarga besar pondok pesantren Lirboyo, Para Kyai dan Habaib, Muspida Kota Kediri, segenap pengurus dan pengajar dan Masyarakat umum.

Untuk memeriahkan acara Haul-Haflah Akhirussanah, sebelumnya diadakan beberapa festival-festival baik Jasmani maupun Rohani diantaranya; Lomba Rebana, Cerdas Cermat Islami, MTQ, Muroqi, Hifzhul Al-fiyah, Hifzhul Imrithi, Sedangkan Lomba Jasmani diantaranya; Tarik Tambang, Bola Voli Santri dan Tenis Meja Santri.

Pelaksanaan Haul-Haflah Akhirussanah ini menandai penutupan seluruh aktifitas kegiatan Pondok dan Madarsah pada masa Khidmah 1432-1433 H./2011-2012 M. Selanjutnya kegiatan belajar mengajar dilingkungan Pondok pesantren Lirboyo akan dimulai kembali pada hari Jum’at malam Sabtu, 14 Syawal 1433 H./31 Agustus 2012 M.

Kemudian, insyaAlloh pada Bulan Ramadlan 1433 H. akan dilaksanakan pengajian kilatan beberapa kitab oleh Masyayikh dan Asatidz Pondok pesantren Lirboyo. Nang

Jelang Haflah Akhirussanah, Pondok Gelar Lomba Ilmiah

LirboyoNet, Kediri – Hari pelaksanaan haflah akhirussanah semakin dekat, pelbagai kegiatan pendukung mulai digelar, seperti yang dilaksanakan pagi ini (01/06) diserambi masjid Lawang Songo Pondok Pesantren Lirboyo, digelar beberapa lomba Ilmiyah, diantaranya adalah Cerdas cermat, Hifzhul Imriti (Menghafal nazhom Imriti) dan Hifdzul Alfiyah (Mengahafal Nazhom Alfiyyah).

Acara yang diikuti oleh semua delegasi dari  semua perhimpunan santri se-pondok pesantren Lirboyo ini, terbagi atas tiga babak, babak pertama penyisihan, semi final dan final. Nuansa meriah sekaligus menegangkan terlihat diwajah-wajah santri  yang mengikuti lomba-lomba tersebut, sebab mereka membawa nama daerahnya masing-masing.

Ketua pelaksana Lomba Hiburan Ust. Khirun Niam menjelaskan “ Lomba-lomba ini merupakan rangkaian pelaksanaan haul dan Haflah Ahirussanah Pondok dan Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri, selain Cerdas Cermat, Hifzhul Imriti dan Hifzhul Alfiyah, minggu kemarin sudah digelar lomba Adzan- Muroqqi dan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an,” ujarnya disela-sela kesibukannya mengatur lomba Hifdzul Amriti.

Lebih lanjut, ustad kelahiran Kota Plokamator Blitar ini menjelaskan, selain sebagai rangkaian kegiatan Haul dan Haflah, lomba ini sekaligus sebagai momen mencari bibit unggul dari kalangan santri Pondok Pesantren Lirboyo, sehingga akan bermunculan generasi berkwalitas dalam dunia Tilawatil Qur’an dan Adzan, “Istilahnya kami mencari generasi baru, sehingga dalam pelaksanaan lomba ini selain melaksanaakan agenda tahunan juga mencari generasi yang lebih berkwalitas.” Ujarnya

Dari pantauan crew Lirboyo.net, sorak sorai pendukung peserta lomba sesekali terdengar, memberikan dukungan moril kepada rekan sedaerahnya, hal ini tak pelak menjadikan acara semakin meriah, karena persaingan sehat begitu terasah menguji kemampuan Intelektual santri dalam keilmuan. Riff